Selasa, 16 Desember 2014

Asal-usul Syiah

admin media  |  at  Selasa, Desember 16, 2014  |  ,  |  No comments


Asal-usul Syiah tidak terlepas dari asal-usul Islam. Karena Nabi sendiri yang menuai tanamannya dengan memproklamasikan wishaya (pelaksanaan wasiat) dan khilafat (khalifah) Ali bin Abi Thalib As pada masa dakwah terbuka yang beliau lakukan di Mekah.



Islam bermula ketika Nabi Muhammad Saw berusia empat puluh tahun. Sebelumnya dakwah Rasulullah Saw bersifat sembunyi-sembunyi. Kemudian tiga tahun selepas kemunculan Islam, Nabi Saw diperintahkan supaya memulai dakwah terbuka untuk menyampaikan pesan-pesan samawi. Kejadian ini berlangsung ketika Allah Swt mewahyukan ayat: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat ." (Qs. Asy-Syu'arâ [26]:214)

Ketika ayat ini turun, Rasulullah Saw mengadakan sebuah perjamuan yang dikenal dalam sejarah sebagai "Da'wat dzu 'l Asyira ". Rasulullah Saw mengundang sekitar empat puluh laki-laki kerabat beliau dari Bani Hasyim dan meminta Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan jamuan makan malam. Setelah menjamu tamu-tamunya dengan makanan dan minuman, Rasulullah Saw bermaksud untuk berbicara kepada mereka ihwal Islam, Abu Lahab mendahuluinya sambil berkata kepada para tamu ketika itu, katanya: "Tuan rumahnya telah lama menyihir Anda". Seluruh tamu membubarkan diri sebelum Rasulullah Saw menyampaikan pesannya. 

Rasulullah Saw kemudian mengundang mereka lagi pada hari berikutnya. Setelah perjamuan, ia bersabda kepada mereka: "Wahai Bani 'Abdul Mutthalib, Demi Allah, Aku tidak kenal seseorang pun dari bangsa Arab yang datang kepada umatnya lebih baik dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa sesuatu untuk kebaikan kalian baik di dunia maupun di akhirat. Aku telah diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengajak kalian kepada-Nya. Oleh karena itu, siapa di antara kalian yang ingin membantuku dalam urusan ini sehingga ia akan menjadi saudaraku (akhi), pelaksana wasiatku (washiyyi) dan khalifah sepeninggalku?"

Panggilan ini adalah panggilan pertama ketika Rasulullah Saw berdakwah secara terbuka kepada mereka dalam hubungannya untuk menerima beliau sebagai utusan dan Rasul Allah Swt; ia juga menggunakan kalimat: "akhi wa wasiyyi wa khalifati " saudaraku, penggantiku, khalifahku " dengan alasan ialah yang akan membantunya dalam menunaikan misi Rasulullah Saw. Ketika itu mereka semua diam dan tidak menjawab seruan Nabi serta mundur teratur menghadapi seruan ini, kecuali seorang yang paling muda di antara mereka yakni Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: "Aku bersedia menjadi penolongmu, wahai Rasulullah."

Nabi Saw kemudian menaruh tangannya di balik leher Ali dan berkata: "Inna hadza akhii wa washiyyi wa khalifati fikum, fasma'u lahu wa athi'u - sesungguhnya ia ini adalah saudaraku, penggantiku dan khalifahku di antara kalian; dengarkan dan taatilah dia." 

Proklamasi ini merupakan perkataan yang terang karena hadirin memahami penunjukan Ali yang sangat jelas itu. Beberapa di antara hadirin, termasuk Abu Lahab, bahkan dengan berseloroh, dan kepada Abu Talib ia berkata bahwa kemenakanmu, Muhammad, memerintahkanmu untuk mendengarkan anakmu dan mentaatinya! Setidaknya, seloroh Abu Lahab ini menunjukkan bahwa pengangkatan Ali bin Abi Talib adalah masalah yang terang dan jelas (eksplisit), tidak samar (implisit).

Setelah itu, Nabi Saw di berbagai tempat menekankan masalah kecintaan terhadap Ahlulbaitnya, meminta bimbingan dari mereka, dan menarik perhatian umat kepada status khusus yang mereka miliki di hadapan Allah Swt dan Rasul-Nya. 

Akhirnya, dua bulan berselang sebelum wafatnya, Rasulullah Saw secara jelas menunjuk Ali di Ghadir Khum sebagai pemimpin kaum muslimin (pemimpin agama sekaligus pemimpin politik). Nabi berkata: "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya." Ia juga berkata: "Aku tinggalkan kepadamu dua hal yang berharga (tsaqalain), dan selama engkau berpegang teguh kepadanya niscaya engkau tidak akan sesat selamanya yaitu Kitâbullâh dan Itrahti (al-Qur'an dan Ahlulbaitku)." 

Peristiwa agung ini telah banyak menjadi bahan diskusi dan tulisan hingga saat ini. Para pembaca dapat merujuk kepada karya-karya tulis berbahasa Inggris di bawah ini :

" A study on the question of al-Wilâyah oleh Sayyid Muhammad Baqir ash-Shadr, diterjemahkan oleh Dr. P.Haseltine. (Risalah ini pertama kali diterjemahkan di India dengan judul "Shiism: The Natural Product of Islam").
" The Origin of Shia and its Principles oleh Muhammad Husain Kasyful Ghitâ.
" Imamate : The Vigerence of the Prophet oleh Sayyid Said Akhtar Rizvi.
" Origins and Early Depelovment of Shia Islam oleh S.Hussain M.Jafri.
" The Right Path oleh Syed Abdulhussein Syarafuddin al-Musawi.
" The Meaning & Origin of Shi'ism oleh Sayyid Saeed Akhtar Rizvi dalam Right Path, jilid. 1 (Jan-Mar 1993) #3. 



Setiap orang yang membaca karya tulis ini akan melihat bahwa awal kedatangan Islam dan Syiah adalah bersamaan. Dan sebagaimana Islam, Syiah merupakan sebuah pergerakan keagamaan yang juga meliputi aspek sosial dan politik.


Dr.Jafri menuliskan: "Ketika kita menganalisa relasi kemungkinan perbedaan antara keyakinan-keyakinan agama dan konstitusi politik dalam Islam diemban oleh satu sama lainnya, kita temukan klaim dan trend doktrinal pendukung Ali lebih cenderung mengarah kepada aspek agama ketimbang aspek politik, dengan demikian kelihatan paradoks bahwa partai (syiah) yang mengklaim berdasarkan kepada kepemimpinan dalam bidang spiritual dan agamis, sebagaimana kita akan uji secara lebih jeluk nantinya, seyogyanya diberikan label sebagai gerakan politik sejak semula. 

Memang tidak dapat dibayangkan bahwa sahabat-sahabat utama Nabi Saw seperti Salman al-Farsi dan Abu Dzar berpikir bahwa Ali terutama adalah sebagai seorang pemimpin politik, dan kemudian berfikir lagi bahwa Ali juga adalah pemimpin agama. 

Dalam karya akademisnya, Islamic Messianism, cendikiawan ini menghitung perang sipil sebagai permulaan dari "Keberagamaan Syiah": "Sejak permulaan perang sipil yang berkecamuk pada tahun 656 M, beberapa orang di antara kaum muslimin tidak hanya berpikir ihwal kepemimpinan dalam istilah politik, tetapi bahkan memberikan tekanan agama di dalamnya." Namun dalam artikelnya yang dipersembahkan dalam sebuah pertemuan publik dan diterbitkan oleh salah satu markaz Islam, ia menempatkan permulaan Syiah sejak pada masa Ghadir Khum. Ia menulis "Proklamasi Nabi dalam peristiwa itu memunculkan ketegangan antara kepemimpinan ideal yang dipromosikan oleh Nabi melalui wilâyah Ali bin Abi Thalib dan fakta yang dipicu oleh kekuatan manusia untuk memberangus tujuan Allah Swt di muka bumi." 

Dikotomi antara "Akademisi" dan "Mukmin " memang sangat mengganggu. Semoga Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan seluruh pekerja iman keyakinan untuk bersiteguh atas keyakinan mereka pada seluruh pertemuan, baik dari dalam maupun dari luar.


Facebook : GenSyiah
Twitter    : GenSyiah
Youtube   : GenSyiah   

Administrator

Seorang Muslim Syiah Imamiyah Itsna 'Asyariyah: Pecinta Rasulullah Saw dan Ahlulbaitnya dan Pecinta NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Ya Aba Abdillah! Hidup Indonesia!

0 komentar:

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.