Latest

Jumat, 24 Oktober 2014


1.Nasihat Imam Husein a.s. kepada para ulama

“Wahai golongan yang dikenal dengan ilmunya, disebut-sebut karena kebaikannya, dikenal pandai menasihati, dan disegani oleh manusia karena mereka dikenal dekat dengan Allah. Kalian diperhitungkan oleh orang mulia, dihormati oleh orang lemah dan orang yang tidak pernah kalian kenal akan lebih mengutamakan kalian dari pada dirinya sendiri. Kalian dijadikan perantara untuk sebuah hajat ketika yang memintanya tidak dapat memperolehnya sendiri dan berjalan di atas bumi bak raja dan orang-orang penting. Hak orang-orang lemah telah kalian injak-injak. Dan adapun hak kalian –yang menurut kalian berhak atasnya– kalian (memaksa untuk mendapatkannya). (Di samping itu) kalian juga masih meminta surga-Nya, berdampingan dengan Rasul-Nya dan aman dari siksa-Nya”.

2.Kesehatan badan dan tazkiah jiwa

“Kuwasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Selama usia masih dikandung badan jagalah kesehatan kalian. Janganlah menjadi orang yang mengkhawatirkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang lain dan merasa aman dari siksa dosanya sediri”.
3.Macam-macam jihad

“Jihad itu ada empat macam: dua dari empat macam tersebut adalah wajib, satu jihad adalah sunnah yang tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib dan selebihnya adalah sunnah.

a. Adapun jihad yang wajib adalah(1) jihad seseorang untuk tidak bermaksiat kepada Allah, –dan ini adalah jihad yang paling agung–, dan (2) jihad melawan orang-orang kafir.

b. Adapun jihad yang sunnah dan tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib adalah jihad melawan musuh. Jihad melawan musuh adalah wajib bagi seluruh umat. Jika mereka meninggalkannya, akan datang azab menimpa mereka. Dan azab ini adalah azab atas nama mereka. Jenis jihad ini adalah sunnah bagi imam (pemimpin), dan jika ia hendak melaksanakannya, ia harus melaksanakannya bersama umat.

c. Adapun jihad yang sunnah adalah semua sunnah yang dilakukan oleh seseorang dan ia sangat konsisten dalam melakukan dan menghidupkannya. Usahanya dalam mengerjakan sunnah tersebut adalah amalan terbaik, karena hal itu adalah satu usaha untuk menghidupkan sunnah. Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang meninggalkan sunnah hasanah (sebagai warisan darinya), maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikit pun”.

4.Ibadah para pedagang, hamba dan orang merdeka

“Sebagian orang menyembah Allah karena ingin mendapatkan sesuatu. Ibadah ini adalah ibadah para pedagang. Sebagian yang lain menyembah Allah karena takut. Ibadah ini adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian kaum menyembah Allah karena hanya ingin bersyukur (kepada-Nya). Ibadah ini adalah ibadah orang-orang yang merdeka. Dan ini adalah ibadah yang paling utama”.

5.Tidak berbuat lalim

“Janganlah engkau berbuat lalim kepada orang yang penolongnya adalah Allah azza wa jalla semata”.

6.Kepada siapakah kita harus meminta?

“Janganlah engkau meminta hajatmu kecuali kepada salah satu dari tiga orang ini: orang yang beragama, orang yang memiliki harga diri dan orang yang berasal dari keturunan baik”.

7.Orang yang kikir

“Orang yang kikir adalah orang yang tidak mau mengucapkan salam”.

8.Akibat mengikuti orang yang berdosa

“Barang siapa yang bersahabat dengan seseorang atas dorongan ingin bermaksiat kepada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya dan ditimpa apa yang ditakutinya”.

9.Menghormati anak-cucu Fathimah Az-Zahra` a.s.

“Demi Allah, aku tidak akan pernah mau hidup hina selamanya. Fathimah Az-Zahra` akan bertemu dengan ayahnya (pada hari kiamat) seraya mengadukan apa yang diperbuat oleh umatnya terhadap anak-cucunya. Dan tidak akan masuk surga orang yang mengganggunya dengan cara mengganggu anak-cucunya”.

10.Melawan orang-orang zalim

“Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah bersabda: “Barang siapa yang melihat seorang raja (baca : penguasa) yang lalim, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah, mengingkari janjinya kepada-Nya, menentang sunnah Rasul-Nya dan melakukan dosa dan kezaliman di dunia kemudian enggan merubahnya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam golongannya”.

11.Ridha Allah adalah sumber kebahagiaan

“Tidak akan bahagia sebuah kaum yang berani membeli kerelaan makhluk dengan kemurkaan Allah”.

12.Pengikut terbaik

“Sungguh aku tidak mengenal pengikut yang lebih baik dari para pengikutku dan tidak pernah menemukan keluarga yang lebih setia dari keluargaku. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan”.

13.Ucapan pemusnah duka

“Sesungguhnya seluruh bumi akan mati dan penduduk langit tidak akan kekal serta segala sesuatu akan musnah kecuali Dzat-Nya yang telah menciptakan bumi dengan kekuatan-Nya dan membangkitkan semua makhluk kelak. Mereka akan bangkit kembali sedangkan Ia tetap tunggal”.

14.Kesabaran adalah jembatan kemenangan

Imam Husein a.s. menghibur para sahabatnya pada hari Asyura` seraya berkata: “Bersabarlah wahai orang-orang mulia, kematian hanyalah sebuah jembatan yang akan mengantarkan kalian menyeberangi dunia kesengsaraan menuju surga-surga yang luas dan nikmat yang abadi”.

15.Apakah dunia itu?

“Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah terhadap dunia, karena jika dunia harus kekal dimiliki oleh seseorang, maka para nabilah yang lebih berhak untuk hidup kekal dan lebih utama (untuk menyerahkan sepenuhnya apa yang mereka miliki untuk kehidupan dunia). Hanya saja Allah telah menciptakannya untuk dimusnahkan. Segala yang baru darinya akan sirna, nikmatnya akan musnah, kesenangannya akan berubah menjadi kesusahan, dan ia adalah sebuah rumah sementara. Oleh karena itu, berbekallah. Dan bekal yang terbaik adalah takwa. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung”.

16.Ketegaran yang menawan

“Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerah kepada mereka seperti orang yang hina dan tidak akan lari dari medan perang seperti seorang hamba (yang lari dari majikannya)”.

17.Tidak kenal hina

“Ingatlah bahwa Yazid telah mengancam dengan dua hal: pedang dan kehinaan. Kami tidak mungkin memilih kehinaan. Allah, Rasul-Nya dan mukminin tidak menghendaki hal itu untuk kami. Jiwa-jiwa yang suci tidak mengizinkan kami mengorbankan manisnya terbunuh bersama orang-orang mulia demi menaati orang-orang yang tidak tahu diri”.

18. Kemurkaan Allah terhadap bangsa Yahudi, Majusi dan musuh Ahlul Bayt a.s.

“Allah sangat murka kepada bangsa Yahudi karena mereka menjadikan anak untuk-Nya, Ia sangat murka kepada pengikut agama Nasrani karena mereka menjadikan-Nya tuhan ketiga dari tiga tuhan, Ia sangat marah kepada penganut agama Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan di samping menyembah-Nya, dan Ia sangat marah kepada sebuah kaum yang sepakat untuk membunuh cucu nabi mereka”.

19. Agama tidak? Jadilah orang yang merdeka!

“Wahai pengikut Abu Sufyan, jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut hari kebangkitan, maka jadilah orang yang merdeka di duniamu, dan kembalilah untuk menengok keturunan kalian jika kalian memang keturunan Arab sebagaimana kalian yakini”.

20. Lebih dahulu berdamai

“Jika di antara dua orang terjadi percekcokan dan salah satu dari mereka berdua lebih dahulu minta untuk berdamai, maka ia akan masuk surga”.

21.Pahala mengucapkan salam

“Mengucapkan salam memiliki tujuh puluh kebaikan; enam puluh sembilan dari kebaikan itu akan diberikan kepada orang yang terlebih dahulu mengucapkan salam dan satu darinya akan diberikan kepada yang menjawabnya”.

22.Ridha Allah

“Barang siapa yang mengorbankan kemurkaan manusia demi ridha Allah, maka Ia akan mencukupkannya darinya, dan barang siapa yang mengorbankan kemurkaan Allah demi ridha manusia, maka Ia akan menyerahkan segala urusannya kepada manusia itu”.

23. Sebuah mimpi

“Ketahuilah bahwa dunia ini, manis dan pahitnya adalah sebuah mimpi, dan kesadaran sejati akan terjadi di akhirat kelak”.

24. Hindarilah!

“Janganlah kalian ucapkan sebuah ucapan yang dapat mengurangi harag diri dan nilaimu”.

25. Hidup kekal dengan sebuah kematian

“Mati dalam menempuh kemuliaan tidak lain adalah sebuah kehidupan abadi, dan hidup terhina tidak lain adalah sebuah kematian yang tidak berarti”.

Artikel

Mutiara Hadits Imam Husein alaihissalam

Unknown  |  at  Jumat, Oktober 24, 2014


1.Nasihat Imam Husein a.s. kepada para ulama

“Wahai golongan yang dikenal dengan ilmunya, disebut-sebut karena kebaikannya, dikenal pandai menasihati, dan disegani oleh manusia karena mereka dikenal dekat dengan Allah. Kalian diperhitungkan oleh orang mulia, dihormati oleh orang lemah dan orang yang tidak pernah kalian kenal akan lebih mengutamakan kalian dari pada dirinya sendiri. Kalian dijadikan perantara untuk sebuah hajat ketika yang memintanya tidak dapat memperolehnya sendiri dan berjalan di atas bumi bak raja dan orang-orang penting. Hak orang-orang lemah telah kalian injak-injak. Dan adapun hak kalian –yang menurut kalian berhak atasnya– kalian (memaksa untuk mendapatkannya). (Di samping itu) kalian juga masih meminta surga-Nya, berdampingan dengan Rasul-Nya dan aman dari siksa-Nya”.

2.Kesehatan badan dan tazkiah jiwa

“Kuwasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Selama usia masih dikandung badan jagalah kesehatan kalian. Janganlah menjadi orang yang mengkhawatirkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang lain dan merasa aman dari siksa dosanya sediri”.
3.Macam-macam jihad

“Jihad itu ada empat macam: dua dari empat macam tersebut adalah wajib, satu jihad adalah sunnah yang tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib dan selebihnya adalah sunnah.

a. Adapun jihad yang wajib adalah(1) jihad seseorang untuk tidak bermaksiat kepada Allah, –dan ini adalah jihad yang paling agung–, dan (2) jihad melawan orang-orang kafir.

b. Adapun jihad yang sunnah dan tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib adalah jihad melawan musuh. Jihad melawan musuh adalah wajib bagi seluruh umat. Jika mereka meninggalkannya, akan datang azab menimpa mereka. Dan azab ini adalah azab atas nama mereka. Jenis jihad ini adalah sunnah bagi imam (pemimpin), dan jika ia hendak melaksanakannya, ia harus melaksanakannya bersama umat.

c. Adapun jihad yang sunnah adalah semua sunnah yang dilakukan oleh seseorang dan ia sangat konsisten dalam melakukan dan menghidupkannya. Usahanya dalam mengerjakan sunnah tersebut adalah amalan terbaik, karena hal itu adalah satu usaha untuk menghidupkan sunnah. Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang meninggalkan sunnah hasanah (sebagai warisan darinya), maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikit pun”.

4.Ibadah para pedagang, hamba dan orang merdeka

“Sebagian orang menyembah Allah karena ingin mendapatkan sesuatu. Ibadah ini adalah ibadah para pedagang. Sebagian yang lain menyembah Allah karena takut. Ibadah ini adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian kaum menyembah Allah karena hanya ingin bersyukur (kepada-Nya). Ibadah ini adalah ibadah orang-orang yang merdeka. Dan ini adalah ibadah yang paling utama”.

5.Tidak berbuat lalim

“Janganlah engkau berbuat lalim kepada orang yang penolongnya adalah Allah azza wa jalla semata”.

6.Kepada siapakah kita harus meminta?

“Janganlah engkau meminta hajatmu kecuali kepada salah satu dari tiga orang ini: orang yang beragama, orang yang memiliki harga diri dan orang yang berasal dari keturunan baik”.

7.Orang yang kikir

“Orang yang kikir adalah orang yang tidak mau mengucapkan salam”.

8.Akibat mengikuti orang yang berdosa

“Barang siapa yang bersahabat dengan seseorang atas dorongan ingin bermaksiat kepada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya dan ditimpa apa yang ditakutinya”.

9.Menghormati anak-cucu Fathimah Az-Zahra` a.s.

“Demi Allah, aku tidak akan pernah mau hidup hina selamanya. Fathimah Az-Zahra` akan bertemu dengan ayahnya (pada hari kiamat) seraya mengadukan apa yang diperbuat oleh umatnya terhadap anak-cucunya. Dan tidak akan masuk surga orang yang mengganggunya dengan cara mengganggu anak-cucunya”.

10.Melawan orang-orang zalim

“Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah bersabda: “Barang siapa yang melihat seorang raja (baca : penguasa) yang lalim, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah, mengingkari janjinya kepada-Nya, menentang sunnah Rasul-Nya dan melakukan dosa dan kezaliman di dunia kemudian enggan merubahnya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam golongannya”.

11.Ridha Allah adalah sumber kebahagiaan

“Tidak akan bahagia sebuah kaum yang berani membeli kerelaan makhluk dengan kemurkaan Allah”.

12.Pengikut terbaik

“Sungguh aku tidak mengenal pengikut yang lebih baik dari para pengikutku dan tidak pernah menemukan keluarga yang lebih setia dari keluargaku. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan”.

13.Ucapan pemusnah duka

“Sesungguhnya seluruh bumi akan mati dan penduduk langit tidak akan kekal serta segala sesuatu akan musnah kecuali Dzat-Nya yang telah menciptakan bumi dengan kekuatan-Nya dan membangkitkan semua makhluk kelak. Mereka akan bangkit kembali sedangkan Ia tetap tunggal”.

14.Kesabaran adalah jembatan kemenangan

Imam Husein a.s. menghibur para sahabatnya pada hari Asyura` seraya berkata: “Bersabarlah wahai orang-orang mulia, kematian hanyalah sebuah jembatan yang akan mengantarkan kalian menyeberangi dunia kesengsaraan menuju surga-surga yang luas dan nikmat yang abadi”.

15.Apakah dunia itu?

“Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah terhadap dunia, karena jika dunia harus kekal dimiliki oleh seseorang, maka para nabilah yang lebih berhak untuk hidup kekal dan lebih utama (untuk menyerahkan sepenuhnya apa yang mereka miliki untuk kehidupan dunia). Hanya saja Allah telah menciptakannya untuk dimusnahkan. Segala yang baru darinya akan sirna, nikmatnya akan musnah, kesenangannya akan berubah menjadi kesusahan, dan ia adalah sebuah rumah sementara. Oleh karena itu, berbekallah. Dan bekal yang terbaik adalah takwa. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung”.

16.Ketegaran yang menawan

“Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerah kepada mereka seperti orang yang hina dan tidak akan lari dari medan perang seperti seorang hamba (yang lari dari majikannya)”.

17.Tidak kenal hina

“Ingatlah bahwa Yazid telah mengancam dengan dua hal: pedang dan kehinaan. Kami tidak mungkin memilih kehinaan. Allah, Rasul-Nya dan mukminin tidak menghendaki hal itu untuk kami. Jiwa-jiwa yang suci tidak mengizinkan kami mengorbankan manisnya terbunuh bersama orang-orang mulia demi menaati orang-orang yang tidak tahu diri”.

18. Kemurkaan Allah terhadap bangsa Yahudi, Majusi dan musuh Ahlul Bayt a.s.

“Allah sangat murka kepada bangsa Yahudi karena mereka menjadikan anak untuk-Nya, Ia sangat murka kepada pengikut agama Nasrani karena mereka menjadikan-Nya tuhan ketiga dari tiga tuhan, Ia sangat marah kepada penganut agama Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan di samping menyembah-Nya, dan Ia sangat marah kepada sebuah kaum yang sepakat untuk membunuh cucu nabi mereka”.

19. Agama tidak? Jadilah orang yang merdeka!

“Wahai pengikut Abu Sufyan, jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut hari kebangkitan, maka jadilah orang yang merdeka di duniamu, dan kembalilah untuk menengok keturunan kalian jika kalian memang keturunan Arab sebagaimana kalian yakini”.

20. Lebih dahulu berdamai

“Jika di antara dua orang terjadi percekcokan dan salah satu dari mereka berdua lebih dahulu minta untuk berdamai, maka ia akan masuk surga”.

21.Pahala mengucapkan salam

“Mengucapkan salam memiliki tujuh puluh kebaikan; enam puluh sembilan dari kebaikan itu akan diberikan kepada orang yang terlebih dahulu mengucapkan salam dan satu darinya akan diberikan kepada yang menjawabnya”.

22.Ridha Allah

“Barang siapa yang mengorbankan kemurkaan manusia demi ridha Allah, maka Ia akan mencukupkannya darinya, dan barang siapa yang mengorbankan kemurkaan Allah demi ridha manusia, maka Ia akan menyerahkan segala urusannya kepada manusia itu”.

23. Sebuah mimpi

“Ketahuilah bahwa dunia ini, manis dan pahitnya adalah sebuah mimpi, dan kesadaran sejati akan terjadi di akhirat kelak”.

24. Hindarilah!

“Janganlah kalian ucapkan sebuah ucapan yang dapat mengurangi harag diri dan nilaimu”.

25. Hidup kekal dengan sebuah kematian

“Mati dalam menempuh kemuliaan tidak lain adalah sebuah kehidupan abadi, dan hidup terhina tidak lain adalah sebuah kematian yang tidak berarti”.

Kamis, 23 Oktober 2014

Poin pertama: Pada peristiwa badan syura yang beranggotakan enam orang dan dibentuk atas perintah Umar bin Khattab dengan tujuan untuk memilih khalifah setelah ia meninggal dunia, Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang kandidat tidak bersedia untuk dipilih dan akhirnya ia mengundurkan diri dari keanggotaan. Setelah itu, ia berpendapat agar kandidat khalifah hanya terdiri dari dua orang, yaitu Imam Ali a.s. dan Utsman bin Affan. Ia ingin membai’at Imam Ali a.s. dengan syarat ia harus menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, “sunnah” (baca : metode) Abu Bakar dan Umar. Imam Ali a.s. menjawab: “Saya akan berusaha menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya dan metode saya sendiri”.

Ketika Utsman mendapat tawaran di atas, ia langsung menerima dan dengan mudah menjadi khalifah.

Poin kedua: Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Imam Ali a.s., berdasarkan desakan mayoritas masyarakat kala itu, dengan terpaksa menerima khilafah. Situasi politik negara saat itu sangat tidak memihak kepadanya. Banyak problema yang muncul di sana-sini. Akan tetapi, dengan segala problema yang ada, ia telah berhasil mengadakan sebuah perombakan besar-besaran dalam bidang hak-hak asasi, ekonomi dan birokrasi. Dalam bidang hak-hak asasi, ia telah menghapus sistem perbedaan dalam memberikan santunan kepada anggota masyarakat dan menyamaratakan mereka dalam hal itu. Ia berkata: “Seorang yang hina adalah mulia dalam pandanganku jika aku harus menegakkan haknya dan orang yang kuat adalah lemah dalam pandanganku jika aku harus mengambil hak orang lain darinya”.

Dalam bidang ekonomi, ia telah merampas semua tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada golongan jet-set dan dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Ia berkata: “Wahai manusia, aku adalah dari kalian. Jika aku memiliki suatu harta, kalian juga memiliki harta yang sama, jika kalian memiliki suatu tugas, maka aku juga memiliki tugas yang sama. Aku akan membawa kalian menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah dan setiap yang diperintahkannya, akan kutanamkan di dalam lubuk hati kalian. Setiap tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada orang lain (dengan tidak benar) harus dikembalikan ke baitul mal. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat membasmi kebenaran. Jika kutemukan harta yang telah dijadikan mahar perkawinan, budak dibeli dengannya atau harta yang (tidak diketahui asal-usulnya karena) telah tersebar di berbagai kota, akan kukembalikan ke tempat asalnya. Dalam keadilan tersembunyi sebuah ketenteraman, dan jika seseorang merasa terikat oleh kebenaran, maka kelaliman akan lebih mencekiknya”.

Dalam bidang birokrasi, Imam Ali a.s. telah melakukan dua hal penting: pertama, memberhentikan para wali kota yang telah ditentukan oleh Utsman, dan kedua, menyerahkan tampuk wali kota kepada orang-orang yang bersih dan bertakwa. Ia menunjuk Utsman bin Hanif sebagai wali kota Bashrah, Sahl bin Hanif sebagai wali kota Syam, Qais bin Ubadah sebagai wali kota Mesir, dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai wali kota Kufah. Berkenaan dengan Zubair dan Thalhah yang pernah menjabat sebagai wali kota Bashrah dan Kufah, Imam Ali a.s. menyingkirkan mereka dengan lemah-lembut. Imam Ali a.s. juga mencabut Mu’awiyah dari kursinya sebagai wali kota Syam, karena ia tidak ingin seorang yang kotor berkuasa atas masyarakat Syam. Sikap Imam Ali a.s. dalam situasi dan kondisi semacam itu adalah ia harus menyerang Mu’awiyah dan menyingkirkannya dari arena politik. Imam a.s. menganggap dirinya bertanggung jawab untuk membasmi segala unsur penentang ilegal yang diciptakan oleh Mu’awiyah dan kelompoknya.   Imam a.s. harus membersihkan semua unsur penentang, karena tugasnya adalah membersihkan masyarakat Islam dari segala penyelewengan. Dan hal ini sangatlah berat.

Dengan kata lain, faktor utama yang menyebabkan Imam Ali a.s. harus menyingkirkan Mu’awiyah dan berperang melawannya adalah karena aliran pemikiran yang dianutnya (yang dipoles dengan agama).

Dengan demikian, Imam Ali a.s. harus menghadapi dua realita pahit: pertama, ia harus menangani disintegrasi bangsa dan kedua, ia harus membasmi setiap penyelewengan dari dalam negara sebagai warisan yang telah ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu.

Dalam hal ini, usaha dalam meluruskan situasi negara yang sudah terlanjur krisis dan merampas kembali harta-harta yang berada di tangan para pengkhianat bangsa ia lakukan tanpa mengenal toleransi sedikit pun. 

Imam Ali a.s. berkata: “Mu’awiyah tidak pernah menjalankan Islam sepenuhnya, bahkan ia ingin melestarikan tradisi jahiliah ayahnya, Abu Sufyan. Ia ingin merubah eksistensi Islam dengan sebuah eksistensi yang lain dan masyarakat Islam dengan masyarakat yang lain. Ia ingin membentuk sebuah masyarakat yang tidak meyakini Islam dan Al Quran. Ia menginginkan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan kaisar”.

Dengan adanya segala problema yang merintangi gebrakannya, Imam Ali a.s. tidak pantang menyerah. Ia tetap tegar memegang prinsip dalam membasmi para pemberontak yang menginginkan disintegrasi bangsa. Setelah pedang melukai kepalanya pun tetap menyiapkan pasukan yang siap tempur menuju Syam untuk membasmi golongan pemberontak tersebut.

Dengan ini, Imam Ali a.s. –-dalam pandangan muslimin yang sadar– satu-satunya orang yang mampu memerangi segala penyelewengan dan kezaliman yang telah mengakar di tubuh dunia Islam.

Di sini kami memilih ucapan-ucapan suci yang pernah diucapkan oleh Imam Ali a.s. semasa hidupnya dengan harapan semoga ucapan-ucapan suci tersebut dapat menjadi penerang hati demi menuju kesempurnaan insani.[]

Artikel

Poin-poin Penting dari Kehidupan Imam Ali 'alaihissalam

Unknown  |  at  Kamis, Oktober 23, 2014

Poin pertama: Pada peristiwa badan syura yang beranggotakan enam orang dan dibentuk atas perintah Umar bin Khattab dengan tujuan untuk memilih khalifah setelah ia meninggal dunia, Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang kandidat tidak bersedia untuk dipilih dan akhirnya ia mengundurkan diri dari keanggotaan. Setelah itu, ia berpendapat agar kandidat khalifah hanya terdiri dari dua orang, yaitu Imam Ali a.s. dan Utsman bin Affan. Ia ingin membai’at Imam Ali a.s. dengan syarat ia harus menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, “sunnah” (baca : metode) Abu Bakar dan Umar. Imam Ali a.s. menjawab: “Saya akan berusaha menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya dan metode saya sendiri”.

Ketika Utsman mendapat tawaran di atas, ia langsung menerima dan dengan mudah menjadi khalifah.

Poin kedua: Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Imam Ali a.s., berdasarkan desakan mayoritas masyarakat kala itu, dengan terpaksa menerima khilafah. Situasi politik negara saat itu sangat tidak memihak kepadanya. Banyak problema yang muncul di sana-sini. Akan tetapi, dengan segala problema yang ada, ia telah berhasil mengadakan sebuah perombakan besar-besaran dalam bidang hak-hak asasi, ekonomi dan birokrasi. Dalam bidang hak-hak asasi, ia telah menghapus sistem perbedaan dalam memberikan santunan kepada anggota masyarakat dan menyamaratakan mereka dalam hal itu. Ia berkata: “Seorang yang hina adalah mulia dalam pandanganku jika aku harus menegakkan haknya dan orang yang kuat adalah lemah dalam pandanganku jika aku harus mengambil hak orang lain darinya”.

Dalam bidang ekonomi, ia telah merampas semua tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada golongan jet-set dan dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Ia berkata: “Wahai manusia, aku adalah dari kalian. Jika aku memiliki suatu harta, kalian juga memiliki harta yang sama, jika kalian memiliki suatu tugas, maka aku juga memiliki tugas yang sama. Aku akan membawa kalian menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah dan setiap yang diperintahkannya, akan kutanamkan di dalam lubuk hati kalian. Setiap tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada orang lain (dengan tidak benar) harus dikembalikan ke baitul mal. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat membasmi kebenaran. Jika kutemukan harta yang telah dijadikan mahar perkawinan, budak dibeli dengannya atau harta yang (tidak diketahui asal-usulnya karena) telah tersebar di berbagai kota, akan kukembalikan ke tempat asalnya. Dalam keadilan tersembunyi sebuah ketenteraman, dan jika seseorang merasa terikat oleh kebenaran, maka kelaliman akan lebih mencekiknya”.

Dalam bidang birokrasi, Imam Ali a.s. telah melakukan dua hal penting: pertama, memberhentikan para wali kota yang telah ditentukan oleh Utsman, dan kedua, menyerahkan tampuk wali kota kepada orang-orang yang bersih dan bertakwa. Ia menunjuk Utsman bin Hanif sebagai wali kota Bashrah, Sahl bin Hanif sebagai wali kota Syam, Qais bin Ubadah sebagai wali kota Mesir, dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai wali kota Kufah. Berkenaan dengan Zubair dan Thalhah yang pernah menjabat sebagai wali kota Bashrah dan Kufah, Imam Ali a.s. menyingkirkan mereka dengan lemah-lembut. Imam Ali a.s. juga mencabut Mu’awiyah dari kursinya sebagai wali kota Syam, karena ia tidak ingin seorang yang kotor berkuasa atas masyarakat Syam. Sikap Imam Ali a.s. dalam situasi dan kondisi semacam itu adalah ia harus menyerang Mu’awiyah dan menyingkirkannya dari arena politik. Imam a.s. menganggap dirinya bertanggung jawab untuk membasmi segala unsur penentang ilegal yang diciptakan oleh Mu’awiyah dan kelompoknya.   Imam a.s. harus membersihkan semua unsur penentang, karena tugasnya adalah membersihkan masyarakat Islam dari segala penyelewengan. Dan hal ini sangatlah berat.

Dengan kata lain, faktor utama yang menyebabkan Imam Ali a.s. harus menyingkirkan Mu’awiyah dan berperang melawannya adalah karena aliran pemikiran yang dianutnya (yang dipoles dengan agama).

Dengan demikian, Imam Ali a.s. harus menghadapi dua realita pahit: pertama, ia harus menangani disintegrasi bangsa dan kedua, ia harus membasmi setiap penyelewengan dari dalam negara sebagai warisan yang telah ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu.

Dalam hal ini, usaha dalam meluruskan situasi negara yang sudah terlanjur krisis dan merampas kembali harta-harta yang berada di tangan para pengkhianat bangsa ia lakukan tanpa mengenal toleransi sedikit pun. 

Imam Ali a.s. berkata: “Mu’awiyah tidak pernah menjalankan Islam sepenuhnya, bahkan ia ingin melestarikan tradisi jahiliah ayahnya, Abu Sufyan. Ia ingin merubah eksistensi Islam dengan sebuah eksistensi yang lain dan masyarakat Islam dengan masyarakat yang lain. Ia ingin membentuk sebuah masyarakat yang tidak meyakini Islam dan Al Quran. Ia menginginkan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan kaisar”.

Dengan adanya segala problema yang merintangi gebrakannya, Imam Ali a.s. tidak pantang menyerah. Ia tetap tegar memegang prinsip dalam membasmi para pemberontak yang menginginkan disintegrasi bangsa. Setelah pedang melukai kepalanya pun tetap menyiapkan pasukan yang siap tempur menuju Syam untuk membasmi golongan pemberontak tersebut.

Dengan ini, Imam Ali a.s. –-dalam pandangan muslimin yang sadar– satu-satunya orang yang mampu memerangi segala penyelewengan dan kezaliman yang telah mengakar di tubuh dunia Islam.

Di sini kami memilih ucapan-ucapan suci yang pernah diucapkan oleh Imam Ali a.s. semasa hidupnya dengan harapan semoga ucapan-ucapan suci tersebut dapat menjadi penerang hati demi menuju kesempurnaan insani.[]

Fathimah a.s. pernah melantunkan sebuah khotbah terkenalnya di masjid yang cuplikannya adalah sebagai berikut: “Allah menciptakan iman demi menyucikan kalian dari kemusyrikan, mewajibkan shalat demi membersihkan kalian dari sifat congkak, mewajibkan zakat demi menyucikan jiwa dan menambah rezeki, mewajibkan puasa demi memperkokoh ikhlas (dalam jiwa kalian), mewajibkan haji demi memperkokoh agama, menganjurkan (bertindak) adil demi mematri kalbu, mewajibkan taat kepada kami demi teraturnya masyarakat, memproklamirkan keimamahan kami demi menjaga umat dari berpecah-belah, mewajibkan jihad demi memuliakan Islam, menganjurkan kesabaran demi membantu mendapatkan pahala, mewajibkan amar ma’ruf demi menjaga kemaslahatan umum, memerintahkan berbuat baik kepada orang tua demi menghindari kemurkaan-Nya, menganjurkan silaturahmi demi memperbanyak jumlah saudara, mewajibkan qishash demi menjaga pertumpahan darah, mewajibkan melaksanakan nazar demi memperoleh pengampunan, mewajibkan menyempurnakan timbangan demi mengikis habis sifat curang dalam jual beli, melarang meminum khamar demi membersihkan (umat) dari kekotoran (jiwa), melarang menuduh (orang lain) demi menghindarkan dari laknat, melarang mencuri demi mewujudkan harga diri, mengharamkan kemusyrikan demi terwujudnya ikhlas (dan pengakuan) terhadap ketuhanan-Nya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim dan taatilah Dia sesuai dengan perintah dan larangan-Nya, karena hanya orang-orang alim yang akan takut kepada-Nya


Suatu hari seorang wanita menghadap Fathimah a.s. seraya bertanya: “Saya memiliki seorang ibu yang sudah tua dan sering mengerjakan shalat dengan keliru. Ia menyuruhku untuk bertanya kepada Anda berkenaan dengan permasalahan tersebut”. Ia pun menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak sepuluh dan ia pun menjawab setiap pertanyaannya tersebut. Akhirnya, wanita itu merasa malu dan berkata: “Saya tidak akan mengganggu Anda lagi”. Fathimah a.s. menjawab: “Tidak apa-apa. Datanglah kemari dan tanyakanlah segala permasalahanmu. Berapa kali pun engkau bertanya, aku tidak akan marah. Aku pernah mendengar ayahku bersabda: “Pada hari kiamat ulama pengikut kami akan dibangkitkan dan mereka akan dianugerahi kedudukan yang tinggi sesuai dengan kadar ilmu yang mereka miliki. Pahala mereka akan disesuaikan dengan kadar usaha yang telah mereka lakukan dalam memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah”.

Artikel

Cuplikan Khotbah Fathimah 'alaihassalam

Unknown  |  at  Kamis, Oktober 23, 2014

Fathimah a.s. pernah melantunkan sebuah khotbah terkenalnya di masjid yang cuplikannya adalah sebagai berikut: “Allah menciptakan iman demi menyucikan kalian dari kemusyrikan, mewajibkan shalat demi membersihkan kalian dari sifat congkak, mewajibkan zakat demi menyucikan jiwa dan menambah rezeki, mewajibkan puasa demi memperkokoh ikhlas (dalam jiwa kalian), mewajibkan haji demi memperkokoh agama, menganjurkan (bertindak) adil demi mematri kalbu, mewajibkan taat kepada kami demi teraturnya masyarakat, memproklamirkan keimamahan kami demi menjaga umat dari berpecah-belah, mewajibkan jihad demi memuliakan Islam, menganjurkan kesabaran demi membantu mendapatkan pahala, mewajibkan amar ma’ruf demi menjaga kemaslahatan umum, memerintahkan berbuat baik kepada orang tua demi menghindari kemurkaan-Nya, menganjurkan silaturahmi demi memperbanyak jumlah saudara, mewajibkan qishash demi menjaga pertumpahan darah, mewajibkan melaksanakan nazar demi memperoleh pengampunan, mewajibkan menyempurnakan timbangan demi mengikis habis sifat curang dalam jual beli, melarang meminum khamar demi membersihkan (umat) dari kekotoran (jiwa), melarang menuduh (orang lain) demi menghindarkan dari laknat, melarang mencuri demi mewujudkan harga diri, mengharamkan kemusyrikan demi terwujudnya ikhlas (dan pengakuan) terhadap ketuhanan-Nya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim dan taatilah Dia sesuai dengan perintah dan larangan-Nya, karena hanya orang-orang alim yang akan takut kepada-Nya


Suatu hari seorang wanita menghadap Fathimah a.s. seraya bertanya: “Saya memiliki seorang ibu yang sudah tua dan sering mengerjakan shalat dengan keliru. Ia menyuruhku untuk bertanya kepada Anda berkenaan dengan permasalahan tersebut”. Ia pun menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu mengulangi pertanyaan yang sama sebanyak sepuluh dan ia pun menjawab setiap pertanyaannya tersebut. Akhirnya, wanita itu merasa malu dan berkata: “Saya tidak akan mengganggu Anda lagi”. Fathimah a.s. menjawab: “Tidak apa-apa. Datanglah kemari dan tanyakanlah segala permasalahanmu. Berapa kali pun engkau bertanya, aku tidak akan marah. Aku pernah mendengar ayahku bersabda: “Pada hari kiamat ulama pengikut kami akan dibangkitkan dan mereka akan dianugerahi kedudukan yang tinggi sesuai dengan kadar ilmu yang mereka miliki. Pahala mereka akan disesuaikan dengan kadar usaha yang telah mereka lakukan dalam memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah”.

Rabu, 22 Oktober 2014



Amirul Mukminin Ali a.s. adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka’bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAWW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi’tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.

Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”.

Setelah Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi, Ali adalah orang pertama yang beriman kepadanya.

Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAWW adalah Ali a.s.”.

Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali a.s. mengerjakan shalat pada hari Selasa.

Pada tahun ketiga Bi’tsah, setelah ayat “Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” turun, Rasulullah SAWW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAWW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAWW mencuri kesempatan seraya berbicara di hadapan mereka: “Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?” Ali a.s. berdiri dan berkata: “Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!”. “Duduklah”, jawab Rasulullah SAWW singkat.

Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali a.s. Ia pun menyuruhnya duduk.

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali a.s. yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku”.

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAWW berkata kepada Ali a.s.: “(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!”. Malam itu Ali a.s. tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW. Malam itu yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Awal tahun keempat Bi’tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali a.s.

Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAWW pergi menuju Ka’bah bersama Ali a.s. Ia berkata kepada Ali a.s.: “Naiklah di pundakku!”. Setelah Ali a.s. naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAWW hijrah, Imam Ali a.s. baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAWW kepada para pemiliknya.

Ketika ia sampai di Madinah, kakinya luka berdarah. Karena kerelaannya dalam berkorban, Rasulullah SAWW sangat berterima kasih kepadanya.

Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAWW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali a.s.: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat”. Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali a.s. menikah dengan Fathimah Az-Zahra` a.s.

Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali a.s. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan a.s. kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.

Syeikh Mufid r.a. berkata: “Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali a.s. membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir”.

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali a.s. –-sebagaimana di perang Badar– menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah dariku dan aku darinya”. Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema: “Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali”.

Pada tahun ketiga atau keempat hijrah, Allah menganugerahkan seorang putra kepada Imam Ali a.s. yang akhirnya dinamai Husein. Sembilan imam ma’shum a.s. berasal dari keturunannya.

Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali a.s. berhadapan langsung dengan ‘Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAWW bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya”.

Pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 hijrah, Rasulullah SAWW berhasil membebaskan kota Makkah yang sebelumnya merupakan pusat dan benteng kokoh bagi penyembahan berhala. Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Ali a.s. pada hari itu memperoleh kemuliaan untuk naik di atas pundak Rasulullah SAWW untuk menghancurkan berhala-berhala yang menghuni Ka’bah.

Setelah peristiwa pembebasan kota Makkah, perang Hunain dan kemudian perang Tha`if pecah. Pada peristiwa perang Hunain, hanya sembilan orang sahabat yang di antara mereka adalah Imam Ali a.s. yang setia bersama Rasulullah SAWW. Para sahabat yang lain lari tunggang-langgang.

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAWW, hanya dalam perang ini Imam Ali a.s. tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAWW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku”. Di tahun ini juga Imam Ali a.s. mendapat perintah untuk mengambil ayat-ayat surah al-baraa`ah yang dipegang oleh Khalifah Abu Bakar untuk dibacakannya di hadapan para penyembah berhala.

Pada tanggal 5 Dzul Qa’dah 10 H., Rasulullah SAWW mengutus Imam Ali a.s. ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk agama Islam.

Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali a.s. sebagai penggantinya Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi’in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAWW meninggal dunia. Imam Ali a.s. berkata: “Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku”. Padahal washi Rasulullah SAWW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali a.s. dari memegang khilafah padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali a.s. yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan.

Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas, dan kebiasaan lebih mendahulukan orang biasa dari orang yang lebih dari segala segi itulah yang memberikan kesempatan bagi orang yang suka mencari kesempatan untuk mengorbankan hakikat demi maslahat individu.

Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali a.s., banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai’at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu’awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali a.s. seperti kelompok Khawarij Nahrawan).

Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali a.s. hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan “cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”. Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAWW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah. Ia lalui semua kehidupannya dengan kesucian dan ketakwaan, dan ia pun bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan suci. Ia lahir di rumah Allah dan meninggal di rumah Allah juga. Seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan kebenaran. Ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek kepalanya ia hanya berkata: “Aku sekarang menang, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah”. Ia meneguk cawan syahadah pada malam 21 Ramadhan 40 H.[]
Artikel

Biografi Singkat Amirul Mukminin Ali 'alaihissalam

Unknown  |  at  Rabu, Oktober 22, 2014



Amirul Mukminin Ali a.s. adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka’bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAWW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi’tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.

Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”.

Setelah Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi, Ali adalah orang pertama yang beriman kepadanya.

Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAWW adalah Ali a.s.”.

Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali a.s. mengerjakan shalat pada hari Selasa.

Pada tahun ketiga Bi’tsah, setelah ayat “Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” turun, Rasulullah SAWW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAWW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAWW mencuri kesempatan seraya berbicara di hadapan mereka: “Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?” Ali a.s. berdiri dan berkata: “Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!”. “Duduklah”, jawab Rasulullah SAWW singkat.

Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali a.s. Ia pun menyuruhnya duduk.

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali a.s. yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku”.

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAWW berkata kepada Ali a.s.: “(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!”. Malam itu Ali a.s. tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW. Malam itu yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Awal tahun keempat Bi’tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali a.s.

Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAWW pergi menuju Ka’bah bersama Ali a.s. Ia berkata kepada Ali a.s.: “Naiklah di pundakku!”. Setelah Ali a.s. naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAWW hijrah, Imam Ali a.s. baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAWW kepada para pemiliknya.

Ketika ia sampai di Madinah, kakinya luka berdarah. Karena kerelaannya dalam berkorban, Rasulullah SAWW sangat berterima kasih kepadanya.

Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAWW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali a.s.: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat”. Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali a.s. menikah dengan Fathimah Az-Zahra` a.s.

Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali a.s. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan a.s. kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.

Syeikh Mufid r.a. berkata: “Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali a.s. membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir”.

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali a.s. –-sebagaimana di perang Badar– menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah dariku dan aku darinya”. Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema: “Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali”.

Pada tahun ketiga atau keempat hijrah, Allah menganugerahkan seorang putra kepada Imam Ali a.s. yang akhirnya dinamai Husein. Sembilan imam ma’shum a.s. berasal dari keturunannya.

Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali a.s. berhadapan langsung dengan ‘Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAWW bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya”.

Pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 hijrah, Rasulullah SAWW berhasil membebaskan kota Makkah yang sebelumnya merupakan pusat dan benteng kokoh bagi penyembahan berhala. Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Ali a.s. pada hari itu memperoleh kemuliaan untuk naik di atas pundak Rasulullah SAWW untuk menghancurkan berhala-berhala yang menghuni Ka’bah.

Setelah peristiwa pembebasan kota Makkah, perang Hunain dan kemudian perang Tha`if pecah. Pada peristiwa perang Hunain, hanya sembilan orang sahabat yang di antara mereka adalah Imam Ali a.s. yang setia bersama Rasulullah SAWW. Para sahabat yang lain lari tunggang-langgang.

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAWW, hanya dalam perang ini Imam Ali a.s. tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAWW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku”. Di tahun ini juga Imam Ali a.s. mendapat perintah untuk mengambil ayat-ayat surah al-baraa`ah yang dipegang oleh Khalifah Abu Bakar untuk dibacakannya di hadapan para penyembah berhala.

Pada tanggal 5 Dzul Qa’dah 10 H., Rasulullah SAWW mengutus Imam Ali a.s. ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk agama Islam.

Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali a.s. sebagai penggantinya Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi’in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAWW meninggal dunia. Imam Ali a.s. berkata: “Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku”. Padahal washi Rasulullah SAWW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali a.s. dari memegang khilafah padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali a.s. yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan.

Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas, dan kebiasaan lebih mendahulukan orang biasa dari orang yang lebih dari segala segi itulah yang memberikan kesempatan bagi orang yang suka mencari kesempatan untuk mengorbankan hakikat demi maslahat individu.

Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali a.s., banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai’at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu’awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali a.s. seperti kelompok Khawarij Nahrawan).

Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali a.s. hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan “cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”. Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAWW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah. Ia lalui semua kehidupannya dengan kesucian dan ketakwaan, dan ia pun bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan suci. Ia lahir di rumah Allah dan meninggal di rumah Allah juga. Seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan kebenaran. Ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek kepalanya ia hanya berkata: “Aku sekarang menang, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah”. Ia meneguk cawan syahadah pada malam 21 Ramadhan 40 H.[]

Selasa, 21 Oktober 2014



Imam Hasan a.s. adalah putra pertama pasangan Imam Ali a.s. dan Fathimah Az-Zahra` a.s. Ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Ramadhan 2 atau 3 H. Setelah sang ayah syahid, ia memegang tampuk pemerintahan Islam selama enam bulan. Ia syahid pada tahun 50 H. setelah meminum racun yang disuguhkan oleh istrinya sendiri, Ja’dah di usianya yang ke-48 tahun. Ia dikuburkan di Perkuburan Baqi’  di samping tiga imam ma’shum lainnya dan menjadi tempat ziarah para pencinta Ahlul Bayt a.s.

Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa` bercerita: “Imam Hasan a.s. dilahirkan pada tahun 3 H. Ia adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAWW. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, Rasulullah SAWW menyembelih kambing untuk akikahnya dan ia mencukur rambutnya. Rambut itu kemudian ditimbang dan sesuai dengan kadar timbangannya Rasulullah SAWW bersedekah perak. Ia adalah salah satu ahli kisa`. Rasulullah SAWW bersabda: “Ya Allah, aku sangat mencintainya, oleh karena itu, cintailah dia”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Hasan dan Husein adalah dua penghulu penghuni surga”.

Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari Hasan naik di atas pundak Rasulullah SAWW. Salah seorang sahabat berkata: “Wahai anak muda, engkau memiliki tunggangan yang sangat bagus!”. “Tidak begitu, ia adalah penunggang yang terbaik”, jawab Rasulullah SAWW menimpali. Ia memiliki jiwa yang tenang, berwibawa, tegar, pemaaf dan sangat disukai masyarakat. Ia sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Ia sering membantu mereka melebihi kebutuhan mereka sehingga kehidupan mereka sedikit lebih makmur. Hal ini karena ia tidak ingin seorang peminta datang beberapa kali kepadanya untuk meminta sesuatu yang akhirnya ia merasa malu. Di sepanjang umurnya, ia telah menginfakkan seluruh kekayaannya sebanyak dua kali dan mewakafkan hartanya sebanyak tiga kali.

Ia adalah seorang pejuang pemberani. Selama menjadi anggota pasukan ayahnya, dalam setiap peperangan ia menjadi anggota pasukan terdepan. Pada peristiwa perang Jamal dan Shiffin, ia termasuk salah seorang pejuang berani mati.[]

Artikel

Biografi Singkat Imam Hasan Al-Mujtaba 'alaihissalam

Unknown  |  at  Selasa, Oktober 21, 2014



Imam Hasan a.s. adalah putra pertama pasangan Imam Ali a.s. dan Fathimah Az-Zahra` a.s. Ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Ramadhan 2 atau 3 H. Setelah sang ayah syahid, ia memegang tampuk pemerintahan Islam selama enam bulan. Ia syahid pada tahun 50 H. setelah meminum racun yang disuguhkan oleh istrinya sendiri, Ja’dah di usianya yang ke-48 tahun. Ia dikuburkan di Perkuburan Baqi’  di samping tiga imam ma’shum lainnya dan menjadi tempat ziarah para pencinta Ahlul Bayt a.s.

Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa` bercerita: “Imam Hasan a.s. dilahirkan pada tahun 3 H. Ia adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAWW. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, Rasulullah SAWW menyembelih kambing untuk akikahnya dan ia mencukur rambutnya. Rambut itu kemudian ditimbang dan sesuai dengan kadar timbangannya Rasulullah SAWW bersedekah perak. Ia adalah salah satu ahli kisa`. Rasulullah SAWW bersabda: “Ya Allah, aku sangat mencintainya, oleh karena itu, cintailah dia”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Hasan dan Husein adalah dua penghulu penghuni surga”.

Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari Hasan naik di atas pundak Rasulullah SAWW. Salah seorang sahabat berkata: “Wahai anak muda, engkau memiliki tunggangan yang sangat bagus!”. “Tidak begitu, ia adalah penunggang yang terbaik”, jawab Rasulullah SAWW menimpali. Ia memiliki jiwa yang tenang, berwibawa, tegar, pemaaf dan sangat disukai masyarakat. Ia sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Ia sering membantu mereka melebihi kebutuhan mereka sehingga kehidupan mereka sedikit lebih makmur. Hal ini karena ia tidak ingin seorang peminta datang beberapa kali kepadanya untuk meminta sesuatu yang akhirnya ia merasa malu. Di sepanjang umurnya, ia telah menginfakkan seluruh kekayaannya sebanyak dua kali dan mewakafkan hartanya sebanyak tiga kali.

Ia adalah seorang pejuang pemberani. Selama menjadi anggota pasukan ayahnya, dalam setiap peperangan ia menjadi anggota pasukan terdepan. Pada peristiwa perang Jamal dan Shiffin, ia termasuk salah seorang pejuang berani mati.[]


Fathimah Az-Zahra` a.s. adalah putri keempat pasangan Rasulullah SAWW dan Khadijah Al-Kubra. Julukannya antara lain az-zahra`, ash-shiddiiqah, ath-thaahirah, al-mubaarakah, az-zakiah, ar-radhiah, al-mardhiah, al-muhaddatsah dan al-batuul. Mayoritas sejarawan Syi’ah dan Ahlussunnah menetapkan bahwa ia lahir di Makkah pada tanggal 20 Jumadits Tsani 5 H.. Akan tetapi, sebagian yang lain menyatakan bahwa hal itu jatuh pada tahun 3 H, dan kelompok ketiga menetapkannya pada tahun 2 H. Salah seorang sejarawan dan ahli hadis dari kalangan Ahlussunnah menyatakan bahwa kelahirannya jatuh pada tahun 1 H.

Jelas bahwa usaha memperjelas hari kelahiran tokoh-tokoh besar sejarah meskipun dari sudut pandang historis dan riset ilmiah memiliki nilai yang besar, akan tetapi, dari sisi mengenal peran mereka dalam sejarah, hal itu tidak begitu urgen. Yang penting adalah mengetahui peran mereka dalam membentuk masa depan manusia dan sejarah.

Fathimah a.s. dididik di rumah ayahnya, sebuah rumah kenabian dan tempat turunnya wahyu. Rumah tempat kelahiran kelompok pertama yang beriman kepada keesaan Allah dan dengan tegar memegang iman mereka. Rumah itu adalah satu-satunya rumah dari sekian banyak rumah di jazirah Arab yang dari dalamnya berkumandang suara ‘Allahu Akbar’, dan Fathimah a.s. adalah satu-satunya anak wanita yang mengalami kehangatan semacam itu. Ia berada di rumah itu sendirian dan masa kecilnya ia lalui dengan segala kesendirian. Dua saudarinya, Ruqaiyah dan Ummi Kultsum lebih besar beberapa tahun dari dirinya. Mungkin salah satu rahasia kesendiriannya adalah supaya ia dapat memfokuskan diri terhadap penggemblengan raga dan jiwa.

Setelah menikah dengan Amirul Mukminin Ali a.s., ia dikenal sebagai seorang wanita figur di sepanjang sejarah. Dalam kehidupan berumah tangga ia adalah seorang wanita figur, dan dalam beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai wanita teladan. Setelah selasai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, ia dengan penuh khusyu’ dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.

Imam Shadiq a.s. meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali a.s. berkata: “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang, dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya: “Ibu, mengapa Anda tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana Anda mendoakan orang lain?” “Tetangga harus didahulukan, wahai putraku”, jawabnya singkat”.

Zikir-zikir setelah shalat wajib yang sering dibacanya telah diriwayatkan dalam referensi-referensi Syi’ah dan Ahlussunnah. Zikir tersebut dikenal dengan sebutan tasbiihaat Fathimah a.s.

Sebelum Rasulullah SAWW meninggal dunia, segala kesulitan hidup yang dialaminya sirna dengan melihat wajah berseri sang ayah. Bertemu dengan sang ayah dapat membasmi semua kepenatan dan menganugerahkan ketenteraman dan kekuatan baru. Akan tetapi, meninggalnya sang ayah, terzaliminya sang suami, hilangnya kebenaran dan –-lebih penting dari semua itu–, penyelewengan-penyelewengan yang terjadi setelah meninggalnya Rasulullah SAWW dalam waktu yang sangat singkat, sangat menyakiti jiwa dan kemudian raga Fathimah a.s. Berdasarkan pembuktian sejarah, sebelum sang ayah meninggal dunia, ia tidak pernah memiliki penyakit raga.

Anda pasti telah mendengar cerita mereka yang datang ke rumah Fathimah a.s. dan ingin membakar rumah dan seluruh isinya. Peristiwa ini dengan sendirinya sudah cukup sebagai peristiwa yang sangat menyakitkannya. Apalagi jika ditambah dengan peristiwa-peristiwa lain.

Putri Rasulullah SAWW terbaring di atas ranjang merintih kesakitan. Para wanita Muhajir dan Anshar mengelilinginya. Ia masih sempat melontarkan ceramah di hadapan mereka. Dan dengan menukil sebagian kecil dari ceramah tersebut, Anda akan memahami betapa ia mengeluh terhadap keadaan masyarakat kala itu yang memancing di air keruh untuk merampas wilayah dari pemiliknya yang sah.

“Demi Allah, jika mereka menyerahkan kepada Ali segala tugas yang telah ditentukan oleh Rasulullah SAWW, ia akan membawa mereka menuju ke jalan yang lurus dan memberikan hak setiap orang kepadanya. Oh, kenapa masa ini dipenuhi oleh hal-hal yang aneh dan permainan datang silih berganti.

Mengapa kaum kalian berbuat demikian? Apa alasan mereka? Mereka adalah para pencinta yang bohong. Akhirnya mereka akan merasakan balasannya. 

Mereka telah meninggalkan kepala dan memegang erat ekor. Mereka mencari (baca : mengikuti) orang-orang awam dan enggan bertanya kepada orang-orang alim. Laknat atas orang-orang bodoh dan lalim yang menganggap kelalimannya sebagai sebuah kebajikan”.

Pada akhirnya putri Rasulullah SAWW itu mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini dan berjumpa dengan Tuhannya. Imam Ali a.s. menguburkan jasadnya pada malam hari sehingga tidak ada kesempatan bagi Abu Bakar untuk menghadiri penguburannya. Ia meninggal dunia sebagai syahid yang terzalimi.

Berkenaan dengan tanggal syahadahnya, para ahli hadis juga berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur adalah 13 Jumadil Ula 11 H., dan pendapat lain menyatakannya jatuh pada tanggal 3 Jumadits Tsani 11 H.[]

Artikel

Biografi Singkat Fathimah Az-Zahra 'alaihassalam

Unknown  |  at  Selasa, Oktober 21, 2014


Fathimah Az-Zahra` a.s. adalah putri keempat pasangan Rasulullah SAWW dan Khadijah Al-Kubra. Julukannya antara lain az-zahra`, ash-shiddiiqah, ath-thaahirah, al-mubaarakah, az-zakiah, ar-radhiah, al-mardhiah, al-muhaddatsah dan al-batuul. Mayoritas sejarawan Syi’ah dan Ahlussunnah menetapkan bahwa ia lahir di Makkah pada tanggal 20 Jumadits Tsani 5 H.. Akan tetapi, sebagian yang lain menyatakan bahwa hal itu jatuh pada tahun 3 H, dan kelompok ketiga menetapkannya pada tahun 2 H. Salah seorang sejarawan dan ahli hadis dari kalangan Ahlussunnah menyatakan bahwa kelahirannya jatuh pada tahun 1 H.

Jelas bahwa usaha memperjelas hari kelahiran tokoh-tokoh besar sejarah meskipun dari sudut pandang historis dan riset ilmiah memiliki nilai yang besar, akan tetapi, dari sisi mengenal peran mereka dalam sejarah, hal itu tidak begitu urgen. Yang penting adalah mengetahui peran mereka dalam membentuk masa depan manusia dan sejarah.

Fathimah a.s. dididik di rumah ayahnya, sebuah rumah kenabian dan tempat turunnya wahyu. Rumah tempat kelahiran kelompok pertama yang beriman kepada keesaan Allah dan dengan tegar memegang iman mereka. Rumah itu adalah satu-satunya rumah dari sekian banyak rumah di jazirah Arab yang dari dalamnya berkumandang suara ‘Allahu Akbar’, dan Fathimah a.s. adalah satu-satunya anak wanita yang mengalami kehangatan semacam itu. Ia berada di rumah itu sendirian dan masa kecilnya ia lalui dengan segala kesendirian. Dua saudarinya, Ruqaiyah dan Ummi Kultsum lebih besar beberapa tahun dari dirinya. Mungkin salah satu rahasia kesendiriannya adalah supaya ia dapat memfokuskan diri terhadap penggemblengan raga dan jiwa.

Setelah menikah dengan Amirul Mukminin Ali a.s., ia dikenal sebagai seorang wanita figur di sepanjang sejarah. Dalam kehidupan berumah tangga ia adalah seorang wanita figur, dan dalam beribadah kepada Allah ia juga dikenal sebagai wanita teladan. Setelah selasai dari semua kewajiban sebagai ibu rumah tangga, ia dengan penuh khusyu’ dan rendah hati beribadah kepada Allah serta berdoa untuk kepentingan orang lain.

Imam Shadiq a.s. meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Imam Hasan bin Ali a.s. berkata: “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang, dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya: “Ibu, mengapa Anda tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana Anda mendoakan orang lain?” “Tetangga harus didahulukan, wahai putraku”, jawabnya singkat”.

Zikir-zikir setelah shalat wajib yang sering dibacanya telah diriwayatkan dalam referensi-referensi Syi’ah dan Ahlussunnah. Zikir tersebut dikenal dengan sebutan tasbiihaat Fathimah a.s.

Sebelum Rasulullah SAWW meninggal dunia, segala kesulitan hidup yang dialaminya sirna dengan melihat wajah berseri sang ayah. Bertemu dengan sang ayah dapat membasmi semua kepenatan dan menganugerahkan ketenteraman dan kekuatan baru. Akan tetapi, meninggalnya sang ayah, terzaliminya sang suami, hilangnya kebenaran dan –-lebih penting dari semua itu–, penyelewengan-penyelewengan yang terjadi setelah meninggalnya Rasulullah SAWW dalam waktu yang sangat singkat, sangat menyakiti jiwa dan kemudian raga Fathimah a.s. Berdasarkan pembuktian sejarah, sebelum sang ayah meninggal dunia, ia tidak pernah memiliki penyakit raga.

Anda pasti telah mendengar cerita mereka yang datang ke rumah Fathimah a.s. dan ingin membakar rumah dan seluruh isinya. Peristiwa ini dengan sendirinya sudah cukup sebagai peristiwa yang sangat menyakitkannya. Apalagi jika ditambah dengan peristiwa-peristiwa lain.

Putri Rasulullah SAWW terbaring di atas ranjang merintih kesakitan. Para wanita Muhajir dan Anshar mengelilinginya. Ia masih sempat melontarkan ceramah di hadapan mereka. Dan dengan menukil sebagian kecil dari ceramah tersebut, Anda akan memahami betapa ia mengeluh terhadap keadaan masyarakat kala itu yang memancing di air keruh untuk merampas wilayah dari pemiliknya yang sah.

“Demi Allah, jika mereka menyerahkan kepada Ali segala tugas yang telah ditentukan oleh Rasulullah SAWW, ia akan membawa mereka menuju ke jalan yang lurus dan memberikan hak setiap orang kepadanya. Oh, kenapa masa ini dipenuhi oleh hal-hal yang aneh dan permainan datang silih berganti.

Mengapa kaum kalian berbuat demikian? Apa alasan mereka? Mereka adalah para pencinta yang bohong. Akhirnya mereka akan merasakan balasannya. 

Mereka telah meninggalkan kepala dan memegang erat ekor. Mereka mencari (baca : mengikuti) orang-orang awam dan enggan bertanya kepada orang-orang alim. Laknat atas orang-orang bodoh dan lalim yang menganggap kelalimannya sebagai sebuah kebajikan”.

Pada akhirnya putri Rasulullah SAWW itu mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini dan berjumpa dengan Tuhannya. Imam Ali a.s. menguburkan jasadnya pada malam hari sehingga tidak ada kesempatan bagi Abu Bakar untuk menghadiri penguburannya. Ia meninggal dunia sebagai syahid yang terzalimi.

Berkenaan dengan tanggal syahadahnya, para ahli hadis juga berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur adalah 13 Jumadil Ula 11 H., dan pendapat lain menyatakannya jatuh pada tanggal 3 Jumadits Tsani 11 H.[]

Senin, 20 Oktober 2014

1- Labbaika itu dalam bahasa Arab, dipakai untuk menyahuti panggilan yang, biasanya kalau yang memanggil itu lebih tua atau lebih mulia. Tapi untuk orang yang tidak mengerti bahasa Arab, dikiranya hanya jawaban panggilan untuk Tuhan. Padahal tidak demikian.


2- Ketika Imam Husain as sudah tinggal sendiri, beliau as berseru: "Adakah seseorang yang bisa menolongku?"



3- Orang yang meninggal, apalagi syahid, tidak mati sesuai dengan ayat Qur'an-hadits dan, apalagi dalam filsafat. Karena itu mereka selalu mendengar apapun yang kita katakan. Jadi, tidak heran kalau di dalam shalat kita diwajibkan mensalami kanjeng Nabi Saw secara langsung dengan "Assalaamu 'alaika ayyuha al-Nabii". Begitu pula tidak heran kalau hadits mensunnahkan kita mensalami orang-orang yang meninggal di pemakaman, kalau kita melewati kuburannya dengan mengatakan "Assalaamu 'alakum yaa ahla al-qubuur".



4- Tidak ada yang tidak tahu, bahwa imam Husain as adalah Ahlulbait dan pejuang di jalan Allah membela agama dengan harta dan jiwa beliau as. Dan tidak ada yang tidak tahu, kalau syahidnya sebegitu menderita dengan dikepung berhari-hari di tengah padang pasir tanpa air dan kepalanya serta seluruh keluarganya (kurang lebih 23 orang) dipenggal dan dibuat mainan serta ditancap di atas tombak dan diarak dari Karbala-Irak sampai ke Damaskus-Suriah.

5- Dengan semua penjelasan itu, maka slogan "Labbaika yaa  Husain", memiliki makna yang dalam.

  a- Tanda kesetiaan kepada imam Husain as yang menyeru di Karbala dikala sendiri itu.

  b- Mengerti apa arti perjuangan yang sebenarnya karena sudah belajar kepada Imam Husain as. Yakni tidak brelebihan dalam segala perbuatan. Tidak menzalimi yang lemah, tidak konpromi pada kebatilan dan tidak takut apapun.

  c- Sekarang ini dalam keadaan siap penuh untuk mengorbankan apa saja seperti imam Husain as di jalan beliau as yang merupakan jalan Islam yang maksum itu.

  d- Syi'ar kepada sesama muslimin untuk mempelajari imam Husain as dan meneladaninya.

  e- Teriakan kepada Kafirin agar mereka tidak main-main dengan Islam dan muslimin.

  f- Ajakan kepada saudara-saudara Sunni untuk mengkaji Imam Husain as yang juga mereka cintai serta mengajak untuk meneladaninya.

  g- Baiat kepada Allah, Nabi Saw dan para Ahlulbait as seluruhnya.

  h- Baiat kepada Islam yang hakiki, argumentatif, dan tegas. Akan tetapi dalam waktu yang sama juga santun kepada yang lemah dan, tidak memaksa siapapun baik dengan ucapan, sikap dan, apalagi tindakan fisik.

  i- Sumpah setia kepada Islam untuk terus setia walau harus terpenggal seperti Imam Husain as.


  j- Begitu pula tentang slogan "Labbaiki Ya Zahra as".

Semoga bermanfaat.
Bersambung...

Artikel

Filosofi Labbaika Ya Husain

Unknown  |  at  Senin, Oktober 20, 2014

1- Labbaika itu dalam bahasa Arab, dipakai untuk menyahuti panggilan yang, biasanya kalau yang memanggil itu lebih tua atau lebih mulia. Tapi untuk orang yang tidak mengerti bahasa Arab, dikiranya hanya jawaban panggilan untuk Tuhan. Padahal tidak demikian.


2- Ketika Imam Husain as sudah tinggal sendiri, beliau as berseru: "Adakah seseorang yang bisa menolongku?"



3- Orang yang meninggal, apalagi syahid, tidak mati sesuai dengan ayat Qur'an-hadits dan, apalagi dalam filsafat. Karena itu mereka selalu mendengar apapun yang kita katakan. Jadi, tidak heran kalau di dalam shalat kita diwajibkan mensalami kanjeng Nabi Saw secara langsung dengan "Assalaamu 'alaika ayyuha al-Nabii". Begitu pula tidak heran kalau hadits mensunnahkan kita mensalami orang-orang yang meninggal di pemakaman, kalau kita melewati kuburannya dengan mengatakan "Assalaamu 'alakum yaa ahla al-qubuur".



4- Tidak ada yang tidak tahu, bahwa imam Husain as adalah Ahlulbait dan pejuang di jalan Allah membela agama dengan harta dan jiwa beliau as. Dan tidak ada yang tidak tahu, kalau syahidnya sebegitu menderita dengan dikepung berhari-hari di tengah padang pasir tanpa air dan kepalanya serta seluruh keluarganya (kurang lebih 23 orang) dipenggal dan dibuat mainan serta ditancap di atas tombak dan diarak dari Karbala-Irak sampai ke Damaskus-Suriah.

5- Dengan semua penjelasan itu, maka slogan "Labbaika yaa  Husain", memiliki makna yang dalam.

  a- Tanda kesetiaan kepada imam Husain as yang menyeru di Karbala dikala sendiri itu.

  b- Mengerti apa arti perjuangan yang sebenarnya karena sudah belajar kepada Imam Husain as. Yakni tidak brelebihan dalam segala perbuatan. Tidak menzalimi yang lemah, tidak konpromi pada kebatilan dan tidak takut apapun.

  c- Sekarang ini dalam keadaan siap penuh untuk mengorbankan apa saja seperti imam Husain as di jalan beliau as yang merupakan jalan Islam yang maksum itu.

  d- Syi'ar kepada sesama muslimin untuk mempelajari imam Husain as dan meneladaninya.

  e- Teriakan kepada Kafirin agar mereka tidak main-main dengan Islam dan muslimin.

  f- Ajakan kepada saudara-saudara Sunni untuk mengkaji Imam Husain as yang juga mereka cintai serta mengajak untuk meneladaninya.

  g- Baiat kepada Allah, Nabi Saw dan para Ahlulbait as seluruhnya.

  h- Baiat kepada Islam yang hakiki, argumentatif, dan tegas. Akan tetapi dalam waktu yang sama juga santun kepada yang lemah dan, tidak memaksa siapapun baik dengan ucapan, sikap dan, apalagi tindakan fisik.

  i- Sumpah setia kepada Islam untuk terus setia walau harus terpenggal seperti Imam Husain as.


  j- Begitu pula tentang slogan "Labbaiki Ya Zahra as".

Semoga bermanfaat.
Bersambung...

Imam Husein as adalah putra kedua pasangan Imam Ali as dan Fathimah Az-Zahra as Ia –berdasarkan pendapat yang masyhur– dilahirkan di Madinah pada tanggal 3 Sya’ban 4 H.

Setelah dilahirkan, Rasulullah SAWW menamainya Husein. Setelah itu, ia menciumnya dan menangis seraya berkata: “Musibah besar telah menunggumu. Semoga Allah melaknat pembunuhmu”.

Ia lebih dikenal dengan sebutan mishbaahul hudaa, safiinatun najaah, sayyidusy syuhadaa` dan Abu Abdillah.

Mas’udi menulis: “Imam Husein a.s. hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun. Selama masa itu, Rasulullah SAWW sendirilah yang memberikan makan, mengajarinya ilmu dan etika”.

Kecintaan Rasulullah SAWW kepadanya membuatnya tidak tahan melihat penderitaan yang akan menimpa Husein kecil.

Suatu hari Rasulullah SAWW sedang melewati rumah Fathimah Az-Zahra` a.s. Ia mendengar suara tangisan Husein. Langsung ia masuk ke rumah Fathimah a.s. seraya berkata kepada putrinya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa tangisan Husein sangat membuatku risau?” Setelah berkata begitu, ia menciumnya seraya berkata: “Ya Allah, aku sangat mencintai anak ini. Oleh karena itu, cintailah dia”.

Hadis yang berbunyi: “Husein adalah dariku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein”, dan “Husein adalah cucuku” hadits ini diterima oleh Syi’ah dan Ahlussunnah.

Sepeninggal Rasulullah SAWW, selama tiga puluh tahun ia selalu setia menemani sang ayah menghadapi segala problema yang menyita segala hidupnya waktu itu.

Sepeninggal sang ayah, ia juga tetap setia menemai saudaranya Imam Hasan a.s. selama sepuluh tahun. Dan setelah Imam Hasan a.s. syahid pada tahun 50 H., selama sepuluh tahun ia mengadakan penelitian terhadap segala problema yang terjadi di masanya dan berulang kali ia mengadakan perlawanan terhadap Mu’awiyah. Setelah Mu’awiyah mati, ia dengan berani menentang Yazid dan menolak untuk berbai’at dengannya. Akhirnya, pada bulan Muharam 61 H. ia bersama segenap keluarga dan para pengikutnya yang setia meneguk cawan syahadah di padang Karbala`.

Husein a.s. adalah seorang teladan yang berkepribadian mulia. Namanya selalu dikenang bersama keberanian, anti kelaliman dan penuh gelora untuk melawan segala manifestasi kezaliman.[]

Artikel

Biografi Singkat Imam Husein bin Ali 'alaihissalam

Unknown  |  at  Senin, Oktober 20, 2014

Imam Husein as adalah putra kedua pasangan Imam Ali as dan Fathimah Az-Zahra as Ia –berdasarkan pendapat yang masyhur– dilahirkan di Madinah pada tanggal 3 Sya’ban 4 H.

Setelah dilahirkan, Rasulullah SAWW menamainya Husein. Setelah itu, ia menciumnya dan menangis seraya berkata: “Musibah besar telah menunggumu. Semoga Allah melaknat pembunuhmu”.

Ia lebih dikenal dengan sebutan mishbaahul hudaa, safiinatun najaah, sayyidusy syuhadaa` dan Abu Abdillah.

Mas’udi menulis: “Imam Husein a.s. hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun. Selama masa itu, Rasulullah SAWW sendirilah yang memberikan makan, mengajarinya ilmu dan etika”.

Kecintaan Rasulullah SAWW kepadanya membuatnya tidak tahan melihat penderitaan yang akan menimpa Husein kecil.

Suatu hari Rasulullah SAWW sedang melewati rumah Fathimah Az-Zahra` a.s. Ia mendengar suara tangisan Husein. Langsung ia masuk ke rumah Fathimah a.s. seraya berkata kepada putrinya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa tangisan Husein sangat membuatku risau?” Setelah berkata begitu, ia menciumnya seraya berkata: “Ya Allah, aku sangat mencintai anak ini. Oleh karena itu, cintailah dia”.

Hadis yang berbunyi: “Husein adalah dariku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein”, dan “Husein adalah cucuku” hadits ini diterima oleh Syi’ah dan Ahlussunnah.

Sepeninggal Rasulullah SAWW, selama tiga puluh tahun ia selalu setia menemani sang ayah menghadapi segala problema yang menyita segala hidupnya waktu itu.

Sepeninggal sang ayah, ia juga tetap setia menemai saudaranya Imam Hasan a.s. selama sepuluh tahun. Dan setelah Imam Hasan a.s. syahid pada tahun 50 H., selama sepuluh tahun ia mengadakan penelitian terhadap segala problema yang terjadi di masanya dan berulang kali ia mengadakan perlawanan terhadap Mu’awiyah. Setelah Mu’awiyah mati, ia dengan berani menentang Yazid dan menolak untuk berbai’at dengannya. Akhirnya, pada bulan Muharam 61 H. ia bersama segenap keluarga dan para pengikutnya yang setia meneguk cawan syahadah di padang Karbala`.

Husein a.s. adalah seorang teladan yang berkepribadian mulia. Namanya selalu dikenang bersama keberanian, anti kelaliman dan penuh gelora untuk melawan segala manifestasi kezaliman.[]

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.