Seorang sejarawan dan dosen di Michigan Saeed Khan mengatakan keputusan mengekseskusi Syekh Nimr al-Nimr adalah strategi yang sengaja dipilih Saudi.
"Setiap tindakan penghasutan termasuk penargetan yang diduga sengaja dilakukan di Kedubes Iran di Sana'a Yaman merupakan indikasi lanjut tentang keputusasaan Riyadh untuk membusukkan Tehran dalam pengadilan opini dunia," katanya.
Khan melanjutkan, tindakan Saudi itu sia-sia dan hanya memicu keraguan dunia tentang stabilitas dan rasionalitas kerajaan.
"Sekutu lama AS itu tengah kehilangan cengkeraman besi atas rakyatnya dan kawasan [Timur Tengah]," katanya.
Dia menambahkan, 'kombinasi persenjataan Saudi yang mencengangkan' dan 'ideologi nakal yang berkuasa' membuat kerajaan kaya minyak itu 'sangat berbahaya', bahkan lebih berbahaya dari Iran yang pernah disebut Amerika sebagai salah satu dari sumbu setan.
Saudi mengatakan provokasinya atas Iran merupakan sebuah langkah prinsip dan penting dalam melawan sebuah rival sektarian berbahaya, lanjut Khan, tapi itu tak lain upaya Saudi untuk mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari kelemahan internalnya.
Pada 2015, Arab Saudi mengalami defisit anggaran sampai 100 milyar dollar dan tahun ini, kerjaan diduga akan mengalami defisit sebesar 80 milyar dolar. Akibatnya, lanjut Khan, Saudi terpaksa menaikkan pajak pertambahan nilai dan harga gas di dalam negeri. Dan langkah Saudi menggenjot produksi minyak dalam upaya mengalahkan negara-negara pesaing seperti Iran membuat harga minyak malah merosot tajam.
Saudi berupaya menggambarkan Iran sebagai negara agrresor di kawasan, tapi pada saat yang sama, negara itu menghabiskan dana 1,3 milyar dolar untuk membeli bom dan amunisi tahun lalu yang sebagian besarnya diperuntukkan sebagai stok senjata dalam perang Yaman, catat Khan.
Selama ini, kata Khan, Saudi terlena dengan julukan Penjaga Haramain dan bisa 'meredakan kritik dari mereka yang takut dicegah masuk ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji'. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, status itu mulai terguncang.
Kini banyak umat Islam yang mempertanyakan apakah berdiam diri dalam menghadapi Vegasisasi Mekkah dengan bangunan dan hotel mewah, pembongkaran situs-situs penting dan bersejarah Islam serta bencana tewasnya jemaah haji dalam ritual haji tahun ini senilai dengan konsekwensi yang ada, jelas Khan.
Tanpa asumsi legitimasi dari dunia Muslim, kredebilitas Saudi bisa rusak, tandas Khan.
Seorang sejarawan dan dosen di Michigan Saeed Khan mengatakan keputusan mengekseskusi Syekh Nimr al-Nimr adalah strategi yang sengaja dipilih Saudi.
"Setiap tindakan penghasutan termasuk penargetan yang diduga sengaja dilakukan di Kedubes Iran di Sana'a Yaman merupakan indikasi lanjut tentang keputusasaan Riyadh untuk membusukkan Tehran dalam pengadilan opini dunia," katanya.
Khan melanjutkan, tindakan Saudi itu sia-sia dan hanya memicu keraguan dunia tentang stabilitas dan rasionalitas kerajaan.
"Sekutu lama AS itu tengah kehilangan cengkeraman besi atas rakyatnya dan kawasan [Timur Tengah]," katanya.
Dia menambahkan, 'kombinasi persenjataan Saudi yang mencengangkan' dan 'ideologi nakal yang berkuasa' membuat kerajaan kaya minyak itu 'sangat berbahaya', bahkan lebih berbahaya dari Iran yang pernah disebut Amerika sebagai salah satu dari sumbu setan.
Saudi mengatakan provokasinya atas Iran merupakan sebuah langkah prinsip dan penting dalam melawan sebuah rival sektarian berbahaya, lanjut Khan, tapi itu tak lain upaya Saudi untuk mengalihkan perhatian masyarakat internasional dari kelemahan internalnya.
Pada 2015, Arab Saudi mengalami defisit anggaran sampai 100 milyar dollar dan tahun ini, kerjaan diduga akan mengalami defisit sebesar 80 milyar dolar. Akibatnya, lanjut Khan, Saudi terpaksa menaikkan pajak pertambahan nilai dan harga gas di dalam negeri. Dan langkah Saudi menggenjot produksi minyak dalam upaya mengalahkan negara-negara pesaing seperti Iran membuat harga minyak malah merosot tajam.
Saudi berupaya menggambarkan Iran sebagai negara agrresor di kawasan, tapi pada saat yang sama, negara itu menghabiskan dana 1,3 milyar dolar untuk membeli bom dan amunisi tahun lalu yang sebagian besarnya diperuntukkan sebagai stok senjata dalam perang Yaman, catat Khan.
Selama ini, kata Khan, Saudi terlena dengan julukan Penjaga Haramain dan bisa 'meredakan kritik dari mereka yang takut dicegah masuk ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji'. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, status itu mulai terguncang.
Kini banyak umat Islam yang mempertanyakan apakah berdiam diri dalam menghadapi Vegasisasi Mekkah dengan bangunan dan hotel mewah, pembongkaran situs-situs penting dan bersejarah Islam serta bencana tewasnya jemaah haji dalam ritual haji tahun ini senilai dengan konsekwensi yang ada, jelas Khan.
Tanpa asumsi legitimasi dari dunia Muslim, kredebilitas Saudi bisa rusak, tandas Khan.
Dalam serangan kemarin, jet pasukan koalisi menembakkan 9 roket ke arah kamp Saeqa dekat kota Ayyash di provinsi Deir Wzzor, menwaskan tiga orang dan melukai 13 lainnya.
Kementerian Luar Negeri Suriah segera melaporkan pada Sekjen PBB dan Ketua Dewan Keamanan PBB. Mereka mengecam dan meminta PBB segera menindak kejahatan mengerikan itu.
"Suriah mengutuk keras agresi koalisi pimpinan AS yang bertolak belakang dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB..." kata Kementerian.
Sementara itu, juru bicara koalisi Kolonel Steve Warren mengklaim bahwa serangan udara pasukannya berlangsung di kawasan sekitar 55 km dari kamp militer tersebut.
"Kami sudah melihat laporan Suriah tapi kami tak melakukan serangan apapun di bagian Deir Ezzor kemarin. Jadi kami melihat tidak ada bukti sama sekali," katanya.
Serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS yang berlangsung sejak tahun lalu belum mendapat persetujuan dari pemerintah Suriah hingga kini.
Serangan terjadi hanya berselang 12 hari setelah jet tempur F-16 Angkatan Udara Turki menembak jatuh jet tempur Rusia di dekat perbatasan Turki.
Dalam serangan kemarin, jet pasukan koalisi menembakkan 9 roket ke arah kamp Saeqa dekat kota Ayyash di provinsi Deir Wzzor, menwaskan tiga orang dan melukai 13 lainnya.
Kementerian Luar Negeri Suriah segera melaporkan pada Sekjen PBB dan Ketua Dewan Keamanan PBB. Mereka mengecam dan meminta PBB segera menindak kejahatan mengerikan itu.
"Suriah mengutuk keras agresi koalisi pimpinan AS yang bertolak belakang dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB..." kata Kementerian.
Sementara itu, juru bicara koalisi Kolonel Steve Warren mengklaim bahwa serangan udara pasukannya berlangsung di kawasan sekitar 55 km dari kamp militer tersebut.
"Kami sudah melihat laporan Suriah tapi kami tak melakukan serangan apapun di bagian Deir Ezzor kemarin. Jadi kami melihat tidak ada bukti sama sekali," katanya.
Serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS yang berlangsung sejak tahun lalu belum mendapat persetujuan dari pemerintah Suriah hingga kini.
Serangan terjadi hanya berselang 12 hari setelah jet tempur F-16 Angkatan Udara Turki menembak jatuh jet tempur Rusia di dekat perbatasan Turki.
Pada jumpa pers Senin (3/8/15), juru bicara Gedung Putih Josh Earnest megatakan para teroris yang dilatih AS menderita banyak kerugian.
Earnest mengancam pemerintah Presiden Bashar al-Assad "tidak boleh mengganggu" operasi pasukan dukungan AS di Suriah yang disebut-sebut sebagai bagian dari "strategi untuk menghancurkan ISIS" sebagaimana janji Presiden AS Barack Obama.
Suriah diserang teroris dukungan asing sejak 2011.
Washington dan beberapa sekutunya memanfaatkan isu ISIS untuk melakukan serangan udara di Suriah dan menyediakan berbagai bentuk dukungan untuk apa yang mereka sebut ‘militan moderat.’
Menanggapi pernyataan Earnest, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow percaya hal itu sebagai langkah kontraproduktif dan berjanji akan membahasanya dengan John Kerry dalam sebuah pertemuan.
Pada jumpa pers Senin (3/8/15), juru bicara Gedung Putih Josh Earnest megatakan para teroris yang dilatih AS menderita banyak kerugian.
Earnest mengancam pemerintah Presiden Bashar al-Assad "tidak boleh mengganggu" operasi pasukan dukungan AS di Suriah yang disebut-sebut sebagai bagian dari "strategi untuk menghancurkan ISIS" sebagaimana janji Presiden AS Barack Obama.
Suriah diserang teroris dukungan asing sejak 2011.
Washington dan beberapa sekutunya memanfaatkan isu ISIS untuk melakukan serangan udara di Suriah dan menyediakan berbagai bentuk dukungan untuk apa yang mereka sebut ‘militan moderat.’
Menanggapi pernyataan Earnest, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow percaya hal itu sebagai langkah kontraproduktif dan berjanji akan membahasanya dengan John Kerry dalam sebuah pertemuan.
Para menteri luar negeri negara-negara Arab pesisir Teluk Persia pada Sabtu 9 Mei 2015, menggelar pertemuan dengan Menlu AS, John Kerry, di Paris, Perancis. Disebutkan bahwa pertemuan itu digelar dalam rangka persiapan pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi Arab di Kamp David yang menurut rencana akan digelar pekan depan melibatkan para pemimpin negara-negara Arab Teluk Persia dan Presiden AS Barack Obama.
Menurut koran al-Hayat mengutip sumber-sumber Arab, Amerika Serikat akan memberikan laporan tentang kesepakatan potensial dalam masalah nuklir dengan Iran untuk “meyakinkan” Arab bahwa Iran tidak akan menggapai senjata nuklir.
Interpretasi sejumlah negara Arab Teluk Persia dari kesepakatan nuklir potensial antara Iran dan Kelompok 5+1; mencakup kekhawatiran mereka terhadap sebuah proses yang akan membuat Iran lebih kuat; di saat mereka tidak dapat menyaksikan kemajuan Iran. Semakin Iran mampu tampil kokoh di hadapan tekanan dan merealisasikan tuntutannya, negara-negara tersebut semakin merasa kerdil dan hina.
Hingga kini mereka tetap beranggapan bahwa Iran tetap terisolasi dan adapun interpretasi mereka dari kesepakatan potensial itu, sejajar dengan politik “pencegahan Iran” berdasarkan perspektif usang dan kadaluarsa. Dari sudut pandang ini, maka jelas pula apa yang mereka harapkan dari pertempuan di Kamp David. Berbagai indikasi yang ada menunjukkan bahwa kepada negara-negara Arab Teluk Persia, Obama akan berjanji mempertahankan sanksi anti-Iran sekaligus menawarkan sistem pertahanan rudal anti-udara kepada mereka. Washington juga dipastikan akan menekankan kembali komitmennya dalam menjaga sekutunya di hadapan ancaman serangan asing.
Menurut koran Los Angeles Times, kemungkinan dalam pertemuan Kamp David, akan diutarakan ungkapan-ungkapan indah dan dikesankan bahwa mereka menginginkan ikatan langgeng dengan Amerika Serikat.
Oleh karena itu, Kamp David merupakan kesempatan bagi Barack Obama untuk menyatakan bahwa Washington tetap mementingkan sekutu kunonya di kawasan; akan tetapi pada saat yang sama Obama juga tidak akan mampu menutup mata dari kekeliruan Amerika Serikat di kawasan yang berujung pada pembentukan kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda dan ISIS, serta munculnya kekerasan ekstrim di Irak dan Suriah.
Negara-negara seperti Arab Saudi, sebenarnya tidak mengkhawatirkan program nuklir Iran; karena semua mengetahui bahwa klaim ancaman nuklir Iran tidak lebih dari propaganda dan apa yang diinginkan dan dilakukan Iran adalah hak-haknya sesuai dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Banyak negara-negara Arab regional termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Kuwait yang berharap mendapat posisi yang dimiliki Iran; hanya saja mereka tidak sejajar dengan Iran di tingkat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, interpretasi paling optimistik dari harapan mereka adalah menginginkan kemajuan yang sama dengan yang dicapai Iran.
Lalu di mana masalahnya? Yang pasti negara-negara Arab Teluk Persia mengetahui bahwa Iran tidak pernah mengancam atau menyulut gejolak di kawasan. Sementara negara-negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir selalu berusaha menciptakan krisis dan ketidakpercayaan di kawasan. Selain itu, dalam setiap krisis, mereka juga selalu membuka pintu bagi pihak asing untuk masuk.
Apa yang dikhawatirkan negara-negara Arab Teluk Persia adalah dampak internal dan sekitar akibat dari pengaruh arus-balik keselarasan mereka dengan Amerika Serikat dan Barat. Mereka mengkhawatirkan nasib kekuasaan adikara dan dependen mereka yang sekarang sudah sulit dipertahan dengan petro dolar. Karena era keemasan pendapatan dari penjualan minyak juga telah berakhir dan sekarang saatnya untuk menebus banyak hal. Adapun masalah nuklir Iran hanya satu alasan untuk lari dari semua kenyataan itu.
Para menteri luar negeri negara-negara Arab pesisir Teluk Persia pada Sabtu 9 Mei 2015, menggelar pertemuan dengan Menlu AS, John Kerry, di Paris, Perancis. Disebutkan bahwa pertemuan itu digelar dalam rangka persiapan pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi Arab di Kamp David yang menurut rencana akan digelar pekan depan melibatkan para pemimpin negara-negara Arab Teluk Persia dan Presiden AS Barack Obama.
Menurut koran al-Hayat mengutip sumber-sumber Arab, Amerika Serikat akan memberikan laporan tentang kesepakatan potensial dalam masalah nuklir dengan Iran untuk “meyakinkan” Arab bahwa Iran tidak akan menggapai senjata nuklir.
Interpretasi sejumlah negara Arab Teluk Persia dari kesepakatan nuklir potensial antara Iran dan Kelompok 5+1; mencakup kekhawatiran mereka terhadap sebuah proses yang akan membuat Iran lebih kuat; di saat mereka tidak dapat menyaksikan kemajuan Iran. Semakin Iran mampu tampil kokoh di hadapan tekanan dan merealisasikan tuntutannya, negara-negara tersebut semakin merasa kerdil dan hina.
Hingga kini mereka tetap beranggapan bahwa Iran tetap terisolasi dan adapun interpretasi mereka dari kesepakatan potensial itu, sejajar dengan politik “pencegahan Iran” berdasarkan perspektif usang dan kadaluarsa. Dari sudut pandang ini, maka jelas pula apa yang mereka harapkan dari pertempuan di Kamp David. Berbagai indikasi yang ada menunjukkan bahwa kepada negara-negara Arab Teluk Persia, Obama akan berjanji mempertahankan sanksi anti-Iran sekaligus menawarkan sistem pertahanan rudal anti-udara kepada mereka. Washington juga dipastikan akan menekankan kembali komitmennya dalam menjaga sekutunya di hadapan ancaman serangan asing.
Menurut koran Los Angeles Times, kemungkinan dalam pertemuan Kamp David, akan diutarakan ungkapan-ungkapan indah dan dikesankan bahwa mereka menginginkan ikatan langgeng dengan Amerika Serikat.
Oleh karena itu, Kamp David merupakan kesempatan bagi Barack Obama untuk menyatakan bahwa Washington tetap mementingkan sekutu kunonya di kawasan; akan tetapi pada saat yang sama Obama juga tidak akan mampu menutup mata dari kekeliruan Amerika Serikat di kawasan yang berujung pada pembentukan kelompok-kelompok teroris seperti al-Qaeda dan ISIS, serta munculnya kekerasan ekstrim di Irak dan Suriah.
Negara-negara seperti Arab Saudi, sebenarnya tidak mengkhawatirkan program nuklir Iran; karena semua mengetahui bahwa klaim ancaman nuklir Iran tidak lebih dari propaganda dan apa yang diinginkan dan dilakukan Iran adalah hak-haknya sesuai dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Banyak negara-negara Arab regional termasuk Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Kuwait yang berharap mendapat posisi yang dimiliki Iran; hanya saja mereka tidak sejajar dengan Iran di tingkat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, interpretasi paling optimistik dari harapan mereka adalah menginginkan kemajuan yang sama dengan yang dicapai Iran.
Lalu di mana masalahnya? Yang pasti negara-negara Arab Teluk Persia mengetahui bahwa Iran tidak pernah mengancam atau menyulut gejolak di kawasan. Sementara negara-negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir selalu berusaha menciptakan krisis dan ketidakpercayaan di kawasan. Selain itu, dalam setiap krisis, mereka juga selalu membuka pintu bagi pihak asing untuk masuk.
Apa yang dikhawatirkan negara-negara Arab Teluk Persia adalah dampak internal dan sekitar akibat dari pengaruh arus-balik keselarasan mereka dengan Amerika Serikat dan Barat. Mereka mengkhawatirkan nasib kekuasaan adikara dan dependen mereka yang sekarang sudah sulit dipertahan dengan petro dolar. Karena era keemasan pendapatan dari penjualan minyak juga telah berakhir dan sekarang saatnya untuk menebus banyak hal. Adapun masalah nuklir Iran hanya satu alasan untuk lari dari semua kenyataan itu.