Latest

Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2018

Politik

Velayati: Iran dan Irak Berdiri Menghadapi Ekstremisme Israel dan AS

Unknown  |  at  Rabu, Juni 27, 2018

Rabu, 30 Maret 2016

Rahbar: Hari Ini, Diplomasi dan Rudal Sama-sama Penting
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, negara-negara adidaya dunia yang bersandar pada intimidasi politik, ekonomi, budaya dan militer tidak berhenti untuk menekan dan memukul rakyat Iran, di mana fakta ini tidak boleh abaikan.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pidatonya di hadapan para pelantun syair-syair pujian Ahlul Bait as pada Rabu (30/3/2016) menandai peringatan kelahiran Sayidah Fatimah as, Putri Rasulullah Saw.
 
Rahbar menyebut kekuatan militer sebagai sandaran utama para arogan dunia untuk memaksa bangsa Iran bertekuk lutut di hadapan keinginan mereka.

Dalam pidatonya itu, Ayatullah Khamenei melontarkan pernyataan, jika Iran hanya mengejar perundingan dan pertukaran ekonomi dan bahkan sains dan teknologi, namun tidak memiliki kemampuan pertahanan, apakah mereka dan bahkan negara-negara kecil tidak akan membiarkan dirinya mengancam rakyat Iran?

Rahbar juga mengkritik keras terhadap mereka yang menilai hari ini dan hari esok sebagai masa perundingan saja dan bukan rudal. Beliau menuturkan, jika atas dasar pengetahuan dikatakan bahwa dunia esok adalah dunia perundingan bukan rudal, maka ini adalah pengkhianatan.

Ayatullah Khamenei menambahkan, Jika kata-kata ini diucapkan atas dasar ketidaktahuan, ini satu masalah, tetapi jika dikatakan atas dasar pengetahuan, maka ini pengkhianatan.

Hari ini, lanjut Rahbar, adalah waktu bagi semua hal, jika tidak, maka mereka akan dengan mudah merampas hak rakyat Iran.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menyinggung upaya musuh yang menggunakan semua sarana dan peralatan lama dan modern (canggih) untuk memusuhi bangsa Iran.

"Mereka menggunakan dialog, transaksi ekonomi, sanksi, ancaman militer dan segala sarana untuk memajukan tujuan-tujuannya. Kita harus memiliki kemampuan untuk berhadapan dan bertahan di semua bidang ini," tegasnya.

Rahbar lebih lanjut mengatakan, uji coba rudal-rudal canggih dan memiliki presisi tinggi oleh pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC/Pasdaran) telah menimbulkan kebahagiaan bagi bangsa-bangsa yang marah dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

"Musuh-musuh terus memperkuat kemampuan militer dan rudalnya. Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa masa untuk rudal telah berlalu? " kritiknya.

Ayatullah Khamenei menggambarkan perkataan tersebut sebagai pernyataan yang serupa dengan kata-kata sejumlah anggota pemerintahan sementara di masa lalu, di mana pada awal Revolusi Islam mereka mengatakan bahwa jet-jet tempur F-14 yang dibeli Iran harus dikembalikan kepada AS, sebab sudah tidak berguna lagi.

Di masa itu, kata Rahbar, kita mempertahankannya, dan setelah rezim Saddam Irak menyerang Iran, menjadi jelas bahwa betapa kita memerlukan peralatan pertahanan tersebut.

Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menegaskan kembali persetujuannya atas diplomasi dan perundingan politik dengan beberapa pengecualian.

Beliau mengatakan, jangan mempromosikan bahwa seoalah-olah kami menentang dialog, kami mengatakan bahwa harus berunding dengan kuat dan waspada supaya kita tidak tertipu.

Ayatulah Khamenei kepada para pelantun syair-syair Ahlul Bait as menuturkan, perlawanan terhadap upaya musuh yang ingin melemahkan keyakinan para pemuda merupakan hal yang sangat penting.

"Kita harus menggunakan semua sarana politik, ekonomi, sosial dan pertahanan untuk memperkuat posisi Republik Islam Iran," pungkasnya. (RA).
Rahbar

Rahbar: Hari Ini, Diplomasi dan Rudal Sama-sama Penting

Unknown  |  at  Rabu, Maret 30, 2016

Rahbar: Hari Ini, Diplomasi dan Rudal Sama-sama Penting
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, negara-negara adidaya dunia yang bersandar pada intimidasi politik, ekonomi, budaya dan militer tidak berhenti untuk menekan dan memukul rakyat Iran, di mana fakta ini tidak boleh abaikan.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pidatonya di hadapan para pelantun syair-syair pujian Ahlul Bait as pada Rabu (30/3/2016) menandai peringatan kelahiran Sayidah Fatimah as, Putri Rasulullah Saw.
 
Rahbar menyebut kekuatan militer sebagai sandaran utama para arogan dunia untuk memaksa bangsa Iran bertekuk lutut di hadapan keinginan mereka.

Dalam pidatonya itu, Ayatullah Khamenei melontarkan pernyataan, jika Iran hanya mengejar perundingan dan pertukaran ekonomi dan bahkan sains dan teknologi, namun tidak memiliki kemampuan pertahanan, apakah mereka dan bahkan negara-negara kecil tidak akan membiarkan dirinya mengancam rakyat Iran?

Rahbar juga mengkritik keras terhadap mereka yang menilai hari ini dan hari esok sebagai masa perundingan saja dan bukan rudal. Beliau menuturkan, jika atas dasar pengetahuan dikatakan bahwa dunia esok adalah dunia perundingan bukan rudal, maka ini adalah pengkhianatan.

Ayatullah Khamenei menambahkan, Jika kata-kata ini diucapkan atas dasar ketidaktahuan, ini satu masalah, tetapi jika dikatakan atas dasar pengetahuan, maka ini pengkhianatan.

Hari ini, lanjut Rahbar, adalah waktu bagi semua hal, jika tidak, maka mereka akan dengan mudah merampas hak rakyat Iran.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menyinggung upaya musuh yang menggunakan semua sarana dan peralatan lama dan modern (canggih) untuk memusuhi bangsa Iran.

"Mereka menggunakan dialog, transaksi ekonomi, sanksi, ancaman militer dan segala sarana untuk memajukan tujuan-tujuannya. Kita harus memiliki kemampuan untuk berhadapan dan bertahan di semua bidang ini," tegasnya.

Rahbar lebih lanjut mengatakan, uji coba rudal-rudal canggih dan memiliki presisi tinggi oleh pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC/Pasdaran) telah menimbulkan kebahagiaan bagi bangsa-bangsa yang marah dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

"Musuh-musuh terus memperkuat kemampuan militer dan rudalnya. Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa masa untuk rudal telah berlalu? " kritiknya.

Ayatullah Khamenei menggambarkan perkataan tersebut sebagai pernyataan yang serupa dengan kata-kata sejumlah anggota pemerintahan sementara di masa lalu, di mana pada awal Revolusi Islam mereka mengatakan bahwa jet-jet tempur F-14 yang dibeli Iran harus dikembalikan kepada AS, sebab sudah tidak berguna lagi.

Di masa itu, kata Rahbar, kita mempertahankannya, dan setelah rezim Saddam Irak menyerang Iran, menjadi jelas bahwa betapa kita memerlukan peralatan pertahanan tersebut.

Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menegaskan kembali persetujuannya atas diplomasi dan perundingan politik dengan beberapa pengecualian.

Beliau mengatakan, jangan mempromosikan bahwa seoalah-olah kami menentang dialog, kami mengatakan bahwa harus berunding dengan kuat dan waspada supaya kita tidak tertipu.

Ayatulah Khamenei kepada para pelantun syair-syair Ahlul Bait as menuturkan, perlawanan terhadap upaya musuh yang ingin melemahkan keyakinan para pemuda merupakan hal yang sangat penting.

"Kita harus menggunakan semua sarana politik, ekonomi, sosial dan pertahanan untuk memperkuat posisi Republik Islam Iran," pungkasnya. (RA).

Minggu, 29 November 2015

Ulama Iran: Semua Negosiasi dengan AS Tak Berguna
Khatib shalat Jumat Iran mengatakan, Republik Islam Iran tidak akan bernegosiasi dengan AS, menurutnya Washington berusaha membuka jalan infiltrasi di Republik Islam.

"Republik Islam Iran siap bernegosiasi dengan negara manapun, selain Amerika, atau bekerja sama dengan rezim Israel. Amerika Serikat berusaha membuka jalan infiltrasi politik dan budaya ke Iran, kata Ayatollah Mohammad Ali Movahedi-Kermani dalam pidato Shalat Jumat di Tehran, pada Jumat,  27/11/15.

Menurutnya, negosiasi dengan AS tidak berarti dan tidak bermanfaat.

Dia mendesak para pejabat Iran untuk tetap waspada dan mencegah infiltrasi musuh ke dalam negara, jika infiltrasi terealisasi, "bencana" besar menunggu Iran, tandasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, musuh selalu berusaha mengubah Iran dengan menyebar kekecewaan di kalangan rakyat Iran, mendominasi keputusan pusat Iran dan merusak ideologi Islam.

"Untuk melemahkan Islam, musuh menyebarkan ideologi Barat di tengah negara-negara Muslim", lanjutnya.

Ulama itu membuat pernyataan dua hari setelah Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei memperingatkan adanya upaya musuh yang menyusup ke Iran dengan berbagai cara dan alasan dan menyebut, masalah infiltrasi musuh adalah masalah yang sangat penting.
Iran

Ulama Iran: Semua Negosiasi dengan AS Tak Berguna

Unknown  |  at  Minggu, November 29, 2015

Ulama Iran: Semua Negosiasi dengan AS Tak Berguna
Khatib shalat Jumat Iran mengatakan, Republik Islam Iran tidak akan bernegosiasi dengan AS, menurutnya Washington berusaha membuka jalan infiltrasi di Republik Islam.

"Republik Islam Iran siap bernegosiasi dengan negara manapun, selain Amerika, atau bekerja sama dengan rezim Israel. Amerika Serikat berusaha membuka jalan infiltrasi politik dan budaya ke Iran, kata Ayatollah Mohammad Ali Movahedi-Kermani dalam pidato Shalat Jumat di Tehran, pada Jumat,  27/11/15.

Menurutnya, negosiasi dengan AS tidak berarti dan tidak bermanfaat.

Dia mendesak para pejabat Iran untuk tetap waspada dan mencegah infiltrasi musuh ke dalam negara, jika infiltrasi terealisasi, "bencana" besar menunggu Iran, tandasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, musuh selalu berusaha mengubah Iran dengan menyebar kekecewaan di kalangan rakyat Iran, mendominasi keputusan pusat Iran dan merusak ideologi Islam.

"Untuk melemahkan Islam, musuh menyebarkan ideologi Barat di tengah negara-negara Muslim", lanjutnya.

Ulama itu membuat pernyataan dua hari setelah Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei memperingatkan adanya upaya musuh yang menyusup ke Iran dengan berbagai cara dan alasan dan menyebut, masalah infiltrasi musuh adalah masalah yang sangat penting.

Kamis, 06 Agustus 2015


Kantor media Kemenlu Iran (6/8) melaporkan, Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran mereaksi pidato Barack Obama, Presiden Amerika, Rabu (5/8) terkait Iran.

Ia menjelaskan, “Selama puluhan tahun kebijakan keliru diterapkan atas rakyat Iran dan tidak membuahkan hasil apapun bagi Amerika.”

Zarif menegaskan, “Iran tidak akan pernah mengejar senjata nuklir. Oleh karena itu, klaim yang disampaikan dalam kesepakatan nuklir Iran, bahwa seluruh jalan meraih senjata nuklir bagi Iran sudah tertutup, semata-mata hanya untuk memuaskan publik internal dan rezim Zionis Israel.

“Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa yang menyebabkan instabilitas dan meluasnya ekstremisme serta terorisme di Timur Tengah, adalah kebijakan tak terukur Amerika, sekutunya dan Israel,” ujar Zarif.

Menurut Zarif, perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan selalu menjadi prioritas terpenting kebijakan luar negeri Iran yang berlandaskan pada pengenalan yang benar tentang realitas kawasan ini.

Lebih lanjut Zarif menerangkan, “Iran dengan kepercayaan diri dan rasionalitas dalam perundingan nuklir membuktikan bahwa krisis-krisis buatan sekalipun dapat diselesaikan lewat interaksi dan dialog dengan berlandaskan pada penghormatan timbal balik.”

Oleh karena itu, katanya, pondasi proyek rapuh dan berbahaya “Iranphobia”, runtuh dan upaya untuk meniupkan ruh baru isu itu di dunia dan kawasan sudah tidak diminati lagi.

Barack Obama, Rabu (5/8) mengatakan bahwa kesepakatan yang dicapai tidak akan merubah sikap Iran dan ia meminta Tehran untuk melupakan atas apa yang ia anggap sebagai senjata nuklir.

Presiden Amerika, untuk membungkam para pemrotesnya, saat ini tidak menolak opsi perang dan pertama akan menguji diplomasi, kemudian memikirkan opsi perang.
Iran

Zarif: Rakyat Iran tak akan Pernah Lupakan Kezaliman AS

Unknown  |  at  Kamis, Agustus 06, 2015


Kantor media Kemenlu Iran (6/8) melaporkan, Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran mereaksi pidato Barack Obama, Presiden Amerika, Rabu (5/8) terkait Iran.

Ia menjelaskan, “Selama puluhan tahun kebijakan keliru diterapkan atas rakyat Iran dan tidak membuahkan hasil apapun bagi Amerika.”

Zarif menegaskan, “Iran tidak akan pernah mengejar senjata nuklir. Oleh karena itu, klaim yang disampaikan dalam kesepakatan nuklir Iran, bahwa seluruh jalan meraih senjata nuklir bagi Iran sudah tertutup, semata-mata hanya untuk memuaskan publik internal dan rezim Zionis Israel.

“Perkembangan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa yang menyebabkan instabilitas dan meluasnya ekstremisme serta terorisme di Timur Tengah, adalah kebijakan tak terukur Amerika, sekutunya dan Israel,” ujar Zarif.

Menurut Zarif, perdamaian, keamanan dan stabilitas di kawasan selalu menjadi prioritas terpenting kebijakan luar negeri Iran yang berlandaskan pada pengenalan yang benar tentang realitas kawasan ini.

Lebih lanjut Zarif menerangkan, “Iran dengan kepercayaan diri dan rasionalitas dalam perundingan nuklir membuktikan bahwa krisis-krisis buatan sekalipun dapat diselesaikan lewat interaksi dan dialog dengan berlandaskan pada penghormatan timbal balik.”

Oleh karena itu, katanya, pondasi proyek rapuh dan berbahaya “Iranphobia”, runtuh dan upaya untuk meniupkan ruh baru isu itu di dunia dan kawasan sudah tidak diminati lagi.

Barack Obama, Rabu (5/8) mengatakan bahwa kesepakatan yang dicapai tidak akan merubah sikap Iran dan ia meminta Tehran untuk melupakan atas apa yang ia anggap sebagai senjata nuklir.

Presiden Amerika, untuk membungkam para pemrotesnya, saat ini tidak menolak opsi perang dan pertama akan menguji diplomasi, kemudian memikirkan opsi perang.


Kantor Kementerian Luar Negeri Iran (6/8) melaporkan, Utusan Iran di PBB menjawab sebagian klaim baru di media-media Amerika tentang pembersihan situs militer Parchin, Iran.

Menurutnya, klaim-klaim semacam itu menggelikan dan pengulangan skenario lama serta usang. Sebelumnya, klaim-klaim tersebut selalu diulang dan terbukti kepalsuannya.

Utusan Iran di PBB menerangkan, lokasi militer Parchin adalah wilayah luas yang meliputi beberapa bagian militer, administrasi dan pemukiman. Oleh karena itu, pembangunan di lokasi itu adalah hal yang wajar dan biasa.

Sepekan yang lalu, karena proyek jalan raya di depan bendungan Mamlou di dekat Parchin namun tidak terhubung ke lokasi militer itu, dilakukan banyak aktivitas pembangunan untuk memperbaiki jalan. Akibat proyek tersebut, terjadi peningkatan intensitas lalu-lalang kendaraan berat.

Utusan Iran di PBB juga menyesalkan upaya lobi-lobi Zionis untuk merusak atmosfir positif internasional menyusul realisasi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Ia menegaskan, Iran berdasarkan ajaran agama dan doktrin keamanannya, tidak akan pernah mengejar militerisasi nuklir.
Iran

Utusan Iran di PBB Jawab Klaim AS Soal Situs Parchin

Unknown  |  at  Kamis, Agustus 06, 2015


Kantor Kementerian Luar Negeri Iran (6/8) melaporkan, Utusan Iran di PBB menjawab sebagian klaim baru di media-media Amerika tentang pembersihan situs militer Parchin, Iran.

Menurutnya, klaim-klaim semacam itu menggelikan dan pengulangan skenario lama serta usang. Sebelumnya, klaim-klaim tersebut selalu diulang dan terbukti kepalsuannya.

Utusan Iran di PBB menerangkan, lokasi militer Parchin adalah wilayah luas yang meliputi beberapa bagian militer, administrasi dan pemukiman. Oleh karena itu, pembangunan di lokasi itu adalah hal yang wajar dan biasa.

Sepekan yang lalu, karena proyek jalan raya di depan bendungan Mamlou di dekat Parchin namun tidak terhubung ke lokasi militer itu, dilakukan banyak aktivitas pembangunan untuk memperbaiki jalan. Akibat proyek tersebut, terjadi peningkatan intensitas lalu-lalang kendaraan berat.

Utusan Iran di PBB juga menyesalkan upaya lobi-lobi Zionis untuk merusak atmosfir positif internasional menyusul realisasi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Ia menegaskan, Iran berdasarkan ajaran agama dan doktrin keamanannya, tidak akan pernah mengejar militerisasi nuklir.

Selasa, 04 Agustus 2015


Reza Mirabyan, Selasa (4/8) kepada IRIB News menjelaskan statemen yang disampaikan pada pertemuan segitiga Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rusia dan Arab Saudi di Riyadh kemarin, Senin (3/8).

Ia menuturkan, “Selain rezim Zionis Israel dan petinggi Kongres Amerika, seluruh negara, bahkan Saudi, menyambut kesepakatan nuklir Iran dan Kelompok 5+1.”

Mirabyan menjelaskan, “Surat terbaru Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran yang dimuat media-media Teluk Persia, menekankan pembentukan dewan regional untuk menjalin kerjasama di bidang keamanan, ekonomi dan budaya antara Iran dan negara-negara Teluk Persia.”

Saya berharap, kata Mirabyan, hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia akan lebih baik dan lebih luas lagi.

Pakar Timur Tengah ini menerangkan, “Salah satu hasil kesepakatan nuklir Iran adalah terhapusnya isu Islamphopia yang sebelumnya menghantui kawasan, dan terbukanya peluang kerjasama regional dan transregional.” 
Iran

Kerjasama Iran dan Negara Arab Teluk Persia Meningkat

Unknown  |  at  Selasa, Agustus 04, 2015


Reza Mirabyan, Selasa (4/8) kepada IRIB News menjelaskan statemen yang disampaikan pada pertemuan segitiga Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rusia dan Arab Saudi di Riyadh kemarin, Senin (3/8).

Ia menuturkan, “Selain rezim Zionis Israel dan petinggi Kongres Amerika, seluruh negara, bahkan Saudi, menyambut kesepakatan nuklir Iran dan Kelompok 5+1.”

Mirabyan menjelaskan, “Surat terbaru Mohammad Javad Zarif, Menlu Iran yang dimuat media-media Teluk Persia, menekankan pembentukan dewan regional untuk menjalin kerjasama di bidang keamanan, ekonomi dan budaya antara Iran dan negara-negara Teluk Persia.”

Saya berharap, kata Mirabyan, hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia akan lebih baik dan lebih luas lagi.

Pakar Timur Tengah ini menerangkan, “Salah satu hasil kesepakatan nuklir Iran adalah terhapusnya isu Islamphopia yang sebelumnya menghantui kawasan, dan terbukanya peluang kerjasama regional dan transregional.” 

Rabu, 29 Juli 2015


Menurut media-media dunia, ini adalah klaim terbaru Riyadh setelah Iran berhasil meraih kesepakatan nuklir dengan negara-negara anggota P5+1.

Klaim ini dilontarkan oleh al-Jubair setelah Kementerian Luar Negeri Bahrain mengumumkan berhasil menangkap dua orang yang ingin memasukkan bahan-bahan peledak dan senjata ke Bahrain. Menurut Kemenlu Bahrain, salah seorang dari mereka pernah dididik di Iran.
 Menurut media-media dunia, ini adalah klaim terbaru Riyadh setelah Iran berhasil meraih kesepakatan nuklir dengan negara-negara anggota P5+1.

Klaim ini dilontarkan oleh al-Jubair setelah Kementerian Luar Negeri Bahrain mengumumkan berhasil menangkap dua orang yang ingin memasukkan bahan-bahan peledak dan senjata ke Bahrain. Menurut Kemenlu Bahrain, salah seorang dari mereka pernah dididik di Iran.

Menanggapi klaim Kemenlu Bahrain ini, Marziyeh Afkham Jubir Kemenlu Iran menuduh Bahrain sedang berusaha untuk mengeruhkan air tenang guna memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Timur Tengah.

Menurut Muhammad Jawad Zarif, Menlu Iran, yang sedang berada di Kuwait pada hari Minggu lalu, sebagian negara memang mencari-cari alasan untuk menyulut perang. Tuduhan Bahrain ini tidak lain hanya bertujuan untuk memperkeruh hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia.

Di sisi lain, Mogherini dalam jumpa pers bersama dengan al-Jubair menilai bahwa kesepakatan nuklir Iran sangat kokoh dan tidak mudah goyah. Tetapi, ia menyadari ada sebagian negara yang masih khawatir.

Mogherini adalah petinggi terakhir Barat yang berkunjung ke Arab Saudi guna mengurangi kekhawatiran Riyadh sehubungan dengan kesepakatan nuklir Iran.

Menanggapi klaim Kemenlu Bahrain ini, Marziyeh Afkham Jubir Kemenlu Iran menuduh Bahrain sedang berusaha untuk mengeruhkan air tenang guna memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Timur Tengah.

Menurut Muhammad Jawad Zarif, Menlu Iran, yang sedang berada di Kuwait pada hari Minggu lalu, sebagian negara memang mencari-cari alasan untuk menyulut perang. Tuduhan Bahrain ini tidak lain hanya bertujuan untuk memperkeruh hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia.

Di sisi lain, Mogherini dalam jumpa pers bersama dengan al-Jubair menilai bahwa kesepakatan nuklir Iran sangat kokoh dan tidak mudah goyah. Tetapi, ia menyadari ada sebagian negara yang masih khawatir.

Mogherini adalah petinggi terakhir Barat yang berkunjung ke Arab Saudi guna mengurangi kekhawatiran Riyadh sehubungan dengan kesepakatan nuklir Iran.
saudi

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Bidikkan Tuduhan Baru ke Arah Iran

Unknown  |  at  Rabu, Juli 29, 2015


Menurut media-media dunia, ini adalah klaim terbaru Riyadh setelah Iran berhasil meraih kesepakatan nuklir dengan negara-negara anggota P5+1.

Klaim ini dilontarkan oleh al-Jubair setelah Kementerian Luar Negeri Bahrain mengumumkan berhasil menangkap dua orang yang ingin memasukkan bahan-bahan peledak dan senjata ke Bahrain. Menurut Kemenlu Bahrain, salah seorang dari mereka pernah dididik di Iran.
 Menurut media-media dunia, ini adalah klaim terbaru Riyadh setelah Iran berhasil meraih kesepakatan nuklir dengan negara-negara anggota P5+1.

Klaim ini dilontarkan oleh al-Jubair setelah Kementerian Luar Negeri Bahrain mengumumkan berhasil menangkap dua orang yang ingin memasukkan bahan-bahan peledak dan senjata ke Bahrain. Menurut Kemenlu Bahrain, salah seorang dari mereka pernah dididik di Iran.

Menanggapi klaim Kemenlu Bahrain ini, Marziyeh Afkham Jubir Kemenlu Iran menuduh Bahrain sedang berusaha untuk mengeruhkan air tenang guna memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Timur Tengah.

Menurut Muhammad Jawad Zarif, Menlu Iran, yang sedang berada di Kuwait pada hari Minggu lalu, sebagian negara memang mencari-cari alasan untuk menyulut perang. Tuduhan Bahrain ini tidak lain hanya bertujuan untuk memperkeruh hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia.

Di sisi lain, Mogherini dalam jumpa pers bersama dengan al-Jubair menilai bahwa kesepakatan nuklir Iran sangat kokoh dan tidak mudah goyah. Tetapi, ia menyadari ada sebagian negara yang masih khawatir.

Mogherini adalah petinggi terakhir Barat yang berkunjung ke Arab Saudi guna mengurangi kekhawatiran Riyadh sehubungan dengan kesepakatan nuklir Iran.

Menanggapi klaim Kemenlu Bahrain ini, Marziyeh Afkham Jubir Kemenlu Iran menuduh Bahrain sedang berusaha untuk mengeruhkan air tenang guna memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Timur Tengah.

Menurut Muhammad Jawad Zarif, Menlu Iran, yang sedang berada di Kuwait pada hari Minggu lalu, sebagian negara memang mencari-cari alasan untuk menyulut perang. Tuduhan Bahrain ini tidak lain hanya bertujuan untuk memperkeruh hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia.

Di sisi lain, Mogherini dalam jumpa pers bersama dengan al-Jubair menilai bahwa kesepakatan nuklir Iran sangat kokoh dan tidak mudah goyah. Tetapi, ia menyadari ada sebagian negara yang masih khawatir.

Mogherini adalah petinggi terakhir Barat yang berkunjung ke Arab Saudi guna mengurangi kekhawatiran Riyadh sehubungan dengan kesepakatan nuklir Iran.

Minggu, 12 Juli 2015

Komandan Angkatan Laut Iran mengatakan musuh-musuh Republik Islam tidak berani melakukan aksinya di perbatasan negara itu.


"Iran berada dalam situasi yang membuat musuh tidak berani mengancam atau mendekati Republik Islam Iran melalui perbatasan laut dan darat dan kami mengumumkan bahwa kami tidak takut ancaman apapun dan akan sepenuhnya mempertahankan wilayah negara," ungkap Laksamana Habibollah Sayyari dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (11/7/15). 

Komandan itu mengatakan bahwa musuh telah berusaha merusak Republik Islam sejak kemenangan Revolusi Islam lebih dari tiga dekade lalu, namun negara itu telah berhasil menggagalkan semua plot dan melawan semua ancaman musuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan militer. 

Iran sejauh ini telah diproduksi berbagai jenis sistem radar, drone, kapal perusak, rudal, kapal selam dan jet tempur buatan dalam negeri. Pekan lalu, Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan sistem radar jarak jauh di barat daya Iran untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara negara itu.
Iran

Komandan Iran: Musuh Tidak Berani Ancam Iran

Unknown  |  at  Minggu, Juli 12, 2015

Komandan Angkatan Laut Iran mengatakan musuh-musuh Republik Islam tidak berani melakukan aksinya di perbatasan negara itu.


"Iran berada dalam situasi yang membuat musuh tidak berani mengancam atau mendekati Republik Islam Iran melalui perbatasan laut dan darat dan kami mengumumkan bahwa kami tidak takut ancaman apapun dan akan sepenuhnya mempertahankan wilayah negara," ungkap Laksamana Habibollah Sayyari dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (11/7/15). 

Komandan itu mengatakan bahwa musuh telah berusaha merusak Republik Islam sejak kemenangan Revolusi Islam lebih dari tiga dekade lalu, namun negara itu telah berhasil menggagalkan semua plot dan melawan semua ancaman musuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi peralatan militer. 

Iran sejauh ini telah diproduksi berbagai jenis sistem radar, drone, kapal perusak, rudal, kapal selam dan jet tempur buatan dalam negeri. Pekan lalu, Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan sistem radar jarak jauh di barat daya Iran untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara negara itu.

Iran telah menggagalkan aksi kelompok teroris yang berniat untuk melakukan aksi teror di berbagai kota di seluruh negeri, ungkap seorang komandan senior Iran. 

Komandan Perbatasan Iran Brigadir Jenderal Qassem Rezaei mengatakan hari Sabtu (11/7/15) bahwa sekelompok penjaga perbatasan dikirim ke wilayah perbatasan Mirjaveh di Sistan-Baluchestan pada hari Jumat sore untuk menjaga rute di daerah itu setelah menerima laporan yang mengatakan kelompok teroris ingin menyeberang ke perbatasan Iran dari Pakistan. 

Pasukan perbatasan terlibat dalam bentrokan dengan teroris pada hari Sabtu dan berhasil menghancurkan kelompok teroris dan memaksa mereka mundur, ungkap komandan Iran dalam konferensi pers di ibukota provinsi Zahedan.

"Dalam operasi ini, sejumlah teroris tewas dan tiga orang lainnya ditangkap, satu orang terluka," ungkap komandan Rezaei. 

Rezaei menambahkan bahwa dua dari teroris yang ditahan adalah warga negara Pakistan. 

Dia mengatakan bahwa kelompok teroris, yang dilatih oleh agen mata-mata asing, dilengkapi dengan berbagai jenis senjata dan bahan peledak untuk melakukan serangan teroris di berbagai kota di Iran, namun mereka gagal di perbatasan Pakistan.
Iran

Berusaha Menyusup ke Iran, Sejumlah Teroris Dari Pakistan Tewas

Unknown  |  at  Minggu, Juli 12, 2015

Iran telah menggagalkan aksi kelompok teroris yang berniat untuk melakukan aksi teror di berbagai kota di seluruh negeri, ungkap seorang komandan senior Iran. 

Komandan Perbatasan Iran Brigadir Jenderal Qassem Rezaei mengatakan hari Sabtu (11/7/15) bahwa sekelompok penjaga perbatasan dikirim ke wilayah perbatasan Mirjaveh di Sistan-Baluchestan pada hari Jumat sore untuk menjaga rute di daerah itu setelah menerima laporan yang mengatakan kelompok teroris ingin menyeberang ke perbatasan Iran dari Pakistan. 

Pasukan perbatasan terlibat dalam bentrokan dengan teroris pada hari Sabtu dan berhasil menghancurkan kelompok teroris dan memaksa mereka mundur, ungkap komandan Iran dalam konferensi pers di ibukota provinsi Zahedan.

"Dalam operasi ini, sejumlah teroris tewas dan tiga orang lainnya ditangkap, satu orang terluka," ungkap komandan Rezaei. 

Rezaei menambahkan bahwa dua dari teroris yang ditahan adalah warga negara Pakistan. 

Dia mengatakan bahwa kelompok teroris, yang dilatih oleh agen mata-mata asing, dilengkapi dengan berbagai jenis senjata dan bahan peledak untuk melakukan serangan teroris di berbagai kota di Iran, namun mereka gagal di perbatasan Pakistan.

Jumat, 19 Juni 2015

Rahbar menyampaikan hal itu pada Rabu (17/6/2015) sore, ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi beserta rombongan di Tehran. 

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan dinas-dinas keamanan dan intelijen Barat di Irak adalah untuk menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan politik di negara itu. “Semua perlu waspada dan jeli dalam menghadapi konspirasi itu dan politik pecah-belah. Jangan biarkan persatuan Syiah, Sunni, Kurdi, dan Arab di Irak dirusak,” tegas Rahbar.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menyinggung pengalaman rakyat Irak di masa lalu selama penjajahan Inggris dan sekarang sedang menghadapi kebijakan ekspansionis Amerika Serikat. Beliau menandaskan bahwa pihak yang menginginkan keburukan atas bangsa Irak sama sekali tidak mau menyaksikan munculnya kekuatan besar rakyat di kancah nasional, karena itu Irak perlu melestarikan kekuatan ini.

Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap keamanan dan kemajuan Irak sebagai keamanan dan kemajuannya.

“AS dari satu sisi ingin menjarah kekayaan Irak sebagaimana yang mereka lakukan di beberapa negara Arab regional, dan dari sisi lain mereka ingin memaksakan agendanya seperti di masa lalu, namun Irak tidak boleh membiarkan tujuan itu terwujud,” tandas Rahbar.

Irak sekarang berkutat dalam pergolakan di Timur Tengah khususnya serangan luas kelompok ISIS dan teroris. Kelompok-kelompok teroris di Irak dan juga Suriah berupaya melancarkan sebuah konspirasi besar di kawasan dengan melemparkan isu-isu pemecah belah atas nama agama dan mazhab.

Pada dasarnya, konspirasi tersebut mengincar dua misi utama yaitu, pertama; memperlemah infrastruktur keamanan dan stabilitas di kawasan dengan cara memperluas zona-zona konflik di Irak dan Suriah, dan kedua; ingin mengesankan ketergantungan negara-negara regional terhadap kehadiran jangka panjang kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menumpas teroris.

Sejalan dengan itu, Arab Saudi membantu memperkeruh krisis di Irak dan Suriah dengan cara memberi dukungan persenjataan dan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi juga memaksakan sebuah perang yang keji terhadap rakyat Yaman.

Jelas ada jarak yang jauh antara kebijakan yang diambil di bawah klaim koalisi internasional anti-ISIS dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam perang nyata melawan terorisme ISIS di Irak dan Suriah.

Dengan memperhatikan peran AS dan beberapa negara lain seperti Saudi, yang ingin memperlemah pemerintah, serta persatuan nasional dan politik di Irak dan Suriah, manuver ini pada dasarnya menyasar keamanan kolektif di kawasan. Oleh sebab itu, untuk menghalau manuver tersebut negara-negara regional perlu mengidentifikasi musuh yang sesungguhnya dan memperkuat hubungan di antara mereka.

Situasi saat ini di Timur Tengah menuntut Iran dan negara-negara tetangga terutama Irak, untuk membangun hubungan yang kuat atas dasar kerja sama politik, keamanan, pertahanan, dan ekonomi di samping sektor-sektor lain seperti, ketertarikan dan kesamaan agama dan budaya.

Kemajuan dan keamanan merupakan dua unsur yang saling terkait, di mana akan tercipta di negara-negara regional melalui kerja sama dan juga pemeliharaan persatuan nasional dan politik. Oleh sebab itu, Ayatullah Khamenei menekankan isu-isu penting tersebut dalam pertemuannya dengan PM Irak.
Rahbar

Persatuan Nasional dan Politik Irak Perspektif Rahbar

Unknown  |  at  Jumat, Juni 19, 2015

Rahbar menyampaikan hal itu pada Rabu (17/6/2015) sore, ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi beserta rombongan di Tehran. 

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan dinas-dinas keamanan dan intelijen Barat di Irak adalah untuk menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan politik di negara itu. “Semua perlu waspada dan jeli dalam menghadapi konspirasi itu dan politik pecah-belah. Jangan biarkan persatuan Syiah, Sunni, Kurdi, dan Arab di Irak dirusak,” tegas Rahbar.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menyinggung pengalaman rakyat Irak di masa lalu selama penjajahan Inggris dan sekarang sedang menghadapi kebijakan ekspansionis Amerika Serikat. Beliau menandaskan bahwa pihak yang menginginkan keburukan atas bangsa Irak sama sekali tidak mau menyaksikan munculnya kekuatan besar rakyat di kancah nasional, karena itu Irak perlu melestarikan kekuatan ini.

Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap keamanan dan kemajuan Irak sebagai keamanan dan kemajuannya.

“AS dari satu sisi ingin menjarah kekayaan Irak sebagaimana yang mereka lakukan di beberapa negara Arab regional, dan dari sisi lain mereka ingin memaksakan agendanya seperti di masa lalu, namun Irak tidak boleh membiarkan tujuan itu terwujud,” tandas Rahbar.

Irak sekarang berkutat dalam pergolakan di Timur Tengah khususnya serangan luas kelompok ISIS dan teroris. Kelompok-kelompok teroris di Irak dan juga Suriah berupaya melancarkan sebuah konspirasi besar di kawasan dengan melemparkan isu-isu pemecah belah atas nama agama dan mazhab.

Pada dasarnya, konspirasi tersebut mengincar dua misi utama yaitu, pertama; memperlemah infrastruktur keamanan dan stabilitas di kawasan dengan cara memperluas zona-zona konflik di Irak dan Suriah, dan kedua; ingin mengesankan ketergantungan negara-negara regional terhadap kehadiran jangka panjang kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menumpas teroris.

Sejalan dengan itu, Arab Saudi membantu memperkeruh krisis di Irak dan Suriah dengan cara memberi dukungan persenjataan dan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi juga memaksakan sebuah perang yang keji terhadap rakyat Yaman.

Jelas ada jarak yang jauh antara kebijakan yang diambil di bawah klaim koalisi internasional anti-ISIS dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam perang nyata melawan terorisme ISIS di Irak dan Suriah.

Dengan memperhatikan peran AS dan beberapa negara lain seperti Saudi, yang ingin memperlemah pemerintah, serta persatuan nasional dan politik di Irak dan Suriah, manuver ini pada dasarnya menyasar keamanan kolektif di kawasan. Oleh sebab itu, untuk menghalau manuver tersebut negara-negara regional perlu mengidentifikasi musuh yang sesungguhnya dan memperkuat hubungan di antara mereka.

Situasi saat ini di Timur Tengah menuntut Iran dan negara-negara tetangga terutama Irak, untuk membangun hubungan yang kuat atas dasar kerja sama politik, keamanan, pertahanan, dan ekonomi di samping sektor-sektor lain seperti, ketertarikan dan kesamaan agama dan budaya.

Kemajuan dan keamanan merupakan dua unsur yang saling terkait, di mana akan tercipta di negara-negara regional melalui kerja sama dan juga pemeliharaan persatuan nasional dan politik. Oleh sebab itu, Ayatullah Khamenei menekankan isu-isu penting tersebut dalam pertemuannya dengan PM Irak.

Rabu, 10 Juni 2015

Dalam konferensi pers mingguan hari ini di Tehran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Marzieh Afkham mengatakan tuduhan itu sebuah permainan belaka.

Afkham juga mengatakan "pendekatan keamanan" akan gagal mengakhiri ketegangan di Bahrain. Solusi damai yang melibatkan semua pihak dalam proses politik  adalah kunci menyelesaikan konflik di Bahrain, lanjutnya.

Pada Minggu silam, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengklaim menghancurkan sebuah sel besar teroris yang tehubung dengan kelompok terlarang di Iran.  Dua anggota senior kelompok itu -- yang merekrut warga Bahrain  untuk melakukan operasi di Bahrain -- masih buron di Iran, lanjut Kementerian.

Bahrain menyaksikan sejumlah demo anti pemerintah sejak 2011. Puluhan warga Bahrain tewas dan ribuan lainnya teruka dalam tindakan keras pemerintah untuk menghentikan demo.

Afkham menyesali kondisi Yaman yang terus memburuk sejak serangan 26 Maret lalu.   Dia juga mengecam Riyadh yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk bahan makanan dan obat-obatan, ke Yaman.

Dia menyatakan optimisme bahwa konflik di Yaman bisa diselesaikan melalui perundingan internal Yaman.
Iran

Iran Tolak Klaim Bahrain

Unknown  |  at  Rabu, Juni 10, 2015

Dalam konferensi pers mingguan hari ini di Tehran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Marzieh Afkham mengatakan tuduhan itu sebuah permainan belaka.

Afkham juga mengatakan "pendekatan keamanan" akan gagal mengakhiri ketegangan di Bahrain. Solusi damai yang melibatkan semua pihak dalam proses politik  adalah kunci menyelesaikan konflik di Bahrain, lanjutnya.

Pada Minggu silam, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengklaim menghancurkan sebuah sel besar teroris yang tehubung dengan kelompok terlarang di Iran.  Dua anggota senior kelompok itu -- yang merekrut warga Bahrain  untuk melakukan operasi di Bahrain -- masih buron di Iran, lanjut Kementerian.

Bahrain menyaksikan sejumlah demo anti pemerintah sejak 2011. Puluhan warga Bahrain tewas dan ribuan lainnya teruka dalam tindakan keras pemerintah untuk menghentikan demo.

Afkham menyesali kondisi Yaman yang terus memburuk sejak serangan 26 Maret lalu.   Dia juga mengecam Riyadh yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk bahan makanan dan obat-obatan, ke Yaman.

Dia menyatakan optimisme bahwa konflik di Yaman bisa diselesaikan melalui perundingan internal Yaman.

Kamis, 28 Mei 2015

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam di Iran
IslamTimes - Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan para pejabat Iran harus berdiri teguh pada sikap negara selama negosiasi nuklir dengan negara P5 + 1 untuk mengamankan kepentingan bangsa.
"Pada isu nuklir, prinsip [Iran] adalah sama seperti yang kita telah secara eksplisit umumkan; poin yang sama telah diumumkan kepada otoritas secara lisan dan tertulis. Ini adalah posisi dasar negara Islam," kata Ayatullah Khamenei dalam pertemuan Rabu (27/5/15) dengan ketua Parlemen Iran (Majlis) Ali Larijani dan anggota parlemen.


Pemimpin menambahkan bahwa penyelesaian masalah nuklir negara itu akan difasilitasi dengan memanfaatkan potensi dalam negeri.

"Jika kita meningkatkan produksi dan menggunakan potensi dalam negeri, [ini akan] tidak hanya memecahkan masalah lokal, tetapi memfasilitasi penyelesaian masalah luar negeri seperti (masalah) nuklir," kata Sang Pemimpin.

Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa tim perunding nuklir Iran berupaya dengan tulus untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan program nuklir negara itu.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut mencatat bahwa Iran harus juga melihat masalah selain kesepakatan program nuklir negara itu dengan Barat.

"Dalam kerangka isu-isu yang kita miliki dengan AS, Barat dan Zionisme, kita juga meramalkan berbagai topik selain masalah nuklir seperti hak asasi manusia, tetapi jika kita fokus pada kemampuan dalam negeri ... itu akan mudah untuk menyelesaikan masalah ini juga,"Ali Khamenei menggarisbawahi.

"Saya tahu bahwa kita dihadapkan dengan kurangnya sumber daya, dan sanksi telah memberi kontribusi pada kekurangan sumber daya. Cari solusi, "kata Sang Pemimpin.

"Solusinya adalah penghematan," kata Pemimpin Revolusi Islam, menambahkan prioritas harus diperhitungkan.

Pemimpin Islam itu menekankan bahwa kurangnya sumber daya tidak boleh digunakan sebagai "alasan" untuk menahan diri dari "melakukan suatu pekerjaan."

Ayatollah Khamenei kemudian mendesak legislator untuk "menuntut sikap prinsip Negara [Islam] itu."

Jika tidak ada desakan anggota parlemen tersebut, kata Pemimpin, negara akan menghadapi banyak bahaya.
Rahbar

Ali Khamenei: Pejabat Harus Berpegang Teguh pada Prinsip Iran

Unknown  |  at  Kamis, Mei 28, 2015

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam di Iran
IslamTimes - Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan para pejabat Iran harus berdiri teguh pada sikap negara selama negosiasi nuklir dengan negara P5 + 1 untuk mengamankan kepentingan bangsa.
"Pada isu nuklir, prinsip [Iran] adalah sama seperti yang kita telah secara eksplisit umumkan; poin yang sama telah diumumkan kepada otoritas secara lisan dan tertulis. Ini adalah posisi dasar negara Islam," kata Ayatullah Khamenei dalam pertemuan Rabu (27/5/15) dengan ketua Parlemen Iran (Majlis) Ali Larijani dan anggota parlemen.


Pemimpin menambahkan bahwa penyelesaian masalah nuklir negara itu akan difasilitasi dengan memanfaatkan potensi dalam negeri.

"Jika kita meningkatkan produksi dan menggunakan potensi dalam negeri, [ini akan] tidak hanya memecahkan masalah lokal, tetapi memfasilitasi penyelesaian masalah luar negeri seperti (masalah) nuklir," kata Sang Pemimpin.

Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa tim perunding nuklir Iran berupaya dengan tulus untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan program nuklir negara itu.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut mencatat bahwa Iran harus juga melihat masalah selain kesepakatan program nuklir negara itu dengan Barat.

"Dalam kerangka isu-isu yang kita miliki dengan AS, Barat dan Zionisme, kita juga meramalkan berbagai topik selain masalah nuklir seperti hak asasi manusia, tetapi jika kita fokus pada kemampuan dalam negeri ... itu akan mudah untuk menyelesaikan masalah ini juga,"Ali Khamenei menggarisbawahi.

"Saya tahu bahwa kita dihadapkan dengan kurangnya sumber daya, dan sanksi telah memberi kontribusi pada kekurangan sumber daya. Cari solusi, "kata Sang Pemimpin.

"Solusinya adalah penghematan," kata Pemimpin Revolusi Islam, menambahkan prioritas harus diperhitungkan.

Pemimpin Islam itu menekankan bahwa kurangnya sumber daya tidak boleh digunakan sebagai "alasan" untuk menahan diri dari "melakukan suatu pekerjaan."

Ayatollah Khamenei kemudian mendesak legislator untuk "menuntut sikap prinsip Negara [Islam] itu."

Jika tidak ada desakan anggota parlemen tersebut, kata Pemimpin, negara akan menghadapi banyak bahaya.

Minggu, 17 Mei 2015

Sebelumnya ramai diberitakan media-media barat dan timur tengah terutama Al-Arabiyah dan Al-Jazirah bahwa Pemerintah Yaman akhirnya merespon ancaman yang dilontarkan oleh pemerintah Iran. Dalam pernyataanya kemarin, Iran mengatakan, tidak ada satupun pihak yang boleh menyentuh kapal bantuan mereka. Jika itu dilakukan, maka pihak tersebut telah menabuh gen
derang perang.

“Setiap serangan terhadap kapal bantuan Bulan Sabit Merah Iran akan memicu perang di kawasan itu. Dan ‘api’ ini tidak dapat dikendalikan,” kata Kepala Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Massoud Jazzayeri kemarin.

Berita pernyataan dan respon Yaman terhadap kapal Iran, pertama kali dilansir Al Arabiya pada Kamis (14/5/2015), berita ini jelas bertentangan dengan harapan rakyat Yaman yang membutuhkan bantuan internasional, dan berita ini tidak lebih dari propaganda Arab Saudi untuk menghalang-halangi bantuan kemanusiaan.

(Baca; Iran Tolak Kapal Bantuan Kemanusiaan Diperiksa Koalisi Arab).

Mengutip Reuters, sebenarnya ancaman Iran pada hari Rabu (13/5) tertuju pada pasukan koalisi. Iran tidak akan mengizinkan pasukan koalisi untuk memeriksa pengiriman bantuan kemanusiaan yang dikawal oleh kapal perang Iran .

Sebaliknya pemerintah Yaman berterimakasih atas bantuan kemanusiaan yang diberikan Iran kepada warga negaranya, dan meminta Saudi dan koalisinya untuk tidak menghalang-halangi bantuan kemanusiaan.

Lima hari gencatan senjata yang dimulai pada hari Selasa untuk pengiriman bantuan ke Yaman tampaknya menjadi terhambat. PBB mengatakan sekitar 12 juta orang di negara miskin yang dilanda perang tersebut butuh bantuan.

Dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters, Selasa (12/5), Dewan Keamanan PBB meminta semua pihak untuk menghormati jeda kemanusiaan yang akan berlangsung selama lima hari tersebut. 
kemanusian

Rakyat Yaman Berterimakasih atas Bantuan Kemanusiaan Iran

Unknown  |  at  Minggu, Mei 17, 2015

Sebelumnya ramai diberitakan media-media barat dan timur tengah terutama Al-Arabiyah dan Al-Jazirah bahwa Pemerintah Yaman akhirnya merespon ancaman yang dilontarkan oleh pemerintah Iran. Dalam pernyataanya kemarin, Iran mengatakan, tidak ada satupun pihak yang boleh menyentuh kapal bantuan mereka. Jika itu dilakukan, maka pihak tersebut telah menabuh gen
derang perang.

“Setiap serangan terhadap kapal bantuan Bulan Sabit Merah Iran akan memicu perang di kawasan itu. Dan ‘api’ ini tidak dapat dikendalikan,” kata Kepala Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Massoud Jazzayeri kemarin.

Berita pernyataan dan respon Yaman terhadap kapal Iran, pertama kali dilansir Al Arabiya pada Kamis (14/5/2015), berita ini jelas bertentangan dengan harapan rakyat Yaman yang membutuhkan bantuan internasional, dan berita ini tidak lebih dari propaganda Arab Saudi untuk menghalang-halangi bantuan kemanusiaan.

(Baca; Iran Tolak Kapal Bantuan Kemanusiaan Diperiksa Koalisi Arab).

Mengutip Reuters, sebenarnya ancaman Iran pada hari Rabu (13/5) tertuju pada pasukan koalisi. Iran tidak akan mengizinkan pasukan koalisi untuk memeriksa pengiriman bantuan kemanusiaan yang dikawal oleh kapal perang Iran .

Sebaliknya pemerintah Yaman berterimakasih atas bantuan kemanusiaan yang diberikan Iran kepada warga negaranya, dan meminta Saudi dan koalisinya untuk tidak menghalang-halangi bantuan kemanusiaan.

Lima hari gencatan senjata yang dimulai pada hari Selasa untuk pengiriman bantuan ke Yaman tampaknya menjadi terhambat. PBB mengatakan sekitar 12 juta orang di negara miskin yang dilanda perang tersebut butuh bantuan.

Dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters, Selasa (12/5), Dewan Keamanan PBB meminta semua pihak untuk menghormati jeda kemanusiaan yang akan berlangsung selama lima hari tersebut. 

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.