Latest

Tampilkan postingan dengan label Berita Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Barat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2016

http://islamtimes.org/images/docs/000529/n00529849-b.jpg
Glenn Greenwald dalam sebuah esai di situs Intercept kemarin secara gamblang mengurai ketimpangan media Barat dan bagaimana mereka memanfaatkan aksi kekerasan yang terjadi di Barat untuk menanamkan opini bahwa "bukan kami" tapi "merekalah" yang selalu terlibat dalam pembunuhan orang-orang tak berdosa.

Lepas teror Brussels, media Barat secara serentak menayangkan bagaimana kepanikan memuncak saat teror terjadi. Media besar seperti NPR menayangkan profil kehidupan beberapa korban di bandara, CNN mewawancari korban yang terluka dan dirawat di rumah sakit Belgia.

Tapi pada saat yang sama, media Barat tak pernah membuat tayangan lebih lanjut dan mendalam terhadap korban jatuh akibat kekerasan Barat. Sebut saja di Yaman. Sekitar sepekan lalu, jet tempur pasukan koalisi pimpinan Saudi -- didukung oleh AS dan Inggris -- mengebom sebuah pasar di MAstaba, provinsi Hajjah, utara Yaman.  Dilaporkan 120 orang tewas, termasuk 20 anak-anak, dan sekitar 80 orang terluka.   Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir drone-drone AS terus meyerang Yaman, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Somalia, Libya dan Irak.

Anda, lanjut Greenwald, tak akan mendengar meski satu nama korban dari serangan tersebut dari mulut media-media besar seperti CNN, NPR atau lainnya. Pun, tak akan ada wartawan terkenal AS yang meliput secara mendalam kehidupan korban atau keluarganya. Anda hanya akan mendengar berita singkat dan dingin yang dibarengi dengan klaim pembenaran dari sejumlah pejabat AS. Dengan begitu, Anda tak akan punya hubungan emosional apapun dengan korban, Anda tak tahu nama mereka, apalagi tentang aspirasi mereka atau duka keluarga korban.

Greenwald menilai semua ini sudah didesain sedemikian rupa karena "Barat senang mendramatisir dan menyorot tanpa henti korban kekerasan di Barat sementara tak melihat korban akibat kekerasan mereka sendiri."

Distorsi ini, lanjut dia, menciptakan kesan bahwa kekerasan Barat secara moral lebih unggul karena hanya membunuh warga sipil secara tak sengaja atau tanpa tujuan awal.

Ketika pada 2003, koresponden perang MSNBC Ashleigh Banfield  kembali dari Irak dan mengkritik kebijakan media Barat dalam mengungkap sisi perang Irak, dia langsung dipecat.

Kematian, pembantaian dan kehancuran yang terjadi dalam invasi AS di Irak, kata Greenwald, telah menimbulkan kebencian besar terhadap Amerika dan sebuah keinginan luar biasa untuk menghancurkan Amerika, meski harus dengan megorbankan nyawa sendiri. Tapi media Amerika tak pernah menunjukkan hal ini hingga warga Amerika gagal paham kenapa orang sangat ingin melakukan kekerasan terhadap orang Amerika. Mereka menganggap aksi kekerasan terhadap orang Amerika hanyalah sebuah aksi primitif, penuh kebencian dan dilandasi sebuah semangat keagamaan yang ajaib.

Dengan hanya meliput satu sisi konflik, alih-alih mencerahkan, media AS malah membuat pemirsa AS tertipu dan lebih bodoh, tambah Greenwald.
zionis

Media Barat; Soroti Korban di Barat Tanpa Soroti Korban Kekerasan Barat

Unknown  |  at  Minggu, Maret 27, 2016

http://islamtimes.org/images/docs/000529/n00529849-b.jpg
Glenn Greenwald dalam sebuah esai di situs Intercept kemarin secara gamblang mengurai ketimpangan media Barat dan bagaimana mereka memanfaatkan aksi kekerasan yang terjadi di Barat untuk menanamkan opini bahwa "bukan kami" tapi "merekalah" yang selalu terlibat dalam pembunuhan orang-orang tak berdosa.

Lepas teror Brussels, media Barat secara serentak menayangkan bagaimana kepanikan memuncak saat teror terjadi. Media besar seperti NPR menayangkan profil kehidupan beberapa korban di bandara, CNN mewawancari korban yang terluka dan dirawat di rumah sakit Belgia.

Tapi pada saat yang sama, media Barat tak pernah membuat tayangan lebih lanjut dan mendalam terhadap korban jatuh akibat kekerasan Barat. Sebut saja di Yaman. Sekitar sepekan lalu, jet tempur pasukan koalisi pimpinan Saudi -- didukung oleh AS dan Inggris -- mengebom sebuah pasar di MAstaba, provinsi Hajjah, utara Yaman.  Dilaporkan 120 orang tewas, termasuk 20 anak-anak, dan sekitar 80 orang terluka.   Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir drone-drone AS terus meyerang Yaman, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Somalia, Libya dan Irak.

Anda, lanjut Greenwald, tak akan mendengar meski satu nama korban dari serangan tersebut dari mulut media-media besar seperti CNN, NPR atau lainnya. Pun, tak akan ada wartawan terkenal AS yang meliput secara mendalam kehidupan korban atau keluarganya. Anda hanya akan mendengar berita singkat dan dingin yang dibarengi dengan klaim pembenaran dari sejumlah pejabat AS. Dengan begitu, Anda tak akan punya hubungan emosional apapun dengan korban, Anda tak tahu nama mereka, apalagi tentang aspirasi mereka atau duka keluarga korban.

Greenwald menilai semua ini sudah didesain sedemikian rupa karena "Barat senang mendramatisir dan menyorot tanpa henti korban kekerasan di Barat sementara tak melihat korban akibat kekerasan mereka sendiri."

Distorsi ini, lanjut dia, menciptakan kesan bahwa kekerasan Barat secara moral lebih unggul karena hanya membunuh warga sipil secara tak sengaja atau tanpa tujuan awal.

Ketika pada 2003, koresponden perang MSNBC Ashleigh Banfield  kembali dari Irak dan mengkritik kebijakan media Barat dalam mengungkap sisi perang Irak, dia langsung dipecat.

Kematian, pembantaian dan kehancuran yang terjadi dalam invasi AS di Irak, kata Greenwald, telah menimbulkan kebencian besar terhadap Amerika dan sebuah keinginan luar biasa untuk menghancurkan Amerika, meski harus dengan megorbankan nyawa sendiri. Tapi media Amerika tak pernah menunjukkan hal ini hingga warga Amerika gagal paham kenapa orang sangat ingin melakukan kekerasan terhadap orang Amerika. Mereka menganggap aksi kekerasan terhadap orang Amerika hanyalah sebuah aksi primitif, penuh kebencian dan dilandasi sebuah semangat keagamaan yang ajaib.

Dengan hanya meliput satu sisi konflik, alih-alih mencerahkan, media AS malah membuat pemirsa AS tertipu dan lebih bodoh, tambah Greenwald.

Selasa, 04 Agustus 2015


Pada jumpa pers Senin (3/8/15), juru bicara Gedung Putih Josh Earnest megatakan para teroris yang dilatih AS menderita banyak kerugian.

Earnest mengancam pemerintah Presiden Bashar al-Assad "tidak boleh mengganggu" operasi pasukan dukungan AS di Suriah yang disebut-sebut sebagai bagian dari "strategi untuk menghancurkan ISIS" sebagaimana janji Presiden AS Barack Obama.

Suriah diserang teroris dukungan asing sejak 2011. 

Washington dan beberapa sekutunya memanfaatkan isu ISIS untuk melakukan serangan udara di Suriah dan menyediakan berbagai bentuk dukungan untuk apa yang mereka sebut ‘militan moderat.’

Menanggapi pernyataan Earnest, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow percaya hal itu sebagai langkah kontraproduktif dan berjanji akan membahasanya dengan John Kerry dalam sebuah pertemuan.
zionis

AS: Suriah Tidak Boleh Ganggu Operasi Kelompok Teroris Pro-AS

Unknown  |  at  Selasa, Agustus 04, 2015


Pada jumpa pers Senin (3/8/15), juru bicara Gedung Putih Josh Earnest megatakan para teroris yang dilatih AS menderita banyak kerugian.

Earnest mengancam pemerintah Presiden Bashar al-Assad "tidak boleh mengganggu" operasi pasukan dukungan AS di Suriah yang disebut-sebut sebagai bagian dari "strategi untuk menghancurkan ISIS" sebagaimana janji Presiden AS Barack Obama.

Suriah diserang teroris dukungan asing sejak 2011. 

Washington dan beberapa sekutunya memanfaatkan isu ISIS untuk melakukan serangan udara di Suriah dan menyediakan berbagai bentuk dukungan untuk apa yang mereka sebut ‘militan moderat.’

Menanggapi pernyataan Earnest, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow percaya hal itu sebagai langkah kontraproduktif dan berjanji akan membahasanya dengan John Kerry dalam sebuah pertemuan.

Jumat, 19 Juni 2015

Rahbar menyampaikan hal itu pada Rabu (17/6/2015) sore, ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi beserta rombongan di Tehran. 

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan dinas-dinas keamanan dan intelijen Barat di Irak adalah untuk menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan politik di negara itu. “Semua perlu waspada dan jeli dalam menghadapi konspirasi itu dan politik pecah-belah. Jangan biarkan persatuan Syiah, Sunni, Kurdi, dan Arab di Irak dirusak,” tegas Rahbar.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menyinggung pengalaman rakyat Irak di masa lalu selama penjajahan Inggris dan sekarang sedang menghadapi kebijakan ekspansionis Amerika Serikat. Beliau menandaskan bahwa pihak yang menginginkan keburukan atas bangsa Irak sama sekali tidak mau menyaksikan munculnya kekuatan besar rakyat di kancah nasional, karena itu Irak perlu melestarikan kekuatan ini.

Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap keamanan dan kemajuan Irak sebagai keamanan dan kemajuannya.

“AS dari satu sisi ingin menjarah kekayaan Irak sebagaimana yang mereka lakukan di beberapa negara Arab regional, dan dari sisi lain mereka ingin memaksakan agendanya seperti di masa lalu, namun Irak tidak boleh membiarkan tujuan itu terwujud,” tandas Rahbar.

Irak sekarang berkutat dalam pergolakan di Timur Tengah khususnya serangan luas kelompok ISIS dan teroris. Kelompok-kelompok teroris di Irak dan juga Suriah berupaya melancarkan sebuah konspirasi besar di kawasan dengan melemparkan isu-isu pemecah belah atas nama agama dan mazhab.

Pada dasarnya, konspirasi tersebut mengincar dua misi utama yaitu, pertama; memperlemah infrastruktur keamanan dan stabilitas di kawasan dengan cara memperluas zona-zona konflik di Irak dan Suriah, dan kedua; ingin mengesankan ketergantungan negara-negara regional terhadap kehadiran jangka panjang kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menumpas teroris.

Sejalan dengan itu, Arab Saudi membantu memperkeruh krisis di Irak dan Suriah dengan cara memberi dukungan persenjataan dan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi juga memaksakan sebuah perang yang keji terhadap rakyat Yaman.

Jelas ada jarak yang jauh antara kebijakan yang diambil di bawah klaim koalisi internasional anti-ISIS dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam perang nyata melawan terorisme ISIS di Irak dan Suriah.

Dengan memperhatikan peran AS dan beberapa negara lain seperti Saudi, yang ingin memperlemah pemerintah, serta persatuan nasional dan politik di Irak dan Suriah, manuver ini pada dasarnya menyasar keamanan kolektif di kawasan. Oleh sebab itu, untuk menghalau manuver tersebut negara-negara regional perlu mengidentifikasi musuh yang sesungguhnya dan memperkuat hubungan di antara mereka.

Situasi saat ini di Timur Tengah menuntut Iran dan negara-negara tetangga terutama Irak, untuk membangun hubungan yang kuat atas dasar kerja sama politik, keamanan, pertahanan, dan ekonomi di samping sektor-sektor lain seperti, ketertarikan dan kesamaan agama dan budaya.

Kemajuan dan keamanan merupakan dua unsur yang saling terkait, di mana akan tercipta di negara-negara regional melalui kerja sama dan juga pemeliharaan persatuan nasional dan politik. Oleh sebab itu, Ayatullah Khamenei menekankan isu-isu penting tersebut dalam pertemuannya dengan PM Irak.
Rahbar

Persatuan Nasional dan Politik Irak Perspektif Rahbar

Unknown  |  at  Jumat, Juni 19, 2015

Rahbar menyampaikan hal itu pada Rabu (17/6/2015) sore, ketika menerima kunjungan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi beserta rombongan di Tehran. 

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan dinas-dinas keamanan dan intelijen Barat di Irak adalah untuk menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan politik di negara itu. “Semua perlu waspada dan jeli dalam menghadapi konspirasi itu dan politik pecah-belah. Jangan biarkan persatuan Syiah, Sunni, Kurdi, dan Arab di Irak dirusak,” tegas Rahbar.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei menyinggung pengalaman rakyat Irak di masa lalu selama penjajahan Inggris dan sekarang sedang menghadapi kebijakan ekspansionis Amerika Serikat. Beliau menandaskan bahwa pihak yang menginginkan keburukan atas bangsa Irak sama sekali tidak mau menyaksikan munculnya kekuatan besar rakyat di kancah nasional, karena itu Irak perlu melestarikan kekuatan ini.

Rahbar mengatakan bahwa Republik Islam Iran menganggap keamanan dan kemajuan Irak sebagai keamanan dan kemajuannya.

“AS dari satu sisi ingin menjarah kekayaan Irak sebagaimana yang mereka lakukan di beberapa negara Arab regional, dan dari sisi lain mereka ingin memaksakan agendanya seperti di masa lalu, namun Irak tidak boleh membiarkan tujuan itu terwujud,” tandas Rahbar.

Irak sekarang berkutat dalam pergolakan di Timur Tengah khususnya serangan luas kelompok ISIS dan teroris. Kelompok-kelompok teroris di Irak dan juga Suriah berupaya melancarkan sebuah konspirasi besar di kawasan dengan melemparkan isu-isu pemecah belah atas nama agama dan mazhab.

Pada dasarnya, konspirasi tersebut mengincar dua misi utama yaitu, pertama; memperlemah infrastruktur keamanan dan stabilitas di kawasan dengan cara memperluas zona-zona konflik di Irak dan Suriah, dan kedua; ingin mengesankan ketergantungan negara-negara regional terhadap kehadiran jangka panjang kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menumpas teroris.

Sejalan dengan itu, Arab Saudi membantu memperkeruh krisis di Irak dan Suriah dengan cara memberi dukungan persenjataan dan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Saudi juga memaksakan sebuah perang yang keji terhadap rakyat Yaman.

Jelas ada jarak yang jauh antara kebijakan yang diambil di bawah klaim koalisi internasional anti-ISIS dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam perang nyata melawan terorisme ISIS di Irak dan Suriah.

Dengan memperhatikan peran AS dan beberapa negara lain seperti Saudi, yang ingin memperlemah pemerintah, serta persatuan nasional dan politik di Irak dan Suriah, manuver ini pada dasarnya menyasar keamanan kolektif di kawasan. Oleh sebab itu, untuk menghalau manuver tersebut negara-negara regional perlu mengidentifikasi musuh yang sesungguhnya dan memperkuat hubungan di antara mereka.

Situasi saat ini di Timur Tengah menuntut Iran dan negara-negara tetangga terutama Irak, untuk membangun hubungan yang kuat atas dasar kerja sama politik, keamanan, pertahanan, dan ekonomi di samping sektor-sektor lain seperti, ketertarikan dan kesamaan agama dan budaya.

Kemajuan dan keamanan merupakan dua unsur yang saling terkait, di mana akan tercipta di negara-negara regional melalui kerja sama dan juga pemeliharaan persatuan nasional dan politik. Oleh sebab itu, Ayatullah Khamenei menekankan isu-isu penting tersebut dalam pertemuannya dengan PM Irak.

Senin, 11 Mei 2015

Tawar-Menawar AS dan Arab Terluk Persia di Paris Soal Iran
Para menteri luar negeri negara-negara Arab pesisir Teluk Persia pada Sabtu 9 Mei 2015, menggelar pertemuan dengan Menlu AS, John Kerry, di Paris, Perancis. Disebutkan bahwa pertemuan itu digelar dalam rangka persiapan pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi Arab di Kamp David yang menurut rencana akan digelar pekan depan melibatkan para pemimpin negara-negara Arab Teluk Persia dan Presiden AS Barack Obama.

Menurut koran al-Hayat mengutip sumber-sumber Arab, Amerika Serikat akan memberikan laporan tentang kesepakatan potensial dalam masalah nuklir dengan Iran untuk “meyakinkan” Arab bahwa Iran tidak akan menggapai senjata nuklir.

Interpretasi sejumlah negara Arab Teluk Persia dari kesepakatan nuklir potensial antara Iran dan Kelompok 5+1; mencakup kekhawatiran mereka terhadap sebuah proses yang akan membuat Iran lebih kuat; di saat mereka tidak dapat menyaksikan kemajuan Iran. Semakin Iran mampu tampil kokoh di hadapan tekanan dan merealisasikan tuntutannya, negara-negara tersebut semakin merasa kerdil dan hina.  

Hingga kini mereka tetap beranggapan bahwa Iran tetap terisolasi dan adapun interpretasi mereka dari kesepakatan potensial itu, sejajar dengan politik “pencegahan Iran” berdasarkan perspektif usang dan kadaluarsa. Dari sudut pandang ini, maka jelas pula apa yang mereka harapkan dari pertempuan di Kamp David. Berbagai indikasi yang ada menunjukkan bahwa kepada negara-negara Arab Teluk Persia, Obama akan berjanji mempertahankan sanksi anti-Iran sekaligus menawarkan sistem pertahanan rudal anti-udara kepada mereka. Washington juga dipastikan akan menekankan kembali komitmennya dalam menjaga sekutunya di hadapan ancaman serangan asing.

Menurut koran Los Angeles Times, kemungkinan dalam pertemuan Kamp David, akan diutarakan ungkapan-ungkapan indah dan dikesankan bahwa mereka menginginkan ikatan langgeng dengan Amerika Serikat.

Oleh karena itu, Kamp David merupakan kesempatan bagi Barack Obama untuk menyatakan bahwa Washington tetap mementingkan sekutu kunonya di kawasan; akan tetapi pada saat yang sama Obama juga tidak akan mampu menutup mata dari kekeliruan Amerika Serikat di kawasan yang berujung pada pembentukan kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda dan ISIS, serta munculnya kekerasan ekstrim di Irak dan Suriah.

Negara-negara seperti Arab Saudi, sebenarnya tidak mengkhawatirkan program nuklir Iran; karena semua mengetahui bahwa klaim ancaman nuklir Iran tidak lebih dari propaganda dan apa yang diinginkan dan dilakukan Iran adalah hak-haknya sesuai dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Banyak negara-negara Arab regional termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Kuwait yang berharap mendapat posisi yang dimiliki Iran; hanya saja mereka tidak sejajar dengan Iran di tingkat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, interpretasi paling optimistik dari harapan mereka adalah menginginkan kemajuan yang sama dengan yang dicapai Iran.

Lalu di mana masalahnya? Yang pasti negara-negara Arab Teluk Persia mengetahui bahwa Iran tidak pernah mengancam atau menyulut gejolak di kawasan. Sementara negara-negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir selalu berusaha menciptakan krisis dan ketidakpercayaan di kawasan. Selain itu, dalam setiap krisis, mereka juga selalu membuka pintu bagi pihak asing untuk masuk.

Apa yang dikhawatirkan negara-negara Arab Teluk Persia adalah dampak internal dan sekitar akibat dari pengaruh arus-balik keselarasan mereka dengan Amerika Serikat dan Barat. Mereka mengkhawatirkan nasib kekuasaan adikara dan dependen mereka yang sekarang sudah sulit dipertahan dengan petro dolar. Karena era keemasan pendapatan dari penjualan minyak juga telah berakhir dan sekarang saatnya untuk menebus banyak hal. Adapun masalah nuklir Iran hanya satu alasan untuk lari dari semua kenyataan itu.

Berita timur tengah

AS dan Arab Tawar-Menawar Tentang Teluk Persia di Paris Soal Iran

Unknown  |  at  Senin, Mei 11, 2015

Tawar-Menawar AS dan Arab Terluk Persia di Paris Soal Iran
Para menteri luar negeri negara-negara Arab pesisir Teluk Persia pada Sabtu 9 Mei 2015, menggelar pertemuan dengan Menlu AS, John Kerry, di Paris, Perancis. Disebutkan bahwa pertemuan itu digelar dalam rangka persiapan pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi Arab di Kamp David yang menurut rencana akan digelar pekan depan melibatkan para pemimpin negara-negara Arab Teluk Persia dan Presiden AS Barack Obama.

Menurut koran al-Hayat mengutip sumber-sumber Arab, Amerika Serikat akan memberikan laporan tentang kesepakatan potensial dalam masalah nuklir dengan Iran untuk “meyakinkan” Arab bahwa Iran tidak akan menggapai senjata nuklir.

Interpretasi sejumlah negara Arab Teluk Persia dari kesepakatan nuklir potensial antara Iran dan Kelompok 5+1; mencakup kekhawatiran mereka terhadap sebuah proses yang akan membuat Iran lebih kuat; di saat mereka tidak dapat menyaksikan kemajuan Iran. Semakin Iran mampu tampil kokoh di hadapan tekanan dan merealisasikan tuntutannya, negara-negara tersebut semakin merasa kerdil dan hina.  

Hingga kini mereka tetap beranggapan bahwa Iran tetap terisolasi dan adapun interpretasi mereka dari kesepakatan potensial itu, sejajar dengan politik “pencegahan Iran” berdasarkan perspektif usang dan kadaluarsa. Dari sudut pandang ini, maka jelas pula apa yang mereka harapkan dari pertempuan di Kamp David. Berbagai indikasi yang ada menunjukkan bahwa kepada negara-negara Arab Teluk Persia, Obama akan berjanji mempertahankan sanksi anti-Iran sekaligus menawarkan sistem pertahanan rudal anti-udara kepada mereka. Washington juga dipastikan akan menekankan kembali komitmennya dalam menjaga sekutunya di hadapan ancaman serangan asing.

Menurut koran Los Angeles Times, kemungkinan dalam pertemuan Kamp David, akan diutarakan ungkapan-ungkapan indah dan dikesankan bahwa mereka menginginkan ikatan langgeng dengan Amerika Serikat.

Oleh karena itu, Kamp David merupakan kesempatan bagi Barack Obama untuk menyatakan bahwa Washington tetap mementingkan sekutu kunonya di kawasan; akan tetapi pada saat yang sama Obama juga tidak akan mampu menutup mata dari kekeliruan Amerika Serikat di kawasan yang berujung pada pembentukan kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda dan ISIS, serta munculnya kekerasan ekstrim di Irak dan Suriah.

Negara-negara seperti Arab Saudi, sebenarnya tidak mengkhawatirkan program nuklir Iran; karena semua mengetahui bahwa klaim ancaman nuklir Iran tidak lebih dari propaganda dan apa yang diinginkan dan dilakukan Iran adalah hak-haknya sesuai dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Banyak negara-negara Arab regional termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Kuwait yang berharap mendapat posisi yang dimiliki Iran; hanya saja mereka tidak sejajar dengan Iran di tingkat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, interpretasi paling optimistik dari harapan mereka adalah menginginkan kemajuan yang sama dengan yang dicapai Iran.

Lalu di mana masalahnya? Yang pasti negara-negara Arab Teluk Persia mengetahui bahwa Iran tidak pernah mengancam atau menyulut gejolak di kawasan. Sementara negara-negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir selalu berusaha menciptakan krisis dan ketidakpercayaan di kawasan. Selain itu, dalam setiap krisis, mereka juga selalu membuka pintu bagi pihak asing untuk masuk.

Apa yang dikhawatirkan negara-negara Arab Teluk Persia adalah dampak internal dan sekitar akibat dari pengaruh arus-balik keselarasan mereka dengan Amerika Serikat dan Barat. Mereka mengkhawatirkan nasib kekuasaan adikara dan dependen mereka yang sekarang sudah sulit dipertahan dengan petro dolar. Karena era keemasan pendapatan dari penjualan minyak juga telah berakhir dan sekarang saatnya untuk menebus banyak hal. Adapun masalah nuklir Iran hanya satu alasan untuk lari dari semua kenyataan itu.

Rabu, 06 Mei 2015

America_Cruise_Ferries_02-755x490
Jalur layanan kapal feri antara Florida dengan Kuba akan kembali dioperasikan setelah selama 50 tahun ditutup akibat hubungan politik AS-Kuba yang buruk.

Kantor berita BBC News melaporkan, Selasa petang (5/5), pemerintah AS telah mencabut larangan pengoperasian kapal feri yang menghubungkan kedua negara dan 4 perusahaan telah mendapatkan ijin untuk mengoperasikan kapal-kapal feri tersebut.

Ini merupakan bentuk implementasi pemulihan hubungan diplomatik kedua negara yang diumumkan akhir tahun lalu.

“Kebijakan ini merupakan langkah besar ke depan,” kata Joseph Hinson, direktur United Americas Shipping, sebuah perusahaan perkapalan yang berbasis di Miami, Florida, kepada AFP.

“Ini adalah peristiwa bersejarah. Terima kasih kepada Presiden Barack Obama atas kepemimpinannya,” tulis perusahaan feri lain yang berbasis di Florida, Havana Ferry Partners of Fort Lauderdale, dalam laman resmi Facebooknya.

BBC menyebut langkah itu kapal-kapal feri akan langsung beroperasi dalam waktu dekat, karena masih ada beberapa hambatan birokrasi yang masih harus diselesaikan di kedua negara. Namun ini merupakan indikasi kuat yang ditunjukkan AS untuk menjadikan Kuba sebagai mitra baru dan bukannya sebagai musuh.

Selain itu sebuah penerbangan baru antara New York City dan Havana, Kuba, yang dioperasikan oleh perusahaan JetBlue, juga telah diumumkan. Namun untuk sementara jalur ini hanya melayani penerbangan charter.

Kuba berjarak 150 km di sebelah selatan negara bagian Florida.
Takfirisme

AS Segera Operasikan Kembali Feri Florida-Kuba Setelah 50 Tahun Ditutup

Unknown  |  at  Rabu, Mei 06, 2015

America_Cruise_Ferries_02-755x490
Jalur layanan kapal feri antara Florida dengan Kuba akan kembali dioperasikan setelah selama 50 tahun ditutup akibat hubungan politik AS-Kuba yang buruk.

Kantor berita BBC News melaporkan, Selasa petang (5/5), pemerintah AS telah mencabut larangan pengoperasian kapal feri yang menghubungkan kedua negara dan 4 perusahaan telah mendapatkan ijin untuk mengoperasikan kapal-kapal feri tersebut.

Ini merupakan bentuk implementasi pemulihan hubungan diplomatik kedua negara yang diumumkan akhir tahun lalu.

“Kebijakan ini merupakan langkah besar ke depan,” kata Joseph Hinson, direktur United Americas Shipping, sebuah perusahaan perkapalan yang berbasis di Miami, Florida, kepada AFP.

“Ini adalah peristiwa bersejarah. Terima kasih kepada Presiden Barack Obama atas kepemimpinannya,” tulis perusahaan feri lain yang berbasis di Florida, Havana Ferry Partners of Fort Lauderdale, dalam laman resmi Facebooknya.

BBC menyebut langkah itu kapal-kapal feri akan langsung beroperasi dalam waktu dekat, karena masih ada beberapa hambatan birokrasi yang masih harus diselesaikan di kedua negara. Namun ini merupakan indikasi kuat yang ditunjukkan AS untuk menjadikan Kuba sebagai mitra baru dan bukannya sebagai musuh.

Selain itu sebuah penerbangan baru antara New York City dan Havana, Kuba, yang dioperasikan oleh perusahaan JetBlue, juga telah diumumkan. Namun untuk sementara jalur ini hanya melayani penerbangan charter.

Kuba berjarak 150 km di sebelah selatan negara bagian Florida.

Jumat, 01 Mei 2015

Inilah Respon Ansarullah terhadap Pernyataan Terbaru P-GCC
Anggota Biro Politik Gerakan Rakyat Ansarullah Yaman menyebut Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) berperilaku munafik.
Mohammed Al Bukhaiti dalam wawancara dengan televisi al-Mayadeen Lebanon, Kamis (30/4) malam mengatakan, P-GCC benar-benar bersikap munafik, pasalnya, ketika dewan ini menyinggung dukungan kepada rakyat Yaman dan bantuan kemanusiaan, namun pada saat yang sama tidak mengizinkan satupun pesawat atau kapal untuk masuk ke Yaman memberikan bantuan bahan-bahan makanan dan medis.

Ia menambahkan, dalam kasus sabotase dan kelanjutan blokade terhadap Yaman, hanya pesawat Republik Islam Iran yang tidak dapat dicegah untuk mendarat di bandara Sanaa guna memberikan bantuan kemanusiaan, sementara sebuah kapal India pada Rabu tidak diizinkan merapat di pelabuhan Yaman.

Di bagian lain pernyataannya, Al Bukhaiti menuturkan, negara-negara Arab menyerukan dialog pihak-pihak Yaman  di Riyadh, namun hal ini tidak mungkin menyebabkan agresi militer Arab Saudi ke Yaman.

Menurutnya, Amerika Serikat adalah penyebab utama serangan ke Yaman, sebab AS dan rezim Zionis Israel mengambil keuntungan dari perselisihan umat Islam.

Di akhir pertemuan di Riyadh pada Kamis, para menteri luar negeri negara-negara anggota P-GCC menyerukan dialog di antara pihak-pihak Yaman di ibukota Arab Saudi itu.
Politik

Inilah Respon Ansarullah terhadap Pernyataan Terbaru P-GCC

Unknown  |  at  Jumat, Mei 01, 2015

Inilah Respon Ansarullah terhadap Pernyataan Terbaru P-GCC
Anggota Biro Politik Gerakan Rakyat Ansarullah Yaman menyebut Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) berperilaku munafik.
Mohammed Al Bukhaiti dalam wawancara dengan televisi al-Mayadeen Lebanon, Kamis (30/4) malam mengatakan, P-GCC benar-benar bersikap munafik, pasalnya, ketika dewan ini menyinggung dukungan kepada rakyat Yaman dan bantuan kemanusiaan, namun pada saat yang sama tidak mengizinkan satupun pesawat atau kapal untuk masuk ke Yaman memberikan bantuan bahan-bahan makanan dan medis.

Ia menambahkan, dalam kasus sabotase dan kelanjutan blokade terhadap Yaman, hanya pesawat Republik Islam Iran yang tidak dapat dicegah untuk mendarat di bandara Sanaa guna memberikan bantuan kemanusiaan, sementara sebuah kapal India pada Rabu tidak diizinkan merapat di pelabuhan Yaman.

Di bagian lain pernyataannya, Al Bukhaiti menuturkan, negara-negara Arab menyerukan dialog pihak-pihak Yaman  di Riyadh, namun hal ini tidak mungkin menyebabkan agresi militer Arab Saudi ke Yaman.

Menurutnya, Amerika Serikat adalah penyebab utama serangan ke Yaman, sebab AS dan rezim Zionis Israel mengambil keuntungan dari perselisihan umat Islam.

Di akhir pertemuan di Riyadh pada Kamis, para menteri luar negeri negara-negara anggota P-GCC menyerukan dialog di antara pihak-pihak Yaman di ibukota Arab Saudi itu.

Kamis, 23 April 2015


GenSyiah – Tabloid Rusia Segodnya menyebutkan bahwa AS memanfaatkan kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah untuk mengacaukan sebagian negara kawasan ini, namun skenario AS itu dibuyarkan oleh Republik Islam Iran.

“AS berperan langsung di balik terbentuknya sebagian kelompok teroris berbahaya di Timur Tengah serta memanfaatkan mereka untuk melicinkan ambisi-ambisinya,” tulis Segodnya, sebagaimana dikutip IRNA, Minggu, 1 Februari 2015.

Segodya menyebutkan, kelompok-kelompok teroris dukungan AS itu difungsikan untuk melemahkan beberapa negara Timur Tengah. Dalam hal ini, Suriah dan Irak menjadi sasaran pertama dan sejauh ini mereka berhasil melancarkan pukulan-pukulan telak terhadap dua negara tersebut.

Iran, lanjut Segodya, memandang kepentingannya bergantung pada stabilitas REGIONAL Timur Tengah sehingga pihaknya gigih melawan segala upaya yang bertujuan mengacaukan stabilitas regional. Segodya menambahkan bahwa kelompok teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syira (ISIS) merupakan proyek besar Washington untuk mendestabilisasi Timur Tengah, sedangkan Iran menilai, ISIS merupakan musuh umat Islam, sehingga negeri Mullah tersebut menyokong pemerintah Suriah dan Irak dalam memerangi ISIS.

“Dukungan Iran serta keberanian tentara kedua negara tersebut dalam menghadapi PARA teroris ISIS serta kerjasama kelompok-kelompok relawan berhasil menimpakan kekalahan-kekalahan beruntun terhadap kelompok (teroris) yang didukung AS,” tulis Segodnya.

Selain Iran, Segodnya juga memaparkan peran Rusia yang bekerjasama dengan Iran dan Suriah untuk melawan agenda-agenda AS dan sekutunya.

“AS yang mencoba memanfaatkan serangan kelompok-kelompok teroris yang sudah frustasi untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad mencari-cari momentum untuk melancarkan serangan militer terhadap Suriah, namun pendirian tegas Rusia di kancah internasional serta dukungan Iran kepada Moskow dalam masalah Suriah berhasil mengandaskan rencana-rencana Gedung Putih,” tulisnya.

Segodnya menilai ada kerjasama serius antara Teheran dan Moskow dalam pemberantasan kelompok-kelompok teroris di Timur Tengan. Dalam kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu ke Iran, kedua pihak sepakat untuk mengordinasikan langkah-langkah Teheran dan Moskow dalam pemberantasan terorisme ISIS.

Iran Perkuat Militernya

Panglima Divisi Aerospace Garda Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh mengatakan, bahwa Iran mampu untuk memproduksi peralatan militer, dan keahlian ini sampai pada titik yang memungkinkan untuk diekspor ke negara-negara tetangga.

“Divisi Aerospace IRGC sekarang dapat memproduksi massal berbagai jenis rudal jarang pendek dan menengah,” jelasnya, seperti dilansir Al-Alam, 3 Februari 2015.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan telah mencapai swasembada dalam bidang produksi sistem dan peralatan militer. Iran berhasil memproduksi beberapa rudal dalam negeri yang dikembangkan dalam jenis yang berbeda, seperti rudal Khalij-e-Fars (Teluk Persia), Mehrab (Altar), Ra’d (Guntur), Qader (Perkasa), Nour (Cahaya) dan Zafar (Kemenangan).

Kendati demikian, Iran juga menegaskan bahwa kekuatan militernya bukanlah ancaman bagi negara-negara lain, dan sistem pertahanan Iran, didasarkan pada doktrin pencegahan.
Opini

Media Rusia: Iran Buyarkan Skenario AS dan ISIS

Unknown  |  at  Kamis, April 23, 2015


GenSyiah – Tabloid Rusia Segodnya menyebutkan bahwa AS memanfaatkan kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah untuk mengacaukan sebagian negara kawasan ini, namun skenario AS itu dibuyarkan oleh Republik Islam Iran.

“AS berperan langsung di balik terbentuknya sebagian kelompok teroris berbahaya di Timur Tengah serta memanfaatkan mereka untuk melicinkan ambisi-ambisinya,” tulis Segodnya, sebagaimana dikutip IRNA, Minggu, 1 Februari 2015.

Segodya menyebutkan, kelompok-kelompok teroris dukungan AS itu difungsikan untuk melemahkan beberapa negara Timur Tengah. Dalam hal ini, Suriah dan Irak menjadi sasaran pertama dan sejauh ini mereka berhasil melancarkan pukulan-pukulan telak terhadap dua negara tersebut.

Iran, lanjut Segodya, memandang kepentingannya bergantung pada stabilitas REGIONAL Timur Tengah sehingga pihaknya gigih melawan segala upaya yang bertujuan mengacaukan stabilitas regional. Segodya menambahkan bahwa kelompok teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syira (ISIS) merupakan proyek besar Washington untuk mendestabilisasi Timur Tengah, sedangkan Iran menilai, ISIS merupakan musuh umat Islam, sehingga negeri Mullah tersebut menyokong pemerintah Suriah dan Irak dalam memerangi ISIS.

“Dukungan Iran serta keberanian tentara kedua negara tersebut dalam menghadapi PARA teroris ISIS serta kerjasama kelompok-kelompok relawan berhasil menimpakan kekalahan-kekalahan beruntun terhadap kelompok (teroris) yang didukung AS,” tulis Segodnya.

Selain Iran, Segodnya juga memaparkan peran Rusia yang bekerjasama dengan Iran dan Suriah untuk melawan agenda-agenda AS dan sekutunya.

“AS yang mencoba memanfaatkan serangan kelompok-kelompok teroris yang sudah frustasi untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad mencari-cari momentum untuk melancarkan serangan militer terhadap Suriah, namun pendirian tegas Rusia di kancah internasional serta dukungan Iran kepada Moskow dalam masalah Suriah berhasil mengandaskan rencana-rencana Gedung Putih,” tulisnya.

Segodnya menilai ada kerjasama serius antara Teheran dan Moskow dalam pemberantasan kelompok-kelompok teroris di Timur Tengan. Dalam kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoygu ke Iran, kedua pihak sepakat untuk mengordinasikan langkah-langkah Teheran dan Moskow dalam pemberantasan terorisme ISIS.

Iran Perkuat Militernya

Panglima Divisi Aerospace Garda Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh mengatakan, bahwa Iran mampu untuk memproduksi peralatan militer, dan keahlian ini sampai pada titik yang memungkinkan untuk diekspor ke negara-negara tetangga.

“Divisi Aerospace IRGC sekarang dapat memproduksi massal berbagai jenis rudal jarang pendek dan menengah,” jelasnya, seperti dilansir Al-Alam, 3 Februari 2015.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan besar di sektor pertahanan dan telah mencapai swasembada dalam bidang produksi sistem dan peralatan militer. Iran berhasil memproduksi beberapa rudal dalam negeri yang dikembangkan dalam jenis yang berbeda, seperti rudal Khalij-e-Fars (Teluk Persia), Mehrab (Altar), Ra’d (Guntur), Qader (Perkasa), Nour (Cahaya) dan Zafar (Kemenangan).

Kendati demikian, Iran juga menegaskan bahwa kekuatan militernya bukanlah ancaman bagi negara-negara lain, dan sistem pertahanan Iran, didasarkan pada doktrin pencegahan.

Senin, 30 Maret 2015


Dekrit bernama Pengaktifan Hukum Anti Imperialis untuk Perdamaian itu disahkan oleh Majelis Nasional pekan lalu dan berlaku Senin (16/3).

Lewat dekrit, Maduro bisa membuat UU pertahanan tanpa perlu persetujuan Parlemen sampai akhir tahun 2015, mengambil langkah cepat dalam mempertahankan integritas dan kedaulatan dari ancaman agresi imperialis.

Menurut Ketua Majelis Nasional, Diosdado Cabello dekrit akan memberi Maduro perangkat legal dan konstitusional dalam membela negara.

Dekrit semisal ini pertama kali diadopsi di Venezuela pada tahun 1961.

Sebagai langkah pertama melawan pengaruh Washington di negaranya, Maduro mengatakan sudah menyiapkan surat yang mengecam agresi terbaru Amerika terkait penetapan sanksi untuk 7 pejabat Venezuela.

Uni Negara Amerika Selatan (UNASUR) meminta Washington membatalkan sanksi itu.

Maduro juga mengumumkan bbahwa Aliansi Bolivarian untuk Amerika (ALBA) akan bertemu di Caracas hari ini membentuk front bersama anti Amerika dalam KTT Amerika yang akan digelar bulan depan di Panama.

Pihak oposisi Venezuela menentang dekrit dan menyebut dekrit sebagai upaya Maduro memperkuat kekuasaan presidensial dan mengalihkan perhatian publik dari krisis ekonomi yang mendera negara.
Berita Barat

Maduro Dapat Mandat Hadapi Ancaman Amerika

Unknown  |  at  Senin, Maret 30, 2015


Dekrit bernama Pengaktifan Hukum Anti Imperialis untuk Perdamaian itu disahkan oleh Majelis Nasional pekan lalu dan berlaku Senin (16/3).

Lewat dekrit, Maduro bisa membuat UU pertahanan tanpa perlu persetujuan Parlemen sampai akhir tahun 2015, mengambil langkah cepat dalam mempertahankan integritas dan kedaulatan dari ancaman agresi imperialis.

Menurut Ketua Majelis Nasional, Diosdado Cabello dekrit akan memberi Maduro perangkat legal dan konstitusional dalam membela negara.

Dekrit semisal ini pertama kali diadopsi di Venezuela pada tahun 1961.

Sebagai langkah pertama melawan pengaruh Washington di negaranya, Maduro mengatakan sudah menyiapkan surat yang mengecam agresi terbaru Amerika terkait penetapan sanksi untuk 7 pejabat Venezuela.

Uni Negara Amerika Selatan (UNASUR) meminta Washington membatalkan sanksi itu.

Maduro juga mengumumkan bbahwa Aliansi Bolivarian untuk Amerika (ALBA) akan bertemu di Caracas hari ini membentuk front bersama anti Amerika dalam KTT Amerika yang akan digelar bulan depan di Panama.

Pihak oposisi Venezuela menentang dekrit dan menyebut dekrit sebagai upaya Maduro memperkuat kekuasaan presidensial dan mengalihkan perhatian publik dari krisis ekonomi yang mendera negara.

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.