Latest

Minggu, 26 Oktober 2014

Gen Syi'ah - Peristiwa Asyura merupakan salah satu diantara berbagai peristiwa besar yang mampu mengubah perjalanan sejarah dan mengandung berbagai pelajaran penting yang berguna bagi manusia.

Upaya untuk membahas dan memahami berbagai aspek penting kejadian besar dan tragedi agung ini telah banyak dilakukan sejak awal terjadinya peristiwa tersebut hingga sekarang. Terpenting  diantara yang pernah dilakukan oleh para peneliti adalah:

a. Diskripsi kronologis peristiwa Asyura tanpa memberikan analisa,
b. Penekanan terhadap aspek-aspek tragedi yang menimpa Imam Husain as dan keluarga serta sahabat beliau,
c. Penekanan terhadap aspek revolusioner dan sikap penolakan terhadap kezaliman dan penguasa zalim,
d. Aspek analisis seputar kondisi politis dan sosiologis dan pengaruhnya terhadap masyarakat muslim pada masa tersebut.

Meski banyak dari aspek peristiwa kebangkitan Asyura telah mendapatkan perhatian para  peneliti selama lebih dari 13 abad namun tidak seorang pemikir pun yang berani mendakwakan bahwa ia telah berhasil meliput seluruh aspek dan dimensi gerakan pembaharuan teragung sepanjang sejarah yang dipimpin oleh Imam Husein as. Diantara aspek penting peristiwa kebangkitan Asyura yang kurang banyak disinggung dan dipelajari adalah aspek damai dan sikap ‘anti-kekerasan’ yang menjadi ciri yang menonjol dalam kebangkitan ini.

Imam Husain as telah berhasil memperagakan sikap anti-kekerasan melalul gerakan pembaharuan yang beliau mulai dengan perjalanan damai dari kota Madinah hingga Karbala. Beliau berusaha menegakkan pilar-pilar perdamaian, maaf, kasih sayang, anti-kekerasan dan cinta kepada sesama di tengah masyarakat yang telah terjauhkan dari nilai-nilai agama dan telah  mengalami kejatuhan di dalam jurang kesesatan, kebodohan, pembunuhan, penistaan dan kekerasan. 

ISLAM DAN SIKAP ANTI-KEKERASAN

Kebangkitan Imam Husain as adalah kelangsungan dari risalah Rasulullah saw yang diutus oleh Allah sebagai wujud kasih sayang Allah kepada seluruh alam semesta dimana pun dan kapan pun. (Lihat; QS. Al-Anbiya, ayat 107)

Melalui penegasan berbagai ayat al-Qur’an, Agama Islam mengajak umat manusia, khususnya kaum muslimin, kepada sikap penolakan terhadap kekerasan, diantaranya beberapa kelompok ayat berikut:

a. Ayat-ayat yang memerintahkan pemberian maaf, (lihat; al-Baqarah 237, an-Nisa’ 149, an-Nur 22, Aal Imran 159, al-Ma’idah 13,  al-Baqarah 109)
b. Ayat-ayat yang memerintahkan perdamaian, (lihat; al-Baqarah 208, al-Anfal 61, an-Nisa’ 90, al-Furqan 63)
c. Ayat-ayat yang mengajak kepada sikap ash-shafh (melupakan keburukan orang lain), (lihat; an-Nur 22, , al-Hijr 85 , al-Mai’dah 13, al-Baqarah 109)
d. Ayat-ayat yang memerintahkan sikap hormat (toleransi) kepada keyakinan orang lain, (lihat; an-Nahl 125-126, al-Kafirun 6, al-‘an’am 108)

RASULULLAH SAW DAN SIKAP ANTI-KEKERASAN

Prilaku dan sirah Rasulullah saw yang lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada semua orang, adalah bukti yang paling gamblang bahwa agama Islam mengajak kepada sikap penolakan terhadap kekerasan, kecuali dalam posisi membela diri. Berikut beberapa contoh dari sirah Rasulullah saw terhadap musuh-musuhnya.

a. Doa Rasulullah saw untuk kaum musyrikin yang mencederai beliau dengan lemparan batu dalam peperangan Uhud,
b. Perintah Rasulullah saw kepada Imam Ali as untuk membawa panji saat pasukan Islam masuk ke kota Mekah dan meneriakkan “al-yauma yaumul marhamah, al-yauma tushanul hurmah…”, (Manaqib Aali Abi Thalib 1/208)
c. Pemberian maaf Rsulullah saw kepada para pemuka kaum musyrik Quraisy dalam peristiwa fath Makkah. (Biharul Anwar 1/132)

AHLULBAIT DAN SIKAP ANTI-KEKERASAN

Para Imam Ahlulbait as mengikuti jejak Rasulullah saw dalam memberikan pelajaran tentang kasih sayang, maaf dan kemurahan hati dan penolakan terhadap kekerasan melalui prilaku mereka terhadap semua orang, termasuk orang-orang yang memusuhi mereka. Diantara sikap-sikap yang ditampilkan oleh para Imam Ahllulbait as:

a. Perintah Imam Ali bin Abi Thalib as kepada para pengikutnya untuk mengizinkan pasukan Mua’wiyah memanfaatkan air dari sungai Efrat dalam perang Shiffin. (Biharul Anwar 41/145)
b. Imam Ali bin Abi Thalib as melarang para pengikutnya mencela pasukan Mua’wiyah dan memerintahkan mereka mendoakan musuh-musuhnya.
c. Perintah Imam Ali bin Abi Thalib kepada Imam Hasan as untuk memperlakukan Ibnu Muljam dengan lemah lembut dan kasih sayang,
d. Imam Hasan as menyembunyikan orang yang meracuninya. (Biharul Anwar 44/148

IMAM HUSAIN AS, SIMBOL PERDAMAIAN

Al-Husain menampilkan makna perdamaian dan memperagakan nilai-nilai agama dan kemanusiaan dalam kebangkitan Asyura. Oleh sebab itu kebangkitan Asyura adalah perguruan besar yang mengajarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan tersbut, diataranya sikap damai dan anti-kekerasan.

Selama kebangkitan Asyura, Imam Husain as menggunakan semua cara untuk menghindari peperangan dan memberlakukan semua metode guna menjauhi konflik dan pertempuran namun Bani Umayyah enggan melakukan sesuatu selain kekerasan terhadap beliau dan keluarganya.

Di hari Asyura, ketika seluruh anggota Ahlul bait dan sahabat al-Husain as telah gugur sebagai syuhada, Imam Husain as tetap konsisten dalam berupaya mencegah dan menghentikan pertumpahan darah dan berusaha menyadarkan musuh-musuhnya akan kesalahan pilihan mereka. Diriwayatkan bahwa setelah menyampaikan pesan terakhir dan pamit kepada anggota keluarga wanita dan anak-anak yang tinggal, al-Husain as menuju ke arah barisan musuh dan menyerukan:

يا ويلكم أتقتلوني على سنة بدلتها ؟ أم على شريعة غيرتها ؟ أم على جرم فعلته ؟ أم على حق تركته ؟

 Diantara musuh-musuhnya ada menjawab:

إنا نقتلك بغضا لابيك
(Yanabi’ al Mawaddah 3/72)

Mendengar jawaban musuh, al-Husain as menangis, beliau merasa iba terhadap kaum yang memilih jahannam bagi diri mereka sendiri dengan membenci Imam Ali bin Abi Thalib as.

Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan diatas, al-Husain as ingin membangkitkan nurani musuh-musuhnya dan mengingatkan mereka tentang perlunya bertindak berdasarkan bukti syar’iy atau ‘aqly, khususnya ketika permasalahanya berhubungan dengan pembunahan dan penumpahan darah seorang seperti dirinya yang dikenal paling peduli dengan issue penegakan hak dan pemeliharaan sunnah Nabi dan syariat agama.

PERLAKUAN MANUSIAWI TERHADAP MUSUH

Al-Husain memperlakukan musuh-musuhnya secara manusiawi dan kebangkitan beliau sarat dengan pemandangan berupa kasih sayang kepada para pendukungnya dan pemberian maaf serta kemurahan hati kepada mereka yang memusuhinya. Berikut adalah beberapa contoh dari sikap dan prilaku al-Husain as terhadap musuh-musuhnya.

Setelah peristiwa terbunuhnya Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah, Ibnu Ziyad, penguasa Kufah,  mempersiapkan pasukan terdiri dari seribu pengendara kuda dan menyerahkan komando pasukan tersebut kepada Hur ar-Riyahi dengan membawa perintah tegas untuk menghalangi kepulangan al-Husain ke kota Madinah atau memaksanya menyerahkan diri kepada kekuasaan di Kufah.

Anggota pasukan al-Hur sampai di tujuan dalam keadaan lemah karena dahaga yang menimpa mereka disebabkan terik matahari yang amat panas. Melihat keadaan musuh-musuhnya, al-Husain memerintahkan sahabat-sahabat beliau untuk memberikan minum kepada seluruh anggota pasukan al-Hur bersama kuda tunggangan mereka. Diantara personel pasukan terdapat seorang bernama Ali bin Tha’an al-Muharibi yang tidak mampu minum sendiri disebabkan dahaga yang sagat yang menimpa dirinya, saat itu al-Husain as bangkit untuk membatu al-Muharibi minum dan menghilangkan rasa dahaganya.

Dengan memerintahkan dan memberi minum musuh-musuhnya yang datang untuk menawan atau membunuh dirinya, al-Husain as telah membuktikan kebenaran sabda kakeknya yang diutus sebagai bentuk kasih sayang kepada segenap alam:

  حسين مني وانا من حسين
(Sunan at Turmudzi 12/245)

Imamah Imam Husain as merupakan wujud rahmat Allah sebagaimana Risalah Rasulullah merupakan wujud rahmat-Nya bagi alam semesta.

Dalam episode yang lain dari kisah kebangkitan al-Husain as diiriwayatkan, bahwa di hari Asyura salah sorang komandan pasukan Umar bin Sa’ad dari Syam bernama Tamim bin Qahthabah mendekat ke arah Imam Husain as dan berkata: “Sampai kapan permusuhan ini, wahai putra Ali? Anak-anak, kerabat dan pendukungmu sudah mati terbunuh sementara engkau tetap menghunus pedang untuk memerangi pasukan terdiri dari dua puluh ribu orang?”

Al-Husain as menjawab: “Aku yang datang untuk memerangi kalian ataukah kalian yang datang untuk memerangiku? Aku yang menutup jalan kalian ataukah kalian yang menutup jalanku?”

Tamim bin Qahthabah bangkit dan hendak membunuh Imam Husain as namun Imam menahannya dengan pedang hingga ia jatuh dalam keadaan terluka. Al-Husain tidak menghabisi nyawa musuhnya yang tergeletak lemah di hadapannya bahkan beliau menawarkan bantuan kepadanya. Al-Husain bertanya:

هل يمكنني ان أسعفك بشيئ؟
(Al La ‘unf fi Nahdhatil Imam al-Husain as 160) 

Sikap memaafkan dalam kondisi kuat adalah wujud dari sikap anti-kekerasan yang merupakan ciri sekaligus cara yang digunakan oleh Imam Husain as dalam memimpin kebangkitannya.

Melalui cara berunding dan nasehat serta berbagai perlakuan manusiawi, al-Husain as telah malaksanakan kewajiban syar’iy dan menunaikan hak terhadap semua orang, termasuk terhadap musuh-musuhnya yang datang untuk membunuh dirinya. Melalui kebangkitan Asyura, al-Husain berusaha mencerahkan dan memberikan petunjuk kepada semua orang ke arah kebenaran dan penolakan terhadap kekuasaan taghut dengan cara damai dan penuh kasih sayang, namun jika semua upaya damai tersebut tidak menghasilkan maka penyelesaian terakhir adalah sikap islami berupa pembelaan terhadap kehormatan diri, keluarga dan sahabat sampai tetes darah yang terakhir sebagaimana kandungan puisi Imam Husain as di Hari Asyura:

الموت خير من ركوب العار* والعار اولى من دخول النار
انا الحسين بن علي * احمي عيالات ابي    آليت ان لا انثني * امضي على دين النبي
(Maqtal Abi Makhnaf 1/146)

***
Artikel

Aspek Damai dan Anti-Kekerasan dalam Kebangkitan Asyura

Administrator  |  at  Minggu, Oktober 26, 2014

Gen Syi'ah - Peristiwa Asyura merupakan salah satu diantara berbagai peristiwa besar yang mampu mengubah perjalanan sejarah dan mengandung berbagai pelajaran penting yang berguna bagi manusia.

Upaya untuk membahas dan memahami berbagai aspek penting kejadian besar dan tragedi agung ini telah banyak dilakukan sejak awal terjadinya peristiwa tersebut hingga sekarang. Terpenting  diantara yang pernah dilakukan oleh para peneliti adalah:

a. Diskripsi kronologis peristiwa Asyura tanpa memberikan analisa,
b. Penekanan terhadap aspek-aspek tragedi yang menimpa Imam Husain as dan keluarga serta sahabat beliau,
c. Penekanan terhadap aspek revolusioner dan sikap penolakan terhadap kezaliman dan penguasa zalim,
d. Aspek analisis seputar kondisi politis dan sosiologis dan pengaruhnya terhadap masyarakat muslim pada masa tersebut.

Meski banyak dari aspek peristiwa kebangkitan Asyura telah mendapatkan perhatian para  peneliti selama lebih dari 13 abad namun tidak seorang pemikir pun yang berani mendakwakan bahwa ia telah berhasil meliput seluruh aspek dan dimensi gerakan pembaharuan teragung sepanjang sejarah yang dipimpin oleh Imam Husein as. Diantara aspek penting peristiwa kebangkitan Asyura yang kurang banyak disinggung dan dipelajari adalah aspek damai dan sikap ‘anti-kekerasan’ yang menjadi ciri yang menonjol dalam kebangkitan ini.

Imam Husain as telah berhasil memperagakan sikap anti-kekerasan melalul gerakan pembaharuan yang beliau mulai dengan perjalanan damai dari kota Madinah hingga Karbala. Beliau berusaha menegakkan pilar-pilar perdamaian, maaf, kasih sayang, anti-kekerasan dan cinta kepada sesama di tengah masyarakat yang telah terjauhkan dari nilai-nilai agama dan telah  mengalami kejatuhan di dalam jurang kesesatan, kebodohan, pembunuhan, penistaan dan kekerasan. 

ISLAM DAN SIKAP ANTI-KEKERASAN

Kebangkitan Imam Husain as adalah kelangsungan dari risalah Rasulullah saw yang diutus oleh Allah sebagai wujud kasih sayang Allah kepada seluruh alam semesta dimana pun dan kapan pun. (Lihat; QS. Al-Anbiya, ayat 107)

Melalui penegasan berbagai ayat al-Qur’an, Agama Islam mengajak umat manusia, khususnya kaum muslimin, kepada sikap penolakan terhadap kekerasan, diantaranya beberapa kelompok ayat berikut:

a. Ayat-ayat yang memerintahkan pemberian maaf, (lihat; al-Baqarah 237, an-Nisa’ 149, an-Nur 22, Aal Imran 159, al-Ma’idah 13,  al-Baqarah 109)
b. Ayat-ayat yang memerintahkan perdamaian, (lihat; al-Baqarah 208, al-Anfal 61, an-Nisa’ 90, al-Furqan 63)
c. Ayat-ayat yang mengajak kepada sikap ash-shafh (melupakan keburukan orang lain), (lihat; an-Nur 22, , al-Hijr 85 , al-Mai’dah 13, al-Baqarah 109)
d. Ayat-ayat yang memerintahkan sikap hormat (toleransi) kepada keyakinan orang lain, (lihat; an-Nahl 125-126, al-Kafirun 6, al-‘an’am 108)

RASULULLAH SAW DAN SIKAP ANTI-KEKERASAN

Prilaku dan sirah Rasulullah saw yang lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada semua orang, adalah bukti yang paling gamblang bahwa agama Islam mengajak kepada sikap penolakan terhadap kekerasan, kecuali dalam posisi membela diri. Berikut beberapa contoh dari sirah Rasulullah saw terhadap musuh-musuhnya.

a. Doa Rasulullah saw untuk kaum musyrikin yang mencederai beliau dengan lemparan batu dalam peperangan Uhud,
b. Perintah Rasulullah saw kepada Imam Ali as untuk membawa panji saat pasukan Islam masuk ke kota Mekah dan meneriakkan “al-yauma yaumul marhamah, al-yauma tushanul hurmah…”, (Manaqib Aali Abi Thalib 1/208)
c. Pemberian maaf Rsulullah saw kepada para pemuka kaum musyrik Quraisy dalam peristiwa fath Makkah. (Biharul Anwar 1/132)

AHLULBAIT DAN SIKAP ANTI-KEKERASAN

Para Imam Ahlulbait as mengikuti jejak Rasulullah saw dalam memberikan pelajaran tentang kasih sayang, maaf dan kemurahan hati dan penolakan terhadap kekerasan melalui prilaku mereka terhadap semua orang, termasuk orang-orang yang memusuhi mereka. Diantara sikap-sikap yang ditampilkan oleh para Imam Ahllulbait as:

a. Perintah Imam Ali bin Abi Thalib as kepada para pengikutnya untuk mengizinkan pasukan Mua’wiyah memanfaatkan air dari sungai Efrat dalam perang Shiffin. (Biharul Anwar 41/145)
b. Imam Ali bin Abi Thalib as melarang para pengikutnya mencela pasukan Mua’wiyah dan memerintahkan mereka mendoakan musuh-musuhnya.
c. Perintah Imam Ali bin Abi Thalib kepada Imam Hasan as untuk memperlakukan Ibnu Muljam dengan lemah lembut dan kasih sayang,
d. Imam Hasan as menyembunyikan orang yang meracuninya. (Biharul Anwar 44/148

IMAM HUSAIN AS, SIMBOL PERDAMAIAN

Al-Husain menampilkan makna perdamaian dan memperagakan nilai-nilai agama dan kemanusiaan dalam kebangkitan Asyura. Oleh sebab itu kebangkitan Asyura adalah perguruan besar yang mengajarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan tersbut, diataranya sikap damai dan anti-kekerasan.

Selama kebangkitan Asyura, Imam Husain as menggunakan semua cara untuk menghindari peperangan dan memberlakukan semua metode guna menjauhi konflik dan pertempuran namun Bani Umayyah enggan melakukan sesuatu selain kekerasan terhadap beliau dan keluarganya.

Di hari Asyura, ketika seluruh anggota Ahlul bait dan sahabat al-Husain as telah gugur sebagai syuhada, Imam Husain as tetap konsisten dalam berupaya mencegah dan menghentikan pertumpahan darah dan berusaha menyadarkan musuh-musuhnya akan kesalahan pilihan mereka. Diriwayatkan bahwa setelah menyampaikan pesan terakhir dan pamit kepada anggota keluarga wanita dan anak-anak yang tinggal, al-Husain as menuju ke arah barisan musuh dan menyerukan:

يا ويلكم أتقتلوني على سنة بدلتها ؟ أم على شريعة غيرتها ؟ أم على جرم فعلته ؟ أم على حق تركته ؟

 Diantara musuh-musuhnya ada menjawab:

إنا نقتلك بغضا لابيك
(Yanabi’ al Mawaddah 3/72)

Mendengar jawaban musuh, al-Husain as menangis, beliau merasa iba terhadap kaum yang memilih jahannam bagi diri mereka sendiri dengan membenci Imam Ali bin Abi Thalib as.

Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan diatas, al-Husain as ingin membangkitkan nurani musuh-musuhnya dan mengingatkan mereka tentang perlunya bertindak berdasarkan bukti syar’iy atau ‘aqly, khususnya ketika permasalahanya berhubungan dengan pembunahan dan penumpahan darah seorang seperti dirinya yang dikenal paling peduli dengan issue penegakan hak dan pemeliharaan sunnah Nabi dan syariat agama.

PERLAKUAN MANUSIAWI TERHADAP MUSUH

Al-Husain memperlakukan musuh-musuhnya secara manusiawi dan kebangkitan beliau sarat dengan pemandangan berupa kasih sayang kepada para pendukungnya dan pemberian maaf serta kemurahan hati kepada mereka yang memusuhinya. Berikut adalah beberapa contoh dari sikap dan prilaku al-Husain as terhadap musuh-musuhnya.

Setelah peristiwa terbunuhnya Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah, Ibnu Ziyad, penguasa Kufah,  mempersiapkan pasukan terdiri dari seribu pengendara kuda dan menyerahkan komando pasukan tersebut kepada Hur ar-Riyahi dengan membawa perintah tegas untuk menghalangi kepulangan al-Husain ke kota Madinah atau memaksanya menyerahkan diri kepada kekuasaan di Kufah.

Anggota pasukan al-Hur sampai di tujuan dalam keadaan lemah karena dahaga yang menimpa mereka disebabkan terik matahari yang amat panas. Melihat keadaan musuh-musuhnya, al-Husain memerintahkan sahabat-sahabat beliau untuk memberikan minum kepada seluruh anggota pasukan al-Hur bersama kuda tunggangan mereka. Diantara personel pasukan terdapat seorang bernama Ali bin Tha’an al-Muharibi yang tidak mampu minum sendiri disebabkan dahaga yang sagat yang menimpa dirinya, saat itu al-Husain as bangkit untuk membatu al-Muharibi minum dan menghilangkan rasa dahaganya.

Dengan memerintahkan dan memberi minum musuh-musuhnya yang datang untuk menawan atau membunuh dirinya, al-Husain as telah membuktikan kebenaran sabda kakeknya yang diutus sebagai bentuk kasih sayang kepada segenap alam:

  حسين مني وانا من حسين
(Sunan at Turmudzi 12/245)

Imamah Imam Husain as merupakan wujud rahmat Allah sebagaimana Risalah Rasulullah merupakan wujud rahmat-Nya bagi alam semesta.

Dalam episode yang lain dari kisah kebangkitan al-Husain as diiriwayatkan, bahwa di hari Asyura salah sorang komandan pasukan Umar bin Sa’ad dari Syam bernama Tamim bin Qahthabah mendekat ke arah Imam Husain as dan berkata: “Sampai kapan permusuhan ini, wahai putra Ali? Anak-anak, kerabat dan pendukungmu sudah mati terbunuh sementara engkau tetap menghunus pedang untuk memerangi pasukan terdiri dari dua puluh ribu orang?”

Al-Husain as menjawab: “Aku yang datang untuk memerangi kalian ataukah kalian yang datang untuk memerangiku? Aku yang menutup jalan kalian ataukah kalian yang menutup jalanku?”

Tamim bin Qahthabah bangkit dan hendak membunuh Imam Husain as namun Imam menahannya dengan pedang hingga ia jatuh dalam keadaan terluka. Al-Husain tidak menghabisi nyawa musuhnya yang tergeletak lemah di hadapannya bahkan beliau menawarkan bantuan kepadanya. Al-Husain bertanya:

هل يمكنني ان أسعفك بشيئ؟
(Al La ‘unf fi Nahdhatil Imam al-Husain as 160) 

Sikap memaafkan dalam kondisi kuat adalah wujud dari sikap anti-kekerasan yang merupakan ciri sekaligus cara yang digunakan oleh Imam Husain as dalam memimpin kebangkitannya.

Melalui cara berunding dan nasehat serta berbagai perlakuan manusiawi, al-Husain as telah malaksanakan kewajiban syar’iy dan menunaikan hak terhadap semua orang, termasuk terhadap musuh-musuhnya yang datang untuk membunuh dirinya. Melalui kebangkitan Asyura, al-Husain berusaha mencerahkan dan memberikan petunjuk kepada semua orang ke arah kebenaran dan penolakan terhadap kekuasaan taghut dengan cara damai dan penuh kasih sayang, namun jika semua upaya damai tersebut tidak menghasilkan maka penyelesaian terakhir adalah sikap islami berupa pembelaan terhadap kehormatan diri, keluarga dan sahabat sampai tetes darah yang terakhir sebagaimana kandungan puisi Imam Husain as di Hari Asyura:

الموت خير من ركوب العار* والعار اولى من دخول النار
انا الحسين بن علي * احمي عيالات ابي    آليت ان لا انثني * امضي على دين النبي
(Maqtal Abi Makhnaf 1/146)

***

0 komentar:


Dalam peristiwa Karbala, di samping golongan lelaki sebagai penyokong dan pejuang al-Husain as. dalam perjalanannya dari Makkah ke Karbala maka kaum wanita Ahlul Bait dan kanak-kanak merupakan golongan yang tidak boleh dipisahkan dari pergerakan penuh berkat itu. Malah menurut Al-Husain as sebagaimana kata-katanya kepada saudaranya Muhammad bin Al-Hanafiah bahawa kaum wanita itu dilihat sebagai pengukuh dan pendorong kepada revolusi Islam. Peranan Wanita revolusiener itu boleh diperhatikan dalam perjalanan Husainiyah itu dengan memperhatikan peranan tokoh-tokoh seperti Zainab Al-Kubra binti Ali, juga cucunda Rasulullah Saw. Peranan itu dapat dikutip dalam ucapannya;

“Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw. dan ahli keluarganya yang  suci: Wahai penduduk Kufah! Adakah anda menangis tanpa air mata atau meratap penuh kepiluan. Kamu sebenarnya diumpamakan golongan yang tercabut kekuatannya. Adakah kamu menjadikan sumpah-sumpah kamu sebagai perisai-perisai untuk menutup kepalsuan. Ketahuilah perkara buruk akan menimpa kamu di mana Allah menetapkan ke atas kamu azab yang kekal dengan penipuan itu. Ya Allah! Orang yang menangis terlalu banyak sedangkan yang ketawa terlalu sedikit. Alangkah malangnya pendirian kamu di hadapan pembunuhan keturunan Nabimu Saw. dzuriat nabi penamat segala anbiya’, perbendaharaan risalah dan pemimpin pemuda surga. Hilanglah pelita yang menyuluh kamu, pomimpin ulung yang menghidupkan sunnah  Alangkah buruknya apa yang kamu bawa, kerugian memenuhi kedua tanganmu. Adakah kamu sanggup berhadapan dengan kemurkaan Allah dan Rasul-Nya Kamu sebenarnya telah menimpa kehinaan dan kecelakaan, alangkah celakanya nasib kamu. Adakah kamu seanggup melihat hati jantung Rasulullah Saw. dikunyah, adakah kamu sanggup mengorbankan kemuliaannya Manakah darah yang telah kamu tumpahkan dan manakah kehormatan yang telah kamu pertahankan? Telah datang kepada kamu bibit-bibit yang kehitaman, gerombolan hitam seperti cahaya bumi dan pancaran dari langit Tetapi alangkah herannya hujan darah telah turun dari langit dan alangkah azab akhirat akan bakal ditempuh.

Demikianlah pendirian Zainab Kubra as terhadap penduduk Kufah yang berhadapan dengan tanggungjawab menegakkan revolusi Islam. Pendirian Zainab semakin membara ke hadapan mereka selepas kesyahidan al-Husain as saudaranya dengan para pengikutnya di dalam menghadapi kemungkaran dan kedurjanaan Yazid dan Rejim Umayyah.

Perhatikan pula ucapan putri  al-Husain as yang bernama Fatimah binti Al-Husain as:

“Wahai penduduk Kufah; wahai  penduduk yang penuh dengan muslihat dan tipu daya. Sesungguhnya kami Ahlul bait Rasulullah Saw. telah diuji oleh Allah dengan pendirian kamu yang curang. Kamu semua telah membawa mala petaka kepada kami. Namun begitu segala dugaan itu membawa kebaikan kepada kami dan Allah mengaruniakan ilmu-Nya kepada kami dan kamilah perbendaharaan ilmu dan hikmah serta kami menjadi hujjah dan tanda kebesaran Allah Swt atas hamba-hamba-Nya. Allah telah memuliakan kami dengan kemuliaan kami Rasulullah Saw yang mempunyai kemuliaan mengatasi segala makhluk. Sebaliknya, kamu mendustai serta memperdayakan kami dan kamu melihat pembunuhan ke atas kami sebagai halal dan harta benda kami dirampas. Kami seolah-olah anak-anak yang ditinggalkan atau sebagaimana unta-unta. Demikianlah sebagaimana datuk kami (Imam Ali r.d telah kamu bunuh. Sesungguhnya pedang-pedang kamu telah mengalirkan darah-darah kami Ahlul Bait as untuk melepaskan dendam kesumnat kamu. Dalam keadaan itu mata kamu melihat dengan gembira dan hati-hati kamu merasa riang. Pembalasan yang setimpal akan dijatuhkan oleh Allah ke atas kamu. Allah mempunydi muslihat yang mengatasi tipu daya kamu. Janganlah membersihkan tangan kamu yang telah membawa kepada tumpahnya darah-darah kami. Apa yang menimpa kami merupakan kenyataan yang telah disebut oleh Al-Qur'an Sebenarnya menjadi perkara yang senang di sisi Allah untuk melepaskan kami daripadanya.Celakalah bagi kamu dan tunggulah laknat dan azab Allah yang akan ditimpakan ke atas kamu. kecelakaan akan menimpa kamu seperti hujan langit sejajar dengan apa yang kamu dustakan dan pengkhianatan kamu, Lalu Allah menyempitkan jalan bagi kamu dan kamu kekal menderita di di dalam azab yang sungguh pedih pada hari qiamat sejajar dengan kezaliman yang telah kamu lakukan. Ketahuilah laknat Allah akan dikemukakan kepada  golongan yang zalim.”

Demikianlah peranan dan sikap wanita Islam dari keluarga Räsulullah saw di dalam pergerakan revolusi Islam yang dicetuskan oleh Imam al-Husain as Untuk memerhatikan pendirian jihad wanitä Muslimah Ahlul Bait maka perhatikan ucapan Saidatina Zainab binti A1i bin Abu Talib as yang disampaikan di hadapan Yazid bin Muawiyah di istana penguasa yang zalim itu. Serikandi Muslimah itu menegaskan;

Segala puji itu tertentu bagi Allah Tuhan sekalian alám, selawat dan salam ke atas Rasulullah Saw. dan ahli keluarganya
firman Allah yang menegaskan yang artinya: “Kemudian, kejahatanlah akibat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, lantaran merèka mèndustakan ayat-ayat Allah dan mereka memperolok-olokkan (ayat-ayat Allah itu).” (dalamSurah ar-Rum, ayat 10)

Adakah engkau menyangka wahai Yazid...! untuk melemparkan kami ke seluruh ceruk bumi  dan rnembuang kami ke ufuk langit serta menjadikan kami binatang ternak yang dipandu. Adakah engkau rnenyangka bahawa kami terhina di sisi Allah dan engkau menjadi mulia dengan perlakuan ini. Sungguh besar kedurjanaanmu di sisi Allah, walaupun dikau bergembira deagan keadaan ini tetapi engkau memandang dunia penuh kekacauan dan segala urussanmu dalam kesempitan Walaupun engkau menguasai kami tetapi tunggulah dan tunggulah... Adakah engkau lupa dengan firman Allah di dalam Al-Quran: (Surah A’li Imran ayat 178). artinya: “Dan janganlah orang-orang kafir itu menyangka, bahawa kami membiarkan mereka itu menganggap mereka lebih baik untuk diri-diri mereka. Kami tidak biarkan mereka melainkan supaya mereka bertambah dosa dan adalah bagi mereka azab yang menghinakan.” Adakah engkau berlaku adil wahai anak golongan yang ditawan? (Maksudnya golongan Tulaqa’ ialah golongan yang ditawan oleh Rasulullah Saw. pada tahun 8 hijrah ketika pembukaan Makkah, kerana Yazid adalah cucu Abu Sufyan yang ditawan oleh pihak Islam dan dilayan dengan baik oleh Rasulullah saw Golongan kamu telah dibebaskan dan dilayan dengan baik suatu ketika dahulu tetapi engkau pula menjadikan anak-anak perempuan Rasulullah saw sebagai tawanan yang dilayan dengan penghinaan dan digari ke belakang. Kami telah diseret dan satu negeri ke satu negen lain  dengan wajah-wajah kami yang terbuka dan tercemar. Kami telah ditawan tanpa di sisi kami seorang pelindung dan kaum lelaki dan kami diseret bersama darah-darah pãra syuhada’....”

“....Sesungguhnya Allah akan menghukum kamu dan Rasulullah Saw. akan memusuhi kamu serta Jibril akan menentang kamu dan kamu ..akan mengetahui kedudukan engkau yang membelenggu umat Islam dan seburuk-buruk keadaan bagi golongan yang melakukan kezaliman. Di manakah tempat yang seburuk-buruknya bagi kamu dan jalan yang menyesatkan. Walaupun dengan kekuasaanmu untuk menghina kami dan mata-mata kaum muslimin memandang pilu kepada kami dan hati-hati mereka bersimpati dengan kami. Lakukanlah semahu engkau segala muslihat, demi Allah yang telah memuliakan kami dengan wahyu-Nya, Al-Quran dan Nubuwah kamu tidak akan dapat mengatasi kami di sisi Allah dan kamu tidak akan dapat menghapuskan kami. Semua yang engkau lihat akan binasa dan hari-harimu boleh dihitung, tunggulah pada suatu hari di mana dipanggil méreka yang- dipanggil dan laknat Allah itu ditujukan kepada orang yang zalim.”

Begitulah sebahagian dari catitan sejarah mengenai tokoh besar Islam cucunda Rasulullah Saw. yaitu al-Imam asy-Syahid Husain ‘alaihissalam serta sekelumit mengenai perjuangan jihadnya mengembalikan kedaulatan dan kemurnian Islam sebagaimana katanya... “Hanya dengan kematianku dan darahku, kebenaran Islam dan Sunnah datukku Muhammad Rasulullah Saw. dapat dipertahankan...” Dan lagi katanya: ‘....Seandainya manusia mengetahui bahawa harta yang dicarinya akan hilang nescaya mereka akan mem-belanjakannya pada jalán Aliah, dan seandainya manusia menyedari bahawa nyawa mereka akan berpisah dengan jasadnya nescaya mereka akan sanggup mati dicincang pada jalan Allah‘azza wa jalla. Mudah-mudahan Allah Swt memasukkan kita ke dalam pergerakan revolusi Islam al-Husain as. yang menentang musuh-musuh Allah dan menegakkan pemerintahan Allah dan Islam di atas muka bumi ini.

Allahu Akbar!
Artikel

Peran Wanita dalam Revolusi Islam Al-Husain alaihissalam

Unknown  |  at  Minggu, Oktober 26, 2014


Dalam peristiwa Karbala, di samping golongan lelaki sebagai penyokong dan pejuang al-Husain as. dalam perjalanannya dari Makkah ke Karbala maka kaum wanita Ahlul Bait dan kanak-kanak merupakan golongan yang tidak boleh dipisahkan dari pergerakan penuh berkat itu. Malah menurut Al-Husain as sebagaimana kata-katanya kepada saudaranya Muhammad bin Al-Hanafiah bahawa kaum wanita itu dilihat sebagai pengukuh dan pendorong kepada revolusi Islam. Peranan Wanita revolusiener itu boleh diperhatikan dalam perjalanan Husainiyah itu dengan memperhatikan peranan tokoh-tokoh seperti Zainab Al-Kubra binti Ali, juga cucunda Rasulullah Saw. Peranan itu dapat dikutip dalam ucapannya;

“Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw. dan ahli keluarganya yang  suci: Wahai penduduk Kufah! Adakah anda menangis tanpa air mata atau meratap penuh kepiluan. Kamu sebenarnya diumpamakan golongan yang tercabut kekuatannya. Adakah kamu menjadikan sumpah-sumpah kamu sebagai perisai-perisai untuk menutup kepalsuan. Ketahuilah perkara buruk akan menimpa kamu di mana Allah menetapkan ke atas kamu azab yang kekal dengan penipuan itu. Ya Allah! Orang yang menangis terlalu banyak sedangkan yang ketawa terlalu sedikit. Alangkah malangnya pendirian kamu di hadapan pembunuhan keturunan Nabimu Saw. dzuriat nabi penamat segala anbiya’, perbendaharaan risalah dan pemimpin pemuda surga. Hilanglah pelita yang menyuluh kamu, pomimpin ulung yang menghidupkan sunnah  Alangkah buruknya apa yang kamu bawa, kerugian memenuhi kedua tanganmu. Adakah kamu sanggup berhadapan dengan kemurkaan Allah dan Rasul-Nya Kamu sebenarnya telah menimpa kehinaan dan kecelakaan, alangkah celakanya nasib kamu. Adakah kamu seanggup melihat hati jantung Rasulullah Saw. dikunyah, adakah kamu sanggup mengorbankan kemuliaannya Manakah darah yang telah kamu tumpahkan dan manakah kehormatan yang telah kamu pertahankan? Telah datang kepada kamu bibit-bibit yang kehitaman, gerombolan hitam seperti cahaya bumi dan pancaran dari langit Tetapi alangkah herannya hujan darah telah turun dari langit dan alangkah azab akhirat akan bakal ditempuh.

Demikianlah pendirian Zainab Kubra as terhadap penduduk Kufah yang berhadapan dengan tanggungjawab menegakkan revolusi Islam. Pendirian Zainab semakin membara ke hadapan mereka selepas kesyahidan al-Husain as saudaranya dengan para pengikutnya di dalam menghadapi kemungkaran dan kedurjanaan Yazid dan Rejim Umayyah.

Perhatikan pula ucapan putri  al-Husain as yang bernama Fatimah binti Al-Husain as:

“Wahai penduduk Kufah; wahai  penduduk yang penuh dengan muslihat dan tipu daya. Sesungguhnya kami Ahlul bait Rasulullah Saw. telah diuji oleh Allah dengan pendirian kamu yang curang. Kamu semua telah membawa mala petaka kepada kami. Namun begitu segala dugaan itu membawa kebaikan kepada kami dan Allah mengaruniakan ilmu-Nya kepada kami dan kamilah perbendaharaan ilmu dan hikmah serta kami menjadi hujjah dan tanda kebesaran Allah Swt atas hamba-hamba-Nya. Allah telah memuliakan kami dengan kemuliaan kami Rasulullah Saw yang mempunyai kemuliaan mengatasi segala makhluk. Sebaliknya, kamu mendustai serta memperdayakan kami dan kamu melihat pembunuhan ke atas kami sebagai halal dan harta benda kami dirampas. Kami seolah-olah anak-anak yang ditinggalkan atau sebagaimana unta-unta. Demikianlah sebagaimana datuk kami (Imam Ali r.d telah kamu bunuh. Sesungguhnya pedang-pedang kamu telah mengalirkan darah-darah kami Ahlul Bait as untuk melepaskan dendam kesumnat kamu. Dalam keadaan itu mata kamu melihat dengan gembira dan hati-hati kamu merasa riang. Pembalasan yang setimpal akan dijatuhkan oleh Allah ke atas kamu. Allah mempunydi muslihat yang mengatasi tipu daya kamu. Janganlah membersihkan tangan kamu yang telah membawa kepada tumpahnya darah-darah kami. Apa yang menimpa kami merupakan kenyataan yang telah disebut oleh Al-Qur'an Sebenarnya menjadi perkara yang senang di sisi Allah untuk melepaskan kami daripadanya.Celakalah bagi kamu dan tunggulah laknat dan azab Allah yang akan ditimpakan ke atas kamu. kecelakaan akan menimpa kamu seperti hujan langit sejajar dengan apa yang kamu dustakan dan pengkhianatan kamu, Lalu Allah menyempitkan jalan bagi kamu dan kamu kekal menderita di di dalam azab yang sungguh pedih pada hari qiamat sejajar dengan kezaliman yang telah kamu lakukan. Ketahuilah laknat Allah akan dikemukakan kepada  golongan yang zalim.”

Demikianlah peranan dan sikap wanita Islam dari keluarga Räsulullah saw di dalam pergerakan revolusi Islam yang dicetuskan oleh Imam al-Husain as Untuk memerhatikan pendirian jihad wanitä Muslimah Ahlul Bait maka perhatikan ucapan Saidatina Zainab binti A1i bin Abu Talib as yang disampaikan di hadapan Yazid bin Muawiyah di istana penguasa yang zalim itu. Serikandi Muslimah itu menegaskan;

Segala puji itu tertentu bagi Allah Tuhan sekalian alám, selawat dan salam ke atas Rasulullah Saw. dan ahli keluarganya
firman Allah yang menegaskan yang artinya: “Kemudian, kejahatanlah akibat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan, lantaran merèka mèndustakan ayat-ayat Allah dan mereka memperolok-olokkan (ayat-ayat Allah itu).” (dalamSurah ar-Rum, ayat 10)

Adakah engkau menyangka wahai Yazid...! untuk melemparkan kami ke seluruh ceruk bumi  dan rnembuang kami ke ufuk langit serta menjadikan kami binatang ternak yang dipandu. Adakah engkau rnenyangka bahawa kami terhina di sisi Allah dan engkau menjadi mulia dengan perlakuan ini. Sungguh besar kedurjanaanmu di sisi Allah, walaupun dikau bergembira deagan keadaan ini tetapi engkau memandang dunia penuh kekacauan dan segala urussanmu dalam kesempitan Walaupun engkau menguasai kami tetapi tunggulah dan tunggulah... Adakah engkau lupa dengan firman Allah di dalam Al-Quran: (Surah A’li Imran ayat 178). artinya: “Dan janganlah orang-orang kafir itu menyangka, bahawa kami membiarkan mereka itu menganggap mereka lebih baik untuk diri-diri mereka. Kami tidak biarkan mereka melainkan supaya mereka bertambah dosa dan adalah bagi mereka azab yang menghinakan.” Adakah engkau berlaku adil wahai anak golongan yang ditawan? (Maksudnya golongan Tulaqa’ ialah golongan yang ditawan oleh Rasulullah Saw. pada tahun 8 hijrah ketika pembukaan Makkah, kerana Yazid adalah cucu Abu Sufyan yang ditawan oleh pihak Islam dan dilayan dengan baik oleh Rasulullah saw Golongan kamu telah dibebaskan dan dilayan dengan baik suatu ketika dahulu tetapi engkau pula menjadikan anak-anak perempuan Rasulullah saw sebagai tawanan yang dilayan dengan penghinaan dan digari ke belakang. Kami telah diseret dan satu negeri ke satu negen lain  dengan wajah-wajah kami yang terbuka dan tercemar. Kami telah ditawan tanpa di sisi kami seorang pelindung dan kaum lelaki dan kami diseret bersama darah-darah pãra syuhada’....”

“....Sesungguhnya Allah akan menghukum kamu dan Rasulullah Saw. akan memusuhi kamu serta Jibril akan menentang kamu dan kamu ..akan mengetahui kedudukan engkau yang membelenggu umat Islam dan seburuk-buruk keadaan bagi golongan yang melakukan kezaliman. Di manakah tempat yang seburuk-buruknya bagi kamu dan jalan yang menyesatkan. Walaupun dengan kekuasaanmu untuk menghina kami dan mata-mata kaum muslimin memandang pilu kepada kami dan hati-hati mereka bersimpati dengan kami. Lakukanlah semahu engkau segala muslihat, demi Allah yang telah memuliakan kami dengan wahyu-Nya, Al-Quran dan Nubuwah kamu tidak akan dapat mengatasi kami di sisi Allah dan kamu tidak akan dapat menghapuskan kami. Semua yang engkau lihat akan binasa dan hari-harimu boleh dihitung, tunggulah pada suatu hari di mana dipanggil méreka yang- dipanggil dan laknat Allah itu ditujukan kepada orang yang zalim.”

Begitulah sebahagian dari catitan sejarah mengenai tokoh besar Islam cucunda Rasulullah Saw. yaitu al-Imam asy-Syahid Husain ‘alaihissalam serta sekelumit mengenai perjuangan jihadnya mengembalikan kedaulatan dan kemurnian Islam sebagaimana katanya... “Hanya dengan kematianku dan darahku, kebenaran Islam dan Sunnah datukku Muhammad Rasulullah Saw. dapat dipertahankan...” Dan lagi katanya: ‘....Seandainya manusia mengetahui bahawa harta yang dicarinya akan hilang nescaya mereka akan mem-belanjakannya pada jalán Aliah, dan seandainya manusia menyedari bahawa nyawa mereka akan berpisah dengan jasadnya nescaya mereka akan sanggup mati dicincang pada jalan Allah‘azza wa jalla. Mudah-mudahan Allah Swt memasukkan kita ke dalam pergerakan revolusi Islam al-Husain as. yang menentang musuh-musuh Allah dan menegakkan pemerintahan Allah dan Islam di atas muka bumi ini.

Allahu Akbar!

0 komentar:

Sabtu, 25 Oktober 2014

Gen Syi'ah - Pengusaha yang juga anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi, Alwaleed bin Talal, mengakui bahwa kerajaan pernah mendukung militan ISIS di Irak dan Suriah. Tapi dia mengatakan saat ini Saudi telah menghentikan pemberian bantuan dana bagi ISIS.

Dikutip oleh PressTV, Kamis 23 Oktober, Talal mengakui bahwa beberapa ekstremis Saudi pernah memberikan bantuan keuangan untuk mendanai ISIS. "Sayangnya, beberapa ekstremis di Arab Saudi memang pernah mendanai teroris di Suriah," katanya.

Keponakan Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz itu mengatakan saat ini kerajaan telah memberlakukan peraturan yang ketat untuk menghentikan pengiriman bantuan bagi ISIS. Dia meyakinkan bahwa semua bentuk bantuan sudah dihentikan sepenuhnya.

Sementara itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Rabu 22 Oktober, membenarkan bahwa militan ISIS telah merebut paket bantuan senjata yang dikirimkan AS pada para pejuang Kurdi melalui udara, awal pekan ini.

Militer AS mengirimkan 28 paket senjata berisi granat, mortir dan peluru. Juru bicara Pentagon, Kolonel Steve Warren, mengatakan sedikitnya satu paket bantuan amunisi dan senjata jatuh ke tangan militan ISIS.

"Akan selalu ada kesalahan saat mengirimkan pasokan melalui udara. Angin bisa menyebabkan parasut bergerak ke arah yang tidak diinginkan," kata Warren. Sebelumnya ISIS telah merilis video di YouTube, memperlihatkan paket senjata yang berhasil mereka kuasai.

Sumber: Vivanews
Berita

Hmm, Keponakan Raja Akui Arab Saudi Dukung #ISIS

Administrator  |  at  Sabtu, Oktober 25, 2014

Gen Syi'ah - Pengusaha yang juga anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi, Alwaleed bin Talal, mengakui bahwa kerajaan pernah mendukung militan ISIS di Irak dan Suriah. Tapi dia mengatakan saat ini Saudi telah menghentikan pemberian bantuan dana bagi ISIS.

Dikutip oleh PressTV, Kamis 23 Oktober, Talal mengakui bahwa beberapa ekstremis Saudi pernah memberikan bantuan keuangan untuk mendanai ISIS. "Sayangnya, beberapa ekstremis di Arab Saudi memang pernah mendanai teroris di Suriah," katanya.

Keponakan Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz itu mengatakan saat ini kerajaan telah memberlakukan peraturan yang ketat untuk menghentikan pengiriman bantuan bagi ISIS. Dia meyakinkan bahwa semua bentuk bantuan sudah dihentikan sepenuhnya.

Sementara itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Rabu 22 Oktober, membenarkan bahwa militan ISIS telah merebut paket bantuan senjata yang dikirimkan AS pada para pejuang Kurdi melalui udara, awal pekan ini.

Militer AS mengirimkan 28 paket senjata berisi granat, mortir dan peluru. Juru bicara Pentagon, Kolonel Steve Warren, mengatakan sedikitnya satu paket bantuan amunisi dan senjata jatuh ke tangan militan ISIS.

"Akan selalu ada kesalahan saat mengirimkan pasokan melalui udara. Angin bisa menyebabkan parasut bergerak ke arah yang tidak diinginkan," kata Warren. Sebelumnya ISIS telah merilis video di YouTube, memperlihatkan paket senjata yang berhasil mereka kuasai.

Sumber: Vivanews

0 komentar:

Gen Syi'ah - Para pembenci Syiah lupa pada fakta ini: Syiah tidak hanya sebuah mazhab dalam Islam. Sejak Revolusi Islam di Iran 35 tahun lampau, Syiah telah berubah menjadi sebuah simbol. Ya, simbol perlawanan.

Di mana-mana di dunia Islam, sosok Khomeini, Muthahhari dan Syariati menjadi ikon perlawanan atas hegemoni dan dominasi. Iran, dan belakangan Hizbullah di Lebanon yang juga berafiliasi dengan Syiah, melesat bak meteor menembus kebekuan gerak umat. Dunia Islam terguncang oleh retorika yang memancar dari revolusi Islam Iran, dan akhirnya, tak sedikit, yang melirik dan tertarik pada kandungan mazhabnya.

Syiah berubah dari sekedar mazhab yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Ia telah menjadi ideologi yang siap menentang, menantang dan mencabar berbagai bentuk tirani.

Ia seperti bara. Kekuasaan yang korup dan despot pun gerah mendengar perkembangan mazhab ini. Bukan karena Syiah itu punya dalil-dalil tekstual di kitab-kitab mereka dan kitab-kitab Sunni. Bukan itu yang ditakutkan oleh para penguasa. Yang mereka takutkan adalah sisi pergerakan dan perlawanan yang melambari mazhab ini.

Syiah dicap sebagai rafidhah (menolak) karena Syiah revolusi Khomeini memang tak pelak menolak kekuatan paling mencengkram di dunia Islam, yakni kekuatan Amerika Serikat dan seluruh sekutunya. Di puncak kelaliman dan kedigdayaan Amerika, para pemimpin Syiah bangkit memberontak. Berbekal inspirasi kisah Karbala dan perjuangan revolusi Islam Iran, para tokoh Syiah dunia seperti tak kenal takut dan lelah. Mereka seperti anak-anak onta yang kehausan menenggak susu syahadah. Bagi mereka, seperti Husein bin Ali di Padang Karbala, kematian itu tak lebih dari perjumpaan yang dinanti dan didambakan.

Semua kenyataan inilah yang sebenarnya menggerakkan badan-badan intelijen dunia, terutama dinas intelijen Amerika dan Arab Saudi, untuk melakukan serangkaian operasi agar ‘wabah Syiah’ tidak menjangkiti jutaan remaja Muslim. Mereka merancang gerakan stigmatisasi dan membangkitkan fanatisme sektarian di tengah umat. Tujuannya? Apalagi kalau bukan agar Syiah tidak terus mengancam kursi empuk mereka.

Dan begitulah. Pekerjaan awal lembaga-lembaga intelijen itu adalah merekrut tiga tipe agen: ustad karbitan yang haus ketenaran; pedagang yang hanya tahu untung rugi; dan terakhir pejuang dungu yang salah paham.

Tipe pertama diwakili oleh Bachtiar Natsir, Farid Okbah, Fahmi Salim, Said Samad, Ali Karrar, dan sebagainya. Tipe kedua diwakili oleh Ahmad bin Zein Alkaff, Ma’ruf Amien, Abu Jibril, Tengku Zulkarnain, Safiuddin Gersempal, Muhammad Baharun, Muhdor Alhamid, mantan bupati Sampang Noer Thahja dan sebagainya. Tipe ketiga paling sedikit jumlahnya, diwakili oleh Abu Bakar Ba’asyir.

Dalam perkembangannya, para ustad karbitan akan selalu mencari jalan ketenaran dengan mencaci maki dan mengkafirkan Syiah. Sehari mereka tidak melakukan tugas ini, sehari itu pula rating mereka merosot, dan bakal ada orang lain yang akan mengisinya. Persaingan di ranah ini cukup ketat mengingat banyaknya ustad yang siap dikarbit dengan cara apapun, termasuk mencaci maki orang atau mazhab yang jauh lebih baik daripada dirinya.

Tipe kedua lebih susah lagi. Sehari mereka tidak membuat seminar, melontarkan ceramah kebencian dan tidak memproduksi artikel atau buku yang mengkafirkan Syiah, maka rekening mereka akan menyusut drastis. Syiah adalah mata pencaharian. Ia menentukan jumlah kepulan asap dapur mereka. Mereka bakal bergiat melakukan segalanya sambil terus melaporkan perkembangan Syiah yang dibesar-besarkan kepada para donatur agar aliran dana kian deras mengucur.

Yang paling naas adalah tipe ketiga. Mereka akan selalu dijadikan sebagai ‘kombatan’, paling berkeringat, bersusah-payah, berpeluh berkeringat, berdarah-darah, masuk terungku dan sebagainya demi memperjuangkan gerakan anti Syiah. Mereka paling tidak meraih popularitas, paling sedikit menerima dana dan umumnya paling terdepan diusung di atas keranda.

Kepada mereka semua kita perlu ingatkan: Syiah Khomeini, Khamenei, Muthahhari, Syariat, Hasan Nashrallah, Musa Sadr, Baqir Sadr, Mustafa Chamran, Imad Mughniyah, Abdul Malik Al-Houtsi dan para pejuang lain takkan pernah surut.

Syiah bakal terus berkibar seiring dengan tetesan darah syuhada di jalan perlawanan atas penindasan dan penjajahan. Mereka bakal mekar semerbak wangi seperti bunga-bunga martir yang tak mungkin kuncup sekalipun tak pernah disiram dan dirawat.

Syiah tidak tumbuh dari kumpulan dalil naqli maupun ‘aqli, di dalam Ushul Kafi atau Biharul Anwar, menurut Shahih Bukhari maupun Muslim. Tidak! Syiah yang seperti ini tumbuh dalam jiwa tiap insan yang mau melawan kezaliman, yang siap berkorban dengan segalanya di jalan kebenaran. Syiah seperti ini sudah tentu akan selalu berhadap-hadapan dengan tiga tipe manusia tertipu seperti di atas.

Syiah seperti itu adalah manifestasi Karbala dan Asyura, yang timbul di tiap tempat dan zaman, tak peduli dalam situasi dan kondisi apapun manusia dan umat di sekitarnya, tak peduli seberapa banyak uang dan senjata yang hendak menghadangnya. Imam Husein dan keluarga beserta para sahabatnya gugur sebagai syuhada untuk hidup abadi. Begitupula dengan ajaran “Syiah” yang mereka usung.[]
Opini

Syi'ah adalah Simbol Perlawanan

Administrator  |  at  Sabtu, Oktober 25, 2014

Gen Syi'ah - Para pembenci Syiah lupa pada fakta ini: Syiah tidak hanya sebuah mazhab dalam Islam. Sejak Revolusi Islam di Iran 35 tahun lampau, Syiah telah berubah menjadi sebuah simbol. Ya, simbol perlawanan.

Di mana-mana di dunia Islam, sosok Khomeini, Muthahhari dan Syariati menjadi ikon perlawanan atas hegemoni dan dominasi. Iran, dan belakangan Hizbullah di Lebanon yang juga berafiliasi dengan Syiah, melesat bak meteor menembus kebekuan gerak umat. Dunia Islam terguncang oleh retorika yang memancar dari revolusi Islam Iran, dan akhirnya, tak sedikit, yang melirik dan tertarik pada kandungan mazhabnya.

Syiah berubah dari sekedar mazhab yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Ia telah menjadi ideologi yang siap menentang, menantang dan mencabar berbagai bentuk tirani.

Ia seperti bara. Kekuasaan yang korup dan despot pun gerah mendengar perkembangan mazhab ini. Bukan karena Syiah itu punya dalil-dalil tekstual di kitab-kitab mereka dan kitab-kitab Sunni. Bukan itu yang ditakutkan oleh para penguasa. Yang mereka takutkan adalah sisi pergerakan dan perlawanan yang melambari mazhab ini.

Syiah dicap sebagai rafidhah (menolak) karena Syiah revolusi Khomeini memang tak pelak menolak kekuatan paling mencengkram di dunia Islam, yakni kekuatan Amerika Serikat dan seluruh sekutunya. Di puncak kelaliman dan kedigdayaan Amerika, para pemimpin Syiah bangkit memberontak. Berbekal inspirasi kisah Karbala dan perjuangan revolusi Islam Iran, para tokoh Syiah dunia seperti tak kenal takut dan lelah. Mereka seperti anak-anak onta yang kehausan menenggak susu syahadah. Bagi mereka, seperti Husein bin Ali di Padang Karbala, kematian itu tak lebih dari perjumpaan yang dinanti dan didambakan.

Semua kenyataan inilah yang sebenarnya menggerakkan badan-badan intelijen dunia, terutama dinas intelijen Amerika dan Arab Saudi, untuk melakukan serangkaian operasi agar ‘wabah Syiah’ tidak menjangkiti jutaan remaja Muslim. Mereka merancang gerakan stigmatisasi dan membangkitkan fanatisme sektarian di tengah umat. Tujuannya? Apalagi kalau bukan agar Syiah tidak terus mengancam kursi empuk mereka.

Dan begitulah. Pekerjaan awal lembaga-lembaga intelijen itu adalah merekrut tiga tipe agen: ustad karbitan yang haus ketenaran; pedagang yang hanya tahu untung rugi; dan terakhir pejuang dungu yang salah paham.

Tipe pertama diwakili oleh Bachtiar Natsir, Farid Okbah, Fahmi Salim, Said Samad, Ali Karrar, dan sebagainya. Tipe kedua diwakili oleh Ahmad bin Zein Alkaff, Ma’ruf Amien, Abu Jibril, Tengku Zulkarnain, Safiuddin Gersempal, Muhammad Baharun, Muhdor Alhamid, mantan bupati Sampang Noer Thahja dan sebagainya. Tipe ketiga paling sedikit jumlahnya, diwakili oleh Abu Bakar Ba’asyir.

Dalam perkembangannya, para ustad karbitan akan selalu mencari jalan ketenaran dengan mencaci maki dan mengkafirkan Syiah. Sehari mereka tidak melakukan tugas ini, sehari itu pula rating mereka merosot, dan bakal ada orang lain yang akan mengisinya. Persaingan di ranah ini cukup ketat mengingat banyaknya ustad yang siap dikarbit dengan cara apapun, termasuk mencaci maki orang atau mazhab yang jauh lebih baik daripada dirinya.

Tipe kedua lebih susah lagi. Sehari mereka tidak membuat seminar, melontarkan ceramah kebencian dan tidak memproduksi artikel atau buku yang mengkafirkan Syiah, maka rekening mereka akan menyusut drastis. Syiah adalah mata pencaharian. Ia menentukan jumlah kepulan asap dapur mereka. Mereka bakal bergiat melakukan segalanya sambil terus melaporkan perkembangan Syiah yang dibesar-besarkan kepada para donatur agar aliran dana kian deras mengucur.

Yang paling naas adalah tipe ketiga. Mereka akan selalu dijadikan sebagai ‘kombatan’, paling berkeringat, bersusah-payah, berpeluh berkeringat, berdarah-darah, masuk terungku dan sebagainya demi memperjuangkan gerakan anti Syiah. Mereka paling tidak meraih popularitas, paling sedikit menerima dana dan umumnya paling terdepan diusung di atas keranda.

Kepada mereka semua kita perlu ingatkan: Syiah Khomeini, Khamenei, Muthahhari, Syariat, Hasan Nashrallah, Musa Sadr, Baqir Sadr, Mustafa Chamran, Imad Mughniyah, Abdul Malik Al-Houtsi dan para pejuang lain takkan pernah surut.

Syiah bakal terus berkibar seiring dengan tetesan darah syuhada di jalan perlawanan atas penindasan dan penjajahan. Mereka bakal mekar semerbak wangi seperti bunga-bunga martir yang tak mungkin kuncup sekalipun tak pernah disiram dan dirawat.

Syiah tidak tumbuh dari kumpulan dalil naqli maupun ‘aqli, di dalam Ushul Kafi atau Biharul Anwar, menurut Shahih Bukhari maupun Muslim. Tidak! Syiah yang seperti ini tumbuh dalam jiwa tiap insan yang mau melawan kezaliman, yang siap berkorban dengan segalanya di jalan kebenaran. Syiah seperti ini sudah tentu akan selalu berhadap-hadapan dengan tiga tipe manusia tertipu seperti di atas.

Syiah seperti itu adalah manifestasi Karbala dan Asyura, yang timbul di tiap tempat dan zaman, tak peduli dalam situasi dan kondisi apapun manusia dan umat di sekitarnya, tak peduli seberapa banyak uang dan senjata yang hendak menghadangnya. Imam Husein dan keluarga beserta para sahabatnya gugur sebagai syuhada untuk hidup abadi. Begitupula dengan ajaran “Syiah” yang mereka usung.[]

0 komentar:

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil Syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelak dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahawa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan Bid’ah menurut agama dan Mazhab.

Ayatullah Musykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

FATWA ULAMA YANG MASIH HIDUP

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggaln dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani sahaja yang dibenarkan…. mengapa?

Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah senantiasa menyadari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.[]

Catatan:
Pertanyaan bagi mereka yang masih menggunakan isu ini sebagai senjata untuk melisensi bahwa Syiah itu Sesat dan bukan bagian dari Islam.

Pertanyaan: Ketika ada diantara orang-orang Sunni yang melakukan maksiat atau perbuatan yang buruk, apakah lantas hal itu menjadi sebuah lisensi juga untuk mengatakan bahwa Sunni itu Sesat dan bukan bagian dari Islam?

Jawaban: Klik, Ciri-ciri Syiah Takfiri dan Sunni Takfiri (Muslim Wajib Nonton).

Tags: Ritual Berdarah Syi'ah di Hari Asyura, Kelakuan Sesat Syi'ah di Hari 'Asyura, Ritual Syi'ah di Hari Asyura Dalam Pandangan Islam, 'Asyura Versi Sunni Dan Syiah, Photo Ritual Kebodohan Agama Syiah, Syi'ah Membunuh Anaknya Di Hari Asyura, Jejak amalan syiah, Biarkan Syiah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya, Kesesatan Syi'ah : Shia Crazy Muharram (Asyura) Ritual, Ritual Asyura Syi'ah Melukai Diri dan Anak-anak di Karbala, Ritual Asyura Orang-Orang Syiah Rafidhah, Ritual Berdarah Syiah Lebanon pada Perayaan asyura, Gambar-Gambar Mengerikan Ritual Siksa Diri Penganut syiah, DMuslim Syiah Siksa Diri Sendiri, Acara Sesat Perayaan Asyuro, Perayaan Asyura aliran sesat Syiah dilarang, Inilah Penyimpangan & Kesesatan Aqidah Syiah.
Fatwa

Apa Kata Ulama Syiah Soal Orang Syiah yang Melukai Diri di Hari Asyura?

Administrator  |  at  Sabtu, Oktober 25, 2014

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil Syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelak dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahawa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan Bid’ah menurut agama dan Mazhab.

Ayatullah Musykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

FATWA ULAMA YANG MASIH HIDUP

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggaln dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani sahaja yang dibenarkan…. mengapa?

Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah senantiasa menyadari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.[]

Catatan:
Pertanyaan bagi mereka yang masih menggunakan isu ini sebagai senjata untuk melisensi bahwa Syiah itu Sesat dan bukan bagian dari Islam.

Pertanyaan: Ketika ada diantara orang-orang Sunni yang melakukan maksiat atau perbuatan yang buruk, apakah lantas hal itu menjadi sebuah lisensi juga untuk mengatakan bahwa Sunni itu Sesat dan bukan bagian dari Islam?

Jawaban: Klik, Ciri-ciri Syiah Takfiri dan Sunni Takfiri (Muslim Wajib Nonton).

Tags: Ritual Berdarah Syi'ah di Hari Asyura, Kelakuan Sesat Syi'ah di Hari 'Asyura, Ritual Syi'ah di Hari Asyura Dalam Pandangan Islam, 'Asyura Versi Sunni Dan Syiah, Photo Ritual Kebodohan Agama Syiah, Syi'ah Membunuh Anaknya Di Hari Asyura, Jejak amalan syiah, Biarkan Syiah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya, Kesesatan Syi'ah : Shia Crazy Muharram (Asyura) Ritual, Ritual Asyura Syi'ah Melukai Diri dan Anak-anak di Karbala, Ritual Asyura Orang-Orang Syiah Rafidhah, Ritual Berdarah Syiah Lebanon pada Perayaan asyura, Gambar-Gambar Mengerikan Ritual Siksa Diri Penganut syiah, DMuslim Syiah Siksa Diri Sendiri, Acara Sesat Perayaan Asyuro, Perayaan Asyura aliran sesat Syiah dilarang, Inilah Penyimpangan & Kesesatan Aqidah Syiah.

1 komentar:

Gen Syi'ah - Keputusan pengadilan Arab Saudi menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap ulama Syiah terkemuka Sheikh Nimr Baqir Al-Nimr yang memicu reaksi keras dunia Islam, dan lembaga pembela hak asasi manusia. Di dalam negeri, warga kota Qatif mereaksi putusan pengadilan Saudi itu dengan turun ke jalan meneriakkan protes mereka. Demonstrasi luas di Qatif berlangsung di saat para analis memprediksi eskalasi protes masif di negara ini pasca vonis tersebut. Pengadilan pidana Arab Saudi pada hari Rabu (15/10) menetapkan vonis mati terhadap Syeikh Nimr Baqir al-Nimr dengan tudingan membantu teroris, memprovokasi perusuh dan melakukan kerusakan. Seluruh tudingan sepihak tersebut tidak pernah terbukti, dan pengadilan mengeluarkan keputusan vonis tersebut untuk melayani kepentingan politik rezim Al Saud.

Ayatullah Nimr Baqir al-Nimr ditangkap di kota Awamiya Pada 8 Juli 2012 lalu. Pihak kepolisian Arab Saudi mengklaim ketika menangkap ulama Saudi terkemuka itu di dalam mobilnya ditemukan senjata. Oleh karena itu mereka menembak Ayatullah Nimr hingga terluka. Tapi, para saksi membantah tudingan polisi Saudi tersebut. Menurut mereka, Sheikh Nimr tidak membawa senjata ketika ditangkap. Selama bertahun-tahun, ulama Syiah terkemuka Saudi ini menyampaikan protesnya secara damai. Beliau menyuarakan pembelaannya terhadap minoritas Syiah yang ditindas oleh penguasa rezim Al Saud. Ayatullah Nimr mengkritik korupsi yang merebak di kalangan penguasa Riyadh. Ulama Syiah ini menyuarakan demokrasi dan kebebasan serta keadilan di negara Arab itu.

Selama ini Ayatullah Nimr dikenal vocal menyingkap dekadensi moral penguasa negara-negara Arab di pesisir Teluk Persia, dan mempertanyakan transisi kekuasaan monarki Arab yang berpindah secara turun temurun dari ayah ke anak, maupun dari raja ke pangeran mahkota. Sebelum pengadilan Saudi menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Sheikh Nimr, pemerintah Riyadh berulangkali menangkap dan menyiksa ulama yang menyuarakan penderitaan rakyat negara Arab di bawah tirani rezim Al Saud itu.

Di tingkat global, keputusan eksekusi mati terhadap Sheikh Nimr memicu reaksi dari lembaga internasional. Amnesti Internasional mengecam keras keputusan pengadilan pidana Riyadh, ibukota Saudi yang menjatuhkan hukuman mati terhadap Ayatullah Nimr. Menurut organisasi internasional itu, vonis ini menindas dan berbahaya. Amnesti Internasional menilai pengadilan atas Nimr banyak memiliki cacat, untuk itu organisasi internasional tersebut mendesak dicabutnya segera vonis hukuman mati yang dikeluarkan demi menumpas setiap oposan pemerintah Riyadh termasuk pembela hak asasi itu. Amnesti Internasional meminta pemerintah Saudi segera membebaskan ulama Saudi tersebut, dan mengakhiri praktek-praktek diskriminasi serta intimidasi sistematik terhadap kubu oposisi.

Para tokoh dari berbagai negara menyampaikan protes atas keputusan tersebut. Misalnya, Humam Hamoudi, wakil ketua parlemen Irak menuntut pencabutan hukuman mati terhadap Sheikh Nimr. Sheikh Humam Hamoudi hari Sabtu (18/10) mendesak pemerintah Arab Saudi memberikan hak kepada pihak oposan untuk menyampaikan pandangannya,dan Riyadh segera mencabut keputusan vonis mati terhadap Sheikh Nimr. Menurut politisi Irak ini, langkah pengadilan Arab Saudi menjatuhkan vonis mati bagi ulama Syiah juga menuai reaksi keras dari para pemimpin politik, tokoh masyarakat dan agama Irak. Sejumlah kubu memperingatkan Arab Saudi mengenai dampak dari pelaksanaan hukuman mati tersebut.

Transformasi terbaru di Arab Saudi menunjukkan rezim al-Saud yang berkuasa di negara ini tengah menghadapi masa depan yang suram dan tak jelas. Laman al-Sharq al-Awsat Lebanon mengungkapkan kondisi sulit rezim al-Saud menghadapi masalah sosial, politik dan keamanan di Arab Saudi. Sikap diskriminatif rezim al-Saud terhadap protes damai warganya sendiri, yang berlanjut dengan penangkapan dan vonis tak adil serta kondisi fisik sang raja yang memburuk membuat negara ini mengarah menuju masa depan yang tak jelas dan suram.

Situs ini menyinggung ancaman para teroris Arab Saudi yang kembali ke negaranya dari Irak dan Suriah terhadap lembaga Arab Saudi. Aksi destruktif kelompok teroris dari satu sisi, dan penumpasan terhadap demonstran dari sisi lain, membuat kondisi krisis di tubuh rezim Riyadh semakin serius. Menurut laman al-Sharq al-Awsat, para demonstran Arab Saudi memprotes kemiskinan yang mereka alami meski negaranya memiliki kekayaan minyak yang melimpah dengan meneladani aksi protes damai warga Bahrain. Selain itu, al-Sharq al-Awsat juga menyinggung perebutan kekuasaan di antara pangeran Saudi. Sejak tahun 2011, bertepatan dengan meningkatnya aksi protes damai rakyat menentang diskriminasi yang dilakukan rezim Al Saud, ratusan orang di negara ini ditangkap dengan alasan mengikuti demonstrasi damai.

Tampaknya, penangkapan dan eksekusi mati Sheikh Nimr bertujuan memberangus suara penuntut keadilan di negara Arab itu. Para pengamat menilai keluarnya vonis eksekusi mati terhadap Sheikh Nimr bertujuan politik, dan rezim Al Saud akan membayar mahal keputusan yang dampaknya tidak bisa diperkirakan tersebut.

Timur Tengah saat ini menghadapi berbagai krisis, dan keamanan kawasan semakin terancam dengan meningkatnya aktivitas kelompok-kelompok takfiri dan teroris. Kini orang-orang Saudi menjadi faktor utama munculnya krisis keamanan di kawasan. Berbagai laporan menunjukkan dukungan mereka terhadap kelompok-kelompok teroris di Suriah, Irak, Lebanon, Afghanistan dan Pakistan. Dengan cara itu, mereka berupaya mengarahkan transformasi regional demi kepentingan melanggengkan rezim monarki. yang didukung kebijakan negara-negara Barat. Tapi, dampak dari kebijakan ini justru berbalik arah menjadi bumerang bagi pemerintah Arab Saudi sendiri, dan sekutunya di kawasan, sehingga memaksa mereka untuk membentuk koalisi global anti-ISIS.

Arab Saudi selama ini merupakan sumber penyebaran terorisme takfiri di Timur Tengah, yang meluas ke kawasan lain. Rezim Al Saud ingin menguatkan posisi tawar Riyadh dan sekutunya, Israel, dengan menciptakan instabilitas di Suriah, Irak dan Lebanon, yang merupakan poros perlawanan menghadapi rezim Zionis. Saat ini kebijakan tersebut berbalik menyerang rezim Al Saud sendiri. Faktanya, masalah Timur Tengah berkelindan antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Oleh karena itu, setiap peristiwa akan berpengaruh terhadap seluruh kawasan. Masalah keluarnya vonis eksekusi mati terhadap Sheikh Nimr Baqir al-Nimr tidak keluar dari kaidah ini.

Tampaknya, eksekusi mati pemimpin Syiah Saudi ini diprediksi akan menjadikan Arab Saudi sebagai poros transformasi regional. Keluarnya vonis tersebut akan menjadi percikan api yang menyulut protes luas lebih dari dua juta warga Syiah negeri petrodolar itu. Selama bertahun-tahun mereka diperlakukan sebagai "warga kelas dua" yang tidak memperoleh haknya, bahkan yang paling mendasar sekalipun, seperti kebebasan. Kini, apakah penguasa Al Saud sudah memikirkan dampak dari keputusannya yang akan menyulut krisis akut yang mungkin tidak dibayangkan sebelumnya? Ataukah, mereka tetap mengekor fatwa mufti Wahabi dan takfiri yang berambisi memberangus Syiah Saudi dengan memvonis mati Sheikh Nimr?

Sebagai Renungan:

Syaikh Nimr, orang berseban putih di gambar atas yang divonis hukuman mati. Sementara raja saudi, orang yang berkerudung putih di gambar bawah yang memutuskan hukuman mati terhadap Syaikh Nimr.

Artikel

Di Balik Vonis Hukuman Mati Ayatullah Syeikh Nimr Baqir Al-Nimr

Administrator  |  at  Sabtu, Oktober 25, 2014

Gen Syi'ah - Keputusan pengadilan Arab Saudi menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap ulama Syiah terkemuka Sheikh Nimr Baqir Al-Nimr yang memicu reaksi keras dunia Islam, dan lembaga pembela hak asasi manusia. Di dalam negeri, warga kota Qatif mereaksi putusan pengadilan Saudi itu dengan turun ke jalan meneriakkan protes mereka. Demonstrasi luas di Qatif berlangsung di saat para analis memprediksi eskalasi protes masif di negara ini pasca vonis tersebut. Pengadilan pidana Arab Saudi pada hari Rabu (15/10) menetapkan vonis mati terhadap Syeikh Nimr Baqir al-Nimr dengan tudingan membantu teroris, memprovokasi perusuh dan melakukan kerusakan. Seluruh tudingan sepihak tersebut tidak pernah terbukti, dan pengadilan mengeluarkan keputusan vonis tersebut untuk melayani kepentingan politik rezim Al Saud.

Ayatullah Nimr Baqir al-Nimr ditangkap di kota Awamiya Pada 8 Juli 2012 lalu. Pihak kepolisian Arab Saudi mengklaim ketika menangkap ulama Saudi terkemuka itu di dalam mobilnya ditemukan senjata. Oleh karena itu mereka menembak Ayatullah Nimr hingga terluka. Tapi, para saksi membantah tudingan polisi Saudi tersebut. Menurut mereka, Sheikh Nimr tidak membawa senjata ketika ditangkap. Selama bertahun-tahun, ulama Syiah terkemuka Saudi ini menyampaikan protesnya secara damai. Beliau menyuarakan pembelaannya terhadap minoritas Syiah yang ditindas oleh penguasa rezim Al Saud. Ayatullah Nimr mengkritik korupsi yang merebak di kalangan penguasa Riyadh. Ulama Syiah ini menyuarakan demokrasi dan kebebasan serta keadilan di negara Arab itu.

Selama ini Ayatullah Nimr dikenal vocal menyingkap dekadensi moral penguasa negara-negara Arab di pesisir Teluk Persia, dan mempertanyakan transisi kekuasaan monarki Arab yang berpindah secara turun temurun dari ayah ke anak, maupun dari raja ke pangeran mahkota. Sebelum pengadilan Saudi menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Sheikh Nimr, pemerintah Riyadh berulangkali menangkap dan menyiksa ulama yang menyuarakan penderitaan rakyat negara Arab di bawah tirani rezim Al Saud itu.

Di tingkat global, keputusan eksekusi mati terhadap Sheikh Nimr memicu reaksi dari lembaga internasional. Amnesti Internasional mengecam keras keputusan pengadilan pidana Riyadh, ibukota Saudi yang menjatuhkan hukuman mati terhadap Ayatullah Nimr. Menurut organisasi internasional itu, vonis ini menindas dan berbahaya. Amnesti Internasional menilai pengadilan atas Nimr banyak memiliki cacat, untuk itu organisasi internasional tersebut mendesak dicabutnya segera vonis hukuman mati yang dikeluarkan demi menumpas setiap oposan pemerintah Riyadh termasuk pembela hak asasi itu. Amnesti Internasional meminta pemerintah Saudi segera membebaskan ulama Saudi tersebut, dan mengakhiri praktek-praktek diskriminasi serta intimidasi sistematik terhadap kubu oposisi.

Para tokoh dari berbagai negara menyampaikan protes atas keputusan tersebut. Misalnya, Humam Hamoudi, wakil ketua parlemen Irak menuntut pencabutan hukuman mati terhadap Sheikh Nimr. Sheikh Humam Hamoudi hari Sabtu (18/10) mendesak pemerintah Arab Saudi memberikan hak kepada pihak oposan untuk menyampaikan pandangannya,dan Riyadh segera mencabut keputusan vonis mati terhadap Sheikh Nimr. Menurut politisi Irak ini, langkah pengadilan Arab Saudi menjatuhkan vonis mati bagi ulama Syiah juga menuai reaksi keras dari para pemimpin politik, tokoh masyarakat dan agama Irak. Sejumlah kubu memperingatkan Arab Saudi mengenai dampak dari pelaksanaan hukuman mati tersebut.

Transformasi terbaru di Arab Saudi menunjukkan rezim al-Saud yang berkuasa di negara ini tengah menghadapi masa depan yang suram dan tak jelas. Laman al-Sharq al-Awsat Lebanon mengungkapkan kondisi sulit rezim al-Saud menghadapi masalah sosial, politik dan keamanan di Arab Saudi. Sikap diskriminatif rezim al-Saud terhadap protes damai warganya sendiri, yang berlanjut dengan penangkapan dan vonis tak adil serta kondisi fisik sang raja yang memburuk membuat negara ini mengarah menuju masa depan yang tak jelas dan suram.

Situs ini menyinggung ancaman para teroris Arab Saudi yang kembali ke negaranya dari Irak dan Suriah terhadap lembaga Arab Saudi. Aksi destruktif kelompok teroris dari satu sisi, dan penumpasan terhadap demonstran dari sisi lain, membuat kondisi krisis di tubuh rezim Riyadh semakin serius. Menurut laman al-Sharq al-Awsat, para demonstran Arab Saudi memprotes kemiskinan yang mereka alami meski negaranya memiliki kekayaan minyak yang melimpah dengan meneladani aksi protes damai warga Bahrain. Selain itu, al-Sharq al-Awsat juga menyinggung perebutan kekuasaan di antara pangeran Saudi. Sejak tahun 2011, bertepatan dengan meningkatnya aksi protes damai rakyat menentang diskriminasi yang dilakukan rezim Al Saud, ratusan orang di negara ini ditangkap dengan alasan mengikuti demonstrasi damai.

Tampaknya, penangkapan dan eksekusi mati Sheikh Nimr bertujuan memberangus suara penuntut keadilan di negara Arab itu. Para pengamat menilai keluarnya vonis eksekusi mati terhadap Sheikh Nimr bertujuan politik, dan rezim Al Saud akan membayar mahal keputusan yang dampaknya tidak bisa diperkirakan tersebut.

Timur Tengah saat ini menghadapi berbagai krisis, dan keamanan kawasan semakin terancam dengan meningkatnya aktivitas kelompok-kelompok takfiri dan teroris. Kini orang-orang Saudi menjadi faktor utama munculnya krisis keamanan di kawasan. Berbagai laporan menunjukkan dukungan mereka terhadap kelompok-kelompok teroris di Suriah, Irak, Lebanon, Afghanistan dan Pakistan. Dengan cara itu, mereka berupaya mengarahkan transformasi regional demi kepentingan melanggengkan rezim monarki. yang didukung kebijakan negara-negara Barat. Tapi, dampak dari kebijakan ini justru berbalik arah menjadi bumerang bagi pemerintah Arab Saudi sendiri, dan sekutunya di kawasan, sehingga memaksa mereka untuk membentuk koalisi global anti-ISIS.

Arab Saudi selama ini merupakan sumber penyebaran terorisme takfiri di Timur Tengah, yang meluas ke kawasan lain. Rezim Al Saud ingin menguatkan posisi tawar Riyadh dan sekutunya, Israel, dengan menciptakan instabilitas di Suriah, Irak dan Lebanon, yang merupakan poros perlawanan menghadapi rezim Zionis. Saat ini kebijakan tersebut berbalik menyerang rezim Al Saud sendiri. Faktanya, masalah Timur Tengah berkelindan antara satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Oleh karena itu, setiap peristiwa akan berpengaruh terhadap seluruh kawasan. Masalah keluarnya vonis eksekusi mati terhadap Sheikh Nimr Baqir al-Nimr tidak keluar dari kaidah ini.

Tampaknya, eksekusi mati pemimpin Syiah Saudi ini diprediksi akan menjadikan Arab Saudi sebagai poros transformasi regional. Keluarnya vonis tersebut akan menjadi percikan api yang menyulut protes luas lebih dari dua juta warga Syiah negeri petrodolar itu. Selama bertahun-tahun mereka diperlakukan sebagai "warga kelas dua" yang tidak memperoleh haknya, bahkan yang paling mendasar sekalipun, seperti kebebasan. Kini, apakah penguasa Al Saud sudah memikirkan dampak dari keputusannya yang akan menyulut krisis akut yang mungkin tidak dibayangkan sebelumnya? Ataukah, mereka tetap mengekor fatwa mufti Wahabi dan takfiri yang berambisi memberangus Syiah Saudi dengan memvonis mati Sheikh Nimr?

Sebagai Renungan:

Syaikh Nimr, orang berseban putih di gambar atas yang divonis hukuman mati. Sementara raja saudi, orang yang berkerudung putih di gambar bawah yang memutuskan hukuman mati terhadap Syaikh Nimr.

0 komentar:

Jumat, 24 Oktober 2014

1. Menyembunyikan amal baik dan musibah
“Termasuk harta simpanan di surga, berbuat kebajikan, menyembunyikan amal baik, sabar atas segala musibah dan menyembunyikan musibah”.

2. Tanda-tanda orang zahid
“Orang yang zahid adalah yang ketabahannya tidak dikalahkan oleh hal-hal yang haram dan hal-hal yang halal tidak melupakannya untuk bersyukur”.

3. Tidak berlebihan dalam mencintai dan membenci
“Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari”.

4. Harga setiap insan
“Harga setiap orang bergantung kepada amalan baiknya”.

5. Faqih yang sempurna
“Maukah kuberitahukan kepada kalian seorang faqih yang sesungguhnya? Ia adalah orang yang tidak mengizinkan orang lain bermaksiat kepada Allah, tidak memutusasakannya dari rahmat-Nya, tidak menjadikannya merasa aman dari makar-Nya, dan tidak meninggalkan Al Quran dan memilih yang lainnya karena benci terhadapnya. Tiada kebaikan bagi sebuah ibadah yang tidak disertai oleh pemahaman, tiada kebaikan bagi sebuah ilmu yang tidak disertai oleh tafakur, dan tiada kebaikan bagi pembacaan Al Quran yang tidak disertai oleh tadabur”.

6. Bahaya terlalu berharap dan mengikuti hawa nafsu
“Aku sangat mengkhawatirkan dua hal terhadap kalian: pengharapan yang terlalu panjang dan mengikuti hawa nafsu. Karena pengharapan yang terlalu panjang akan menjadikan orang lupa akhirat dan mengikuti hawa nafsu akan mencegahnya dari kebenaran”.

7. Batasan persahabatan 
“Janganlah kau jadikan musuh sahabatmu sebagai sahabatmu, karena dengan itu engkau telah memusuhi sahabatmu sendiri”.

8. Macam-macam kesabaran
“Kesabaran itu ada tiga macam: sabar atas musibah, sabar atas ketaatan (kepada Allah) dan sabar atas maksiat”.

9. Kemiskinan yang telah ditakdirkan
“Barang siapa yang jatuh miskin dan ia tidak menganggap bahwa hal itu adalah suatu anugerah dari Allah, maka ia telah melenyapkan sebuah harapan, dan barang siapa menjadi kaya-raya dan ia tidak memikirkan bahwa hal itu adalah sebuah ujian dari-Nya, maka ia telah terjerumus ke dalam sebuah jurang yang menakutkan”.

10.  Kemuliaan, bukan kehinaan
“Kematian ya, kehinaan tidak! Keteguhan pendirian ya, ketololan tidak! Masa adalah dua hari: pada satu hari ia akan memihak kepadamu dan pada hari yang lain ia akan membawa bencana bagimu. Jika ia sedang memihak kepadamu, maka jangan terlalu berbahagia, dan jika ia membawa bencana bagimu, maka janganlah susah. Engkau akan diuji dengan keduanya”.

11. Memohon kebaikan
“Tidak akan bingung orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah”.

12. Mencintai negara
“Sebuah negeri akan makmur jika (penduduknya) mencintainya”.

13. Tiga macam ilmu
“Ilmu itu ada tiga: fiqih untuk memahami agama, kedokteran untuk menjaga kesehatan badan dan Nahwu untuk menjaga mulut salah ucap”.

14. Nilai seseorang
“Berbicaralah tentang ilmu niscaya harga dirimu akan tampak”.

15. Jangan yakini!
“Jangankan meyakinkan kepada dirimu bahwa engkau miskin dan panjang umur”.

16. Menghormati seorang mukmin
“Mencela seorang mukmin adalah sebuah kefasikan, memeranginya adalah sebuah kekufuran dan kehormatan hartanya seperti kehormatan darahnya”.

17. Kefakiran
“Kefakiran adalah kematian yang paling besar, dan sedikitnya keluarga salah satu dari dua kemudahan. Ini adalah separuh kebahagiaan”.

18. Dua hal yang membahayakan
“Dua hal yang dapat menghancurkan manusia: takut miskin dan berbangga diri”.

19. Tiga orang dianggap zalim
“Pelaku kezaliman, orang yang membantunya dan orang yang diam dengan kezaliman tersebut adalah orang-orang zalim”.

20. Sabar terbaik
“Kesabaran itu ada dua macam: sabar ketika ditimpa musibah. Ini adalah hal yang baik. Dan lebih baik dari itu adalah sabar menahan diri untuk tidak melanggar hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah atas dirimu”.

21. Melaksanakan amanat
“Sampaikanlah amanat walaupun kepada pembunuh putra nabi”.

22. Enggan tenar
Imam Ali a.s. berpesan kepada Kumail bin Ziyad: “Tenanglah, jangan berambisi untuk ingin dikenal, sembunyikanlah kepribadianmu jangan sampai disebut-sebut di depan orang lain. Belajarlah niscaya engkau akan mengetahui dan diamlah niscaya engkau akan selamat. Tidak buruk bagimu jika Allah telah memahamkan agama-Nya kepadamu meskipun engkau tidak mengenal orang lain dan ia juga tidak mengenalmu”.

23. Siksa enam golongan
“Allah akan menguji enam golongan dengan enam jenis ujian: menguji bangsa Arab dengan fanatisme, menguji para pembesar desa dengan kesombongan, menguji para pemimpin dengan kelaliman, menguji fuqaha` dengan kedengkian, menguji para pedagang dengan khianat dan menguji para penduduk desa dengan kebodohan”.

24. Rukun-rukun iman
“Iman memiliki empat rukun: tawakal kepada Allah, menyerahkan segala urusan kepada-Nya, menerima segala perintah-Nya, dan rela terhadap semua ketentuan-Nya”.

25. Pendidikan akhlak
“Hiasilah akhlak kalian dengan segala kebajikan, setirlah ia menuju keagungan (akhlak) dan biasakanlah diri kalian untuk bersabar”.

26. Mempermudah urusan masyarakat dan menjauhi perbuatan hina
“Jangan terlalu mempersulit urusan orang lain dan junjunglah harga diri kalian dengan melupakan perbuatan hina”.

27. Penjaga manusia
“Cukuplah bagi setiap orang sebagai benteng bahwa tidak ada seorang pun (di dunia ini) kecuali ia memiliki para penjaga yang telah diutus oleh Allah untuk menjaganya supaya ia tidak jatuh ke dalam sumur (baca : jurang), supaya tembok tidak jatuh di atas kepalanya dan ia tidak diserang oleh binatang buas. Dan jika ajalnya telah tiba, maka mereka akan meninggalkannya berdua dengan ajalnya itu”.

28. Masa kelaliman
“Akan datang menimpa manusia suatu masa, orang-orang yang tidak memiliki keahlian akan dihormati, tidak ditemukan di dalamnya orang yang cerdas dan cerdik kecuali ia lalim, tidak dipercaya kecuali pengkhianat dan tidak dituduh berkhianat kecuali orang yang terpercaya. Mereka akan menggunakan harta negara untuk kepentingan pribadi mereka, zakat sebagai sumber penghasilan, silaturahmi sebagai sarana untuk mengungkit-ungkit kebajikan dan ibadah sebagai kebanggaan dan menzalimi orang lain. Dan hal ini terjadi ketika wanita menjadi penguasa, budak-budak wanita menjadi tempat rujukan dan musyawarah dan anak-anak kecil menjadi pemimpin”.

29. Cerdik menghadapi fitnah
“Ketika fitnah berkecamuk, jadikanlah dirimu seperti ibnu labun (anak unta yang belum berumur dua tahun), karena ia masih belum memiliki punggung yang kuat untuk dapat ditunggangi dan tidak memiliki air susu untuk dapat diperah”.

30. Manusia yang paling lemah
“Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak dapat menjalin tali persahabatan dengan orang lain, dan lebih lemah darinya adalah orang yang mudah melepaskan persaudaraan dengan sahabatnya”.

31. Kaffarah dosa-dosa besar
“Di antara kaffarah dosa-dosa besar adalah menolong orang yang meminta pertolongan dan membahagiakan orang yang sedang ditimpa kesusahan”.

32. Tanda kesempurnaan akal
“Jika akal (seseorang) telah sempurna, maka ia akan sedikit berbicara”.

33. Berhubungan dengan Allah
“Barang siapa telah memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Ia akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain, dan barang siapa telah memperbaiki urusan akhiratnya, maka Ia akan memperbaiki urusan dunianya”.

34. Merenungkan
“Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit”.

35. Pahala orang yang meninggalkan dosa
“Pahala pejuang yang syahid di jalan Allah tidak lebih besar dari pahala orang yang mampu untuk berbuat maksiat lalu ia meninggalkannya. Tidak mustahil para peninggal dosa akan menjadi malaikat”.

36. Akibat perbuatan dosa
“Ingatlah bahwa segala kenikmatan (dosa) akan sirna dan akibatnya akan kekal abadi”.

37. Kriteria dunia
“(Dunia itu) adalah menipu, membahayakan dan sepintas”.

38. Para pemegang agama di akhir zaman
“Akan datang kepada manusia suatu masa yang tidak tertinggal dari Al Quran kecuali tulisannya dan dari Islam kecuali namanya, pada masa itu masjid-masjid dimakmurkan bangunannya sedangkan ia sendiri kosong dari hidayah, orang-orang yang menghuni dan memakmurkannya adalah orang yang paling jahat di muka bumi. Fitnah bersumber dari mereka dan segala kesalahan kembali kepada mereka. Orang-orang yang tertinggal dari kafilah fitnah tersebut (taubat–pen) akan dipaksa untuk kembali dan orang-orang yang tertinggal di belakang (baca : tidak ikut serta dalam kafilah itu) akan didorong maju ke depan (supaya bergabung dengannya). Allah berfirman: “Demi Dzat-Ku, akan Kukirim untuk mereka sebuah fitnah (besar) yang akan menjadikan orang-orang sabar bingung (menentukan sikap)”. Dan Ia telah melakukan hal itu. Kita memohon kepada-Nya untuk mengampuni kelupaan yang membuat kita tergelincir”.

Artikel

Mutiara Hadits Imam Ali bin Abi Thalib alaihissalam

Unknown  |  at  Jumat, Oktober 24, 2014

1. Menyembunyikan amal baik dan musibah
“Termasuk harta simpanan di surga, berbuat kebajikan, menyembunyikan amal baik, sabar atas segala musibah dan menyembunyikan musibah”.

2. Tanda-tanda orang zahid
“Orang yang zahid adalah yang ketabahannya tidak dikalahkan oleh hal-hal yang haram dan hal-hal yang halal tidak melupakannya untuk bersyukur”.

3. Tidak berlebihan dalam mencintai dan membenci
“Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari”.

4. Harga setiap insan
“Harga setiap orang bergantung kepada amalan baiknya”.

5. Faqih yang sempurna
“Maukah kuberitahukan kepada kalian seorang faqih yang sesungguhnya? Ia adalah orang yang tidak mengizinkan orang lain bermaksiat kepada Allah, tidak memutusasakannya dari rahmat-Nya, tidak menjadikannya merasa aman dari makar-Nya, dan tidak meninggalkan Al Quran dan memilih yang lainnya karena benci terhadapnya. Tiada kebaikan bagi sebuah ibadah yang tidak disertai oleh pemahaman, tiada kebaikan bagi sebuah ilmu yang tidak disertai oleh tafakur, dan tiada kebaikan bagi pembacaan Al Quran yang tidak disertai oleh tadabur”.

6. Bahaya terlalu berharap dan mengikuti hawa nafsu
“Aku sangat mengkhawatirkan dua hal terhadap kalian: pengharapan yang terlalu panjang dan mengikuti hawa nafsu. Karena pengharapan yang terlalu panjang akan menjadikan orang lupa akhirat dan mengikuti hawa nafsu akan mencegahnya dari kebenaran”.

7. Batasan persahabatan 
“Janganlah kau jadikan musuh sahabatmu sebagai sahabatmu, karena dengan itu engkau telah memusuhi sahabatmu sendiri”.

8. Macam-macam kesabaran
“Kesabaran itu ada tiga macam: sabar atas musibah, sabar atas ketaatan (kepada Allah) dan sabar atas maksiat”.

9. Kemiskinan yang telah ditakdirkan
“Barang siapa yang jatuh miskin dan ia tidak menganggap bahwa hal itu adalah suatu anugerah dari Allah, maka ia telah melenyapkan sebuah harapan, dan barang siapa menjadi kaya-raya dan ia tidak memikirkan bahwa hal itu adalah sebuah ujian dari-Nya, maka ia telah terjerumus ke dalam sebuah jurang yang menakutkan”.

10.  Kemuliaan, bukan kehinaan
“Kematian ya, kehinaan tidak! Keteguhan pendirian ya, ketololan tidak! Masa adalah dua hari: pada satu hari ia akan memihak kepadamu dan pada hari yang lain ia akan membawa bencana bagimu. Jika ia sedang memihak kepadamu, maka jangan terlalu berbahagia, dan jika ia membawa bencana bagimu, maka janganlah susah. Engkau akan diuji dengan keduanya”.

11. Memohon kebaikan
“Tidak akan bingung orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah”.

12. Mencintai negara
“Sebuah negeri akan makmur jika (penduduknya) mencintainya”.

13. Tiga macam ilmu
“Ilmu itu ada tiga: fiqih untuk memahami agama, kedokteran untuk menjaga kesehatan badan dan Nahwu untuk menjaga mulut salah ucap”.

14. Nilai seseorang
“Berbicaralah tentang ilmu niscaya harga dirimu akan tampak”.

15. Jangan yakini!
“Jangankan meyakinkan kepada dirimu bahwa engkau miskin dan panjang umur”.

16. Menghormati seorang mukmin
“Mencela seorang mukmin adalah sebuah kefasikan, memeranginya adalah sebuah kekufuran dan kehormatan hartanya seperti kehormatan darahnya”.

17. Kefakiran
“Kefakiran adalah kematian yang paling besar, dan sedikitnya keluarga salah satu dari dua kemudahan. Ini adalah separuh kebahagiaan”.

18. Dua hal yang membahayakan
“Dua hal yang dapat menghancurkan manusia: takut miskin dan berbangga diri”.

19. Tiga orang dianggap zalim
“Pelaku kezaliman, orang yang membantunya dan orang yang diam dengan kezaliman tersebut adalah orang-orang zalim”.

20. Sabar terbaik
“Kesabaran itu ada dua macam: sabar ketika ditimpa musibah. Ini adalah hal yang baik. Dan lebih baik dari itu adalah sabar menahan diri untuk tidak melanggar hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah atas dirimu”.

21. Melaksanakan amanat
“Sampaikanlah amanat walaupun kepada pembunuh putra nabi”.

22. Enggan tenar
Imam Ali a.s. berpesan kepada Kumail bin Ziyad: “Tenanglah, jangan berambisi untuk ingin dikenal, sembunyikanlah kepribadianmu jangan sampai disebut-sebut di depan orang lain. Belajarlah niscaya engkau akan mengetahui dan diamlah niscaya engkau akan selamat. Tidak buruk bagimu jika Allah telah memahamkan agama-Nya kepadamu meskipun engkau tidak mengenal orang lain dan ia juga tidak mengenalmu”.

23. Siksa enam golongan
“Allah akan menguji enam golongan dengan enam jenis ujian: menguji bangsa Arab dengan fanatisme, menguji para pembesar desa dengan kesombongan, menguji para pemimpin dengan kelaliman, menguji fuqaha` dengan kedengkian, menguji para pedagang dengan khianat dan menguji para penduduk desa dengan kebodohan”.

24. Rukun-rukun iman
“Iman memiliki empat rukun: tawakal kepada Allah, menyerahkan segala urusan kepada-Nya, menerima segala perintah-Nya, dan rela terhadap semua ketentuan-Nya”.

25. Pendidikan akhlak
“Hiasilah akhlak kalian dengan segala kebajikan, setirlah ia menuju keagungan (akhlak) dan biasakanlah diri kalian untuk bersabar”.

26. Mempermudah urusan masyarakat dan menjauhi perbuatan hina
“Jangan terlalu mempersulit urusan orang lain dan junjunglah harga diri kalian dengan melupakan perbuatan hina”.

27. Penjaga manusia
“Cukuplah bagi setiap orang sebagai benteng bahwa tidak ada seorang pun (di dunia ini) kecuali ia memiliki para penjaga yang telah diutus oleh Allah untuk menjaganya supaya ia tidak jatuh ke dalam sumur (baca : jurang), supaya tembok tidak jatuh di atas kepalanya dan ia tidak diserang oleh binatang buas. Dan jika ajalnya telah tiba, maka mereka akan meninggalkannya berdua dengan ajalnya itu”.

28. Masa kelaliman
“Akan datang menimpa manusia suatu masa, orang-orang yang tidak memiliki keahlian akan dihormati, tidak ditemukan di dalamnya orang yang cerdas dan cerdik kecuali ia lalim, tidak dipercaya kecuali pengkhianat dan tidak dituduh berkhianat kecuali orang yang terpercaya. Mereka akan menggunakan harta negara untuk kepentingan pribadi mereka, zakat sebagai sumber penghasilan, silaturahmi sebagai sarana untuk mengungkit-ungkit kebajikan dan ibadah sebagai kebanggaan dan menzalimi orang lain. Dan hal ini terjadi ketika wanita menjadi penguasa, budak-budak wanita menjadi tempat rujukan dan musyawarah dan anak-anak kecil menjadi pemimpin”.

29. Cerdik menghadapi fitnah
“Ketika fitnah berkecamuk, jadikanlah dirimu seperti ibnu labun (anak unta yang belum berumur dua tahun), karena ia masih belum memiliki punggung yang kuat untuk dapat ditunggangi dan tidak memiliki air susu untuk dapat diperah”.

30. Manusia yang paling lemah
“Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak dapat menjalin tali persahabatan dengan orang lain, dan lebih lemah darinya adalah orang yang mudah melepaskan persaudaraan dengan sahabatnya”.

31. Kaffarah dosa-dosa besar
“Di antara kaffarah dosa-dosa besar adalah menolong orang yang meminta pertolongan dan membahagiakan orang yang sedang ditimpa kesusahan”.

32. Tanda kesempurnaan akal
“Jika akal (seseorang) telah sempurna, maka ia akan sedikit berbicara”.

33. Berhubungan dengan Allah
“Barang siapa telah memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Ia akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain, dan barang siapa telah memperbaiki urusan akhiratnya, maka Ia akan memperbaiki urusan dunianya”.

34. Merenungkan
“Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit”.

35. Pahala orang yang meninggalkan dosa
“Pahala pejuang yang syahid di jalan Allah tidak lebih besar dari pahala orang yang mampu untuk berbuat maksiat lalu ia meninggalkannya. Tidak mustahil para peninggal dosa akan menjadi malaikat”.

36. Akibat perbuatan dosa
“Ingatlah bahwa segala kenikmatan (dosa) akan sirna dan akibatnya akan kekal abadi”.

37. Kriteria dunia
“(Dunia itu) adalah menipu, membahayakan dan sepintas”.

38. Para pemegang agama di akhir zaman
“Akan datang kepada manusia suatu masa yang tidak tertinggal dari Al Quran kecuali tulisannya dan dari Islam kecuali namanya, pada masa itu masjid-masjid dimakmurkan bangunannya sedangkan ia sendiri kosong dari hidayah, orang-orang yang menghuni dan memakmurkannya adalah orang yang paling jahat di muka bumi. Fitnah bersumber dari mereka dan segala kesalahan kembali kepada mereka. Orang-orang yang tertinggal dari kafilah fitnah tersebut (taubat–pen) akan dipaksa untuk kembali dan orang-orang yang tertinggal di belakang (baca : tidak ikut serta dalam kafilah itu) akan didorong maju ke depan (supaya bergabung dengannya). Allah berfirman: “Demi Dzat-Ku, akan Kukirim untuk mereka sebuah fitnah (besar) yang akan menjadikan orang-orang sabar bingung (menentukan sikap)”. Dan Ia telah melakukan hal itu. Kita memohon kepada-Nya untuk mengampuni kelupaan yang membuat kita tergelincir”.

0 komentar:


1.Nasihat Imam Husein a.s. kepada para ulama

“Wahai golongan yang dikenal dengan ilmunya, disebut-sebut karena kebaikannya, dikenal pandai menasihati, dan disegani oleh manusia karena mereka dikenal dekat dengan Allah. Kalian diperhitungkan oleh orang mulia, dihormati oleh orang lemah dan orang yang tidak pernah kalian kenal akan lebih mengutamakan kalian dari pada dirinya sendiri. Kalian dijadikan perantara untuk sebuah hajat ketika yang memintanya tidak dapat memperolehnya sendiri dan berjalan di atas bumi bak raja dan orang-orang penting. Hak orang-orang lemah telah kalian injak-injak. Dan adapun hak kalian –yang menurut kalian berhak atasnya– kalian (memaksa untuk mendapatkannya). (Di samping itu) kalian juga masih meminta surga-Nya, berdampingan dengan Rasul-Nya dan aman dari siksa-Nya”.

2.Kesehatan badan dan tazkiah jiwa

“Kuwasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Selama usia masih dikandung badan jagalah kesehatan kalian. Janganlah menjadi orang yang mengkhawatirkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang lain dan merasa aman dari siksa dosanya sediri”.
3.Macam-macam jihad

“Jihad itu ada empat macam: dua dari empat macam tersebut adalah wajib, satu jihad adalah sunnah yang tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib dan selebihnya adalah sunnah.

a. Adapun jihad yang wajib adalah(1) jihad seseorang untuk tidak bermaksiat kepada Allah, –dan ini adalah jihad yang paling agung–, dan (2) jihad melawan orang-orang kafir.

b. Adapun jihad yang sunnah dan tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib adalah jihad melawan musuh. Jihad melawan musuh adalah wajib bagi seluruh umat. Jika mereka meninggalkannya, akan datang azab menimpa mereka. Dan azab ini adalah azab atas nama mereka. Jenis jihad ini adalah sunnah bagi imam (pemimpin), dan jika ia hendak melaksanakannya, ia harus melaksanakannya bersama umat.

c. Adapun jihad yang sunnah adalah semua sunnah yang dilakukan oleh seseorang dan ia sangat konsisten dalam melakukan dan menghidupkannya. Usahanya dalam mengerjakan sunnah tersebut adalah amalan terbaik, karena hal itu adalah satu usaha untuk menghidupkan sunnah. Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang meninggalkan sunnah hasanah (sebagai warisan darinya), maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikit pun”.

4.Ibadah para pedagang, hamba dan orang merdeka

“Sebagian orang menyembah Allah karena ingin mendapatkan sesuatu. Ibadah ini adalah ibadah para pedagang. Sebagian yang lain menyembah Allah karena takut. Ibadah ini adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian kaum menyembah Allah karena hanya ingin bersyukur (kepada-Nya). Ibadah ini adalah ibadah orang-orang yang merdeka. Dan ini adalah ibadah yang paling utama”.

5.Tidak berbuat lalim

“Janganlah engkau berbuat lalim kepada orang yang penolongnya adalah Allah azza wa jalla semata”.

6.Kepada siapakah kita harus meminta?

“Janganlah engkau meminta hajatmu kecuali kepada salah satu dari tiga orang ini: orang yang beragama, orang yang memiliki harga diri dan orang yang berasal dari keturunan baik”.

7.Orang yang kikir

“Orang yang kikir adalah orang yang tidak mau mengucapkan salam”.

8.Akibat mengikuti orang yang berdosa

“Barang siapa yang bersahabat dengan seseorang atas dorongan ingin bermaksiat kepada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya dan ditimpa apa yang ditakutinya”.

9.Menghormati anak-cucu Fathimah Az-Zahra` a.s.

“Demi Allah, aku tidak akan pernah mau hidup hina selamanya. Fathimah Az-Zahra` akan bertemu dengan ayahnya (pada hari kiamat) seraya mengadukan apa yang diperbuat oleh umatnya terhadap anak-cucunya. Dan tidak akan masuk surga orang yang mengganggunya dengan cara mengganggu anak-cucunya”.

10.Melawan orang-orang zalim

“Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah bersabda: “Barang siapa yang melihat seorang raja (baca : penguasa) yang lalim, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah, mengingkari janjinya kepada-Nya, menentang sunnah Rasul-Nya dan melakukan dosa dan kezaliman di dunia kemudian enggan merubahnya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam golongannya”.

11.Ridha Allah adalah sumber kebahagiaan

“Tidak akan bahagia sebuah kaum yang berani membeli kerelaan makhluk dengan kemurkaan Allah”.

12.Pengikut terbaik

“Sungguh aku tidak mengenal pengikut yang lebih baik dari para pengikutku dan tidak pernah menemukan keluarga yang lebih setia dari keluargaku. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan”.

13.Ucapan pemusnah duka

“Sesungguhnya seluruh bumi akan mati dan penduduk langit tidak akan kekal serta segala sesuatu akan musnah kecuali Dzat-Nya yang telah menciptakan bumi dengan kekuatan-Nya dan membangkitkan semua makhluk kelak. Mereka akan bangkit kembali sedangkan Ia tetap tunggal”.

14.Kesabaran adalah jembatan kemenangan

Imam Husein a.s. menghibur para sahabatnya pada hari Asyura` seraya berkata: “Bersabarlah wahai orang-orang mulia, kematian hanyalah sebuah jembatan yang akan mengantarkan kalian menyeberangi dunia kesengsaraan menuju surga-surga yang luas dan nikmat yang abadi”.

15.Apakah dunia itu?

“Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah terhadap dunia, karena jika dunia harus kekal dimiliki oleh seseorang, maka para nabilah yang lebih berhak untuk hidup kekal dan lebih utama (untuk menyerahkan sepenuhnya apa yang mereka miliki untuk kehidupan dunia). Hanya saja Allah telah menciptakannya untuk dimusnahkan. Segala yang baru darinya akan sirna, nikmatnya akan musnah, kesenangannya akan berubah menjadi kesusahan, dan ia adalah sebuah rumah sementara. Oleh karena itu, berbekallah. Dan bekal yang terbaik adalah takwa. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung”.

16.Ketegaran yang menawan

“Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerah kepada mereka seperti orang yang hina dan tidak akan lari dari medan perang seperti seorang hamba (yang lari dari majikannya)”.

17.Tidak kenal hina

“Ingatlah bahwa Yazid telah mengancam dengan dua hal: pedang dan kehinaan. Kami tidak mungkin memilih kehinaan. Allah, Rasul-Nya dan mukminin tidak menghendaki hal itu untuk kami. Jiwa-jiwa yang suci tidak mengizinkan kami mengorbankan manisnya terbunuh bersama orang-orang mulia demi menaati orang-orang yang tidak tahu diri”.

18. Kemurkaan Allah terhadap bangsa Yahudi, Majusi dan musuh Ahlul Bayt a.s.

“Allah sangat murka kepada bangsa Yahudi karena mereka menjadikan anak untuk-Nya, Ia sangat murka kepada pengikut agama Nasrani karena mereka menjadikan-Nya tuhan ketiga dari tiga tuhan, Ia sangat marah kepada penganut agama Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan di samping menyembah-Nya, dan Ia sangat marah kepada sebuah kaum yang sepakat untuk membunuh cucu nabi mereka”.

19. Agama tidak? Jadilah orang yang merdeka!

“Wahai pengikut Abu Sufyan, jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut hari kebangkitan, maka jadilah orang yang merdeka di duniamu, dan kembalilah untuk menengok keturunan kalian jika kalian memang keturunan Arab sebagaimana kalian yakini”.

20. Lebih dahulu berdamai

“Jika di antara dua orang terjadi percekcokan dan salah satu dari mereka berdua lebih dahulu minta untuk berdamai, maka ia akan masuk surga”.

21.Pahala mengucapkan salam

“Mengucapkan salam memiliki tujuh puluh kebaikan; enam puluh sembilan dari kebaikan itu akan diberikan kepada orang yang terlebih dahulu mengucapkan salam dan satu darinya akan diberikan kepada yang menjawabnya”.

22.Ridha Allah

“Barang siapa yang mengorbankan kemurkaan manusia demi ridha Allah, maka Ia akan mencukupkannya darinya, dan barang siapa yang mengorbankan kemurkaan Allah demi ridha manusia, maka Ia akan menyerahkan segala urusannya kepada manusia itu”.

23. Sebuah mimpi

“Ketahuilah bahwa dunia ini, manis dan pahitnya adalah sebuah mimpi, dan kesadaran sejati akan terjadi di akhirat kelak”.

24. Hindarilah!

“Janganlah kalian ucapkan sebuah ucapan yang dapat mengurangi harag diri dan nilaimu”.

25. Hidup kekal dengan sebuah kematian

“Mati dalam menempuh kemuliaan tidak lain adalah sebuah kehidupan abadi, dan hidup terhina tidak lain adalah sebuah kematian yang tidak berarti”.

Artikel

Mutiara Hadits Imam Husein alaihissalam

Unknown  |  at  Jumat, Oktober 24, 2014


1.Nasihat Imam Husein a.s. kepada para ulama

“Wahai golongan yang dikenal dengan ilmunya, disebut-sebut karena kebaikannya, dikenal pandai menasihati, dan disegani oleh manusia karena mereka dikenal dekat dengan Allah. Kalian diperhitungkan oleh orang mulia, dihormati oleh orang lemah dan orang yang tidak pernah kalian kenal akan lebih mengutamakan kalian dari pada dirinya sendiri. Kalian dijadikan perantara untuk sebuah hajat ketika yang memintanya tidak dapat memperolehnya sendiri dan berjalan di atas bumi bak raja dan orang-orang penting. Hak orang-orang lemah telah kalian injak-injak. Dan adapun hak kalian –yang menurut kalian berhak atasnya– kalian (memaksa untuk mendapatkannya). (Di samping itu) kalian juga masih meminta surga-Nya, berdampingan dengan Rasul-Nya dan aman dari siksa-Nya”.

2.Kesehatan badan dan tazkiah jiwa

“Kuwasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Selama usia masih dikandung badan jagalah kesehatan kalian. Janganlah menjadi orang yang mengkhawatirkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang lain dan merasa aman dari siksa dosanya sediri”.
3.Macam-macam jihad

“Jihad itu ada empat macam: dua dari empat macam tersebut adalah wajib, satu jihad adalah sunnah yang tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib dan selebihnya adalah sunnah.

a. Adapun jihad yang wajib adalah(1) jihad seseorang untuk tidak bermaksiat kepada Allah, –dan ini adalah jihad yang paling agung–, dan (2) jihad melawan orang-orang kafir.

b. Adapun jihad yang sunnah dan tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib adalah jihad melawan musuh. Jihad melawan musuh adalah wajib bagi seluruh umat. Jika mereka meninggalkannya, akan datang azab menimpa mereka. Dan azab ini adalah azab atas nama mereka. Jenis jihad ini adalah sunnah bagi imam (pemimpin), dan jika ia hendak melaksanakannya, ia harus melaksanakannya bersama umat.

c. Adapun jihad yang sunnah adalah semua sunnah yang dilakukan oleh seseorang dan ia sangat konsisten dalam melakukan dan menghidupkannya. Usahanya dalam mengerjakan sunnah tersebut adalah amalan terbaik, karena hal itu adalah satu usaha untuk menghidupkan sunnah. Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang meninggalkan sunnah hasanah (sebagai warisan darinya), maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikit pun”.

4.Ibadah para pedagang, hamba dan orang merdeka

“Sebagian orang menyembah Allah karena ingin mendapatkan sesuatu. Ibadah ini adalah ibadah para pedagang. Sebagian yang lain menyembah Allah karena takut. Ibadah ini adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian kaum menyembah Allah karena hanya ingin bersyukur (kepada-Nya). Ibadah ini adalah ibadah orang-orang yang merdeka. Dan ini adalah ibadah yang paling utama”.

5.Tidak berbuat lalim

“Janganlah engkau berbuat lalim kepada orang yang penolongnya adalah Allah azza wa jalla semata”.

6.Kepada siapakah kita harus meminta?

“Janganlah engkau meminta hajatmu kecuali kepada salah satu dari tiga orang ini: orang yang beragama, orang yang memiliki harga diri dan orang yang berasal dari keturunan baik”.

7.Orang yang kikir

“Orang yang kikir adalah orang yang tidak mau mengucapkan salam”.

8.Akibat mengikuti orang yang berdosa

“Barang siapa yang bersahabat dengan seseorang atas dorongan ingin bermaksiat kepada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya dan ditimpa apa yang ditakutinya”.

9.Menghormati anak-cucu Fathimah Az-Zahra` a.s.

“Demi Allah, aku tidak akan pernah mau hidup hina selamanya. Fathimah Az-Zahra` akan bertemu dengan ayahnya (pada hari kiamat) seraya mengadukan apa yang diperbuat oleh umatnya terhadap anak-cucunya. Dan tidak akan masuk surga orang yang mengganggunya dengan cara mengganggu anak-cucunya”.

10.Melawan orang-orang zalim

“Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah bersabda: “Barang siapa yang melihat seorang raja (baca : penguasa) yang lalim, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah, mengingkari janjinya kepada-Nya, menentang sunnah Rasul-Nya dan melakukan dosa dan kezaliman di dunia kemudian enggan merubahnya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam golongannya”.

11.Ridha Allah adalah sumber kebahagiaan

“Tidak akan bahagia sebuah kaum yang berani membeli kerelaan makhluk dengan kemurkaan Allah”.

12.Pengikut terbaik

“Sungguh aku tidak mengenal pengikut yang lebih baik dari para pengikutku dan tidak pernah menemukan keluarga yang lebih setia dari keluargaku. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan”.

13.Ucapan pemusnah duka

“Sesungguhnya seluruh bumi akan mati dan penduduk langit tidak akan kekal serta segala sesuatu akan musnah kecuali Dzat-Nya yang telah menciptakan bumi dengan kekuatan-Nya dan membangkitkan semua makhluk kelak. Mereka akan bangkit kembali sedangkan Ia tetap tunggal”.

14.Kesabaran adalah jembatan kemenangan

Imam Husein a.s. menghibur para sahabatnya pada hari Asyura` seraya berkata: “Bersabarlah wahai orang-orang mulia, kematian hanyalah sebuah jembatan yang akan mengantarkan kalian menyeberangi dunia kesengsaraan menuju surga-surga yang luas dan nikmat yang abadi”.

15.Apakah dunia itu?

“Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah terhadap dunia, karena jika dunia harus kekal dimiliki oleh seseorang, maka para nabilah yang lebih berhak untuk hidup kekal dan lebih utama (untuk menyerahkan sepenuhnya apa yang mereka miliki untuk kehidupan dunia). Hanya saja Allah telah menciptakannya untuk dimusnahkan. Segala yang baru darinya akan sirna, nikmatnya akan musnah, kesenangannya akan berubah menjadi kesusahan, dan ia adalah sebuah rumah sementara. Oleh karena itu, berbekallah. Dan bekal yang terbaik adalah takwa. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung”.

16.Ketegaran yang menawan

“Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerah kepada mereka seperti orang yang hina dan tidak akan lari dari medan perang seperti seorang hamba (yang lari dari majikannya)”.

17.Tidak kenal hina

“Ingatlah bahwa Yazid telah mengancam dengan dua hal: pedang dan kehinaan. Kami tidak mungkin memilih kehinaan. Allah, Rasul-Nya dan mukminin tidak menghendaki hal itu untuk kami. Jiwa-jiwa yang suci tidak mengizinkan kami mengorbankan manisnya terbunuh bersama orang-orang mulia demi menaati orang-orang yang tidak tahu diri”.

18. Kemurkaan Allah terhadap bangsa Yahudi, Majusi dan musuh Ahlul Bayt a.s.

“Allah sangat murka kepada bangsa Yahudi karena mereka menjadikan anak untuk-Nya, Ia sangat murka kepada pengikut agama Nasrani karena mereka menjadikan-Nya tuhan ketiga dari tiga tuhan, Ia sangat marah kepada penganut agama Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan di samping menyembah-Nya, dan Ia sangat marah kepada sebuah kaum yang sepakat untuk membunuh cucu nabi mereka”.

19. Agama tidak? Jadilah orang yang merdeka!

“Wahai pengikut Abu Sufyan, jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut hari kebangkitan, maka jadilah orang yang merdeka di duniamu, dan kembalilah untuk menengok keturunan kalian jika kalian memang keturunan Arab sebagaimana kalian yakini”.

20. Lebih dahulu berdamai

“Jika di antara dua orang terjadi percekcokan dan salah satu dari mereka berdua lebih dahulu minta untuk berdamai, maka ia akan masuk surga”.

21.Pahala mengucapkan salam

“Mengucapkan salam memiliki tujuh puluh kebaikan; enam puluh sembilan dari kebaikan itu akan diberikan kepada orang yang terlebih dahulu mengucapkan salam dan satu darinya akan diberikan kepada yang menjawabnya”.

22.Ridha Allah

“Barang siapa yang mengorbankan kemurkaan manusia demi ridha Allah, maka Ia akan mencukupkannya darinya, dan barang siapa yang mengorbankan kemurkaan Allah demi ridha manusia, maka Ia akan menyerahkan segala urusannya kepada manusia itu”.

23. Sebuah mimpi

“Ketahuilah bahwa dunia ini, manis dan pahitnya adalah sebuah mimpi, dan kesadaran sejati akan terjadi di akhirat kelak”.

24. Hindarilah!

“Janganlah kalian ucapkan sebuah ucapan yang dapat mengurangi harag diri dan nilaimu”.

25. Hidup kekal dengan sebuah kematian

“Mati dalam menempuh kemuliaan tidak lain adalah sebuah kehidupan abadi, dan hidup terhina tidak lain adalah sebuah kematian yang tidak berarti”.

0 komentar:

Kamis, 23 Oktober 2014

Poin pertama: Pada peristiwa badan syura yang beranggotakan enam orang dan dibentuk atas perintah Umar bin Khattab dengan tujuan untuk memilih khalifah setelah ia meninggal dunia, Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang kandidat tidak bersedia untuk dipilih dan akhirnya ia mengundurkan diri dari keanggotaan. Setelah itu, ia berpendapat agar kandidat khalifah hanya terdiri dari dua orang, yaitu Imam Ali a.s. dan Utsman bin Affan. Ia ingin membai’at Imam Ali a.s. dengan syarat ia harus menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, “sunnah” (baca : metode) Abu Bakar dan Umar. Imam Ali a.s. menjawab: “Saya akan berusaha menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya dan metode saya sendiri”.

Ketika Utsman mendapat tawaran di atas, ia langsung menerima dan dengan mudah menjadi khalifah.

Poin kedua: Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Imam Ali a.s., berdasarkan desakan mayoritas masyarakat kala itu, dengan terpaksa menerima khilafah. Situasi politik negara saat itu sangat tidak memihak kepadanya. Banyak problema yang muncul di sana-sini. Akan tetapi, dengan segala problema yang ada, ia telah berhasil mengadakan sebuah perombakan besar-besaran dalam bidang hak-hak asasi, ekonomi dan birokrasi. Dalam bidang hak-hak asasi, ia telah menghapus sistem perbedaan dalam memberikan santunan kepada anggota masyarakat dan menyamaratakan mereka dalam hal itu. Ia berkata: “Seorang yang hina adalah mulia dalam pandanganku jika aku harus menegakkan haknya dan orang yang kuat adalah lemah dalam pandanganku jika aku harus mengambil hak orang lain darinya”.

Dalam bidang ekonomi, ia telah merampas semua tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada golongan jet-set dan dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Ia berkata: “Wahai manusia, aku adalah dari kalian. Jika aku memiliki suatu harta, kalian juga memiliki harta yang sama, jika kalian memiliki suatu tugas, maka aku juga memiliki tugas yang sama. Aku akan membawa kalian menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah dan setiap yang diperintahkannya, akan kutanamkan di dalam lubuk hati kalian. Setiap tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada orang lain (dengan tidak benar) harus dikembalikan ke baitul mal. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat membasmi kebenaran. Jika kutemukan harta yang telah dijadikan mahar perkawinan, budak dibeli dengannya atau harta yang (tidak diketahui asal-usulnya karena) telah tersebar di berbagai kota, akan kukembalikan ke tempat asalnya. Dalam keadilan tersembunyi sebuah ketenteraman, dan jika seseorang merasa terikat oleh kebenaran, maka kelaliman akan lebih mencekiknya”.

Dalam bidang birokrasi, Imam Ali a.s. telah melakukan dua hal penting: pertama, memberhentikan para wali kota yang telah ditentukan oleh Utsman, dan kedua, menyerahkan tampuk wali kota kepada orang-orang yang bersih dan bertakwa. Ia menunjuk Utsman bin Hanif sebagai wali kota Bashrah, Sahl bin Hanif sebagai wali kota Syam, Qais bin Ubadah sebagai wali kota Mesir, dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai wali kota Kufah. Berkenaan dengan Zubair dan Thalhah yang pernah menjabat sebagai wali kota Bashrah dan Kufah, Imam Ali a.s. menyingkirkan mereka dengan lemah-lembut. Imam Ali a.s. juga mencabut Mu’awiyah dari kursinya sebagai wali kota Syam, karena ia tidak ingin seorang yang kotor berkuasa atas masyarakat Syam. Sikap Imam Ali a.s. dalam situasi dan kondisi semacam itu adalah ia harus menyerang Mu’awiyah dan menyingkirkannya dari arena politik. Imam a.s. menganggap dirinya bertanggung jawab untuk membasmi segala unsur penentang ilegal yang diciptakan oleh Mu’awiyah dan kelompoknya.   Imam a.s. harus membersihkan semua unsur penentang, karena tugasnya adalah membersihkan masyarakat Islam dari segala penyelewengan. Dan hal ini sangatlah berat.

Dengan kata lain, faktor utama yang menyebabkan Imam Ali a.s. harus menyingkirkan Mu’awiyah dan berperang melawannya adalah karena aliran pemikiran yang dianutnya (yang dipoles dengan agama).

Dengan demikian, Imam Ali a.s. harus menghadapi dua realita pahit: pertama, ia harus menangani disintegrasi bangsa dan kedua, ia harus membasmi setiap penyelewengan dari dalam negara sebagai warisan yang telah ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu.

Dalam hal ini, usaha dalam meluruskan situasi negara yang sudah terlanjur krisis dan merampas kembali harta-harta yang berada di tangan para pengkhianat bangsa ia lakukan tanpa mengenal toleransi sedikit pun. 

Imam Ali a.s. berkata: “Mu’awiyah tidak pernah menjalankan Islam sepenuhnya, bahkan ia ingin melestarikan tradisi jahiliah ayahnya, Abu Sufyan. Ia ingin merubah eksistensi Islam dengan sebuah eksistensi yang lain dan masyarakat Islam dengan masyarakat yang lain. Ia ingin membentuk sebuah masyarakat yang tidak meyakini Islam dan Al Quran. Ia menginginkan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan kaisar”.

Dengan adanya segala problema yang merintangi gebrakannya, Imam Ali a.s. tidak pantang menyerah. Ia tetap tegar memegang prinsip dalam membasmi para pemberontak yang menginginkan disintegrasi bangsa. Setelah pedang melukai kepalanya pun tetap menyiapkan pasukan yang siap tempur menuju Syam untuk membasmi golongan pemberontak tersebut.

Dengan ini, Imam Ali a.s. –-dalam pandangan muslimin yang sadar– satu-satunya orang yang mampu memerangi segala penyelewengan dan kezaliman yang telah mengakar di tubuh dunia Islam.

Di sini kami memilih ucapan-ucapan suci yang pernah diucapkan oleh Imam Ali a.s. semasa hidupnya dengan harapan semoga ucapan-ucapan suci tersebut dapat menjadi penerang hati demi menuju kesempurnaan insani.[]

Artikel

Poin-poin Penting dari Kehidupan Imam Ali 'alaihissalam

Unknown  |  at  Kamis, Oktober 23, 2014

Poin pertama: Pada peristiwa badan syura yang beranggotakan enam orang dan dibentuk atas perintah Umar bin Khattab dengan tujuan untuk memilih khalifah setelah ia meninggal dunia, Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang kandidat tidak bersedia untuk dipilih dan akhirnya ia mengundurkan diri dari keanggotaan. Setelah itu, ia berpendapat agar kandidat khalifah hanya terdiri dari dua orang, yaitu Imam Ali a.s. dan Utsman bin Affan. Ia ingin membai’at Imam Ali a.s. dengan syarat ia harus menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, “sunnah” (baca : metode) Abu Bakar dan Umar. Imam Ali a.s. menjawab: “Saya akan berusaha menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya dan metode saya sendiri”.

Ketika Utsman mendapat tawaran di atas, ia langsung menerima dan dengan mudah menjadi khalifah.

Poin kedua: Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Imam Ali a.s., berdasarkan desakan mayoritas masyarakat kala itu, dengan terpaksa menerima khilafah. Situasi politik negara saat itu sangat tidak memihak kepadanya. Banyak problema yang muncul di sana-sini. Akan tetapi, dengan segala problema yang ada, ia telah berhasil mengadakan sebuah perombakan besar-besaran dalam bidang hak-hak asasi, ekonomi dan birokrasi. Dalam bidang hak-hak asasi, ia telah menghapus sistem perbedaan dalam memberikan santunan kepada anggota masyarakat dan menyamaratakan mereka dalam hal itu. Ia berkata: “Seorang yang hina adalah mulia dalam pandanganku jika aku harus menegakkan haknya dan orang yang kuat adalah lemah dalam pandanganku jika aku harus mengambil hak orang lain darinya”.

Dalam bidang ekonomi, ia telah merampas semua tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada golongan jet-set dan dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Ia berkata: “Wahai manusia, aku adalah dari kalian. Jika aku memiliki suatu harta, kalian juga memiliki harta yang sama, jika kalian memiliki suatu tugas, maka aku juga memiliki tugas yang sama. Aku akan membawa kalian menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah dan setiap yang diperintahkannya, akan kutanamkan di dalam lubuk hati kalian. Setiap tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada orang lain (dengan tidak benar) harus dikembalikan ke baitul mal. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat membasmi kebenaran. Jika kutemukan harta yang telah dijadikan mahar perkawinan, budak dibeli dengannya atau harta yang (tidak diketahui asal-usulnya karena) telah tersebar di berbagai kota, akan kukembalikan ke tempat asalnya. Dalam keadilan tersembunyi sebuah ketenteraman, dan jika seseorang merasa terikat oleh kebenaran, maka kelaliman akan lebih mencekiknya”.

Dalam bidang birokrasi, Imam Ali a.s. telah melakukan dua hal penting: pertama, memberhentikan para wali kota yang telah ditentukan oleh Utsman, dan kedua, menyerahkan tampuk wali kota kepada orang-orang yang bersih dan bertakwa. Ia menunjuk Utsman bin Hanif sebagai wali kota Bashrah, Sahl bin Hanif sebagai wali kota Syam, Qais bin Ubadah sebagai wali kota Mesir, dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai wali kota Kufah. Berkenaan dengan Zubair dan Thalhah yang pernah menjabat sebagai wali kota Bashrah dan Kufah, Imam Ali a.s. menyingkirkan mereka dengan lemah-lembut. Imam Ali a.s. juga mencabut Mu’awiyah dari kursinya sebagai wali kota Syam, karena ia tidak ingin seorang yang kotor berkuasa atas masyarakat Syam. Sikap Imam Ali a.s. dalam situasi dan kondisi semacam itu adalah ia harus menyerang Mu’awiyah dan menyingkirkannya dari arena politik. Imam a.s. menganggap dirinya bertanggung jawab untuk membasmi segala unsur penentang ilegal yang diciptakan oleh Mu’awiyah dan kelompoknya.   Imam a.s. harus membersihkan semua unsur penentang, karena tugasnya adalah membersihkan masyarakat Islam dari segala penyelewengan. Dan hal ini sangatlah berat.

Dengan kata lain, faktor utama yang menyebabkan Imam Ali a.s. harus menyingkirkan Mu’awiyah dan berperang melawannya adalah karena aliran pemikiran yang dianutnya (yang dipoles dengan agama).

Dengan demikian, Imam Ali a.s. harus menghadapi dua realita pahit: pertama, ia harus menangani disintegrasi bangsa dan kedua, ia harus membasmi setiap penyelewengan dari dalam negara sebagai warisan yang telah ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu.

Dalam hal ini, usaha dalam meluruskan situasi negara yang sudah terlanjur krisis dan merampas kembali harta-harta yang berada di tangan para pengkhianat bangsa ia lakukan tanpa mengenal toleransi sedikit pun. 

Imam Ali a.s. berkata: “Mu’awiyah tidak pernah menjalankan Islam sepenuhnya, bahkan ia ingin melestarikan tradisi jahiliah ayahnya, Abu Sufyan. Ia ingin merubah eksistensi Islam dengan sebuah eksistensi yang lain dan masyarakat Islam dengan masyarakat yang lain. Ia ingin membentuk sebuah masyarakat yang tidak meyakini Islam dan Al Quran. Ia menginginkan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan kaisar”.

Dengan adanya segala problema yang merintangi gebrakannya, Imam Ali a.s. tidak pantang menyerah. Ia tetap tegar memegang prinsip dalam membasmi para pemberontak yang menginginkan disintegrasi bangsa. Setelah pedang melukai kepalanya pun tetap menyiapkan pasukan yang siap tempur menuju Syam untuk membasmi golongan pemberontak tersebut.

Dengan ini, Imam Ali a.s. –-dalam pandangan muslimin yang sadar– satu-satunya orang yang mampu memerangi segala penyelewengan dan kezaliman yang telah mengakar di tubuh dunia Islam.

Di sini kami memilih ucapan-ucapan suci yang pernah diucapkan oleh Imam Ali a.s. semasa hidupnya dengan harapan semoga ucapan-ucapan suci tersebut dapat menjadi penerang hati demi menuju kesempurnaan insani.[]

0 komentar:

Fathimah a.s. pernah melantunkan sebuah khotbah terkenalnya di masjid yang cuplikannya adalah sebagai berikut: “Allah menciptakan iman demi menyucikan kalian dari kemusyrikan, mewajibkan shalat demi membersihkan kalian dari sifat congkak, mewajibkan zakat demi menyucikan jiwa dan menambah rezeki, mewajibkan puasa demi memperkokoh ikhlas (dalam jiwa kalian), mewajibkan haji demi memperkokoh agama, menganjurkan (bertindak) adil demi mematri kalbu, mewajibkan taat kepada kami demi teraturnya masyarakat, memproklamirkan keimamahan kami demi menjaga umat dari berpecah-belah, mewajibkan jihad demi memuliakan Islam, menganjurkan kesabaran demi membantu mendapatkan pahala, mewajibkan amar ma’ruf demi menjaga kemaslahatan umum, memerintahkan berbuat baik kepada orang tua demi menghindari kemurkaan-Nya, menganjurkan silaturahmi demi memperbanyak jumlah saudara, mewajibkan qishash demi menjaga pertumpahan darah, mewajibkan melaksanakan nazar demi memperoleh pengampunan, mewajibkan menyempurnakan timbangan demi mengikis habis sifat curang dalam jual beli, melarang meminum khamar demi membersihkan (umat) dari kekotoran (jiwa), melarang menuduh (orang lain) demi menghindarkan dari laknat, melarang mencuri demi mewujudkan harga diri, mengharamkan kemusyrikan demi terwujudnya ikhlas (dan pengakuan) terhadap ketuhanan-Nya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim dan taatilah Dia sesuai dengan perintah dan larangan-Nya, karena hanya orang-orang alim yang akan takut kepada-Nya


Suatu hari seorang wanita menghadap Fathimah a.s. seraya bertanya: “Saya memiliki seorang ibu yang sudah tua dan sering mengerjakan shalat dengan keliru. Ia menyuruhku untuk bertanya kepada Anda berkenaan dengan permasalahan tersebut”. Ia pun menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak sepuluh dan ia pun menjawab setiap pertanyaannya tersebut. Akhirnya, wanita itu merasa malu dan berkata: “Saya tidak akan mengganggu Anda lagi”. Fathimah a.s. menjawab: “Tidak apa-apa. Datanglah kemari dan tanyakanlah segala permasalahanmu. Berapa kali pun engkau bertanya, aku tidak akan marah. Aku pernah mendengar ayahku bersabda: “Pada hari kiamat ulama pengikut kami akan dibangkitkan dan mereka akan dianugerahi kedudukan yang tinggi sesuai dengan kadar ilmu yang mereka miliki. Pahala mereka akan disesuaikan dengan kadar usaha yang telah mereka lakukan dalam memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah”.

Artikel

Cuplikan Khotbah Fathimah 'alaihassalam

Unknown  |  at  Kamis, Oktober 23, 2014

Fathimah a.s. pernah melantunkan sebuah khotbah terkenalnya di masjid yang cuplikannya adalah sebagai berikut: “Allah menciptakan iman demi menyucikan kalian dari kemusyrikan, mewajibkan shalat demi membersihkan kalian dari sifat congkak, mewajibkan zakat demi menyucikan jiwa dan menambah rezeki, mewajibkan puasa demi memperkokoh ikhlas (dalam jiwa kalian), mewajibkan haji demi memperkokoh agama, menganjurkan (bertindak) adil demi mematri kalbu, mewajibkan taat kepada kami demi teraturnya masyarakat, memproklamirkan keimamahan kami demi menjaga umat dari berpecah-belah, mewajibkan jihad demi memuliakan Islam, menganjurkan kesabaran demi membantu mendapatkan pahala, mewajibkan amar ma’ruf demi menjaga kemaslahatan umum, memerintahkan berbuat baik kepada orang tua demi menghindari kemurkaan-Nya, menganjurkan silaturahmi demi memperbanyak jumlah saudara, mewajibkan qishash demi menjaga pertumpahan darah, mewajibkan melaksanakan nazar demi memperoleh pengampunan, mewajibkan menyempurnakan timbangan demi mengikis habis sifat curang dalam jual beli, melarang meminum khamar demi membersihkan (umat) dari kekotoran (jiwa), melarang menuduh (orang lain) demi menghindarkan dari laknat, melarang mencuri demi mewujudkan harga diri, mengharamkan kemusyrikan demi terwujudnya ikhlas (dan pengakuan) terhadap ketuhanan-Nya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim dan taatilah Dia sesuai dengan perintah dan larangan-Nya, karena hanya orang-orang alim yang akan takut kepada-Nya


Suatu hari seorang wanita menghadap Fathimah a.s. seraya bertanya: “Saya memiliki seorang ibu yang sudah tua dan sering mengerjakan shalat dengan keliru. Ia menyuruhku untuk bertanya kepada Anda berkenaan dengan permasalahan tersebut”. Ia pun menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak sepuluh dan ia pun menjawab setiap pertanyaannya tersebut. Akhirnya, wanita itu merasa malu dan berkata: “Saya tidak akan mengganggu Anda lagi”. Fathimah a.s. menjawab: “Tidak apa-apa. Datanglah kemari dan tanyakanlah segala permasalahanmu. Berapa kali pun engkau bertanya, aku tidak akan marah. Aku pernah mendengar ayahku bersabda: “Pada hari kiamat ulama pengikut kami akan dibangkitkan dan mereka akan dianugerahi kedudukan yang tinggi sesuai dengan kadar ilmu yang mereka miliki. Pahala mereka akan disesuaikan dengan kadar usaha yang telah mereka lakukan dalam memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah”.

0 komentar:

Rabu, 22 Oktober 2014



Amirul Mukminin Ali a.s. adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka’bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAWW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi’tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.

Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”.

Setelah Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi, Ali adalah orang pertama yang beriman kepadanya.

Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAWW adalah Ali a.s.”.

Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali a.s. mengerjakan shalat pada hari Selasa.

Pada tahun ketiga Bi’tsah, setelah ayat “Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” turun, Rasulullah SAWW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAWW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAWW mencuri kesempatan seraya berbicara di hadapan mereka: “Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?” Ali a.s. berdiri dan berkata: “Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!”. “Duduklah”, jawab Rasulullah SAWW singkat.

Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali a.s. Ia pun menyuruhnya duduk.

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali a.s. yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku”.

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAWW berkata kepada Ali a.s.: “(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!”. Malam itu Ali a.s. tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW. Malam itu yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Awal tahun keempat Bi’tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali a.s.

Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAWW pergi menuju Ka’bah bersama Ali a.s. Ia berkata kepada Ali a.s.: “Naiklah di pundakku!”. Setelah Ali a.s. naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAWW hijrah, Imam Ali a.s. baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAWW kepada para pemiliknya.

Ketika ia sampai di Madinah, kakinya luka berdarah. Karena kerelaannya dalam berkorban, Rasulullah SAWW sangat berterima kasih kepadanya.

Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAWW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali a.s.: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat”. Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali a.s. menikah dengan Fathimah Az-Zahra` a.s.

Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali a.s. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan a.s. kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.

Syeikh Mufid r.a. berkata: “Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali a.s. membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir”.

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali a.s. –-sebagaimana di perang Badar– menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah dariku dan aku darinya”. Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema: “Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali”.

Pada tahun ketiga atau keempat hijrah, Allah menganugerahkan seorang putra kepada Imam Ali a.s. yang akhirnya dinamai Husein. Sembilan imam ma’shum a.s. berasal dari keturunannya.

Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali a.s. berhadapan langsung dengan ‘Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAWW bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya”.

Pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 hijrah, Rasulullah SAWW berhasil membebaskan kota Makkah yang sebelumnya merupakan pusat dan benteng kokoh bagi penyembahan berhala. Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Ali a.s. pada hari itu memperoleh kemuliaan untuk naik di atas pundak Rasulullah SAWW untuk menghancurkan berhala-berhala yang menghuni Ka’bah.

Setelah peristiwa pembebasan kota Makkah, perang Hunain dan kemudian perang Tha`if pecah. Pada peristiwa perang Hunain, hanya sembilan orang sahabat yang di antara mereka adalah Imam Ali a.s. yang setia bersama Rasulullah SAWW. Para sahabat yang lain lari tunggang-langgang.

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAWW, hanya dalam perang ini Imam Ali a.s. tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAWW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku”. Di tahun ini juga Imam Ali a.s. mendapat perintah untuk mengambil ayat-ayat surah al-baraa`ah yang dipegang oleh Khalifah Abu Bakar untuk dibacakannya di hadapan para penyembah berhala.

Pada tanggal 5 Dzul Qa’dah 10 H., Rasulullah SAWW mengutus Imam Ali a.s. ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk agama Islam.

Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali a.s. sebagai penggantinya Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi’in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAWW meninggal dunia. Imam Ali a.s. berkata: “Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku”. Padahal washi Rasulullah SAWW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali a.s. dari memegang khilafah padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali a.s. yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan.

Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas, dan kebiasaan lebih mendahulukan orang biasa dari orang yang lebih dari segala segi itulah yang memberikan kesempatan bagi orang yang suka mencari kesempatan untuk mengorbankan hakikat demi maslahat individu.

Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali a.s., banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai’at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu’awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali a.s. seperti kelompok Khawarij Nahrawan).

Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali a.s. hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan “cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”. Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAWW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah. Ia lalui semua kehidupannya dengan kesucian dan ketakwaan, dan ia pun bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan suci. Ia lahir di rumah Allah dan meninggal di rumah Allah juga. Seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan kebenaran. Ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek kepalanya ia hanya berkata: “Aku sekarang menang, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah”. Ia meneguk cawan syahadah pada malam 21 Ramadhan 40 H.[]
Artikel

Biografi Singkat Amirul Mukminin Ali 'alaihissalam

Unknown  |  at  Rabu, Oktober 22, 2014



Amirul Mukminin Ali a.s. adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka’bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAWW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi’tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.

Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”.

Setelah Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi, Ali adalah orang pertama yang beriman kepadanya.

Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAWW adalah Ali a.s.”.

Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali a.s. mengerjakan shalat pada hari Selasa.

Pada tahun ketiga Bi’tsah, setelah ayat “Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” turun, Rasulullah SAWW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAWW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAWW mencuri kesempatan seraya berbicara di hadapan mereka: “Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?” Ali a.s. berdiri dan berkata: “Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!”. “Duduklah”, jawab Rasulullah SAWW singkat.

Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali a.s. Ia pun menyuruhnya duduk.

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali a.s. yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku”.

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAWW berkata kepada Ali a.s.: “(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!”. Malam itu Ali a.s. tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW. Malam itu yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Awal tahun keempat Bi’tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali a.s.

Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAWW pergi menuju Ka’bah bersama Ali a.s. Ia berkata kepada Ali a.s.: “Naiklah di pundakku!”. Setelah Ali a.s. naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAWW hijrah, Imam Ali a.s. baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAWW kepada para pemiliknya.

Ketika ia sampai di Madinah, kakinya luka berdarah. Karena kerelaannya dalam berkorban, Rasulullah SAWW sangat berterima kasih kepadanya.

Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAWW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali a.s.: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat”. Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali a.s. menikah dengan Fathimah Az-Zahra` a.s.

Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali a.s. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan a.s. kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.

Syeikh Mufid r.a. berkata: “Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali a.s. membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir”.

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali a.s. –-sebagaimana di perang Badar– menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah dariku dan aku darinya”. Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema: “Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali”.

Pada tahun ketiga atau keempat hijrah, Allah menganugerahkan seorang putra kepada Imam Ali a.s. yang akhirnya dinamai Husein. Sembilan imam ma’shum a.s. berasal dari keturunannya.

Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali a.s. berhadapan langsung dengan ‘Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAWW bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya”.

Pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 hijrah, Rasulullah SAWW berhasil membebaskan kota Makkah yang sebelumnya merupakan pusat dan benteng kokoh bagi penyembahan berhala. Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Ali a.s. pada hari itu memperoleh kemuliaan untuk naik di atas pundak Rasulullah SAWW untuk menghancurkan berhala-berhala yang menghuni Ka’bah.

Setelah peristiwa pembebasan kota Makkah, perang Hunain dan kemudian perang Tha`if pecah. Pada peristiwa perang Hunain, hanya sembilan orang sahabat yang di antara mereka adalah Imam Ali a.s. yang setia bersama Rasulullah SAWW. Para sahabat yang lain lari tunggang-langgang.

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAWW, hanya dalam perang ini Imam Ali a.s. tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAWW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku”. Di tahun ini juga Imam Ali a.s. mendapat perintah untuk mengambil ayat-ayat surah al-baraa`ah yang dipegang oleh Khalifah Abu Bakar untuk dibacakannya di hadapan para penyembah berhala.

Pada tanggal 5 Dzul Qa’dah 10 H., Rasulullah SAWW mengutus Imam Ali a.s. ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk agama Islam.

Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali a.s. sebagai penggantinya Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi’in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAWW meninggal dunia. Imam Ali a.s. berkata: “Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku”. Padahal washi Rasulullah SAWW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali a.s. dari memegang khilafah padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali a.s. yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan.

Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas, dan kebiasaan lebih mendahulukan orang biasa dari orang yang lebih dari segala segi itulah yang memberikan kesempatan bagi orang yang suka mencari kesempatan untuk mengorbankan hakikat demi maslahat individu.

Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali a.s., banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai’at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu’awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali a.s. seperti kelompok Khawarij Nahrawan).

Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali a.s. hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan “cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”. Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAWW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah. Ia lalui semua kehidupannya dengan kesucian dan ketakwaan, dan ia pun bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan suci. Ia lahir di rumah Allah dan meninggal di rumah Allah juga. Seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan kebenaran. Ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek kepalanya ia hanya berkata: “Aku sekarang menang, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah”. Ia meneguk cawan syahadah pada malam 21 Ramadhan 40 H.[]

0 komentar:

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.