Latest

Minggu, 16 Februari 2014

GenSyiah - Jutaan eksemplar buku saku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” sejak awal terbitnya sampai saat ini selalu diklaim dan terus dikampanyekan pihak-pihak tertentu sebagai buku resmi lembaga MUI. Melalui acara propaganda anti-Syiah yang dikemas dalam bentuk seminar, buku itu pun gencar disebar dan dibagi-bagikan secara gratis ke seluruh pelosok Nusantara. Dalam hitungan sederhana, entah sudah berapa miliar rupiah biaya digelontorkan untuk mencetak dan menyebarkannya. Belum lagi biaya seminar yang selalu dijadikan ajang kamuflase forum ilmiah tapi faktanya tak lebih dari forum hujatan sepihak dari oknum-oknum anti ukhuwah, yang dalam sebulan bisa puluhan kali digelar serentak di beberapa kota besar di seluruh Indonesia. Dan dari kesaksian banyak pihak, di ajang seminar abal-abal itulah buku yang sebagian besarnya berisi tuduhan itu dibagi-bagikan secara cuma-cuma.

Bertolak belakang dengan klaim oknum-oknum anti-Syiah yang kehadirannya dalam ‘seminar’ selalu mengatasnamakan diri selaku perwakilan resmi MUI baik di pusat maupun daerah, salah seorang ketua MUI yang pernah kami wawancarai menegaskan bahwa ‘buku merah’ itu sama sekali bukan buku resmi terbitan lembaganya. Dia menolak statemen banyak pihak penyelenggara dan oknum-oknum pelaku ‘seminar’ yang selama ini getol mengumbar klaim atas nama MUI, dengan mengatakan bahwa MUI mustahil punya dana sebesar itu. Bahkan ketika belakangan ramai diperbincangkan dan penyebarannya disinyalir telah meresahkan masyarakat karena dianggap potensial menimbulkan perpecahan umat Islam dan konflik horizontal di akar rumput, sang ketua MUI pun dengan nada berapi-api mengatakan bahwa terkait sifat buku apapun yang anti-ukhuwah, apalagi sampai menyulut perpecahan dan konflik antara Sunni dan Syiah, seharusnya pihak kepolisian tak perlu ragu melarang dan sesegera mungkin mesti sigap menarik penyebarannya secara luas dari tengah masyarakat. Intinya, dengan adanya kesimpangsiuran perihal posisi buku tersebut di pihak internal MUI sendiri, tampak adanya banyak misteri dan keanehan yang belum terungkap.

Salah satu misterinya adalah bila buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” dianggap sangat penting dan menyangkut hal yang serius oleh MUI, mengapa tidak ada stempel resmi MUI dan tanda tangan mereka yang mengatasnamakan diri sebagai pejabat MUI di dalam buku tersebut? Padahal, di buku-buku pedoman MUI yang lain seperti halnya buku “Pedoman Penyelengaraan Organisasi MUI” terdapat stempel dan tanda tangan pejabat MUI secara terang dan lengkap. Begitu pula dengan buku “Keputusan Rapat Kerja MUI 2012”. Di halaman depan buku yang disebut terakhir ini juga terdapat stempel dan tanda tangan jajaran pejabat MUI. Bila buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” memang sebuah buku yang menurut MUI menyangkut hal yang serius, sudah sepatutnya ada tanda tangan dan stempel pejabat MUI terkait di dalamnya.

Bukankah ini ibarat sertifikat tanah tanpa stempel resmi dan tanda tangan pejabat pertanahan yang berwenang, yang keabsahannya patut dipertanyakan? Atau, bila dokumen-dokumen penting lain yang kita pegang tanpa ada tanda tangan pihak yang berwenang, apakah kita mau menerimanya sebagai dokumen yang sah? Atau ibarat kita punya uang yang ternyata ciri-ciri dan kriterianya bertentangan dengan ketetapan Bank Indonesia, adakah kira-kira yang mau menerimanya sebagai alat pembayaran yang sah? Bukankah uang semacam itu dapat digolongkan sebagai uang palsu, yang pemilik dan pengedarnya justru bisa dikenai pasal tindak pidana? Contoh lain, andai saja ada orang asing datang ke rumah kita dan mengatasnamakan diri sebagai utusan Presiden RI, tapi dalam surat tugasnya sama sekali tak ada stempel resmi kepresidenan dan tanda tangan presiden, mungkinkah kita akan percaya begitu saja? Bukankah sebaliknya kita akan curiga, jangan-jangan orang tersebut justru penjahat dan penipu? Begitu pun terhadap sebuah buku yang selama ini ‘hanya’ diatasnamakan sebagai terbitan resmi MUI namun faktanya, setelah kita cermati dan teliti lebih seksama ternyata ciri-ciri buku itu malah bertentangan dengan buku-buku resmi MUI yang lain, bukankah wajar bila dengan mudah bisa kita anggap buku itu sebagai buku ‘sesat’ alias palsu?

Untuk menyingkap sejumlah misteri tentang buku itu, kami tim media Ahlulbait Indonesia telah melayangkan surat permohonan resmi agar diberikan kesempatan mewawancarai Prof. Dr. Yunahar Iliyas, M.A. selaku ketua penelitian MUI yang namanya tertera dalam buku tersebut. Selain itu, tim ABI Press juga telah meminta Bapak Prof. Din Syamsudin selaku wakil Ketua Umum MUI untuk dimintai keterangan.  Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, para pejabat MUI tersebut masih belum memberikan tanggapan atas surat yang telah kami layangkan.

Sementara di sisi lain, menilik pola penyebarannya yang demikian massif, serentak dan merata, peneliti sekaligus dosen UIN Syarif Hidayatullah Dr. Zulkifi mensinyalir bahwa tujuan sebenarnya dari penerbitan buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” itu dengan mudah dapat diduga sebagai upaya pihak-pihak tertentu yang selama ini memang anti-Syiah untuk mendorong dikeluarkannya fatwa sesat terhadap Syiah di Indonesia dan kemudian menyingkirkan para penganut salah satu mazhab Islam itu dari Tanah Air.

Dr. Zulkifli juga membenarkan bahwa ada kemungkinan apa yang dilakukan oleh sejumlah orang untuk mendiskreditkan Syiah saat ini adalah upaya agar paham mereka sendiri yang juga bukan penganut paham Syafi’i mainstream di Indonesia dapat diterima masyarakat dengan cara menciptakan musuh bersama yaitu muslim Syiah. Padahal menurutnya, bagi kalangan ulama yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip ukhuwah dan kaum cendikiawan yang benar-benar terpelajar, isu pertentangan Sunni-Syiah ini bisa dikatakan sudah sangat basi.

“Saya sendiri yakin, Syiah belum tentu merupakan sasaran final mereka. Mudah ditebak bahwa pasti ada agenda besar di belakang upaya mereka untuk mendiskreditkan Syiah saat ini. Tapi mudah-mudahan saja akan semakin banyak masyarakat yang sadar, tak mudah dibodohi dan diprovokasi. Bahwa kelompok-kelompok intoleran inilah yang sesungguhnya lebih berbahaya daripada kelompok Syiah maupun Sunni sendiri,” terang Dr. Zulkifli saat media ABI temui di ruang kerjanya.

Ditanya tanggapannya tentang maraknya tuduhan bahwa Syiah sangat berbahaya bagi NKRI, Zulkifli menyatakan bahwa dalam penelitiannya hal tersebut tidak terbukti. Bahkan terkait isu Syiahisasi di Indonesia pun ditepisnya dengan mengatakan bahwa selama riset yang dilakukannya, dirinya tidak menemukan adanya upaya kalangan Muslim Syiah untuk mensyiahkan kelompok yang berbeda mazhab dengannya.

Saat kami tanyakan, bukankah buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpanyan Syiah di Indonesia” itu juga hasil riset dan penelitian, sebagaimana klaim para penyusunnya? Zulkifli menegaskan bahwa buku tersebut tidak bisa disebut sebagai hasil penelitian, karena menurutnya sebuah penelitian harus memiliki beberapa syarat dasar, misalnya terkait metodologi, regulasi, check and recheck dan lainnya. Sementara buku itu jika dilihat dari isinya, belum memenuhi syarat-syarat dasar tersebut.

Dr. Zulkifli menghimbau kepada masyarakat, terutama kalangan akademisi agar menyikapi buku ini secara akademis pula dan tidak langsung begitu saja menerimanya. Karena belum tentu semua isinya mengandung kebenaran. Dia juga berharap agar para ulama dan cendikiawan Muslim lebih mengkajinya secara objektif, kritis, dan melakukan upaya observasi lebih serius dengan melihat fakta dan data akurat sehingga mampu memberikan pandangan-pandangan yang lebih moderat terhadap hal-hal yang riskan mengancam keutuhan dan kerukunan umat semacam ini.

Di akhir wawancara DR. Zulkifli juga menekankan sekaligus berpesan agar kita semua mesti ikhlas dalam beragama, jangan gemar berprasangka apalagi menebar kebencian antar sesama anak bangsa.

“Bagaimana bisa kita beragama dengan kebencian dan penuh rasa saling curiga? Bukankah ber-Islam itu intinya harus ikhlas secara pribadi, saling menghormati sesama manusia dengan menjunjung tinggi dan mempraktekkan prinsip rahmatan lil ‘alamin? Karena itulah saya kira sangat perlu di tengah umat ini makin ditekankan perlunya upaya dialog sesuai prinsip dan ajaran Islam dalam menyelesaikan segenap persoalan yang ada. Jadi bukan sebaliknya, menggalang kegiatan-kegiatan kontraproduktif yang dampaknya negatif bagi umat, yang di dalamnya hanya berisi hujatan, ujaran kebencian dan hasutan serta penghakiman sepihak satu kelompok terhadap kelompok lain. Hal semacam itu dalam pandangan saya bisa dikatakan bukanlah teladan yang baik dari siapapun yang mengaku ulama atau ahli ilmu bagi umat,” pungkas doktor yang hasil disertasinya perihal Syiah, “The Struggle of The Shi’is in Indonesia” telah diterbitkan sebagai buku oleh salah satu universitas di Leiden, Belanda itu. (*)

Contoh Buku Pedoman Organisasi MUI yang lengkap dengan stempel MUI dan tanda tangan jelas pejabat MUI terkait.

Contoh Buku Keputusan Rakernas MUI tahun 2012 yang lengkap dengan stempel MUI dan tanda tangan jelas pejabat MUI terkait.

Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah Indonesia” yang dinyatakan dikeluarkan MUI secara resmi oleh sejumlah orang di MUI, namun tidak ada stempel MUI dan juga tidak ada tanda tangan jelas dari pejabat MUI terkait.

Sumber : ABI
Artikel

[TANGGAPAN] Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia: Asli atau Palsu?

Administrator  |  at  Minggu, Februari 16, 2014

GenSyiah - Jutaan eksemplar buku saku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” sejak awal terbitnya sampai saat ini selalu diklaim dan terus dikampanyekan pihak-pihak tertentu sebagai buku resmi lembaga MUI. Melalui acara propaganda anti-Syiah yang dikemas dalam bentuk seminar, buku itu pun gencar disebar dan dibagi-bagikan secara gratis ke seluruh pelosok Nusantara. Dalam hitungan sederhana, entah sudah berapa miliar rupiah biaya digelontorkan untuk mencetak dan menyebarkannya. Belum lagi biaya seminar yang selalu dijadikan ajang kamuflase forum ilmiah tapi faktanya tak lebih dari forum hujatan sepihak dari oknum-oknum anti ukhuwah, yang dalam sebulan bisa puluhan kali digelar serentak di beberapa kota besar di seluruh Indonesia. Dan dari kesaksian banyak pihak, di ajang seminar abal-abal itulah buku yang sebagian besarnya berisi tuduhan itu dibagi-bagikan secara cuma-cuma.

Bertolak belakang dengan klaim oknum-oknum anti-Syiah yang kehadirannya dalam ‘seminar’ selalu mengatasnamakan diri selaku perwakilan resmi MUI baik di pusat maupun daerah, salah seorang ketua MUI yang pernah kami wawancarai menegaskan bahwa ‘buku merah’ itu sama sekali bukan buku resmi terbitan lembaganya. Dia menolak statemen banyak pihak penyelenggara dan oknum-oknum pelaku ‘seminar’ yang selama ini getol mengumbar klaim atas nama MUI, dengan mengatakan bahwa MUI mustahil punya dana sebesar itu. Bahkan ketika belakangan ramai diperbincangkan dan penyebarannya disinyalir telah meresahkan masyarakat karena dianggap potensial menimbulkan perpecahan umat Islam dan konflik horizontal di akar rumput, sang ketua MUI pun dengan nada berapi-api mengatakan bahwa terkait sifat buku apapun yang anti-ukhuwah, apalagi sampai menyulut perpecahan dan konflik antara Sunni dan Syiah, seharusnya pihak kepolisian tak perlu ragu melarang dan sesegera mungkin mesti sigap menarik penyebarannya secara luas dari tengah masyarakat. Intinya, dengan adanya kesimpangsiuran perihal posisi buku tersebut di pihak internal MUI sendiri, tampak adanya banyak misteri dan keanehan yang belum terungkap.

Salah satu misterinya adalah bila buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” dianggap sangat penting dan menyangkut hal yang serius oleh MUI, mengapa tidak ada stempel resmi MUI dan tanda tangan mereka yang mengatasnamakan diri sebagai pejabat MUI di dalam buku tersebut? Padahal, di buku-buku pedoman MUI yang lain seperti halnya buku “Pedoman Penyelengaraan Organisasi MUI” terdapat stempel dan tanda tangan pejabat MUI secara terang dan lengkap. Begitu pula dengan buku “Keputusan Rapat Kerja MUI 2012”. Di halaman depan buku yang disebut terakhir ini juga terdapat stempel dan tanda tangan jajaran pejabat MUI. Bila buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” memang sebuah buku yang menurut MUI menyangkut hal yang serius, sudah sepatutnya ada tanda tangan dan stempel pejabat MUI terkait di dalamnya.

Bukankah ini ibarat sertifikat tanah tanpa stempel resmi dan tanda tangan pejabat pertanahan yang berwenang, yang keabsahannya patut dipertanyakan? Atau, bila dokumen-dokumen penting lain yang kita pegang tanpa ada tanda tangan pihak yang berwenang, apakah kita mau menerimanya sebagai dokumen yang sah? Atau ibarat kita punya uang yang ternyata ciri-ciri dan kriterianya bertentangan dengan ketetapan Bank Indonesia, adakah kira-kira yang mau menerimanya sebagai alat pembayaran yang sah? Bukankah uang semacam itu dapat digolongkan sebagai uang palsu, yang pemilik dan pengedarnya justru bisa dikenai pasal tindak pidana? Contoh lain, andai saja ada orang asing datang ke rumah kita dan mengatasnamakan diri sebagai utusan Presiden RI, tapi dalam surat tugasnya sama sekali tak ada stempel resmi kepresidenan dan tanda tangan presiden, mungkinkah kita akan percaya begitu saja? Bukankah sebaliknya kita akan curiga, jangan-jangan orang tersebut justru penjahat dan penipu? Begitu pun terhadap sebuah buku yang selama ini ‘hanya’ diatasnamakan sebagai terbitan resmi MUI namun faktanya, setelah kita cermati dan teliti lebih seksama ternyata ciri-ciri buku itu malah bertentangan dengan buku-buku resmi MUI yang lain, bukankah wajar bila dengan mudah bisa kita anggap buku itu sebagai buku ‘sesat’ alias palsu?

Untuk menyingkap sejumlah misteri tentang buku itu, kami tim media Ahlulbait Indonesia telah melayangkan surat permohonan resmi agar diberikan kesempatan mewawancarai Prof. Dr. Yunahar Iliyas, M.A. selaku ketua penelitian MUI yang namanya tertera dalam buku tersebut. Selain itu, tim ABI Press juga telah meminta Bapak Prof. Din Syamsudin selaku wakil Ketua Umum MUI untuk dimintai keterangan.  Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, para pejabat MUI tersebut masih belum memberikan tanggapan atas surat yang telah kami layangkan.

Sementara di sisi lain, menilik pola penyebarannya yang demikian massif, serentak dan merata, peneliti sekaligus dosen UIN Syarif Hidayatullah Dr. Zulkifi mensinyalir bahwa tujuan sebenarnya dari penerbitan buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” itu dengan mudah dapat diduga sebagai upaya pihak-pihak tertentu yang selama ini memang anti-Syiah untuk mendorong dikeluarkannya fatwa sesat terhadap Syiah di Indonesia dan kemudian menyingkirkan para penganut salah satu mazhab Islam itu dari Tanah Air.

Dr. Zulkifli juga membenarkan bahwa ada kemungkinan apa yang dilakukan oleh sejumlah orang untuk mendiskreditkan Syiah saat ini adalah upaya agar paham mereka sendiri yang juga bukan penganut paham Syafi’i mainstream di Indonesia dapat diterima masyarakat dengan cara menciptakan musuh bersama yaitu muslim Syiah. Padahal menurutnya, bagi kalangan ulama yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip ukhuwah dan kaum cendikiawan yang benar-benar terpelajar, isu pertentangan Sunni-Syiah ini bisa dikatakan sudah sangat basi.

“Saya sendiri yakin, Syiah belum tentu merupakan sasaran final mereka. Mudah ditebak bahwa pasti ada agenda besar di belakang upaya mereka untuk mendiskreditkan Syiah saat ini. Tapi mudah-mudahan saja akan semakin banyak masyarakat yang sadar, tak mudah dibodohi dan diprovokasi. Bahwa kelompok-kelompok intoleran inilah yang sesungguhnya lebih berbahaya daripada kelompok Syiah maupun Sunni sendiri,” terang Dr. Zulkifli saat media ABI temui di ruang kerjanya.

Ditanya tanggapannya tentang maraknya tuduhan bahwa Syiah sangat berbahaya bagi NKRI, Zulkifli menyatakan bahwa dalam penelitiannya hal tersebut tidak terbukti. Bahkan terkait isu Syiahisasi di Indonesia pun ditepisnya dengan mengatakan bahwa selama riset yang dilakukannya, dirinya tidak menemukan adanya upaya kalangan Muslim Syiah untuk mensyiahkan kelompok yang berbeda mazhab dengannya.

Saat kami tanyakan, bukankah buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpanyan Syiah di Indonesia” itu juga hasil riset dan penelitian, sebagaimana klaim para penyusunnya? Zulkifli menegaskan bahwa buku tersebut tidak bisa disebut sebagai hasil penelitian, karena menurutnya sebuah penelitian harus memiliki beberapa syarat dasar, misalnya terkait metodologi, regulasi, check and recheck dan lainnya. Sementara buku itu jika dilihat dari isinya, belum memenuhi syarat-syarat dasar tersebut.

Dr. Zulkifli menghimbau kepada masyarakat, terutama kalangan akademisi agar menyikapi buku ini secara akademis pula dan tidak langsung begitu saja menerimanya. Karena belum tentu semua isinya mengandung kebenaran. Dia juga berharap agar para ulama dan cendikiawan Muslim lebih mengkajinya secara objektif, kritis, dan melakukan upaya observasi lebih serius dengan melihat fakta dan data akurat sehingga mampu memberikan pandangan-pandangan yang lebih moderat terhadap hal-hal yang riskan mengancam keutuhan dan kerukunan umat semacam ini.

Di akhir wawancara DR. Zulkifli juga menekankan sekaligus berpesan agar kita semua mesti ikhlas dalam beragama, jangan gemar berprasangka apalagi menebar kebencian antar sesama anak bangsa.

“Bagaimana bisa kita beragama dengan kebencian dan penuh rasa saling curiga? Bukankah ber-Islam itu intinya harus ikhlas secara pribadi, saling menghormati sesama manusia dengan menjunjung tinggi dan mempraktekkan prinsip rahmatan lil ‘alamin? Karena itulah saya kira sangat perlu di tengah umat ini makin ditekankan perlunya upaya dialog sesuai prinsip dan ajaran Islam dalam menyelesaikan segenap persoalan yang ada. Jadi bukan sebaliknya, menggalang kegiatan-kegiatan kontraproduktif yang dampaknya negatif bagi umat, yang di dalamnya hanya berisi hujatan, ujaran kebencian dan hasutan serta penghakiman sepihak satu kelompok terhadap kelompok lain. Hal semacam itu dalam pandangan saya bisa dikatakan bukanlah teladan yang baik dari siapapun yang mengaku ulama atau ahli ilmu bagi umat,” pungkas doktor yang hasil disertasinya perihal Syiah, “The Struggle of The Shi’is in Indonesia” telah diterbitkan sebagai buku oleh salah satu universitas di Leiden, Belanda itu. (*)

Contoh Buku Pedoman Organisasi MUI yang lengkap dengan stempel MUI dan tanda tangan jelas pejabat MUI terkait.

Contoh Buku Keputusan Rakernas MUI tahun 2012 yang lengkap dengan stempel MUI dan tanda tangan jelas pejabat MUI terkait.

Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah Indonesia” yang dinyatakan dikeluarkan MUI secara resmi oleh sejumlah orang di MUI, namun tidak ada stempel MUI dan juga tidak ada tanda tangan jelas dari pejabat MUI terkait.

Sumber : ABI

0 komentar:

Minggu, 02 Februari 2014

GenSyiah - Peristiwa tragis yang menimpa Suriah, Irak dan Lebanon serta negara-negara Islam lainnya yang dilanda gelombang aksi ekstrimisme, kekerasan dan terorisme menunjukkan fenomena baru meningkatnya aksi takfiri di kawasan Barat dan barat daya Asia. Selama tiga tahun terakhir krisis Suriah menunjukkan bahwa kaum takfiri bukan pengusung Islam sejati, dan hanya menggunakan simbol-simbol agama suci ini sebagai kedok demi mencapai tujuan busuknya. Sebab ajaran Islam menjunjung tinggi keadilan, perdamaian dan menentang cara-cara kekerasan dan aksi terorisme sebagaimana yang ditampilkan secara brutal oleh kelompok-kelompok takfiri seperti Front al-Nusra, Negara Islam Irak dan Syam (DIIS) dan lainnya.
Pemerintah Arab Saudi sebagai pendukung utama gerakan takfiri internasional menghadapi jalan buntu atas kebijakannya menyebarluaskan friksi di kawasan dan kini terang-terangan menunjukkan dukungannya terhadap kelompok teroris. Berbagai gerakan takfiri internasional yang melancarkan aksi teror dan kekerasan di Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Afghanistan dan Pakistan mendapat dukungan langsung dari rezim Al-Saud.

Kepala intelijen Arab Saudi Pangeran Bandar bin Sultan selama ini menjadi dalang di balik merebaknya aksi terorisme di negara-negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Profesor James Petras menyebut Bandar menjadi dalang "Jaringan Teror Saudi" dengan memasuk keuangan, senjata dan pelatihan bagi kelompok takfiri internasional. "..data yang dikumpulkan mengenai asal usul kelompok-kelompok ini dan pembiayaannya, kami sampai pada kesimpulan bahwa Bandar Bin Sultan menjadi dalang dan pemodal utama dari operasi ini, " kata Profesor Binghamton University di New York. Bandar yang pernah menjabat sebagai duta besar Saudi untuk AS dikenal memiliki hubungan dekat dengan mantan Presiden AS George Bush, dan merupakan penganjur invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.

Gelontoran dana besar-besaran pemerintah Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok teroris takfiri yang tersebar di berbagai negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mungkin saja dalam jangka pendek bisa melanjutkan aksi kekerasan dan teroris itu. Tapi dalam jangka panjang kondisi tersebut tidak ada jaminannya akan bertahan lama. Gerakan takfiri yang menyebar ke berbagai negara dunia telah mencapai puncaknya.

Negara-negara Barat dan sekutunya di kawasan menciptakan krisis berdarah di Suriah dan  mendukung kelompok-kelompok takfiri demi mencapai berbagai tujuan. Tujuan pertama untuk menggulingkan pemerintahan Suriah dan mengeluarkan negara ini dari front terdepan melawan rezim Zionis Israel. Tujuan kedua memusatkan berbagai kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan kelompok takfiri lainnya di Suriah dalam satu koordinasi dengan target menggulingkan pemerintahan Assad. Namun alih-alih dua tujuan itu tercapai, kelompok-kelompok teroris takfiri itu saat ini telah menjadi ancaman bagi keamanan dan stabilitas kawasan Timur tengah dan Afrika Utara. Tujuan ketiga adalah menggunakan krisis Suriah sebagai cara untuk mengobarkan friksi mazhab dan persengketaan di tubuh umat Islam sendiri. Tapi secara bertahap konspirasi ini mulai terbongkar.   

Secara pemikiran antarkelompok teroris memiliki warna yang sama  sebagai gerakan takfiri yang mengafirkan kelompok lain dan hanya mengklaim dirinyalah yang benar, kemudian menggunakan segala cara untuk membungkam pihak lain. Meski demikian, mereka sendiri tidak bersatu dan saling bersengketa hingga terjadi pertumpahan darah. Misalnya, Front al-Nusra yang berafiliasi dengan kelompok teroris al-Qaeda bertempur di Suriah dengan Negara Islam Irak dan Syam (DIIS). Kedua kelompok takfiri ini terlibat baku tembak yang menyebabkan puluhan anggota kubu teroris ini tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. DIIS yang mendeklarasi khilafah Islam di Irak dan Suriah mengklaim kedua negara itu sebagai "Emirat Islam" yang menjadi bagian dari wilayah kekuasaannya. Sedangkan Front al-Nushra yang juga mengklaim mendirikan Khilafah di Suriah tidak menerima klaim DIIS. Meskipun mengklaim mengusung simbol Islam, tapi sejatinya kedua kelompok teroris ini sangat jauh dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri. Berbagai kejahatan yang dilakukan kedua kelompok teroris tersebut bersama faksi takfiri lainnya yang beroperasi di berbagai negara Muslim seperti Suriah menunjukkan bahwa mereka hanya menjadikan Islam sebagai kedok semata.

DIIS baru-baru ini mengeksekusi ratusan anggota kelompok bersenjata rivalnya sesama teroris dari kelompok lain. Alalam (14/1) melaporkan, anasir DIIS mengeksekusi Abu Saad al-Khadrami, bersama lebih dari 100 anggota kelompok Jabhah Islam. Kelompok-kelompok teroris di Suriah khususnya DIIS, Front al-Nusra dan Jabhah Islam, yang mendapat dukungan dari Arab Saudi dan Amerika Serikat terlibat bentrokan berdarah sejak 3 Januari 2014. Bentrokan dan pertempuran antar kelompok teroris itu dipicu oleh perebutan bantuan finansial dan persenjataan dari Barat. Kelompok-kelompok teroris di Suriah saling berusaha menyingkirkan rival mereka agar mendapat bantuan dana dan senjata  lebih banyak

DIIS yang kalah secara berturut-turut menghadapi pasukan militer Suriah memusatkan operasinya di provinsi al-Anbar, wilayah barat Irak. Sebagaimana yang mereka lakukan di Suriah, DIIS melancarkan berbagai aksi kekerasan di negeri kisah 1001 malam itu. Tapi aksi kelompok teroris ini menghadapi perlawanan dari pasukan militer dan rakyat Irak. Di sisi lain, sepak terjang kelompok teroris menyibak topeng yang selama ini disembunyikan Arab Saudi sebagai pendukung utamanya. Dengan terbongkarnya tujuan di balik gelombang aksi teror yang dilancarkan kelompok takfiri itu, muncul reaksi bersama dari berbagai kelompok agama dan masyarakat serta pemerintah di Suriah,Irak, Lebanon dan negara Islam lainnya menghadapi gelombang serangan kelompok-kelompok takfiri yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan Timur tengah dan Afrika Utara.

Pada saat yang sama, akhir tahun 2013, Majelis Umum PBB akhirnya mengesahkan resolusi usulan Presiden Iran Hassan Rohani untuk Dunia Menentang Kekerasan dan Ekstremisme (WAVE). Anggota Majelis Umum PBB pada hari Rabu (18/12) dengan suara bulat, menyetujui WAVE, yang menyerukan semua negara di dunia untuk mengecam kekerasan dan ekstremisme. Berdasarkan resolusi itu, PBB akan mendesak semua negara anggota untuk bersatu melawan kekerasan dan ekstremisme dalam berbagai bentuk dan kekerasan sektarian.

Resolusi itu diharapkan akan mendorong para pemimpin dunia untuk membahas penyebab ekstremisme dan diskriminasi serta mengembangkan strategi bersama untuk mengatasinya. Dokumen itu juga akan merekomendasikan promosi keterlibatan masyarakat dalam melawan ekstremisme dan kekerasan, termasuk dengan memperkuat hubungan antara masyarakat dan menekankan kepentingan bersama. Sebelumnya, pada tanggal 24 September, Presiden Iran menyerukan Dunia Menentang Kekerasan dan Ekstremisme dalam pidatonya pada sidang ke-68 Majelis Umum PBB di New York.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa gelombang takfiri dan kekerasan tidak akan bertahan lama, sebab tidak sesuai dengan fitrah manusia yang menghendaki keadilan dan perdamaian. Hidupnya gerakan takfiri hanya bertahan dengan pasokan finansial dan senjata dari sejumlah negara Arab dan Barat. Tanpa gelontoran dukungan tersebut, kelompok takfiri hanya menjadi gerakan lemah yang tidak memiliki akar yang kuat dalam masyarakat.

Sumber: IRIB
Artikel

Urat Nadi Takfiri dan Saudi

Aina Shafiqah  |  at  Minggu, Februari 02, 2014

GenSyiah - Peristiwa tragis yang menimpa Suriah, Irak dan Lebanon serta negara-negara Islam lainnya yang dilanda gelombang aksi ekstrimisme, kekerasan dan terorisme menunjukkan fenomena baru meningkatnya aksi takfiri di kawasan Barat dan barat daya Asia. Selama tiga tahun terakhir krisis Suriah menunjukkan bahwa kaum takfiri bukan pengusung Islam sejati, dan hanya menggunakan simbol-simbol agama suci ini sebagai kedok demi mencapai tujuan busuknya. Sebab ajaran Islam menjunjung tinggi keadilan, perdamaian dan menentang cara-cara kekerasan dan aksi terorisme sebagaimana yang ditampilkan secara brutal oleh kelompok-kelompok takfiri seperti Front al-Nusra, Negara Islam Irak dan Syam (DIIS) dan lainnya.
Pemerintah Arab Saudi sebagai pendukung utama gerakan takfiri internasional menghadapi jalan buntu atas kebijakannya menyebarluaskan friksi di kawasan dan kini terang-terangan menunjukkan dukungannya terhadap kelompok teroris. Berbagai gerakan takfiri internasional yang melancarkan aksi teror dan kekerasan di Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Afghanistan dan Pakistan mendapat dukungan langsung dari rezim Al-Saud.

Kepala intelijen Arab Saudi Pangeran Bandar bin Sultan selama ini menjadi dalang di balik merebaknya aksi terorisme di negara-negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Profesor James Petras menyebut Bandar menjadi dalang "Jaringan Teror Saudi" dengan memasuk keuangan, senjata dan pelatihan bagi kelompok takfiri internasional. "..data yang dikumpulkan mengenai asal usul kelompok-kelompok ini dan pembiayaannya, kami sampai pada kesimpulan bahwa Bandar Bin Sultan menjadi dalang dan pemodal utama dari operasi ini, " kata Profesor Binghamton University di New York. Bandar yang pernah menjabat sebagai duta besar Saudi untuk AS dikenal memiliki hubungan dekat dengan mantan Presiden AS George Bush, dan merupakan penganjur invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.

Gelontoran dana besar-besaran pemerintah Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok teroris takfiri yang tersebar di berbagai negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mungkin saja dalam jangka pendek bisa melanjutkan aksi kekerasan dan teroris itu. Tapi dalam jangka panjang kondisi tersebut tidak ada jaminannya akan bertahan lama. Gerakan takfiri yang menyebar ke berbagai negara dunia telah mencapai puncaknya.

Negara-negara Barat dan sekutunya di kawasan menciptakan krisis berdarah di Suriah dan  mendukung kelompok-kelompok takfiri demi mencapai berbagai tujuan. Tujuan pertama untuk menggulingkan pemerintahan Suriah dan mengeluarkan negara ini dari front terdepan melawan rezim Zionis Israel. Tujuan kedua memusatkan berbagai kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan kelompok takfiri lainnya di Suriah dalam satu koordinasi dengan target menggulingkan pemerintahan Assad. Namun alih-alih dua tujuan itu tercapai, kelompok-kelompok teroris takfiri itu saat ini telah menjadi ancaman bagi keamanan dan stabilitas kawasan Timur tengah dan Afrika Utara. Tujuan ketiga adalah menggunakan krisis Suriah sebagai cara untuk mengobarkan friksi mazhab dan persengketaan di tubuh umat Islam sendiri. Tapi secara bertahap konspirasi ini mulai terbongkar.   

Secara pemikiran antarkelompok teroris memiliki warna yang sama  sebagai gerakan takfiri yang mengafirkan kelompok lain dan hanya mengklaim dirinyalah yang benar, kemudian menggunakan segala cara untuk membungkam pihak lain. Meski demikian, mereka sendiri tidak bersatu dan saling bersengketa hingga terjadi pertumpahan darah. Misalnya, Front al-Nusra yang berafiliasi dengan kelompok teroris al-Qaeda bertempur di Suriah dengan Negara Islam Irak dan Syam (DIIS). Kedua kelompok takfiri ini terlibat baku tembak yang menyebabkan puluhan anggota kubu teroris ini tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. DIIS yang mendeklarasi khilafah Islam di Irak dan Suriah mengklaim kedua negara itu sebagai "Emirat Islam" yang menjadi bagian dari wilayah kekuasaannya. Sedangkan Front al-Nushra yang juga mengklaim mendirikan Khilafah di Suriah tidak menerima klaim DIIS. Meskipun mengklaim mengusung simbol Islam, tapi sejatinya kedua kelompok teroris ini sangat jauh dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri. Berbagai kejahatan yang dilakukan kedua kelompok teroris tersebut bersama faksi takfiri lainnya yang beroperasi di berbagai negara Muslim seperti Suriah menunjukkan bahwa mereka hanya menjadikan Islam sebagai kedok semata.

DIIS baru-baru ini mengeksekusi ratusan anggota kelompok bersenjata rivalnya sesama teroris dari kelompok lain. Alalam (14/1) melaporkan, anasir DIIS mengeksekusi Abu Saad al-Khadrami, bersama lebih dari 100 anggota kelompok Jabhah Islam. Kelompok-kelompok teroris di Suriah khususnya DIIS, Front al-Nusra dan Jabhah Islam, yang mendapat dukungan dari Arab Saudi dan Amerika Serikat terlibat bentrokan berdarah sejak 3 Januari 2014. Bentrokan dan pertempuran antar kelompok teroris itu dipicu oleh perebutan bantuan finansial dan persenjataan dari Barat. Kelompok-kelompok teroris di Suriah saling berusaha menyingkirkan rival mereka agar mendapat bantuan dana dan senjata  lebih banyak

DIIS yang kalah secara berturut-turut menghadapi pasukan militer Suriah memusatkan operasinya di provinsi al-Anbar, wilayah barat Irak. Sebagaimana yang mereka lakukan di Suriah, DIIS melancarkan berbagai aksi kekerasan di negeri kisah 1001 malam itu. Tapi aksi kelompok teroris ini menghadapi perlawanan dari pasukan militer dan rakyat Irak. Di sisi lain, sepak terjang kelompok teroris menyibak topeng yang selama ini disembunyikan Arab Saudi sebagai pendukung utamanya. Dengan terbongkarnya tujuan di balik gelombang aksi teror yang dilancarkan kelompok takfiri itu, muncul reaksi bersama dari berbagai kelompok agama dan masyarakat serta pemerintah di Suriah,Irak, Lebanon dan negara Islam lainnya menghadapi gelombang serangan kelompok-kelompok takfiri yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan Timur tengah dan Afrika Utara.

Pada saat yang sama, akhir tahun 2013, Majelis Umum PBB akhirnya mengesahkan resolusi usulan Presiden Iran Hassan Rohani untuk Dunia Menentang Kekerasan dan Ekstremisme (WAVE). Anggota Majelis Umum PBB pada hari Rabu (18/12) dengan suara bulat, menyetujui WAVE, yang menyerukan semua negara di dunia untuk mengecam kekerasan dan ekstremisme. Berdasarkan resolusi itu, PBB akan mendesak semua negara anggota untuk bersatu melawan kekerasan dan ekstremisme dalam berbagai bentuk dan kekerasan sektarian.

Resolusi itu diharapkan akan mendorong para pemimpin dunia untuk membahas penyebab ekstremisme dan diskriminasi serta mengembangkan strategi bersama untuk mengatasinya. Dokumen itu juga akan merekomendasikan promosi keterlibatan masyarakat dalam melawan ekstremisme dan kekerasan, termasuk dengan memperkuat hubungan antara masyarakat dan menekankan kepentingan bersama. Sebelumnya, pada tanggal 24 September, Presiden Iran menyerukan Dunia Menentang Kekerasan dan Ekstremisme dalam pidatonya pada sidang ke-68 Majelis Umum PBB di New York.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa gelombang takfiri dan kekerasan tidak akan bertahan lama, sebab tidak sesuai dengan fitrah manusia yang menghendaki keadilan dan perdamaian. Hidupnya gerakan takfiri hanya bertahan dengan pasokan finansial dan senjata dari sejumlah negara Arab dan Barat. Tanpa gelontoran dukungan tersebut, kelompok takfiri hanya menjadi gerakan lemah yang tidak memiliki akar yang kuat dalam masyarakat.

Sumber: IRIB

0 komentar:

Sabtu, 01 Februari 2014

Buku Hitam (Kiri) dan Buku Putih (Kanan).
GenSyiah - Majelis Ulama Indonesia (MUI) selalu cuci tangan jika terjadi kekerasan terhadap kelompok minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah. Sementara di sisi lain, MUI terus melakukan sosialisasi kesesatan kelompok Syiah.

Pendapat itu disampaikan aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi, menyikapi langkah MUI yang telah menerbitkan buku tentang kesesatan Syiah.

“MUI menerbitkan buku ttg Kesesatan Syiah. Lalu, buku dibedah di mana-mana, dijadikan lisensi untuk bubarkan Syiah di Indonesia. Jika nanti terjadi kekerasan terhadap kelompok minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah, MUI selalu cuci tangan #modus,” tegas Zuhairi melalui akun Twitter  ‏@zuhairimisrawi.

MUI Pusat memang telah menerbitkan buku yang berjudul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Buku Panduan MUI ini dibagikan gratis kepada jamaah masjid di seluruh Indonesia.

Di dalam buku itu dijelaskan, bahwa buku saku diterbitkan untuk menjadi pedoman umat Islam Indonesia dalam mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syi’ah, sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Tujuannya, agar umat Islam tidak terpengaruh oleh faham Syi’ah dan dapat terhindar dari bahaya yang akan mengganggu stabilitas dan keutuhan NKRI.

Selain itu disebutkan, buku panduan itu merupakan penjelasan teknis dan rinci dari remokendasi Rapat Kerja Nasional MUI pada Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984. Di mana, faham Syiah mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sehingga umat Islam harus meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya faham Syiah.

Sumber : Intelijen
Berita

Buku 'Kesesatan Syiah' MUI, Lisensi Bubarkan Syiah

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014

Buku Hitam (Kiri) dan Buku Putih (Kanan).
GenSyiah - Majelis Ulama Indonesia (MUI) selalu cuci tangan jika terjadi kekerasan terhadap kelompok minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah. Sementara di sisi lain, MUI terus melakukan sosialisasi kesesatan kelompok Syiah.

Pendapat itu disampaikan aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi, menyikapi langkah MUI yang telah menerbitkan buku tentang kesesatan Syiah.

“MUI menerbitkan buku ttg Kesesatan Syiah. Lalu, buku dibedah di mana-mana, dijadikan lisensi untuk bubarkan Syiah di Indonesia. Jika nanti terjadi kekerasan terhadap kelompok minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah, MUI selalu cuci tangan #modus,” tegas Zuhairi melalui akun Twitter  ‏@zuhairimisrawi.

MUI Pusat memang telah menerbitkan buku yang berjudul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia”. Buku Panduan MUI ini dibagikan gratis kepada jamaah masjid di seluruh Indonesia.

Di dalam buku itu dijelaskan, bahwa buku saku diterbitkan untuk menjadi pedoman umat Islam Indonesia dalam mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syi’ah, sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Tujuannya, agar umat Islam tidak terpengaruh oleh faham Syi’ah dan dapat terhindar dari bahaya yang akan mengganggu stabilitas dan keutuhan NKRI.

Selain itu disebutkan, buku panduan itu merupakan penjelasan teknis dan rinci dari remokendasi Rapat Kerja Nasional MUI pada Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984. Di mana, faham Syiah mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sehingga umat Islam harus meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya faham Syiah.

Sumber : Intelijen

0 komentar:

GenSyiah - Makin masifnya gerakan anti-Syiah di Indonesia menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones. Penasihat senior International Crisis Group (ICG) di Indonesia ini mengungkapkan bahwa jika hal ini terus dibiarkan, Muslim Syiah Indonesia bukan tak mungkin akan menjadi target baru terorisme.

Dalam wawancara dengan wartawan Media ABI, Sidney Jones menengarai konflik Suriah yang dipersepsi oleh kelompok teroris sebagai konflik Sunni-Syiah –meski sudah jelas Basshar sendiri bukan Syiah– bisa mengubah peta terorisme di Indonesia. “Saya khawatir konflik Suriah yang ditafsirkan di sini sebagai konflik Sunni-Syiah (oleh kelompok radikal). Bisa saja terjadi target Syiah akan naik dalam kalkulasi para teroris di Indonesia,” terang dia.

Hal lain yang juga dikhawatirkannya adalah upaya kelompok radikal mengirimkan warga Indonesia ke Suriah untuk membantu pemberontak di negara itu. “Ini artinya, akan ada generasi teroris yang akan kembali ke Indonesia. Mungkin seperti alumni Afghanistan dulu yang ternyata bisa mengubah pola terorisme di Indonesia.”

Lebih lanjut dia menambahkan, “Mereka akan bisa melakukan aksi yang jauh lebih dahsyat terhadap kelompok-kelompok ini (Syiah).”

“Pernah ada satu perencanaan aksi terorisme terhadap Syiah di Indonesia yang dipimpin oleh Abu Umar. Saat mereka ditangkap, mereka sudah membuat survei beberapa lembaga Syiah di Jakarta. Sejak saat itu muncul daftar 77 lembaga Syiah yang kemudian tersebar melalui facebook dan baru-baru ini dimuat di situs voaislam.com. Ini bisa mendorong kelompok-kelompok jihadi untuk menyerang Syiah,” tambahnya.

Saat ditanya mengapa tiba-tiba saja muncul fenomena propaganda masif kebencian terhadap Syiah ini, Sidney sendiri merasa heran. Ia mengaku sebelumnya tak pernah memikirkan bahwa Syiah akan menjadi target terorisme di Indonesia. “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira tidak dari rasa kebencian masyarakat Indonesia sendiri. Karena masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang sudah berabad-abad hidup rukun dan bertoleransi terhadap Syiah.”

Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

Artikel

Sidney Jones: Teroris Incar Syiah Indonesia

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014

GenSyiah - Makin masifnya gerakan anti-Syiah di Indonesia menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones. Penasihat senior International Crisis Group (ICG) di Indonesia ini mengungkapkan bahwa jika hal ini terus dibiarkan, Muslim Syiah Indonesia bukan tak mungkin akan menjadi target baru terorisme.

Dalam wawancara dengan wartawan Media ABI, Sidney Jones menengarai konflik Suriah yang dipersepsi oleh kelompok teroris sebagai konflik Sunni-Syiah –meski sudah jelas Basshar sendiri bukan Syiah– bisa mengubah peta terorisme di Indonesia. “Saya khawatir konflik Suriah yang ditafsirkan di sini sebagai konflik Sunni-Syiah (oleh kelompok radikal). Bisa saja terjadi target Syiah akan naik dalam kalkulasi para teroris di Indonesia,” terang dia.

Hal lain yang juga dikhawatirkannya adalah upaya kelompok radikal mengirimkan warga Indonesia ke Suriah untuk membantu pemberontak di negara itu. “Ini artinya, akan ada generasi teroris yang akan kembali ke Indonesia. Mungkin seperti alumni Afghanistan dulu yang ternyata bisa mengubah pola terorisme di Indonesia.”

Lebih lanjut dia menambahkan, “Mereka akan bisa melakukan aksi yang jauh lebih dahsyat terhadap kelompok-kelompok ini (Syiah).”

“Pernah ada satu perencanaan aksi terorisme terhadap Syiah di Indonesia yang dipimpin oleh Abu Umar. Saat mereka ditangkap, mereka sudah membuat survei beberapa lembaga Syiah di Jakarta. Sejak saat itu muncul daftar 77 lembaga Syiah yang kemudian tersebar melalui facebook dan baru-baru ini dimuat di situs voaislam.com. Ini bisa mendorong kelompok-kelompok jihadi untuk menyerang Syiah,” tambahnya.

Saat ditanya mengapa tiba-tiba saja muncul fenomena propaganda masif kebencian terhadap Syiah ini, Sidney sendiri merasa heran. Ia mengaku sebelumnya tak pernah memikirkan bahwa Syiah akan menjadi target terorisme di Indonesia. “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira tidak dari rasa kebencian masyarakat Indonesia sendiri. Karena masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang sudah berabad-abad hidup rukun dan bertoleransi terhadap Syiah.”

Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

0 komentar:

GenSyiah - Fakta menunjukkan bahwa komunitas Syiah ada di seluruh Dunia Islam, dan tak ada satu pun negara Islam yang memfatwakan Syiah sebagai mazhab sesat apalagi kafir dan di luar Islam.

Kaum Syiah tak pernah dianggap sebagai bukan bagian kaum Muslim sebagaimana terbukti dari keleluasaan mereka untuk melakukan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah. Para penganut Mazhab Syiah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam sebagaimana terbukti keikutsertaan mereka dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Rabithah Al-‘Alam Al-Islami, Organisasi Parlemen-Parlemen Dunia Islam (PUIC), Majma' Taqrib, Tajammu' Ulama' Al-Muslimin, dan yang paling terbaru adalah Deklarasi Makkah 14-15 Agustus 2012 dalam KTT Luar Biasa OKI di Kota Makkah Al Mukarrahmah.

Mazhab Islam Syiah telah dipertegas sebagai bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam dalam berbagai deklarasi ulama Muslim dunia, seperti Deklarasi Amman, Deklarasi Makkah, dan Fatwa Al- Azhar Al-Syarif.

Ulama Ahlus Sunnah dan syaikh-syaikh Al-Azhar, yaitu Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Muhammad Al- Ghazali, dan Syaikh Abu Zahrah, dan tak terhitung ulama besar Ahlus Sunnah lainnya, jelas-jelas menyatakan bahwa Syiah itu Islam dan saudara Ahlus Sunnah.

Kerajaan-kerajaan Islam Syiah, seperti Dinasti Fathimiyyah, Idrisiyyah, Buwahyi, bahkan kerajaan- kerajaan Islam Syiah di Nusantara, seperti Perlak turut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban Islam.1

Dinasti Syiah Fathimiyyah adalah pendiri Al-Azhar sebagai universitas Islam tertua dan terkemuka di Dunia Islam hingga kini.

Fakta menunjukkan bahwa Syiah telah ada sejak awal masuknya Islam di Indonesia. Hal ini telah diakui para sejarawan nasional dalam berbagai buku sejarah nasional Indonesia. Sejumlah tradisi Syiah, seperti tabut, tari saman, dan suro merupakan bagian integral dari budaya dan jati diri bangsa Indonesia.

Ada sejumlah pemikir Islam utama yang dipercaya sebagai penganut Mazhab Syiah dan diakui kredibilitas dan otoritas mereka di bidang masing-masing, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Abu Zakariya Al-Razi, Ikhwan Shafa, Al-Khawarizmi (astronom), Jabir ibn Hayyan (penemu Aljabar), Ath-Thusi (penggagas observatorium), dan Ibn Miskawayh.

Di pesantren-pesantren Indonesia, beberapa buku ulama Syiah, seperti Nayl Al-Awthar karya Al-Syau-kani, dan Subûl Al-Salam karya Al-Syaukani dan Al-Shan'ani juga diajarkan.

Demikian pula banyak ulama tafsir, fiqih, kalam, nahwu dan sharaf Syiah yang dirujuk oleh ulama Ahlus Sunnah dan sebaliknya. Juga, terdapat banyak rijal hadis Syiah yang dirujuk oleh muhaddits Ahlus Sunnah, dan sebaliknya. Dalam Syiah, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah disebut muwatstsaqah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Mîzân fî Al-Tafsir Al-Qur'ân karya Allamah Thabathaba'i.

Sumber : IRIB
Artikel

Buku Putih Mazhab Syiah: Fakta tentang Eksistensi Syiah

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014

GenSyiah - Fakta menunjukkan bahwa komunitas Syiah ada di seluruh Dunia Islam, dan tak ada satu pun negara Islam yang memfatwakan Syiah sebagai mazhab sesat apalagi kafir dan di luar Islam.

Kaum Syiah tak pernah dianggap sebagai bukan bagian kaum Muslim sebagaimana terbukti dari keleluasaan mereka untuk melakukan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah. Para penganut Mazhab Syiah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam sebagaimana terbukti keikutsertaan mereka dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Rabithah Al-‘Alam Al-Islami, Organisasi Parlemen-Parlemen Dunia Islam (PUIC), Majma' Taqrib, Tajammu' Ulama' Al-Muslimin, dan yang paling terbaru adalah Deklarasi Makkah 14-15 Agustus 2012 dalam KTT Luar Biasa OKI di Kota Makkah Al Mukarrahmah.

Mazhab Islam Syiah telah dipertegas sebagai bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam dalam berbagai deklarasi ulama Muslim dunia, seperti Deklarasi Amman, Deklarasi Makkah, dan Fatwa Al- Azhar Al-Syarif.

Ulama Ahlus Sunnah dan syaikh-syaikh Al-Azhar, yaitu Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Muhammad Al- Ghazali, dan Syaikh Abu Zahrah, dan tak terhitung ulama besar Ahlus Sunnah lainnya, jelas-jelas menyatakan bahwa Syiah itu Islam dan saudara Ahlus Sunnah.

Kerajaan-kerajaan Islam Syiah, seperti Dinasti Fathimiyyah, Idrisiyyah, Buwahyi, bahkan kerajaan- kerajaan Islam Syiah di Nusantara, seperti Perlak turut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban Islam.1

Dinasti Syiah Fathimiyyah adalah pendiri Al-Azhar sebagai universitas Islam tertua dan terkemuka di Dunia Islam hingga kini.

Fakta menunjukkan bahwa Syiah telah ada sejak awal masuknya Islam di Indonesia. Hal ini telah diakui para sejarawan nasional dalam berbagai buku sejarah nasional Indonesia. Sejumlah tradisi Syiah, seperti tabut, tari saman, dan suro merupakan bagian integral dari budaya dan jati diri bangsa Indonesia.

Ada sejumlah pemikir Islam utama yang dipercaya sebagai penganut Mazhab Syiah dan diakui kredibilitas dan otoritas mereka di bidang masing-masing, seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Abu Zakariya Al-Razi, Ikhwan Shafa, Al-Khawarizmi (astronom), Jabir ibn Hayyan (penemu Aljabar), Ath-Thusi (penggagas observatorium), dan Ibn Miskawayh.

Di pesantren-pesantren Indonesia, beberapa buku ulama Syiah, seperti Nayl Al-Awthar karya Al-Syau-kani, dan Subûl Al-Salam karya Al-Syaukani dan Al-Shan'ani juga diajarkan.

Demikian pula banyak ulama tafsir, fiqih, kalam, nahwu dan sharaf Syiah yang dirujuk oleh ulama Ahlus Sunnah dan sebaliknya. Juga, terdapat banyak rijal hadis Syiah yang dirujuk oleh muhaddits Ahlus Sunnah, dan sebaliknya. Dalam Syiah, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah disebut muwatstsaqah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Mîzân fî Al-Tafsir Al-Qur'ân karya Allamah Thabathaba'i.

Sumber : IRIB

0 komentar:

GenSyiah - Di tengah semaraknya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai tempat, sekelompok orang pada Selasa (14/1) di Masjid al-Muhajirin, Cilebut, Bogor, justru menyelenggarakan acara bedah buku yang beraroma kebencian. Buku yang dimaksud, dan diklaim sebagai Panduan MUI Pusat itu, berjudul "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia" (MMPSI), yang sejak November 2013 disebarkan dengan gencar secara gratis di berbagai masjid seraya ditopang publikasi lewat jejaring sosial.

Situs Liputan Islam (18/1) menurunkan liputan eksklusifnya mengenai "pengadilan in Absentia" terhadap Syiah bernama bedah buku "terbitan" MUI. Sebab tak satupun sumber dari Syiah sendiri dihadirkan dalam acara tersebut.

Membedah Buku, Tapi Ditutupi

Menurut jadwal, acara dimulai pada jam 09.00, tetapi molor sekitar satu jam. Dilihat dari jumlah pesertanya yang sekitar 150 orang, acara tersebut dapat dianggap sukses, meski hadirinnya cenderung homogen, terutama didominasi mereka yang beridentitas khas bercelana cingkrang dengan jenggot lebat. Panitia membagi-bagikan buku MMPSI secara gratis kepada mereka.

Tidak seperti lazimnya acara-acara bedah buku biasa, event ini bernuansa tegang. Sejak awal pembawa acara membacakan peraturan, di mana para peserta diminta tidak meliput, merekam, atau mengambil gambar sepanjang acara berlangsung. Kemudian, pada sesi tanya jawab, hanya dibolehkan menulis pertanyaan di kertas. "Bedah buku ini dimaksudkan untuk membina masyarakat, khususnya keluarga, agar selamat dari ajaran Syiah," ungkap Ustadz Trisugianto dalam kata sambutannya selaku Ketua DKM sekaligus mewakili Panitia.

***

Selanjutnya, para penceramah menyampaikan berbagai klaim yang tidak seimbang (karena pembicara dari pihak Syiah sama sekali tidak dihadirkan). Diskusi berjalan satu arah dan bersifat indoktrinasi. Ustadz Jazuli, Lc (narasumber di Radio Rodja), sebagai pembicara pertama dalam acara tersebut, menyatakan bahwa Syiah adalah golongan yang tidak selamat, membawa misi mensyiahkan seluruh dunia, selalu berpihak kepada kaum kafir (dengan mencontohkan kasus pembantaian di Suriah saat ini). Dia juga memberikan ulasan tentang Abdullah bin Saba, Al-Kulaini, Mirza Husein bin Muhammad, dan Imam Khomeini yang dilengkapi dengan sumpah serapah "Laknatullah" tatkala mengucapkan nama-nama tersebut.

Jazuli mengklaim bahwa orang Syiah ketika melihat perselisihan di antara kaum Muslim dan kaum kafir maka pastilah Syiah akan berpihak kepada orang kafir. Dia mencontohkan konflik Suriah, pemerintah Iran berpihak kepada kaum kafir. Dia menyebut nama Imam Khomeini dengan diikuti ucapan ‘laknat'. Selain itu, Jazuli menuduh perlawanan Iran terhadap Israel adalah sandiwara karena sesungguhnya –menurut Jazuli—Iran adalah mitra sejati musuh Islam, yaitu AS dan Israel.

Ustadz Irfan Hilmi, Lc (yang mengaku dari MUI Pusat), pembicara kedua, lebih banyak membahas isi buku MMPSI. Selain itu dia menyatakan bahwa ribuan santri Indonesia yang dikirim ke Iran kerjanya hanya makan, minum, dan tidur. Mereka tidak belajar, melainkan hanya dicuci otak. Sepulang dari sana, mereka menyebarkan paham Syiah dan akan menjadi bom waktu karena bermaksud mendirikan Negara Syiah (di Indonesia).

Irfan juga menginformasikan nama-nama tokoh, penerbit buku, dan lembaga-lembaga yang dituduhnya sebagai Syiah, dengan mencampuradukkan mana yang benar-benar Syiah, mana yang fitnah belaka. Antara lain, dia menyebut Rasil FM (Radio Silaturahmi) sebagai radio Syiah, padahal radio ini dikelola muslim Ahlussunnah wal Jamaah. Lalu, anggota MUI Dr. Kholid al Walid disebut Syiah hanya dengan alasan beliau pernah berkunjung ke Sampang (lokasi kaum Syiah yang menjadi korban pembakaran dan pengusiran di Madura).

***

Daur Ulang Isu

Isi pembicaraan para ustad dalam bedah buku itu sebenarnya daur ulang belaka dari berbagai tuduhan terhadap Syiah yang sebelumnya juga sudah sering mengemuka sejak tahun 1980-an (setelah kemenangan Revolusi Islam Iran). Bantahan atas tuduhan-tuduhan itu telah ditulis dan dipublikasikan secara meluas, misalnya seperti yang dilakukan oleh Dr. O. Hashem –cendekiawan yang dihormati oleh Mohammad Natsir, Gus Dur, dan Nurkholish Madjid. O. Hashem telah menerbitkan beberapa buku yang menjawab semua tudingan miring atau fitnah terhadap Syiah, seraya mengajak pihak-pihak yang menuduh untuk mendiskusikan bukunya itu. Secara khusus, O. Hashem menyampaikan ajakannya itu kepada pihak-pihak yang mengkafirkan Syiah dalam Seminar Nasional Sehari Tentang Syiah di Masjid Istiqlal pada 21 September 1997. Hanya saja, ajakan itu sama sekali tidak direspons

Demikian juga dengan ABI (Ahlul Bait Indonesia), salah satu ormas komunitas Syiah Indonesia. Lembaga ini juga sudah mengeluarkan Buku Putih yang menjelaskan dengan gamblang bagaimana sebenarnya ajaran Syiah, yang sama sekali berbeda dengan apa yang dituduhkan para pembicara bedah buku ini. ABI menyatakan bahwa buku ini bisa di-download secara gratis.

Risalah Amman, yang awalnya ditandatangani 200-an ulama tingkat dunia, bahkan termasuk Al Qaradhawi, Asy-Syahid Ramadhan Al Buthy, Dr. Din Syamsuddin, KH Hasyim Muzadi, juga menyatakan bahwa Syiah adalah mazhab yang diakui dalam Islam. Belakangan, penanda tangan Risalah Amman semakin banyak, hingga 552 ulama.

Para tokoh Islam Indonesia juga menyampaikan berbagai statemen yang intinya sama: pengakuan Syiah sebagai bagian dari Islam. Saat mengomentari fatwa Syiah sesat yang dirilis MUI Jatim,

Pimpinan PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan, "Atas dasar apa MUI Jatim mengeluarkan fatwa itu? Baik Sunni maupun Syiah adalah sama-sama Muslim karena masih berada di lingkaran syahadat. Menurut kami, yang mempercayai syahadat itu otomatis Islam, apa pun mazhabnya." (Kompas, 6/9/2012). Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan, "Di universitas Islam mana pun tidak ada yang menggap Syiah sesat." Said merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi yang dikenal sebagai pusat Wahabi yang keras. "Ulama Sunni seperti Ibnu Hazm menilai Syiah itu Islam," katanya (Tempo, 26/1/2012).

***

Buku Resmi MUI?

Terbitnya buku itu dengan mengatasnamakan MUI Pusat tentu saja patut dipertanyakan, mengingat pandangan MUI Pusat selama ini yang menjunjung tinggi persatuan Islam, dan mendukung pendekatan antar mazhab Sunni-Syiah (taqrib baynal madzahib). Hal ini bisa dilihat dari pandangan-pandangan yang disampaikan para pengurus teras MUI Pusat selama ini, seperti KH Sahal Mahfudz (Ketua Umum), Prof Dr Din Syamsuddin (Wakil Ketua), Prof Dr Umar Shihab (Ketua), dan tokoh-tokoh MUI Pusat lainnya yang berwawasan luas dan mendukung persatuan ummah.

Sementara itu, menurut seorang sumber Liputan Islam, secara informal KH Dr. M Hidayat, anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, pernah menyatakan bahwa tidak ada satu pun keputusan resmi dari MUI tentang fatwa yang tidak diketahuinya. Sehingga, aneh bila masyarakat menerima buku panduan MUI tentang Penyimpangan Syiah, sedangkan anggota DSN-MUI tidak pernah menerbitkannya. "MUI itu dananya terbatas. Tak mungkin bisa menyelenggarakan banyak acara ceramah sambil bagi-bagi buku gratis," kata KH Dr. M Hidayat. Ia menambahkan, bila ada paham sesat, MUI menerbitkan fatwa yang hanya terdiri dari 2 hingga 3 halaman.

Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA, ( Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan) sebagaimana dikutip lppimakassar.net, juga menyatakan bahwa MMPSI bukan terbitan resmi MUI. Beliau menyatakan, "Jika benar buku itu resmi terbitan MUI Pusat, mestinya di buku itu ada surat resmi, kop surat, dan stempel MUI Pusat. Demikian juga, jika benar resmi, mestinya juga ditandatangani Ketua MUI Pusat sekarang."

Selain itu, bila dicek daftar buku terbitan MUI di situs resmi MUI, buku MMPSI sama sekali tidak ada dalam daftar.

***

Benang Merah Gerakan Takfiriah Al Qaida

Fakta ini seharusnya membuat kita lebih kritis lagi. Siapa yang mendanai penerbitan buku-buku dan aneka propaganda pemecah-belahan kaum muslimin di Indonesia? Bila ditelisik, ormas-ormas radikal takfiri di Indonesia adalah ormas-ormas yang juga sangat getol mendukung jihad ke Suriah dan dalam berbagai aksi demonya selalu membawa bendera hitam khas Al Qaida.

Jamaah Anshorut-Tauhid (JAT), misalnya. Organisasi bentukan Abu Bakar Baasyir ini adalah salah satu ormas yang aktif menggalang demo pembubaran peringatan Asyura bulan November 2013 lalu.

JAT sebut teroris Ciputat ‘syuhada'

Beberapa anggota JAT telah ditangkap, atau tewas ditembak mati Densus 88 atas tuduhan terorisme. Sebagaimana dilaporkan dalam hasil investigasi jurnalis Associated Press, orang-orang Indonesia yang berjihad ke Suriah ternyata sebagiannya alumnus Pesantren Ngruki, yang juga didirikan Abu Bakar Baasyir. Abu Bakar Baasyir pun dari penjara menyerukan untuk jihad ke Suriah.

Sementara itu, tahun lalu Kepala Intelijen Arab Saudi, Bandar bin Sultan, telah mengancam Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa bila Putin tidak berhenti mendukung Suriah, maka Bandar akan menggerakkan kelompok radikal Chechnya. Dan benar saja, tak lama setelah itu terjadi berbagai aksi bom bunuh diri yang dilakukan jihadis Chechnya di Rusia.

Liputan Islam menemukan info bahwa pada bulan November 2013, Bandar bin Sultan juga datang ke Indonesia. Kedatangan ini luput diberitakan media massa Indonesia. Segera setelah itu, upaya pembubaran acara Asyuro yang dilakukan ormas-ormas takfiri di seluruh Indonesia berlangsung sangat masif; yang tidak pernah terjadi sebelumnya, mengingat acara Asyuro sudah belasan, bahkan puluhan tahun di Indonesia secara aman. Tentunya, fenomena yang tak mungkin terjadi bila tidak ada dana besar yang digelontorkan entah oleh siapa.

Dalam operasi penangkapan teroris Ciputat, pada malam tahun baru 2014, Densus 88 menemukan buku MMPSI. Densus 88 juga menangkap teroris lainnya, Sadullah Rojak pada Rabu 1 Januari 2014, di Desa Pasirlaja, Bogor. Saat itu, buku MMPSI juga ditemukan. Tak tanggung-tanggung jumlahnya, ada 310 eksemplar terbungkus rapi dalam dua kardus.

Fakta-fakta ini menunjukkan benang merah antara sikap ormas takfiri Indonesia dengan kasus Suriah, dan keterlibatan negara asing.

Pada akhirnya, perang di Suriah, di mana sesama muslim saling bantai dengan membawa-bawa nama jihad, sangatlah menguntungkan Israel. Suriah, salah satu musuh utama Israel, kini sibuk melawan ribuan milisi yang datang dari berbagai penjuru dunia yang merasa sedang berjihad.

Apakah Indonesia juga mau dihasut untuk saling benci, dan kemudian saling bunuh, dengan alasan yang sama: pengkafiran sesama muslim? MUI, seharusnya memberikan jawaban tegas atas pertanyaan ini.

Sumber : Liputan Islam
Artikel

'Pengadilan In Absentia' Bernama Bedah Buku Anti-Syiah

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014

GenSyiah - Di tengah semaraknya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai tempat, sekelompok orang pada Selasa (14/1) di Masjid al-Muhajirin, Cilebut, Bogor, justru menyelenggarakan acara bedah buku yang beraroma kebencian. Buku yang dimaksud, dan diklaim sebagai Panduan MUI Pusat itu, berjudul "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia" (MMPSI), yang sejak November 2013 disebarkan dengan gencar secara gratis di berbagai masjid seraya ditopang publikasi lewat jejaring sosial.

Situs Liputan Islam (18/1) menurunkan liputan eksklusifnya mengenai "pengadilan in Absentia" terhadap Syiah bernama bedah buku "terbitan" MUI. Sebab tak satupun sumber dari Syiah sendiri dihadirkan dalam acara tersebut.

Membedah Buku, Tapi Ditutupi

Menurut jadwal, acara dimulai pada jam 09.00, tetapi molor sekitar satu jam. Dilihat dari jumlah pesertanya yang sekitar 150 orang, acara tersebut dapat dianggap sukses, meski hadirinnya cenderung homogen, terutama didominasi mereka yang beridentitas khas bercelana cingkrang dengan jenggot lebat. Panitia membagi-bagikan buku MMPSI secara gratis kepada mereka.

Tidak seperti lazimnya acara-acara bedah buku biasa, event ini bernuansa tegang. Sejak awal pembawa acara membacakan peraturan, di mana para peserta diminta tidak meliput, merekam, atau mengambil gambar sepanjang acara berlangsung. Kemudian, pada sesi tanya jawab, hanya dibolehkan menulis pertanyaan di kertas. "Bedah buku ini dimaksudkan untuk membina masyarakat, khususnya keluarga, agar selamat dari ajaran Syiah," ungkap Ustadz Trisugianto dalam kata sambutannya selaku Ketua DKM sekaligus mewakili Panitia.

***

Selanjutnya, para penceramah menyampaikan berbagai klaim yang tidak seimbang (karena pembicara dari pihak Syiah sama sekali tidak dihadirkan). Diskusi berjalan satu arah dan bersifat indoktrinasi. Ustadz Jazuli, Lc (narasumber di Radio Rodja), sebagai pembicara pertama dalam acara tersebut, menyatakan bahwa Syiah adalah golongan yang tidak selamat, membawa misi mensyiahkan seluruh dunia, selalu berpihak kepada kaum kafir (dengan mencontohkan kasus pembantaian di Suriah saat ini). Dia juga memberikan ulasan tentang Abdullah bin Saba, Al-Kulaini, Mirza Husein bin Muhammad, dan Imam Khomeini yang dilengkapi dengan sumpah serapah "Laknatullah" tatkala mengucapkan nama-nama tersebut.

Jazuli mengklaim bahwa orang Syiah ketika melihat perselisihan di antara kaum Muslim dan kaum kafir maka pastilah Syiah akan berpihak kepada orang kafir. Dia mencontohkan konflik Suriah, pemerintah Iran berpihak kepada kaum kafir. Dia menyebut nama Imam Khomeini dengan diikuti ucapan ‘laknat'. Selain itu, Jazuli menuduh perlawanan Iran terhadap Israel adalah sandiwara karena sesungguhnya –menurut Jazuli—Iran adalah mitra sejati musuh Islam, yaitu AS dan Israel.

Ustadz Irfan Hilmi, Lc (yang mengaku dari MUI Pusat), pembicara kedua, lebih banyak membahas isi buku MMPSI. Selain itu dia menyatakan bahwa ribuan santri Indonesia yang dikirim ke Iran kerjanya hanya makan, minum, dan tidur. Mereka tidak belajar, melainkan hanya dicuci otak. Sepulang dari sana, mereka menyebarkan paham Syiah dan akan menjadi bom waktu karena bermaksud mendirikan Negara Syiah (di Indonesia).

Irfan juga menginformasikan nama-nama tokoh, penerbit buku, dan lembaga-lembaga yang dituduhnya sebagai Syiah, dengan mencampuradukkan mana yang benar-benar Syiah, mana yang fitnah belaka. Antara lain, dia menyebut Rasil FM (Radio Silaturahmi) sebagai radio Syiah, padahal radio ini dikelola muslim Ahlussunnah wal Jamaah. Lalu, anggota MUI Dr. Kholid al Walid disebut Syiah hanya dengan alasan beliau pernah berkunjung ke Sampang (lokasi kaum Syiah yang menjadi korban pembakaran dan pengusiran di Madura).

***

Daur Ulang Isu

Isi pembicaraan para ustad dalam bedah buku itu sebenarnya daur ulang belaka dari berbagai tuduhan terhadap Syiah yang sebelumnya juga sudah sering mengemuka sejak tahun 1980-an (setelah kemenangan Revolusi Islam Iran). Bantahan atas tuduhan-tuduhan itu telah ditulis dan dipublikasikan secara meluas, misalnya seperti yang dilakukan oleh Dr. O. Hashem –cendekiawan yang dihormati oleh Mohammad Natsir, Gus Dur, dan Nurkholish Madjid. O. Hashem telah menerbitkan beberapa buku yang menjawab semua tudingan miring atau fitnah terhadap Syiah, seraya mengajak pihak-pihak yang menuduh untuk mendiskusikan bukunya itu. Secara khusus, O. Hashem menyampaikan ajakannya itu kepada pihak-pihak yang mengkafirkan Syiah dalam Seminar Nasional Sehari Tentang Syiah di Masjid Istiqlal pada 21 September 1997. Hanya saja, ajakan itu sama sekali tidak direspons

Demikian juga dengan ABI (Ahlul Bait Indonesia), salah satu ormas komunitas Syiah Indonesia. Lembaga ini juga sudah mengeluarkan Buku Putih yang menjelaskan dengan gamblang bagaimana sebenarnya ajaran Syiah, yang sama sekali berbeda dengan apa yang dituduhkan para pembicara bedah buku ini. ABI menyatakan bahwa buku ini bisa di-download secara gratis.

Risalah Amman, yang awalnya ditandatangani 200-an ulama tingkat dunia, bahkan termasuk Al Qaradhawi, Asy-Syahid Ramadhan Al Buthy, Dr. Din Syamsuddin, KH Hasyim Muzadi, juga menyatakan bahwa Syiah adalah mazhab yang diakui dalam Islam. Belakangan, penanda tangan Risalah Amman semakin banyak, hingga 552 ulama.

Para tokoh Islam Indonesia juga menyampaikan berbagai statemen yang intinya sama: pengakuan Syiah sebagai bagian dari Islam. Saat mengomentari fatwa Syiah sesat yang dirilis MUI Jatim,

Pimpinan PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan, "Atas dasar apa MUI Jatim mengeluarkan fatwa itu? Baik Sunni maupun Syiah adalah sama-sama Muslim karena masih berada di lingkaran syahadat. Menurut kami, yang mempercayai syahadat itu otomatis Islam, apa pun mazhabnya." (Kompas, 6/9/2012). Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan, "Di universitas Islam mana pun tidak ada yang menggap Syiah sesat." Said merujuk pada kurikulum pendidikan pada almamaternya Universitas Umm Al Quro di Arab Saudi yang dikenal sebagai pusat Wahabi yang keras. "Ulama Sunni seperti Ibnu Hazm menilai Syiah itu Islam," katanya (Tempo, 26/1/2012).

***

Buku Resmi MUI?

Terbitnya buku itu dengan mengatasnamakan MUI Pusat tentu saja patut dipertanyakan, mengingat pandangan MUI Pusat selama ini yang menjunjung tinggi persatuan Islam, dan mendukung pendekatan antar mazhab Sunni-Syiah (taqrib baynal madzahib). Hal ini bisa dilihat dari pandangan-pandangan yang disampaikan para pengurus teras MUI Pusat selama ini, seperti KH Sahal Mahfudz (Ketua Umum), Prof Dr Din Syamsuddin (Wakil Ketua), Prof Dr Umar Shihab (Ketua), dan tokoh-tokoh MUI Pusat lainnya yang berwawasan luas dan mendukung persatuan ummah.

Sementara itu, menurut seorang sumber Liputan Islam, secara informal KH Dr. M Hidayat, anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, pernah menyatakan bahwa tidak ada satu pun keputusan resmi dari MUI tentang fatwa yang tidak diketahuinya. Sehingga, aneh bila masyarakat menerima buku panduan MUI tentang Penyimpangan Syiah, sedangkan anggota DSN-MUI tidak pernah menerbitkannya. "MUI itu dananya terbatas. Tak mungkin bisa menyelenggarakan banyak acara ceramah sambil bagi-bagi buku gratis," kata KH Dr. M Hidayat. Ia menambahkan, bila ada paham sesat, MUI menerbitkan fatwa yang hanya terdiri dari 2 hingga 3 halaman.

Prof. Dr. H. Rahim Yunus, MA, ( Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan) sebagaimana dikutip lppimakassar.net, juga menyatakan bahwa MMPSI bukan terbitan resmi MUI. Beliau menyatakan, "Jika benar buku itu resmi terbitan MUI Pusat, mestinya di buku itu ada surat resmi, kop surat, dan stempel MUI Pusat. Demikian juga, jika benar resmi, mestinya juga ditandatangani Ketua MUI Pusat sekarang."

Selain itu, bila dicek daftar buku terbitan MUI di situs resmi MUI, buku MMPSI sama sekali tidak ada dalam daftar.

***

Benang Merah Gerakan Takfiriah Al Qaida

Fakta ini seharusnya membuat kita lebih kritis lagi. Siapa yang mendanai penerbitan buku-buku dan aneka propaganda pemecah-belahan kaum muslimin di Indonesia? Bila ditelisik, ormas-ormas radikal takfiri di Indonesia adalah ormas-ormas yang juga sangat getol mendukung jihad ke Suriah dan dalam berbagai aksi demonya selalu membawa bendera hitam khas Al Qaida.

Jamaah Anshorut-Tauhid (JAT), misalnya. Organisasi bentukan Abu Bakar Baasyir ini adalah salah satu ormas yang aktif menggalang demo pembubaran peringatan Asyura bulan November 2013 lalu.

JAT sebut teroris Ciputat ‘syuhada'

Beberapa anggota JAT telah ditangkap, atau tewas ditembak mati Densus 88 atas tuduhan terorisme. Sebagaimana dilaporkan dalam hasil investigasi jurnalis Associated Press, orang-orang Indonesia yang berjihad ke Suriah ternyata sebagiannya alumnus Pesantren Ngruki, yang juga didirikan Abu Bakar Baasyir. Abu Bakar Baasyir pun dari penjara menyerukan untuk jihad ke Suriah.

Sementara itu, tahun lalu Kepala Intelijen Arab Saudi, Bandar bin Sultan, telah mengancam Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa bila Putin tidak berhenti mendukung Suriah, maka Bandar akan menggerakkan kelompok radikal Chechnya. Dan benar saja, tak lama setelah itu terjadi berbagai aksi bom bunuh diri yang dilakukan jihadis Chechnya di Rusia.

Liputan Islam menemukan info bahwa pada bulan November 2013, Bandar bin Sultan juga datang ke Indonesia. Kedatangan ini luput diberitakan media massa Indonesia. Segera setelah itu, upaya pembubaran acara Asyuro yang dilakukan ormas-ormas takfiri di seluruh Indonesia berlangsung sangat masif; yang tidak pernah terjadi sebelumnya, mengingat acara Asyuro sudah belasan, bahkan puluhan tahun di Indonesia secara aman. Tentunya, fenomena yang tak mungkin terjadi bila tidak ada dana besar yang digelontorkan entah oleh siapa.

Dalam operasi penangkapan teroris Ciputat, pada malam tahun baru 2014, Densus 88 menemukan buku MMPSI. Densus 88 juga menangkap teroris lainnya, Sadullah Rojak pada Rabu 1 Januari 2014, di Desa Pasirlaja, Bogor. Saat itu, buku MMPSI juga ditemukan. Tak tanggung-tanggung jumlahnya, ada 310 eksemplar terbungkus rapi dalam dua kardus.

Fakta-fakta ini menunjukkan benang merah antara sikap ormas takfiri Indonesia dengan kasus Suriah, dan keterlibatan negara asing.

Pada akhirnya, perang di Suriah, di mana sesama muslim saling bantai dengan membawa-bawa nama jihad, sangatlah menguntungkan Israel. Suriah, salah satu musuh utama Israel, kini sibuk melawan ribuan milisi yang datang dari berbagai penjuru dunia yang merasa sedang berjihad.

Apakah Indonesia juga mau dihasut untuk saling benci, dan kemudian saling bunuh, dengan alasan yang sama: pengkafiran sesama muslim? MUI, seharusnya memberikan jawaban tegas atas pertanyaan ini.

Sumber : Liputan Islam

1 komentar:

GenSyiah - Pemerintah Arab Saudi telah memvonis seorang warga Muslim Syiah hingga belasan tahun penjara dan 70 cambukan karena memprotes kebijakan pemerintah.

Menurut surat kabar Saudi, sebuah pengadilan di Riyadh, ibukota Saudi pada Jumat (31/1) memvonis seorang pria hingga 15 tahun penjara karena menuntut penarikan pasukan pemerintah dari Bahrain.

Pria, yang nama dan usianya tidak disebutkan itu, juga dilarang keluar dari Saudi selama 10 tahun setelah pembebasannya. Namun iamemiliki hak untuk mengajukan bandingatas putusan tersebut.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab pada tanggal 14 Maret 2011 mengirim pasukan ke Bahrain untuk membantu rezim Al Khalifa menumpas para demonstran damai.

Menurut para aktivis,lebih dari 30.000 tahanan politik saat ini mendekam di berbagai penjara di kerajaan Saudi.

Amnesty International pada Oktober 2013mengecam pemerintah Saudi karena tidak bersedia menangani situasi HAM yang mengerikan di negara itu.

Kelompok HAM internasional tersebut juga menyerahkan laporan kepada PBB tentang pelanggaran HAM di Saudi, termasuk informasi mengenai gelombang baru penindasan terhadap warga sipil yang telah terjadi selama dua tahun terakhir.

Sumber : IRIB
Berita

Karena Protes Pemerintah, Warga Syiah Saudi Ini Divonis 15 Tahun Penjara

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014

GenSyiah - Pemerintah Arab Saudi telah memvonis seorang warga Muslim Syiah hingga belasan tahun penjara dan 70 cambukan karena memprotes kebijakan pemerintah.

Menurut surat kabar Saudi, sebuah pengadilan di Riyadh, ibukota Saudi pada Jumat (31/1) memvonis seorang pria hingga 15 tahun penjara karena menuntut penarikan pasukan pemerintah dari Bahrain.

Pria, yang nama dan usianya tidak disebutkan itu, juga dilarang keluar dari Saudi selama 10 tahun setelah pembebasannya. Namun iamemiliki hak untuk mengajukan bandingatas putusan tersebut.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab pada tanggal 14 Maret 2011 mengirim pasukan ke Bahrain untuk membantu rezim Al Khalifa menumpas para demonstran damai.

Menurut para aktivis,lebih dari 30.000 tahanan politik saat ini mendekam di berbagai penjara di kerajaan Saudi.

Amnesty International pada Oktober 2013mengecam pemerintah Saudi karena tidak bersedia menangani situasi HAM yang mengerikan di negara itu.

Kelompok HAM internasional tersebut juga menyerahkan laporan kepada PBB tentang pelanggaran HAM di Saudi, termasuk informasi mengenai gelombang baru penindasan terhadap warga sipil yang telah terjadi selama dua tahun terakhir.

Sumber : IRIB

0 komentar:

GenSyiah - Janji Presiden SBY terhadap sepuluh "pegowes" (pengayuh sepeda) yang merupakan pengungsi dari Muslim Syiah Sampang, Madura, Jatim belum terwujud.

Makanya, dalam sisa waktu pemerintahan, sepatutnya SBY memenuhi janji-janji terhadap kelompok 'pegowes' yang mewakili pengungsi tersebut.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Bidang Pengaduan Masyarakat Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Eva Kusuma Sundari ketika dihubungi wartawan, Jumat malam (31/1).

"SBY harus memenuhi janjinya," tegasnya.

Pada pertengahan tahun 2013, sebanyak 10 pegowes yang mewakili pengungsi Syiah Sampang bersepeda selama 16 hari dari Surabaya ke Jakarta guna bertemu Presiden SBY.

Mereka pun berhasil bertemu dengan Presiden di kediaman SBY di Cikeas, Minggu (14/7/2013) pukul 21.00 WIB.

Dalam pertemuan selama 45 menit tersebut, menurut isi surat dari perwakilan pengungsi itu, SBY berjanji akan ke Jawa Timur. SBY juga mengatakan, semua rumah pengungsi Syiah akan dibangun kembali sebelum akhir tahun. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada buktinya.

"Kalau ingat kembali dari kata-kata Pak SBY sungguh sangat positif, apalagi Pak SBY sempat mengeluarkan air mata. Kami langsung berharap kepada Pak SBY karena siapa lagi yang bisa menyelesaikan masalah ini," sambungnya.

Eva yang juga anggota Komisi III (Bidang Keamanan, Hukum, dan Hak Asasi Manusia) menekankan, sebaiknya Presiden membentuk satuan tugas (satgas) dari Istana untuk menangani kelompok korban, termasuk yang di transito Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sudah tujuh tahun mengungsi, hidup seperti di negara perang.

"Atau, kalau memang tidak niat membereskan, ya, pamitan dan minta maaf kepada mereka. Sehingga mereka mempunyai ekspektasi yang realistik. Jangan menggantung nasib rakyat sendiri," kata calon tetap anggota DPR RI periode 2014--2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI itu.

Sumber : Aktual
Berita

SBY Harus Penuhi Janji Kepada Pengungsi Syiah

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014

GenSyiah - Janji Presiden SBY terhadap sepuluh "pegowes" (pengayuh sepeda) yang merupakan pengungsi dari Muslim Syiah Sampang, Madura, Jatim belum terwujud.

Makanya, dalam sisa waktu pemerintahan, sepatutnya SBY memenuhi janji-janji terhadap kelompok 'pegowes' yang mewakili pengungsi tersebut.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Bidang Pengaduan Masyarakat Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Eva Kusuma Sundari ketika dihubungi wartawan, Jumat malam (31/1).

"SBY harus memenuhi janjinya," tegasnya.

Pada pertengahan tahun 2013, sebanyak 10 pegowes yang mewakili pengungsi Syiah Sampang bersepeda selama 16 hari dari Surabaya ke Jakarta guna bertemu Presiden SBY.

Mereka pun berhasil bertemu dengan Presiden di kediaman SBY di Cikeas, Minggu (14/7/2013) pukul 21.00 WIB.

Dalam pertemuan selama 45 menit tersebut, menurut isi surat dari perwakilan pengungsi itu, SBY berjanji akan ke Jawa Timur. SBY juga mengatakan, semua rumah pengungsi Syiah akan dibangun kembali sebelum akhir tahun. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada buktinya.

"Kalau ingat kembali dari kata-kata Pak SBY sungguh sangat positif, apalagi Pak SBY sempat mengeluarkan air mata. Kami langsung berharap kepada Pak SBY karena siapa lagi yang bisa menyelesaikan masalah ini," sambungnya.

Eva yang juga anggota Komisi III (Bidang Keamanan, Hukum, dan Hak Asasi Manusia) menekankan, sebaiknya Presiden membentuk satuan tugas (satgas) dari Istana untuk menangani kelompok korban, termasuk yang di transito Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sudah tujuh tahun mengungsi, hidup seperti di negara perang.

"Atau, kalau memang tidak niat membereskan, ya, pamitan dan minta maaf kepada mereka. Sehingga mereka mempunyai ekspektasi yang realistik. Jangan menggantung nasib rakyat sendiri," kata calon tetap anggota DPR RI periode 2014--2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI itu.

Sumber : Aktual

0 komentar:


GenSyiah - “Hanya keledai yang akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.”

Ungkapan ini tak hanya sangat masyhur dan begitu akrab di telinga kita semua, namun lebih dari itu mampu memberi kita pelajaran dan penyadaran berharga tentang betapa naifnya kita manusia–yang bukan keledai–bila harus berulangkali jatuh di “lubang yang sama” itu. Karena itulah kepada kita dipesankan beragam tips jitu agar tak terjatuh pada lubang yang sama meski hanya dua kali, salah satunya dengan cara berupaya seserius mungkin mempelajari sejarah.

Begitu pun halnya perjalanan panjang bangsa kita yang besar ini sejak sebelum dan sesudah merdeka. Entah sudah berapa banyak kisah tertoreh dalam lembaran hari demi hari Republik Indonesia kita, tak terkecuali sejarah kelam kejamnya penjajahan dan bagaimana pahit getirnya upaya mempertahankan keutuhan NKRI karena berulangkali telah dikoyak sejumlah aksi pemberontakan.

Dalam masa-masa kelam itu, tercatat ada beberapa upaya pemberontakan rakyat atas pemerintah dan negara. Sebut saja Pemberontakan DI/TII, yang sering sekali disebut para guru sejarah kita semenjak kita masih duduk di bangku SD. Berikutnya ada Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), lalu Pemberontakan G30s/PKI, Republik Maluku Selatan (RMS), Pemberontakan Permesta dan masih banyak lagi yang lainnya.

Maka, agar tidak terjatuh pada lubang yang sama dua kali, kita wajib belajar dari sejarah pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Hal ini sangat perlu dilakukan setidaknya untuk mendeteksi, siapa sih sesungguhnya yang sesuai faktanya benar-benar mengancam NKRI?

Akhir-akhir ini, baik di dunai maya (situs internet) berupa artikel dan berita propaganda, maupun di dunia nyata, saat ratusan bahkan ribuan seminar digelar serentak dan beruntun di seluruh kota besar di negeri kita. Agenda kegiatan berbungkus seminar namun sejatinya berisi hujatan, ujaran kebencian dan penghunjaman stigma ke benak publik agar di antara kita mulai saling curiga satu sama lain, lalu saling benci, saling tuding karena merasa paling benar sendiri, dan pada akhirnya ukhuwah tak lagi kokoh terjaga, toleransi dan saling menghargai tak lagi dianggap berharga. Propaganda dan ‘seminar’ yang digagas sekelompok orang maupun golongan tertentu dengan mengangkat tema seragam minimal senada: “Syiah, Ancaman Bagi NKRI” sebagai isu besar yang seakan-akan benar dan nyata adanya.

Padahal jika kita lihat dan cermati dari sejarah pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia, tidak ada dalam sejarah Republik ini sejak berdirinya hingga saat ini, tercatat ada pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan/kelompok Syiah.

Dr. Rumadi, MA, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Direktur Program The Wahid Institute menegaskan bahwa dilihat dari sejarah pemberontakan terhadap Republik Indonesia, memang belum pernah ada pemberontakan yang dilakukan oleh Syiah baik secara kelompok ataupun secara perorangan (yang mungkin bergabung dengan kelompok pemberontak tertentu) di Republik Indonesia ini.

“Isu seperti itu sebenarnya hanya sekedar bluffing saja ya, orang yang mengatakan Syiah sebagai ancaman bagi NKRI itu secara historis memang mustahil bisa membuktikan,” ujar Dr. Rumadi saat diminta tanggapan tim media Ahlulbait Indonesia via telepon perihal maraknya penyebaran isu Syiah mengancam NKRI.

Lebih jauh Dr. Rumadi menegaskan bahwa saat ini, ada beberapa organisasi yang secara terbuka melakukan ancaman terhadap NKRI, yang di antaranya ingin mendirikan Negara Islam atau Khilafah dan sebagainya, tapi entah kenapa justru tidak disebut sebagai ancaman terhadap NKRI. Inikah salah satu bukti bahwa bangsa kita mudah terpengaruh kamuflase dan propaganda?

Sementara itu, sejarahwan Anhar Gonggong, terkait sejarah pemberontakan yang mengancam NKRI, ternyata satu suara dengan Dr. Rumadi. Anhar menegaskan bahwa tidak ada dalam sejarah Indonesia, Syiah melakukan gerakan pemberontakan terhadap NKRI. Menurutnya, itu tidak pernah terjadi. Ahli sejarah terkemuka ini pun menjelaskan bahwa Kartosuwiryo, Kaharmuzakar maupun Ibnu Hajar yang pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI, mereka semua bukanlah orang Syiah.

Anhar Gonggong kemudian menjelaskan bahwa dalam sebuah pemberontakan terdapat dua hal yang harus dipenuhi. Pertama adalah ideologi yang dimiliki dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat dan yang kedua adalah memiliki kekuatan fisik. Jika dilihat dari kedua hal tersebut, menurut Anhar, kelompok Syiah itu sama sekali tak memiliki keduanya.

Tapi bagaimana tanggapan Anhar saat mendengar begitu marak dan masifnya penyebaran isu Syiah sebagai ancaman bagi NKRI? “Kartosuwiryo, Kaharmuzakar yang memiliki kekuatan besar saja gagal untuk memberontak, apalagi Syiah? Bunuh diri bila Syiah melakukan itu!” tegasnya dengan nada heran saat wawancara via telepon dengan tim media Ahlulbait Indonesia.

“Orang yang mengatakan bahwa Syiah mengancam NKRI itu, bahasa kasarnya adalah ngawur,” tegas Anhar.

Sementara itu, ketua umum DPP Ormas Islam Ahlubait Indonesia Hasan Daliel saat diwawancarai di kantornya terkait berkembangnya isu Syiah sebagai ancaman bagi NKRI justru menegaskan, “Bagi Syiah Indonesia, NKRI adalah harga mati!”

Hasan kemudian menjelaskan bahwa Imamah yang mungkin dikhawatirkan oleh sebagian orang sebagai anti Pancasila adalah tidak benar. Imamah dipahami Syiah tidaklah sama dengan Imamah yang ada di tempat lain yang ingin mengganti NKRI dengan kekhalifahan, Khilafah, Imarah, Daulah, atau apapun saja sebutan lainnya. Imamah yang dipahami oleh Syiah indonesia adalah hubungan spiritual dengan seorang Marja’ atau Fukaha, seperti halnya hubungan spiritual kaum Katolik dengan pemimpin mereka di Vatikan.

“Kami dari Ormas Islam Ahlulbait Indonesia menyatakan dengan tegas bahwa yang paling berharga bagi kami di negeri ini adalah darah suci para pahlawan yang telah memerdekakan negeri ini,” ujar Hasan Daliel kembali menegaskan bahwa Syiah Indonesia akan selalu setia kepada Pancasila dan NKRI.

“Bahkan pemimpin spiritual kami selalu menasihati agar kami berbakti, di manapun kami dilahirkan. Menurut Beliau adalah wajib hukumnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur di negara kami masing-masing,” tambahnya.

Sungguh ironi bila kita tidak mau belajar dari sejarah kelam pemberontakan di Republik Indonesia ini, yang tidak pernah mencatat Syiah sebagai sebuah ancaman dengan melakukan pemberontakan terhadap Republik Indonesia tercinta ini. Maka, jika kita tidak ingin kembali terjatuh masuk ke lubang yang sama dua kali, jelas sudah bahwa bukan Syiah yang layak diwaspadai sebagai ancaman bagi NKRI.

Tapi biarlah torehan-torehan sejarah yang kelak akan menjawab siapa yang sebenarnya menjadi ancaman bagi NKRI. Biarlah para penuduh itu merasa bebas berekspresi seraya berharap bangsa kita dengan begitu mudahnya mereka tipu dan bodohi. Padahal sebaliknya, tabiat mereka tak ubahnya ibarat dua pepatah: Pertama, “Buruk muka cermin dibelah.” Kedua, “Siapa menepuk air di dulang, pasti terpercik ke muka sendiri.”

Artikel

Syiah Bukan ancaman NKRI

Administrator  |  at  Sabtu, Februari 01, 2014


GenSyiah - “Hanya keledai yang akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.”

Ungkapan ini tak hanya sangat masyhur dan begitu akrab di telinga kita semua, namun lebih dari itu mampu memberi kita pelajaran dan penyadaran berharga tentang betapa naifnya kita manusia–yang bukan keledai–bila harus berulangkali jatuh di “lubang yang sama” itu. Karena itulah kepada kita dipesankan beragam tips jitu agar tak terjatuh pada lubang yang sama meski hanya dua kali, salah satunya dengan cara berupaya seserius mungkin mempelajari sejarah.

Begitu pun halnya perjalanan panjang bangsa kita yang besar ini sejak sebelum dan sesudah merdeka. Entah sudah berapa banyak kisah tertoreh dalam lembaran hari demi hari Republik Indonesia kita, tak terkecuali sejarah kelam kejamnya penjajahan dan bagaimana pahit getirnya upaya mempertahankan keutuhan NKRI karena berulangkali telah dikoyak sejumlah aksi pemberontakan.

Dalam masa-masa kelam itu, tercatat ada beberapa upaya pemberontakan rakyat atas pemerintah dan negara. Sebut saja Pemberontakan DI/TII, yang sering sekali disebut para guru sejarah kita semenjak kita masih duduk di bangku SD. Berikutnya ada Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), lalu Pemberontakan G30s/PKI, Republik Maluku Selatan (RMS), Pemberontakan Permesta dan masih banyak lagi yang lainnya.

Maka, agar tidak terjatuh pada lubang yang sama dua kali, kita wajib belajar dari sejarah pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia. Hal ini sangat perlu dilakukan setidaknya untuk mendeteksi, siapa sih sesungguhnya yang sesuai faktanya benar-benar mengancam NKRI?

Akhir-akhir ini, baik di dunai maya (situs internet) berupa artikel dan berita propaganda, maupun di dunia nyata, saat ratusan bahkan ribuan seminar digelar serentak dan beruntun di seluruh kota besar di negeri kita. Agenda kegiatan berbungkus seminar namun sejatinya berisi hujatan, ujaran kebencian dan penghunjaman stigma ke benak publik agar di antara kita mulai saling curiga satu sama lain, lalu saling benci, saling tuding karena merasa paling benar sendiri, dan pada akhirnya ukhuwah tak lagi kokoh terjaga, toleransi dan saling menghargai tak lagi dianggap berharga. Propaganda dan ‘seminar’ yang digagas sekelompok orang maupun golongan tertentu dengan mengangkat tema seragam minimal senada: “Syiah, Ancaman Bagi NKRI” sebagai isu besar yang seakan-akan benar dan nyata adanya.

Padahal jika kita lihat dan cermati dari sejarah pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia, tidak ada dalam sejarah Republik ini sejak berdirinya hingga saat ini, tercatat ada pemberontakan yang dilakukan oleh kalangan/kelompok Syiah.

Dr. Rumadi, MA, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Direktur Program The Wahid Institute menegaskan bahwa dilihat dari sejarah pemberontakan terhadap Republik Indonesia, memang belum pernah ada pemberontakan yang dilakukan oleh Syiah baik secara kelompok ataupun secara perorangan (yang mungkin bergabung dengan kelompok pemberontak tertentu) di Republik Indonesia ini.

“Isu seperti itu sebenarnya hanya sekedar bluffing saja ya, orang yang mengatakan Syiah sebagai ancaman bagi NKRI itu secara historis memang mustahil bisa membuktikan,” ujar Dr. Rumadi saat diminta tanggapan tim media Ahlulbait Indonesia via telepon perihal maraknya penyebaran isu Syiah mengancam NKRI.

Lebih jauh Dr. Rumadi menegaskan bahwa saat ini, ada beberapa organisasi yang secara terbuka melakukan ancaman terhadap NKRI, yang di antaranya ingin mendirikan Negara Islam atau Khilafah dan sebagainya, tapi entah kenapa justru tidak disebut sebagai ancaman terhadap NKRI. Inikah salah satu bukti bahwa bangsa kita mudah terpengaruh kamuflase dan propaganda?

Sementara itu, sejarahwan Anhar Gonggong, terkait sejarah pemberontakan yang mengancam NKRI, ternyata satu suara dengan Dr. Rumadi. Anhar menegaskan bahwa tidak ada dalam sejarah Indonesia, Syiah melakukan gerakan pemberontakan terhadap NKRI. Menurutnya, itu tidak pernah terjadi. Ahli sejarah terkemuka ini pun menjelaskan bahwa Kartosuwiryo, Kaharmuzakar maupun Ibnu Hajar yang pernah melakukan pemberontakan terhadap NKRI, mereka semua bukanlah orang Syiah.

Anhar Gonggong kemudian menjelaskan bahwa dalam sebuah pemberontakan terdapat dua hal yang harus dipenuhi. Pertama adalah ideologi yang dimiliki dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat dan yang kedua adalah memiliki kekuatan fisik. Jika dilihat dari kedua hal tersebut, menurut Anhar, kelompok Syiah itu sama sekali tak memiliki keduanya.

Tapi bagaimana tanggapan Anhar saat mendengar begitu marak dan masifnya penyebaran isu Syiah sebagai ancaman bagi NKRI? “Kartosuwiryo, Kaharmuzakar yang memiliki kekuatan besar saja gagal untuk memberontak, apalagi Syiah? Bunuh diri bila Syiah melakukan itu!” tegasnya dengan nada heran saat wawancara via telepon dengan tim media Ahlulbait Indonesia.

“Orang yang mengatakan bahwa Syiah mengancam NKRI itu, bahasa kasarnya adalah ngawur,” tegas Anhar.

Sementara itu, ketua umum DPP Ormas Islam Ahlubait Indonesia Hasan Daliel saat diwawancarai di kantornya terkait berkembangnya isu Syiah sebagai ancaman bagi NKRI justru menegaskan, “Bagi Syiah Indonesia, NKRI adalah harga mati!”

Hasan kemudian menjelaskan bahwa Imamah yang mungkin dikhawatirkan oleh sebagian orang sebagai anti Pancasila adalah tidak benar. Imamah dipahami Syiah tidaklah sama dengan Imamah yang ada di tempat lain yang ingin mengganti NKRI dengan kekhalifahan, Khilafah, Imarah, Daulah, atau apapun saja sebutan lainnya. Imamah yang dipahami oleh Syiah indonesia adalah hubungan spiritual dengan seorang Marja’ atau Fukaha, seperti halnya hubungan spiritual kaum Katolik dengan pemimpin mereka di Vatikan.

“Kami dari Ormas Islam Ahlulbait Indonesia menyatakan dengan tegas bahwa yang paling berharga bagi kami di negeri ini adalah darah suci para pahlawan yang telah memerdekakan negeri ini,” ujar Hasan Daliel kembali menegaskan bahwa Syiah Indonesia akan selalu setia kepada Pancasila dan NKRI.

“Bahkan pemimpin spiritual kami selalu menasihati agar kami berbakti, di manapun kami dilahirkan. Menurut Beliau adalah wajib hukumnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur di negara kami masing-masing,” tambahnya.

Sungguh ironi bila kita tidak mau belajar dari sejarah kelam pemberontakan di Republik Indonesia ini, yang tidak pernah mencatat Syiah sebagai sebuah ancaman dengan melakukan pemberontakan terhadap Republik Indonesia tercinta ini. Maka, jika kita tidak ingin kembali terjatuh masuk ke lubang yang sama dua kali, jelas sudah bahwa bukan Syiah yang layak diwaspadai sebagai ancaman bagi NKRI.

Tapi biarlah torehan-torehan sejarah yang kelak akan menjawab siapa yang sebenarnya menjadi ancaman bagi NKRI. Biarlah para penuduh itu merasa bebas berekspresi seraya berharap bangsa kita dengan begitu mudahnya mereka tipu dan bodohi. Padahal sebaliknya, tabiat mereka tak ubahnya ibarat dua pepatah: Pertama, “Buruk muka cermin dibelah.” Kedua, “Siapa menepuk air di dulang, pasti terpercik ke muka sendiri.”

0 komentar:

General

© 2015 Gen Syi'ah. WP Mythemeshop Converted by Bloggertheme9
Blogger Template. Powered by Blogger.