Latest

Tampilkan postingan dengan label Rahbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rahbar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2016

Rahbar: Hari Ini, Diplomasi dan Rudal Sama-sama Penting
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, negara-negara adidaya dunia yang bersandar pada intimidasi politik, ekonomi, budaya dan militer tidak berhenti untuk menekan dan memukul rakyat Iran, di mana fakta ini tidak boleh abaikan.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pidatonya di hadapan para pelantun syair-syair pujian Ahlul Bait as pada Rabu (30/3/2016) menandai peringatan kelahiran Sayidah Fatimah as, Putri Rasulullah Saw.
 
Rahbar menyebut kekuatan militer sebagai sandaran utama para arogan dunia untuk memaksa bangsa Iran bertekuk lutut di hadapan keinginan mereka.

Dalam pidatonya itu, Ayatullah Khamenei melontarkan pernyataan, jika Iran hanya mengejar perundingan dan pertukaran ekonomi dan bahkan sains dan teknologi, namun tidak memiliki kemampuan pertahanan, apakah mereka dan bahkan negara-negara kecil tidak akan membiarkan dirinya mengancam rakyat Iran?

Rahbar juga mengkritik keras terhadap mereka yang menilai hari ini dan hari esok sebagai masa perundingan saja dan bukan rudal. Beliau menuturkan, jika atas dasar pengetahuan dikatakan bahwa dunia esok adalah dunia perundingan bukan rudal, maka ini adalah pengkhianatan.

Ayatullah Khamenei menambahkan, Jika kata-kata ini diucapkan atas dasar ketidaktahuan, ini satu masalah, tetapi jika dikatakan atas dasar pengetahuan, maka ini pengkhianatan.

Hari ini, lanjut Rahbar, adalah waktu bagi semua hal, jika tidak, maka mereka akan dengan mudah merampas hak rakyat Iran.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menyinggung upaya musuh yang menggunakan semua sarana dan peralatan lama dan modern (canggih) untuk memusuhi bangsa Iran.

"Mereka menggunakan dialog, transaksi ekonomi, sanksi, ancaman militer dan segala sarana untuk memajukan tujuan-tujuannya. Kita harus memiliki kemampuan untuk berhadapan dan bertahan di semua bidang ini," tegasnya.

Rahbar lebih lanjut mengatakan, uji coba rudal-rudal canggih dan memiliki presisi tinggi oleh pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC/Pasdaran) telah menimbulkan kebahagiaan bagi bangsa-bangsa yang marah dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

"Musuh-musuh terus memperkuat kemampuan militer dan rudalnya. Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa masa untuk rudal telah berlalu? " kritiknya.

Ayatullah Khamenei menggambarkan perkataan tersebut sebagai pernyataan yang serupa dengan kata-kata sejumlah anggota pemerintahan sementara di masa lalu, di mana pada awal Revolusi Islam mereka mengatakan bahwa jet-jet tempur F-14 yang dibeli Iran harus dikembalikan kepada AS, sebab sudah tidak berguna lagi.

Di masa itu, kata Rahbar, kita mempertahankannya, dan setelah rezim Saddam Irak menyerang Iran, menjadi jelas bahwa betapa kita memerlukan peralatan pertahanan tersebut.

Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menegaskan kembali persetujuannya atas diplomasi dan perundingan politik dengan beberapa pengecualian.

Beliau mengatakan, jangan mempromosikan bahwa seoalah-olah kami menentang dialog, kami mengatakan bahwa harus berunding dengan kuat dan waspada supaya kita tidak tertipu.

Ayatulah Khamenei kepada para pelantun syair-syair Ahlul Bait as menuturkan, perlawanan terhadap upaya musuh yang ingin melemahkan keyakinan para pemuda merupakan hal yang sangat penting.

"Kita harus menggunakan semua sarana politik, ekonomi, sosial dan pertahanan untuk memperkuat posisi Republik Islam Iran," pungkasnya. (RA).
Rahbar

Rahbar: Hari Ini, Diplomasi dan Rudal Sama-sama Penting

Unknown  |  at  Rabu, Maret 30, 2016

Rahbar: Hari Ini, Diplomasi dan Rudal Sama-sama Penting
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, negara-negara adidaya dunia yang bersandar pada intimidasi politik, ekonomi, budaya dan militer tidak berhenti untuk menekan dan memukul rakyat Iran, di mana fakta ini tidak boleh abaikan.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pidatonya di hadapan para pelantun syair-syair pujian Ahlul Bait as pada Rabu (30/3/2016) menandai peringatan kelahiran Sayidah Fatimah as, Putri Rasulullah Saw.
 
Rahbar menyebut kekuatan militer sebagai sandaran utama para arogan dunia untuk memaksa bangsa Iran bertekuk lutut di hadapan keinginan mereka.

Dalam pidatonya itu, Ayatullah Khamenei melontarkan pernyataan, jika Iran hanya mengejar perundingan dan pertukaran ekonomi dan bahkan sains dan teknologi, namun tidak memiliki kemampuan pertahanan, apakah mereka dan bahkan negara-negara kecil tidak akan membiarkan dirinya mengancam rakyat Iran?

Rahbar juga mengkritik keras terhadap mereka yang menilai hari ini dan hari esok sebagai masa perundingan saja dan bukan rudal. Beliau menuturkan, jika atas dasar pengetahuan dikatakan bahwa dunia esok adalah dunia perundingan bukan rudal, maka ini adalah pengkhianatan.

Ayatullah Khamenei menambahkan, Jika kata-kata ini diucapkan atas dasar ketidaktahuan, ini satu masalah, tetapi jika dikatakan atas dasar pengetahuan, maka ini pengkhianatan.

Hari ini, lanjut Rahbar, adalah waktu bagi semua hal, jika tidak, maka mereka akan dengan mudah merampas hak rakyat Iran.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menyinggung upaya musuh yang menggunakan semua sarana dan peralatan lama dan modern (canggih) untuk memusuhi bangsa Iran.

"Mereka menggunakan dialog, transaksi ekonomi, sanksi, ancaman militer dan segala sarana untuk memajukan tujuan-tujuannya. Kita harus memiliki kemampuan untuk berhadapan dan bertahan di semua bidang ini," tegasnya.

Rahbar lebih lanjut mengatakan, uji coba rudal-rudal canggih dan memiliki presisi tinggi oleh pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC/Pasdaran) telah menimbulkan kebahagiaan bagi bangsa-bangsa yang marah dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

"Musuh-musuh terus memperkuat kemampuan militer dan rudalnya. Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa masa untuk rudal telah berlalu? " kritiknya.

Ayatullah Khamenei menggambarkan perkataan tersebut sebagai pernyataan yang serupa dengan kata-kata sejumlah anggota pemerintahan sementara di masa lalu, di mana pada awal Revolusi Islam mereka mengatakan bahwa jet-jet tempur F-14 yang dibeli Iran harus dikembalikan kepada AS, sebab sudah tidak berguna lagi.

Di masa itu, kata Rahbar, kita mempertahankannya, dan setelah rezim Saddam Irak menyerang Iran, menjadi jelas bahwa betapa kita memerlukan peralatan pertahanan tersebut.

Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menegaskan kembali persetujuannya atas diplomasi dan perundingan politik dengan beberapa pengecualian.

Beliau mengatakan, jangan mempromosikan bahwa seoalah-olah kami menentang dialog, kami mengatakan bahwa harus berunding dengan kuat dan waspada supaya kita tidak tertipu.

Ayatulah Khamenei kepada para pelantun syair-syair Ahlul Bait as menuturkan, perlawanan terhadap upaya musuh yang ingin melemahkan keyakinan para pemuda merupakan hal yang sangat penting.

"Kita harus menggunakan semua sarana politik, ekonomi, sosial dan pertahanan untuk memperkuat posisi Republik Islam Iran," pungkasnya. (RA).

Jumat, 19 Juni 2015

Rahbar menyampaikan hal itu pada Rabu (17/6/2015) sore, ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi beserta rombongan di Tehran. 

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan dinas-dinas keamanan dan intelijen Barat di Irak adalah untuk menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan politik di negara itu. “Semua perlu waspada dan jeli dalam menghadapi konspirasi itu dan politik pecah-belah. Jangan biarkan persatuan Syiah, Sunni, Kurdi, dan Arab di Irak dirusak,” tegas Rahbar.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menyinggung pengalaman rakyat Irak di masa lalu selama penjajahan Inggris dan sekarang sedang menghadapi kebijakan ekspansionis Amerika Serikat. Beliau menandaskan bahwa pihak yang menginginkan keburukan atas bangsa Irak sama sekali tidak mau menyaksikan munculnya kekuatan besar rakyat di kancah nasional, karena itu Irak perlu melestarikan kekuatan ini.

Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap keamanan dan kemajuan Irak sebagai keamanan dan kemajuannya.

“AS dari satu sisi ingin menjarah kekayaan Irak sebagaimana yang mereka lakukan di beberapa negara Arab regional, dan dari sisi lain mereka ingin memaksakan agendanya seperti di masa lalu, namun Irak tidak boleh membiarkan tujuan itu terwujud,” tandas Rahbar.

Irak sekarang berkutat dalam pergolakan di Timur Tengah khususnya serangan luas kelompok ISIS dan teroris. Kelompok-kelompok teroris di Irak dan juga Suriah berupaya melancarkan sebuah konspirasi besar di kawasan dengan melemparkan isu-isu pemecah belah atas nama agama dan mazhab.

Pada dasarnya, konspirasi tersebut mengincar dua misi utama yaitu, pertama; memperlemah infrastruktur keamanan dan stabilitas di kawasan dengan cara memperluas zona-zona konflik di Irak dan Suriah, dan kedua; ingin mengesankan ketergantungan negara-negara regional terhadap kehadiran jangka panjang kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menumpas teroris.

Sejalan dengan itu, Arab Saudi membantu memperkeruh krisis di Irak dan Suriah dengan cara memberi dukungan persenjataan dan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi juga memaksakan sebuah perang yang keji terhadap rakyat Yaman.

Jelas ada jarak yang jauh antara kebijakan yang diambil di bawah klaim koalisi internasional anti-ISIS dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam perang nyata melawan terorisme ISIS di Irak dan Suriah.

Dengan memperhatikan peran AS dan beberapa negara lain seperti Saudi, yang ingin memperlemah pemerintah, serta persatuan nasional dan politik di Irak dan Suriah, manuver ini pada dasarnya menyasar keamanan kolektif di kawasan. Oleh sebab itu, untuk menghalau manuver tersebut negara-negara regional perlu mengidentifikasi musuh yang sesungguhnya dan memperkuat hubungan di antara mereka.

Situasi saat ini di Timur Tengah menuntut Iran dan negara-negara tetangga terutama Irak, untuk membangun hubungan yang kuat atas dasar kerja sama politik, keamanan, pertahanan, dan ekonomi di samping sektor-sektor lain seperti, ketertarikan dan kesamaan agama dan budaya.

Kemajuan dan keamanan merupakan dua unsur yang saling terkait, di mana akan tercipta di negara-negara regional melalui kerja sama dan juga pemeliharaan persatuan nasional dan politik. Oleh sebab itu, Ayatullah Khamenei menekankan isu-isu penting tersebut dalam pertemuannya dengan PM Irak.
Rahbar

Persatuan Nasional dan Politik Irak Perspektif Rahbar

Unknown  |  at  Jumat, Juni 19, 2015

Rahbar menyampaikan hal itu pada Rabu (17/6/2015) sore, ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi beserta rombongan di Tehran. 

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan dinas-dinas keamanan dan intelijen Barat di Irak adalah untuk menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan politik di negara itu. “Semua perlu waspada dan jeli dalam menghadapi konspirasi itu dan politik pecah-belah. Jangan biarkan persatuan Syiah, Sunni, Kurdi, dan Arab di Irak dirusak,” tegas Rahbar.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menyinggung pengalaman rakyat Irak di masa lalu selama penjajahan Inggris dan sekarang sedang menghadapi kebijakan ekspansionis Amerika Serikat. Beliau menandaskan bahwa pihak yang menginginkan keburukan atas bangsa Irak sama sekali tidak mau menyaksikan munculnya kekuatan besar rakyat di kancah nasional, karena itu Irak perlu melestarikan kekuatan ini.

Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap keamanan dan kemajuan Irak sebagai keamanan dan kemajuannya.

“AS dari satu sisi ingin menjarah kekayaan Irak sebagaimana yang mereka lakukan di beberapa negara Arab regional, dan dari sisi lain mereka ingin memaksakan agendanya seperti di masa lalu, namun Irak tidak boleh membiarkan tujuan itu terwujud,” tandas Rahbar.

Irak sekarang berkutat dalam pergolakan di Timur Tengah khususnya serangan luas kelompok ISIS dan teroris. Kelompok-kelompok teroris di Irak dan juga Suriah berupaya melancarkan sebuah konspirasi besar di kawasan dengan melemparkan isu-isu pemecah belah atas nama agama dan mazhab.

Pada dasarnya, konspirasi tersebut mengincar dua misi utama yaitu, pertama; memperlemah infrastruktur keamanan dan stabilitas di kawasan dengan cara memperluas zona-zona konflik di Irak dan Suriah, dan kedua; ingin mengesankan ketergantungan negara-negara regional terhadap kehadiran jangka panjang kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menumpas teroris.

Sejalan dengan itu, Arab Saudi membantu memperkeruh krisis di Irak dan Suriah dengan cara memberi dukungan persenjataan dan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi juga memaksakan sebuah perang yang keji terhadap rakyat Yaman.

Jelas ada jarak yang jauh antara kebijakan yang diambil di bawah klaim koalisi internasional anti-ISIS dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam perang nyata melawan terorisme ISIS di Irak dan Suriah.

Dengan memperhatikan peran AS dan beberapa negara lain seperti Saudi, yang ingin memperlemah pemerintah, serta persatuan nasional dan politik di Irak dan Suriah, manuver ini pada dasarnya menyasar keamanan kolektif di kawasan. Oleh sebab itu, untuk menghalau manuver tersebut negara-negara regional perlu mengidentifikasi musuh yang sesungguhnya dan memperkuat hubungan di antara mereka.

Situasi saat ini di Timur Tengah menuntut Iran dan negara-negara tetangga terutama Irak, untuk membangun hubungan yang kuat atas dasar kerja sama politik, keamanan, pertahanan, dan ekonomi di samping sektor-sektor lain seperti, ketertarikan dan kesamaan agama dan budaya.

Kemajuan dan keamanan merupakan dua unsur yang saling terkait, di mana akan tercipta di negara-negara regional melalui kerja sama dan juga pemeliharaan persatuan nasional dan politik. Oleh sebab itu, Ayatullah Khamenei menekankan isu-isu penting tersebut dalam pertemuannya dengan PM Irak.

Kamis, 28 Mei 2015

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam di Iran
IslamTimes - Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan para pejabat Iran harus berdiri teguh pada sikap negara selama negosiasi nuklir dengan negara P5 + 1 untuk mengamankan kepentingan bangsa.
"Pada isu nuklir, prinsip [Iran] adalah sama seperti yang kita telah secara eksplisit umumkan; poin yang sama telah diumumkan kepada otoritas secara lisan dan tertulis. Ini adalah posisi dasar negara Islam," kata Ayatullah Khamenei dalam pertemuan Rabu (27/5/15) dengan ketua Parlemen Iran (Majlis) Ali Larijani dan anggota parlemen.


Pemimpin menambahkan bahwa penyelesaian masalah nuklir negara itu akan difasilitasi dengan memanfaatkan potensi dalam negeri.

"Jika kita meningkatkan produksi dan menggunakan potensi dalam negeri, [ini akan] tidak hanya memecahkan masalah lokal, tetapi memfasilitasi penyelesaian masalah luar negeri seperti (masalah) nuklir," kata Sang Pemimpin.

Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa tim perunding nuklir Iran berupaya dengan tulus untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan program nuklir negara itu.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut mencatat bahwa Iran harus juga melihat masalah selain kesepakatan program nuklir negara itu dengan Barat.

"Dalam kerangka isu-isu yang kita miliki dengan AS, Barat dan Zionisme, kita juga meramalkan berbagai topik selain masalah nuklir seperti hak asasi manusia, tetapi jika kita fokus pada kemampuan dalam negeri ... itu akan mudah untuk menyelesaikan masalah ini juga,"Ali Khamenei menggarisbawahi.

"Saya tahu bahwa kita dihadapkan dengan kurangnya sumber daya, dan sanksi telah memberi kontribusi pada kekurangan sumber daya. Cari solusi, "kata Sang Pemimpin.

"Solusinya adalah penghematan," kata Pemimpin Revolusi Islam, menambahkan prioritas harus diperhitungkan.

Pemimpin Islam itu menekankan bahwa kurangnya sumber daya tidak boleh digunakan sebagai "alasan" untuk menahan diri dari "melakukan suatu pekerjaan."

Ayatollah Khamenei kemudian mendesak legislator untuk "menuntut sikap prinsip Negara [Islam] itu."

Jika tidak ada desakan anggota parlemen tersebut, kata Pemimpin, negara akan menghadapi banyak bahaya.
Rahbar

Ali Khamenei: Pejabat Harus Berpegang Teguh pada Prinsip Iran

Unknown  |  at  Kamis, Mei 28, 2015

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam di Iran
IslamTimes - Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan para pejabat Iran harus berdiri teguh pada sikap negara selama negosiasi nuklir dengan negara P5 + 1 untuk mengamankan kepentingan bangsa.
"Pada isu nuklir, prinsip [Iran] adalah sama seperti yang kita telah secara eksplisit umumkan; poin yang sama telah diumumkan kepada otoritas secara lisan dan tertulis. Ini adalah posisi dasar negara Islam," kata Ayatullah Khamenei dalam pertemuan Rabu (27/5/15) dengan ketua Parlemen Iran (Majlis) Ali Larijani dan anggota parlemen.


Pemimpin menambahkan bahwa penyelesaian masalah nuklir negara itu akan difasilitasi dengan memanfaatkan potensi dalam negeri.

"Jika kita meningkatkan produksi dan menggunakan potensi dalam negeri, [ini akan] tidak hanya memecahkan masalah lokal, tetapi memfasilitasi penyelesaian masalah luar negeri seperti (masalah) nuklir," kata Sang Pemimpin.

Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa tim perunding nuklir Iran berupaya dengan tulus untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan program nuklir negara itu.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut mencatat bahwa Iran harus juga melihat masalah selain kesepakatan program nuklir negara itu dengan Barat.

"Dalam kerangka isu-isu yang kita miliki dengan AS, Barat dan Zionisme, kita juga meramalkan berbagai topik selain masalah nuklir seperti hak asasi manusia, tetapi jika kita fokus pada kemampuan dalam negeri ... itu akan mudah untuk menyelesaikan masalah ini juga,"Ali Khamenei menggarisbawahi.

"Saya tahu bahwa kita dihadapkan dengan kurangnya sumber daya, dan sanksi telah memberi kontribusi pada kekurangan sumber daya. Cari solusi, "kata Sang Pemimpin.

"Solusinya adalah penghematan," kata Pemimpin Revolusi Islam, menambahkan prioritas harus diperhitungkan.

Pemimpin Islam itu menekankan bahwa kurangnya sumber daya tidak boleh digunakan sebagai "alasan" untuk menahan diri dari "melakukan suatu pekerjaan."

Ayatollah Khamenei kemudian mendesak legislator untuk "menuntut sikap prinsip Negara [Islam] itu."

Jika tidak ada desakan anggota parlemen tersebut, kata Pemimpin, negara akan menghadapi banyak bahaya.

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.